Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Subuh baru saja berlalu. Langit Jakarta masih berwarna kebiruan saat deretan motor mulai memenuhi halaman minimarket 24 jam yang menjadi tempat mangkal para pengemudi ojek online.
Suara notifikasi dari berbagai ponsel saling bersahutan.
"Ting!"
"Tring!"
"Order masuk!"
Seorang pria bertubuh kurus dengan jaket hijau lusuh menguap lebar sambil meregangkan badan. Namanya Zain, usianya baru dua puluh empat tahun. Sudah dua tahun ia menjadi pengemudi ojek online. Itu bukan cita-citanya, tetapi karena setelah lulus kuliah diploma, lamaran kerjanya entah sudah berapa puluh kali ditolak.
"Masih sepi, ya?" tanya seorang pengemudi lain.
"Awal bulan mah rame. Sekarang mah nunggu rezeki nyasar."
Mereka tertawa kecil. Zain ikut tersenyum, meski matanya terus menatap layar ponsel. Saldo dompet digitalnya tinggal cukup untuk membeli bensin hari itu. Kalau sampai siang belum dapat banyak order, ia harus mulai mengirit.
"Ting!"
Order pertama muncul: antar penumpang. Jarak penjemputan hanya empat ratus meter.
"Alhamdulillah."
Zain langsung mengenakan helm. Motor matiknya meraung pelan meninggalkan halaman minimarket.
Di lampu merah pertama, ia melihat seorang pria berjas turun dari mobil mewah. Pria itu tampak kesal karena jalanan macet. Sementara di sisi lain, seorang pemulung mendorong gerobaknya perlahan.
Zain memperhatikan mereka sekilas, lalu menghela napas.
"Rezeki orang beda-beda..."
Motor kembali melaju. Hari itu berjalan seperti biasa: mengantar pegawai, mahasiswa, ibu-ibu ke pasar, hingga anak sekolah yang bangun kesiangan. Tidak ada yang istimewa.
Yang istimewa justru rating.
Menjelang siang, seorang penumpang berkata sambil tersenyum, "Mas, makasih ya. Motornya pelan, tapi nyaman."
Beberapa detik kemudian...
★★★★★
Rating bintang lima. Zain tersenyum puas.
"Yang penting bintang lima."
Bagi Zain, bintang lima berarti peluang mendapat lebih banyak order. Dan lebih banyak order berarti uang untuk makan malam.
...
Matahari mulai condong ke barat. Zain mematikan mesin motornya di depan sebuah rumah sederhana di pinggiran kota—rumah bercat putih yang mulai kusam.
Di teras, seorang kakek duduk di kursi bambu sambil menyeruput kopi hitam. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, namun matanya masih tajam.
"Kakek."
"Pulang juga."
"Gimana nariknya?"
"Ya... lumayan."
Padahal tidak. Hari itu pendapatannya pas-pasan, namun Zain tidak ingin membuat kakeknya khawatir.
Mereka duduk berdampingan saat angin sore berembus pelan. Beberapa anak kecil berlari mengejar layang-layang di lapangan depan gang.
Kakeknya memandangi langit cukup lama, lalu bergumam pelan, "Enak ya jadi anak sekarang..."
Zain tertawa. "Katanya dulu lebih enak, Kek."
Kakeknya ikut tertawa kecil. "Itu juga bener."
"Hah?"
"Dulu... tahun delapan puluhan." Kakeknya menatap jauh, seolah melihat sesuatu yang hanya ada dalam ingatannya. "Nyari kerja gampang. Kalau rajin, hidup bisa pelan-pelan naik. Harga makanan murah, orang-orang juga lebih akrab."
Zain mendengarkan tanpa menyela. Cerita seperti itu bukan hal baru; hampir setiap sore kakeknya selalu mengenang masa muda. Dan entah kenapa, Zain selalu suka mendengarnya. Mungkin karena hidupnya sekarang terasa begitu melelahkan.
Kadang ia benar-benar berpikir: 'Bagaimana rasanya kalau aku lahir di zaman kakek? Mungkin hidupku bakal jauh lebih mudah.'
Pertanyaan sederhana itu kelak akan mengubah seluruh hidupnya.
Keesokan paginya, pukul enam lewat sepuluh, Zain sudah kembali duduk di atas motornya. Secangkir kopi saset dan sepotong gorengan menjadi sarapan yang cukup untuk memulai hari.
"Semoga hari ini lebih rame."
Ia menekan tombol *Online*. Belum lima menit, bunyi notifikasi yang dinanti terdengar.
"Ting!"
Order masuk untuk menjemput penumpang di sebuah perumahan tua, sekitar tiga kilometer dari tempatnya mangkal.
"Gas."
Motor melaju membelah jalanan yang mulai dipadati kendaraan. Sesampainya di lokasi, Zain melihat seorang ibu paruh baya berdiri di depan pagar.
"Atas nama Bu Rina?"
"Iya, Mas."
Sepanjang perjalanan sang ibu tidak banyak bicara, hanya sesekali bertanya soal cuaca, lalu turun di depan pasar.
"Terima kasih ya, Mas."
"Sama-sama, Bu."
Bintang lima lagi. Zain tersenyum kecil. Lumayan.
Setelah itu, order demi order terus berdatangan. Ada yang dekat, ada yang jauh, dan ada juga yang bikin elus dada. Seorang pelanggan menyuruhnya menunggu hampir dua puluh menit. Begitu keluar rumah, bukannya meminta maaf, ia malah berkata dengan nada ketus, "Cepetan ya Mas, saya telat."
Zain hanya mengangguk. Dalam hati ia ingin protes, tapi buat apa? Perdebatan cuma akan berakhir dengan rating jelek. Lebih baik diam.
...
Menjelang siang, terik matahari terasa makin menyengat. Zain berhenti di bawah pohon trembesi untuk membeli es teh dari pedagang kaki lima. Baru saja gelas plastik itu menempel di bibirnya...
"Ting!"
Order baru masuk. Lokasi penjemputannya sangat dekat, hanya dua ratus meter.
"Wah, rezeki."
Zain segera menyalakan motor. Di depan sebuah toko buku tua, seorang pria berdiri membawa tas ransel besar. Usianya sekitar enam puluh tahun dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya. Ia mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, dan tangan kirinya menggenggam koper aluminium kecil yang tampak cukup berat.
"Pak, atas nama..."
Pria itu menoleh. "Ah, Zain ya?"
Zain sedikit heran karena penumpang itu langsung mengenali namanya. "Iya, Pak."
"Bagus. Saya yang pesan."
Pria itu naik ke jok belakang dengan hati-hati. "Kampus Nusantara ya, Mas."
"Siap."
Motor kembali melaju. Beberapa menit pertama diisi keheningan, sebelum pria tua itu membuka percakapan.
"Kamu sudah lama narik?"
"Dua tahunan, Pak."
"Betah?"
Zain terkekeh pelan. "Kalau dibilang betah... ya karena belum punya pilihan lain."
Pria tua itu mengangguk paham. "Jawaban yang jujur."
Zain tersenyum. Entah kenapa, penumpang yang satu ini terasa berbeda. Nada bicaranya tenang, tidak terburu-buru, dan seolah sangat menikmati perjalanan.
Saat berhenti di lampu merah, pria itu memandang deretan gedung tinggi di kejauhan.
"Dulu..." katanya pelan, "...di tempat itu sawah."
Zain ikut menatap gedung-gedung tersebut. "Masa sih, Pak?"
"Iya. Sekarang semuanya berubah."
Lampu berganti hijau dan motor kembali berjalan. Namun, ucapan sederhana itu terus terngiang di kepala Zain.
"Sekarang semuanya berubah."
Kalimat yang terdengar biasa, tetapi diucapkan dengan nada seolah pria tua itu sedang merindukan sesuatu yang telah lama hilang.