Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Ah..."
Shen Yunche berlutut di tengah halaman latihan. Kedua tangannya menekan tanah dengan napas yang terasa kian berat. Tubuhnya seolah terbakar dari dalam. Energi spiritual dari langit dan bumi terus mengalir deras ke tubuhnya—jauh melebihi apa yang pernah dia rasakan selama tujuh belas tahun hidupnya.
"Berhenti..." Yunche menggertakkan gigi. "Aku bilang berhenti!"
Namun, aliran energi itu tak kunjung surut. Meridian di dalam tubuhnya justru bergetar hebat. Satu demi satu segel yang terkunci mulai retak hingga akhirnya...
Brak!
Sebuah gelombang energi meledak hebat. Debu beterbangan dan beberapa pohon di sekitar halaman bergoyang keras. Yunche terlempar lalu jatuh telentang.
"Uhuk!"
Suasana kembali hening. Yunche menatap langit dalam diam. Setelah beberapa saat tak ada gerakan, dia mengangkat dan memperhatikan telapak tangannya.
"Masih hidup."
Dia menyentuh dada yang kini tak lagi terasa sakit. Tubuhnya justru terasa sangat ringan. Yunche perlahan bangkit dan mencoba mengalirkan energi spiritual. Satu aliran kecil muncul, membuatnya membelalakkan mata.
Dia mencoba lagi. Energi spiritual mengalir melalui meridiannya dengan jauh lebih stabil daripada sebelumnya.
Yunche bergegas berlari menuju batu pengukur kultivasi lalu menempelkan telapak tangannya.
Batu itu mulai menyala. Satu garis. Dua garis. Tiga garis. Yunche menahan napas saat garis keempat dan kelima muncul berurutan sebelum cahayanya meredup.
Yunche membeku. "Pengumpulan Qi... tingkat lima?"
Dia terdiam sejenak. "HAH?!"
Teriakannya menggema ke seluruh halaman. "TINGKAT LIMA?!"
Seorang pelayan yang lewat kaget mendengarnya. "Siapa yang berteriak?"
Yunche menatap batu itu heran. Dia menyentuhnya kembali. Satu, dua, tiga, empat, lima garis. Benar-benar tingkat lima.
Yunche memegang kepalanya kebingungan. "Tunggu. Semalam masih tingkat dua, lalu sekarang... tingkat lima? Ini curang. Batu pengukurnya pasti rusak."
Dia mencobanya sekali lagi, tetapi hasilnya tetap lima garis. Yunche menghela napas pasrah. "Pasti rusak."
"Shen Yunche." sebuah suara menyela.
Yunche menoleh. Shen Ruowei berdiri di pintu, menatap batu pengukur dan Yunche bergantian.
"Yunche... kultivasimu..." Ruowei menunjuk batu tersebut.
Yunche tersenyum canggung. "Naik sedikit."
"Sedikit? Itu Pengumpulan Qi tingkat lima!"
Sebelum Yunche sempat melarang, Ruowei sudah berbalik dan berlari kencang. "AYAH!"
"Ruowei! Jangan panggil semua orang!" panggil Yunche panik.
Namun, segalanya sudah terlambat. Tidak sampai setengah jam, halaman keluarga Shen sudah dipadati orang. Patriark Shen berdiri di depan batu pengukur didampingi para tetua, sementara Yunche berdiri di samping mereka dengan wajah canggung.
Patriark Shen menyentuh batu tersebut lalu menatap Yunche. "Ulangi."
Yunche menghela napas. "Baik."
Dia menempelkan telapak tangannya dan lima garis cahaya kembali terpancar. Semua orang terdiam.
Tetua Kedua maju dengan cemas. "Mustahil!" Dia menyentuh dan menyalurkan energi spiritual untuk memastikan batu itu tidak rusak. Dia menatap Yunche curiga. "Kau menggunakan obat? Teknik rahasia? Atau artefak?"
"Tidak, tidak, dan tidak," jawab Yunche polos.
"Lantas bagaimana bisa?"
Yunche mengangkat bahu. "Aku hanya tidur."
Tetua Kedua hampir tersedak. "Tidur?!"
"Saya juga tidak tahu pasti," ujar Yunche sambil menggaruk kepala.
Patriark Shen menatap Yunche dengan sorot mata yang dalam. "Ikut aku."
Di ruang utama keluarga Shen, Patriark Shen duduk berhadapan dengan Yunche.
"Yunche, semalam... kau merasakan sesuatu?"
Yunche mengingat kejadian semalam—rasa panas, suara aneh, dan pendar cahaya itu. "Sepertinya ada sesuatu yang terbangun di dalam tubuhku."
Raut wajah Patriark Shen mendadak berubah serius. "Mulai hari ini, jangan beri tahu siapa pun. Termasuk keluarga Gu."
Yunche merajuk bingung. "Mengapa harus merahasiakannya dari keluarga Gu? Apa tetua tahu sesuatu?"
Patriark Shen menghela napas panjang. "Ketika kau masih kecil, ayahmu pernah meninggalkan sesuatu."
Beliau berjalan menuju lemari tua, membuka kuncinya, dan mengeluarkan kotak kayu hitam kecil.
"Ayahmu meminta agar kotak ini diberikan kepadamu ketika meridianmu mulai terbuka," jelas Patriark Shen seraya menyerahkan kotak itu.
Saat jemari Yunche menyentuh kayu hitam tersebut, pendar cahaya samar muncul disertai bunyi klik. Kotak itu terbuka, menampilkan sebuah liontin hitam berbentuk setengah bulan.
Begitu Yunche menggenggam liontin itu, sebuah suara bergema langsung di dalam pikirannya: "Shen Yunche. Jika kau mendengar suara ini, berarti segel pertama telah terbuka. Jangan percaya siapa pun, termasuk mereka yang mengaku sebagai keluargamu."
Yunche membelalakkan mata. Dia mengenali suara itu—suara ayahnya.
"Jangan mencari tahu tentangku. Jangan datang ke Gunung Tianyuan. Dan yang paling penting... jangan pernah biarkan keluarga Gu mengetahui bahwa kau telah terbangun."
Pesan itu berakhir dan cahaya liontin meredup.
Yunche menatap ayahnya dengan emosi yang membuncah. "Mengapa aku tidak boleh ke Gunung Tianyuan? Mengapa keluarga Gu tidak boleh tahu? Mengapa semua orang menyembunyikan hal ini dariku?!"
Patriark Shen menatapnya iba. "Jangan membenci ayahmu, Yunche. Semua yang dia lakukan semata-mata demi melindungimu."
Yunche terdiam lalu memilih pergi meninggalkan ruangan.
Malam harinya, Yunche duduk sendirian memandangi liontin hitam di tangannya. Pesan ayahnya terus berputar di kepalanya.
Saat hendak menyimpan liontin itu, matanya menangkap selembar kertas di bawah pintu kamarnya. Sebuah surat dari Gu Qingli.
Yunche membukanya. Tulisan tangan itu sangat rapi:
《Shen Yunche,》
(Aku tidak tahu kapan akan kembali. Mungkin beberapa hari, mungkin lebih lama. Jangan malas berlatih, dan jangan menunggu.)
Yunche tersenyum tipis. "Siapa juga yang mau menunggu?"
Dia melipat surat itu lalu menyimpannya di dalam kotak kayu bersama liontin ayahnya—dua benda yang menyimpan rahasia besar. Malam itu, Yunche tertidur dengan surat itu berada di dekat bantalnya.
Sementara itu di kediaman utama Keluarga Gu, Gu Qingli baru saja tiba dari perjalanan jauh. Ayahnya, Gu Tianming, sudah menyambutnya di depan kediaman.
"Kau sudah bertemu Shen Yunche?" tanya Gu Tianming tanpa basa-basi.
"Sudah."
"Apakah dia menunjukkan perubahan?"
Gu Qingli ragu sejenak. "Dia hanya di tingkat dua Pengumpulan Qi."
Gu Tianming menatap putrinya dingin. "Jangan terlalu dekat dengan Shen Yunche. Dia berbahaya."
Gu Qingli hampir tertawa mendengarnya. "Yunche? Berbahaya?"
"Ayahnya, Shen Tianyu, menghilang karena pergi ke Gunung Tianyuan dan tidak pernah kembali," ujar Gu Tianming sebelum melangkah pergi.
Nama Gunung Tianyuan membekas di benak Gu Qingli. Malam itu, dia menatap bulan sembari memandangi sisa apel pemberian Yunche. Dia heran mengapa semua orang—mulai dari Xiao Hanzhou hingga ayahnya—memintanya menjauhi pemuda itu.
apa gk syok tuh thor