"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28 Ciuman yang Dipilih
Pukul tujuh pagi, dokter anak memastikan Guai sudah bisa bernapas tanpa oksigen.
"Hasil pemeriksaan saraf awal baik," katanya kepada Angie dan Hansen. "Kami tetap melakukan foto dada serta observasi sampai sore. Jika tidak ada penurunan kondisi, ia boleh pulang dengan instruksi kontrol."
Angie menunduk mencium kepala Guai. Bayi itu sudah kembali berusaha menarik tali kartu identitasnya.
"Tidak boleh," katanya sambil melepaskan jari kecil itu.
"Ma."
"Mama tetap tidak boleh."
Hansen mengambil tali tersebut dan menyelipkannya ke belakang bahu Angie. "Dia keras kepala sepertimu."
"Guai baru berumur sekitar satu tahun. Belum bisa dituduh keras kepala."
"Berarti sifat itu berasal darimu."
Dokter tertawa kecil sebelum meninggalkan kamar. Lina sedang mengganti popok Guai, sementara perawat mengecek jadwal pemeriksaan pukul delapan.
"Bu Angie harus mandi air hangat dan berganti pakaian lagi," kata Lina. "Rambutnya masih bau kolam."
"Kau juga mulai mengatur saya?"
"Saya hanya menyampaikan perintah dokter. Pak Hansen juga belum tidur."
Hansen menunjuk ruang pendamping yang terhubung langsung dengan kamar. "Kita bergantian. Kau dulu."
"Saya tidak ingin jauh."
"Pintunya tetap terbuka. Lina dan perawat ada di sini."
Angie akhirnya menurut. Ketika keluar dua puluh menit kemudian, ia mengenakan blus putih dan celana longgar yang dibawa Lina. Rambutnya basah, dan napasnya masih sedikit berat jika bergerak terlalu cepat.
Beberapa menit sebelumnya, saat Lina pergi ke kamar mandi, perempuan berseragam transportasi sudah muncul membawa tempat tidur dorong bayi.
"Foto dada dimajukan," katanya kepada perawat pengganti. Ia menunjukkan formulir dengan stempel unit dan tanda tangan persetujuan Angie. "Dokter anak meminta sebelum pergantian tim radiologi."
Perawat memeriksa nama, nomor rekam medis, dan gelang Guai. Semuanya sesuai karena perempuan itu telah memotret papan jadwal.
"Tidak ada pembaruan di layar saya," kata perawat.
"Sistem pusat baru selesai pemeliharaan. Coba telepon radiologi kalau ragu."
Perawat mengangkat telepon. Pada saat bersamaan, alarm infus pasien di kamar sebelah berbunyi. Seorang rekan memanggilnya dari koridor.
"Tunggu di sini," katanya.
Perempuan itu mengangguk patuh. Begitu perawat menghilang, ia melepas sensor Guai dengan gerakan terlatih dan memindahkannya ke ranjang dorong. Guai merengek, tetapi ia menyodorkan dot milik rumah sakit yang telah dicelupkan ke air gula.
"Mama," gumam Guai mengantuk.
"Mamamu yang menyuruhku datang," bisiknya.
Ia menutup kanopi ranjang dan keluar melalui pintu layanan. Di tikungan pertama, ia menempelkan tanda `alat steril` pada kanopi agar tak seorang pun mencoba melihat ke dalam.
Saat Lina kembali, perawat pengganti mengatakan Guai sudah dibawa untuk pemeriksaan. Karena formulir tergeletak di meja dan nama Angie tercantum di sana, tidak seorang pun segera memahami bahwa pemindahan itu palsu.
Hansen sudah berganti kemeja hitam, tetapi rambutnya belum rapi. Ia berdiri dekat meja kecil dengan handuk bersih di tangan.
"Duduk," katanya.
"Saya bisa mengeringkan rambut sendiri."
"Dokter meminta kau tidak banyak bergerak."
"Mengeringkan rambut bukan olahraga."
"Ngie."
Satu panggilan itu membuat Angie menyerah. Ia duduk di kursi, membelakangi Hansen. Handuk menyentuh kepalanya perlahan. Tidak ada tarikan kasar, hanya tekanan lembut yang menyerap air dari ujung rambut.
"Anda pernah melakukan ini untuk orang lain?" tanyanya.
"Tidak."
"Kelihatan."
Tangan Hansen berhenti. "Sakit?"
"Tidak. Hanya terlalu hati-hati. Seperti rambut saya bisa pecah."
"Semalam saya melihat terlalu banyak hal hampir pecah. Biarkan saya berhati-hati."
Angie tak lagi menggoda. Ia memandang bayangan mereka di cermin kecil. Hansen yang biasanya tak tersentuh berdiri dengan handuk di tangan, mengeringkan rambut seorang perempuan di ruang pendamping rumah sakit.
Jemarinya tanpa sengaja menyentuh tengkuk Angie.
Rasa hangat segera menjalar pada kulitnya. Angie menarik napas, dan Hansen langsung menjauh setengah langkah.
"Sensitif?"
"Sedikit."
"Saya berhenti."
"Saya tidak meminta Anda berhenti."
Hansen menatapnya melalui cermin. Udara di ruangan sempit itu mendadak terasa padat.
Angie berbalik di kursi. "Apa yang Anda katakan semalam... benar?"
"Bagian mana?"
"Bahwa saya orang paling penting dalam hidup Anda."
"Benar."
"Bahkan tanpa tahu hasil DNA?"
"Hasil itu menentukan fakta tentang kelahiran Guai, bukan nilai dirimu bagi saya."
"Kalau saya tetap hanya pengasuhnya?"
"Kau tidak pernah hanya apa pun."
Jawaban itu membuat mata Angie panas. "Saya takut mempercayai Anda."
"Saya tahu."
"Saya takut suatu hari ingatan saya kembali dan ada sesuatu yang mengubah semuanya."
"Kalau hari itu datang, kita menghadapinya dengan fakta. Saya tidak akan menghukumimu atas malam yang bahkan tidak bisa kau ingat."
Hansen meletakkan handuk di meja. Ia tidak menyentuh Angie, meski jarak mereka tinggal satu langkah.
"Saya ingin menciummu," katanya.
Jantung Angie berdetak cepat. Kenangan tentang ciuman di bawah pengaruh obat muncul, tetapi kali ini Hansen sadar sepenuhnya. Tidak ada tangan yang menahan tubuhnya. Tidak ada pintu tertutup di belakangnya. Ia bisa bangkit dan pergi.
"Mengapa Anda memberi tahu saya dulu?"
"Karena saya ingin mendengar jawabanmu."
"Kalau saya bilang tidak?"
"Saya kembali menjaga Guai dan tidak menyentuhmu."
"Kalau saya bilang belum siap?"
"Saya menunggu sampai kau sendiri yang siap."
Angie berdiri. Sekarang tinggi mereka hampir sejajar karena Hansen menunduk sedikit, tetapi ia tetap tidak mendekat.
"Saya siap," bisiknya. "Anda boleh mencium saya."
Hansen mengangkat satu tangan. Ia berhenti sebelum menyentuh pipinya, memberi Angie kesempatan terakhir untuk mundur. Angie justru menempelkan pipi pada telapak tangannya.
Barulah Hansen mencium bibirnya.
Ciuman itu pelan, jauh dari rasa panik dan obat pada malam sebelumnya. Angie bisa merasakan napas Hansen tertahan seolah pria itu takut satu gerakan salah akan membuatnya menghilang. Ia mencengkeram bagian depan kemeja Hansen, bukan untuk mendorong, melainkan menariknya lebih dekat.
Hansen menjauh beberapa sentimeter. "Masih boleh?"
"Masih."
Kali ini Angie yang mengangkat wajah. Ciuman kedua lebih hangat. Tangannya tetap bebas, pikirannya jernih, dan setiap detik adalah pilihannya sendiri.
Ketukan keras menghantam pintu.
"Tuan Muda!"
Mereka langsung berpisah. Pak Hasan membuka pintu setelah mendapat jawaban. Wajahnya pucat, napasnya terengah seolah baru berlari sepanjang koridor.
"Ada apa?" tanya Hansen.
"Tuan Kecil tidak ada di kamar."
Darah di wajah Angie menghilang. Ia berlari melewati Pak Hasan meski kaki yang terluka memprotes.
Ranjang bayi di ruang observasi kosong. Kabel monitor terletak rapi di atas seprai, seakan dilepas oleh seseorang yang memahami peralatan. Lina berdiri di depan ranjang sambil menangis, sedangkan perawat memeriksa sistem dengan tangan gemetar.
"Saya hanya ke kamar mandi tiga menit," kata Lina. "Perawat pengganti bilang ada petugas membawa Guai untuk foto dada."
"Tidak ada perintah pemindahan di sistem," ujar perawat. "Radiologi juga belum memanggil pasien."
Hansen menekan tombol panggilan darurat keamanan rumah sakit.
Angie menemukan satu lembar formulir di lantai. Di bagian bawah tercantum tanda tangannya, tetapi bentuk hurufnya salah.
Seseorang telah membawa Guai keluar dengan surat palsu atas nama Angie.