Sepuluh tahun lalu, seorang bocah laki-laki menolong Keira dari tangan kakak angkatnya yang kejam. Wajahnya terekam di ingatan — dan di hatinya.
Sepuluh tahun kemudian, Keira bertemu lagi dengannya di zona perang. Kali ini, dia bukan bocah. Dia Brigadir Jenderal Darren Tanuwijaya, komandan pasukan elite TNI yang paling ditakuti di medan pertempuran.
Keira memberanikan diri menyatakan cinta. Ditolak.
Tapi malam itu, Darren datang ke tendanya dan berkata:
"Bukan pacaran. Tapi menikah."
Pernikahan kilat di KUA. Suami yang memasak sarapan tapi bisa membunuh dengan satu peluru. Keluarga mertua yang ternyata keturunan jenderal besar. Dan keluarga angkat yang tidak pernah berhenti mempermalukannya.
Kamu cuma anak angkat. Nikah sama tentara miskin. Kasihan.
Tapi mereka tidak tahu — tentara "miskin" itu adalah Brigjen termuda dalam sejarah TNI. Kakeknya mantan Panglima. Dan suami yang mereka hina... tidak pernah membiarkan siapa pun menyakiti istrinya.
Yang lebih tidak mereka sangka:
Keira bukan anak angkat biasa.
Dia adalah pewaris Lim Group International — konglomerat terbesar kedua di Indonesia — yang diculik musuh bisnis saat berusia enam tahun dan dianggap sudah meninggal.
Satu per satu, empat kakak kandungnya mendekati secara diam-diam. Aktor terkenal. Ilmuwan antariksa. Atlet bela diri. Pengusaha misterius. Mereka sudah mencarinya selama tujuh belas tahun.
Sementara itu, kakak angkatnya semakin nekat: alergi yang hampir membunuhnya, narkoba, dan pisau di tengah malam.
Antara tugas negara dan cinta yang tak pernah goyah, antara keluarga yang hilang dan keluarga yang dipilih — Keira harus menemukan siapa dirinya yang sebenarnya.
Dan ketika seluruh kebenaran terungkap...
Yang dulu menghina, sekarang berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Dua Detik
Lampu merah kamera menyala di depan wajah Keira.
"Panggil suamimu," kata pria bertato di belakang kamera. "Bilang kamu menunggunya."
Keira duduk di kursi besi dengan kedua tangan terikat di belakang. Sisi wajahnya terasa panas setelah didorong ke lantai mobil, tetapi pikirannya sudah kembali jernih.
Sejak dibawa masuk, ia menghitung dua belas pilar, satu pintu geser besar, dan sebuah pintu kecil di sisi timur. Ia mendengar kereta melintas dua kali dalam dua puluh menit. Bau air asin tipis bercampur asap solar. Informasi itu mungkin tidak membebaskannya, tetapi bisa mempersempit pencarian.
Ia menggesek tali plastik di pergelangan pada tepi kursi. Benda itu tidak putus. Kulitnya justru tergores. Keira berhenti sebelum darah membuat tangannya terlalu licin untuk bergerak nanti.
Ketika salah satu penculik membuka botol air, ia meminta minum. Pria itu menertawakan, tetapi tetap mendekat. Keira menjatuhkan botol dengan lutut dan melihat tato angka di tangannya. Detail lain untuk diingat.
"Dia tidak akan datang tanpa polisi."
Pria lain mencengkeram rambutnya. "Baca pesan yang kami beri."
Gudang tua itu berbau oli, debu, dan air yang menggenang. Atap seng berlubang membiarkan cahaya sore jatuh dalam garis-garis tipis. Selain pemimpin mereka, ada tiga orang bersenjata di dalam.
Keira seharusnya bertemu sumber untuk wawancara tentang distribusi bantuan palsu. Alamat dan identitas narasumber telah lolos pemeriksaan dasar. Namun di tengah perjalanan, mobil yang membawanya dihentikan. Sopir dan fotografer diturunkan di tepi jalan, tangan mereka diikat, lalu Keira dibawa pergi dengan kendaraan lain.
Sekarang ia tahu wawancara itu hanya umpan.
Pemimpin kelompok berdiri di balik kamera. Bekas luka panjang melintasi dagunya.
"Bilang pada Darren Tanuwijaya bahwa utang lama harus dibayar."
"Utang apa?"
"Dia mengambil uang, orang, dan jalurku. Sekarang aku mengambil miliknya."
"Aku bukan milik siapa pun."
Pria itu tersenyum. "Kita lihat apakah suamimu setuju."
Keira menatap lensa. "Ren, jangan datang sendiri. Mereka bersenjata. Ada empat orang. Gudangnya dekat jalur kereta. Aku mendengar azan dari arah kanan dan truk lewat setiap beberapa menit."
Tamparan mengenai pipinya sebelum ia selesai.
Kamera dimatikan.
"Potong bagian terakhir," perintah pemimpin itu.
"Sudah telanjur terkirim, Bos."
Pria itu menendang tripod. "Kalau suaminya membawa pasukan, tembak dia lebih dulu."
Video sampai ke ponsel Darren sebelas menit kemudian.
Ia sedang menyelesaikan laporan di kantor ketika gambar wajah Keira muncul. Ia menontonnya sekali, lalu mengirim salinan kepada tim penanganan ancaman dan kepolisian. Dalam dua menit, suara kereta, azan, pola truk, dan metadata video mempersempit lokasi ke kawasan pergudangan lama di Jakarta Utara.
Nomor asing menghubunginya.
"Datang sendiri," kata suara di seberang. "Matikan ponsel. Kalau ada kendaraan lain dalam radius satu kilometer, istrimu mati."
"Beri bukti dia masih hidup."
Terdengar napas Keira, lalu suaranya. "Aku di sini."
Sambungan terputus.
Sebelum berangkat, Darren menerima laporan bahwa sopir dan fotografer Keira telah ditemukan warga. Keduanya sadar dan sedang memberi keterangan. Kendaraan penculik terekam kamera jalan, tetapi pelatnya palsu.
"Mereka sengaja meninggalkan dua saksi hidup," kata petugas analisis. "Mereka ingin kita menemukan lokasi, tapi pada waktu yang mereka kendalikan."
"Berarti gudang itu sudah disiapkan," jawab Darren. "Periksa jalur keluar kedua dan kemungkinan bahan peledak. Jangan masuk sebelum sandera lepas dari garis tembak."
Darren menyerahkan ponsel kepada petugas operasi, mengganti kemeja dinas dengan pakaian gelap tanpa tanda pangkat, dan memasang alat pemantau darurat yang tidak memancarkan suara.
"Tim gabungan menunggu di luar radius," kata perwira yang menerima pengarahan. "Masuk setelah sinyal atau suara tembakan. Polisi memimpin penangkapan dan olah tempat kejadian perkara."
"Prioritas sandera."
"Siap."
Darren mengemudi sendiri menuju alamat itu.
Pintu gudang terbuka ketika kendaraannya berhenti. Dua pria memeriksa tubuh dan sepatunya. Mereka mengambil kunci mobil, lalu mendorongnya masuk.
Darren membiarkan mereka menemukan dompet kosong dan perban kecil di sakunya. Alat pemantau berada di balik lapisan ikat pinggang, tanpa layar atau bunyi. Ia tidak membawa senjata. Jika pemeriksaan menemukan satu benda mencurigakan, Keira akan menanggung akibatnya lebih dulu.
Saat berjalan masuk, matanya mencatat genangan oli di kiri, rantai yang menggantung dari derek tua, kamera pada tripod, dan posisi empat orang. Tidak ada bahan peledak terlihat. Pintu kecil di sisi timur terkunci dari dalam. Keira berada terlalu dekat dengan dinding untuk menjatuhkan diri ke belakang.
Keira melihatnya dari ujung ruangan.
Ada memar tipis di pipinya. Tangannya terikat. Laras pistol menekan sisi kepalanya.
Darren berhenti sejauh enam meter.
"Lepaskan dia. Masalahmu denganku."
Pemimpin kelompok tertawa. "Dulu kamu juga bicara seperti itu sebelum pasukanku dihancurkan."
Beberapa tahun sebelumnya, jaringan pria itu memasok senjata kepada kelompok bersenjata dan menyandera pekerja sipil. Operasi gabungan yang dipimpin Darren membebaskan para sandera dan memutus jalur utama mereka. Pemimpin ini lolos sebelum penangkapan terakhir.
Hari ini ia datang menagih kegagalan yang dibuatnya sendiri.
"Aku memberimu kesempatan menyerah saat itu," kata Darren.
"Dan aku kehilangan semuanya."
"Karena kamu menjual senjata dan menahan warga sipil."
"Tidak ada orang bersih dalam perang."
"Keira bukan bagian dari perangmu."
"Sekarang dia bagian dari kelemahanmu."
"Berlutut," katanya.
Darren memandang Keira.
Keira menggeleng kecil. Air mata memenuhi matanya, bukan karena takut untuk dirinya sendiri, tetapi karena dua orang mulai mendekati Darren dari samping.
"Berlutut!"
Darren menurunkan satu lutut ke lantai.
Pria pertama memukul wajahnya. Kepala Darren terlempar ke samping. Darah muncul di sudut bibirnya.
Pukulan kedua mengenai perut. Ia tidak membalas.
Pria lain memukul bahunya dengan gagang pistol. Lutut Darren bergeser di atas semen, tetapi ia kembali tegak. Keira menarik tali di belakang kursi sampai pergelangannya kembali terluka.
"Jangan pukul dia!" teriaknya.
Pemimpin kelompok mendekat dan menekan laras lebih kuat ke sisi kepalanya. "Kalau dia bergerak, kamu yang menerima peluru berikutnya."
Darren mengangkat wajah. Darah di alisnya mengganggu penglihatan sebelah kiri. Ia mengedipkan sekali, menyesuaikan fokus, lalu menahan kedua tangan tetap terbuka di samping tubuh.
Setiap gerakan tangannya akan membuat jari di pelatuk dekat kepala Keira menegang. Jadi ia menahan tubuh, mengukur jarak, sudut, dan napas lawan tanpa mengalihkan pandangan dari mata istrinya.
"Brigadir Jenderal hebat," ejek pemimpin itu. "Sekarang berlutut demi perempuan."
Keira membeku.
Brigadir Jenderal?
Darren tidak menjawab. Tatapannya tetap pada Keira, tenang dengan cara yang mustahil di tengah empat senjata.
Salah satu pria menendang punggungnya. Darren jatuh pada kedua tangan. Darah dari pelipis menetes ke lantai semen.
"Ren, cukup!" teriak Keira. "Jangan biarkan mereka membunuhmu!"
Pemimpin itu menikmati suaranya. Ia menoleh kepada anak buah yang memegang Keira.
"Lihat? Perempuan selalu membuat orang kuat menjadi bodoh."
Untuk membanggakan kemenangan, ia mengalihkan pistolnya dari Keira dan mengarahkannya kepada Darren. Anak buah di sisi kanan ikut melihat ke arahnya. Laras yang tadi menyentuh kepala Keira turun beberapa sentimeter.
Itulah celah yang ditunggu Darren.
Dua detik.
Ia menangkap pergelangan pria terdekat, memutar arah senjata menjauh dari Keira, lalu merebutnya. Satu tembakan menghentikan pemimpin yang sedang mengangkat pistol. Tiga tembakan berikutnya mengenai lengan atau kaki tiga anak buah sebelum mereka sempat mengubah bidikan.
Empat senjata jatuh ke lantai.
Kesunyian setelahnya terasa lebih keras daripada tembakan.
Keira menatap Darren. Ia pernah melihatnya melawan penculik di luar negeri dan preman di jalan. Namun ini berbeda. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Tidak ada kemarahan liar. Hanya keputusan cepat untuk menghentikan ancaman hidup.
Darren menendang senjata menjauh dari jangkauan para pelaku, mengaktifkan sinyal di pergelangan, lalu berjalan menuju Keira.
Darah menutupi sisi wajahnya. Bukan darah pemimpin itu, melainkan darah dari pelipis dan bibirnya sendiri.
"Ren..."
Ia meletakkan pistol di lantai sebelum menyentuh Keira. Pisau kecil dari saku salah satu pelaku digunakan untuk memotong tali pada tangannya.
"Bisa berdiri?"
Keira mencoba. Kakinya kehilangan tenaga. Darren menangkap tubuhnya dan mengangkatnya ke dada.
"Mereka memukulmu," katanya dengan suara pecah.
"Aku baik-baik saja."
"Kamu berlutut karena aku."
Darren memeluknya lebih erat. "Aku suamimu. Kalau bukan aku, siapa yang menjagamu?"
"Tapi kalau kamu terlambat dua detik..."
"Aku tidak terlambat."
Suara kendaraan memenuhi halaman. Perintah dari pengeras suara terdengar di luar, disusul masuknya tim polisi bersenjata dan personel pengamanan militer. Petugas medis berlari menuju Keira, sementara polisi mengamankan para pelaku yang masih hidup dan senjata di lantai.
Darren menggeser pistol yang direbutnya dengan ujung sepatu ke area kosong, lalu menyebutkan tanpa menyentuhnya lagi bahwa senjata itu telah digunakan empat kali. Seorang polisi memotret posisinya sebelum memasukkannya ke kantong bukti. Petugas lain memasang pembatas dan memeriksa pintu timur. Tidak ada bahan peledak, hanya satu kendaraan cadangan dan beberapa pelat palsu.
Tiga anak buah mendapat pertolongan medis di bawah pengawasan polisi. Luka mereka menghentikan serangan tanpa menghilangkan kesempatan penyidik memperoleh keterangan. Darren tidak mendekati mereka lagi.
Seorang petugas memeriksa pemimpin kelompok, lalu menggeleng. Ancaman yang ia mulai telah berakhir di gudang itu.
"Pak, tim medis menunggu," kata seorang personel kepada Darren tanpa menyebut pangkat di depan orang luar.
Darren menurunkan Keira perlahan. "Bawa dia lebih dulu."
Keira tidak melepaskan tangannya. "Kamu ikut."
"Aku harus menyerahkan senjata, memberi laporan awal, dan diperiksa. Lima menit."
"Aku tunggu di pintu."
"Kei."
"Lima menit," ulang Keira. "Bukan satu menit lebih lama."
Darren menatap wajahnya, lalu mengangguk. "Baik."
Petugas medis menyelimuti Keira dan membawanya ke luar. Dari pintu ambulans, ia melihat Darren berdiri di bawah lampu gudang dengan darah di wajah dan tangan kosong terangkat agar petugas dapat menjalankan pemeriksaan sesuai prosedur.
Ia aman. Para penculik telah dilumpuhkan. Tim resmi sudah mengambil alih.
Namun untuk pertama kalinya, Keira memahami bahwa bahaya dalam pernikahan mereka tidak hanya datang ketika Darren pergi berperang.
Kadang-kadang, perang itu menemukan jalan pulang kepadanya.
kalian bakalan stroke kalo tau keluarga asli Keira 🤣🤣🤣🤣
review bintang 🌟 5 untuk pemula 😲😲😲😲👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻