Semua yang terjadi dalam kehidupan ini tidak pernah luput dari pengalaman masa lalu. Angin bertiup dan musim pun berganti, Andhra telah mencari jati diri yang entah dimana akan dia temui.
Kehidupan suram di masa lalu membuat hatinya dipenuhi oleh dendam.
Ozan yang selalu menemani, juga ada
keluarga yang selalu memberi, adik tiri yang berselimut mendung derita. Andhra mendapatkan semuanya bukan tanpa alasan.
Hingga masanya cinta masa lalu hadir dan membuat hidup Andhra berwarna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10
Angin sepoi-sepoi menerpa rambut Rossi. Awalnya dia ragu untuk mengajak Andhra berkendara, tapi jika tidak, tubuhnya sangat letih takutnya malah akan berdampak buruk nanti. *Lagian Andhra juga sepertinya bukan orang jahat, apalagi sepertinya aku mulai terserang flu* batin Rossi.
"Bisa bawa motor nggak?" tanyanya lagi untuk memastikan.
"Bisa!Tapi sudah lama banget nggak bawa motor lagi." Andhra menjilati tangannya yang penuh dengan sambal teri. Rasa yang lama sekali tidak di temui nya. Entah kapan terakhir kali dirinya makan nasi bungkus dengan lauk sambal teri. Mungkin saat masih SMA dulu.
"Terima kasih makanannya enak banget. Tapi kok nggak ada minumannya seh?" Mengangkat botol yang sudah habis.
*Baru pertama kali ini aku bisa langsung akrab dan nyaman dengan makhluk yang berjenis perempuan* Batin Andhra.
Rossi meringis tapi kemudian membuka tas ranselnya dan mengeluarkan botol minuman kecil.
"Ini minuman terakhir milikku, jangan di habiskan ya," ucap Rossi. Tapi air mineral kecil itu habis dalam satu tenggak.
"Yah habis." membalik botol minuman yang di letakkan Andhra.
"Nggak iklas?"
"Bener bener kamu ya! seenggaknya bilang terima kasih gitu," Rossi cemberut di buatnya.
*Gadis ini kenapa makin kesini makin gemesin ya*batin Andhra.
"Terima kasih, nona cantik yang baik hati," Andhra mengutuk kata yang tanpa sengaja keluar dari mulutnya.
"Nggak usah gombal, nggak akan mempan tau! Kembali ke pembahasan tadi, kamu punya motor kan?" tanya Rossi untuk memastikan orang yang membawa motornya nanti beneran bisa.
"Nggak, aku nggak punya motor!" memang benar nggak ada motor di rumahnya tapi kalau mobil mungkin ada puluhan. Begitulah Andhra kalau menjawab ya seperlunya saja.
"Tapi bisa bawa motor kan? Soalnya aku lagi letih banget ini."
Andhra memperhatikan wajah orang di depannya yang memang nampak pucat.
"Memangnya kita sedekat itu sampai harus pulang bareng?" kan mantra nyebelin nya kambuh.
"Kan tadi waktu di bis kita sudah tanya jawab. Walau memang tak seakrab berteman atau malah berkasih. Tapi desa aku, ada di sebelah desanya, kamu. Aku juga sering ke desa kamu kalau ada acara haul. Jadi bisa di anggap tetangga gitulah. Apalagi pasti sampai di senggang yang sepi menjelang magrib. Biasanya aku nginap di rumah sepupu dan besok paginya baru pulang, tapi karna nanti malam aku ada acara jadi maksa pulang sore ini."
"Kamu curhat?" Andhra menautkan alisnya.
"Bukan! Tapi diskusi!" Ketus Rossi,sok galak. Padahal detik berikutnya keluar mimik muka memelas."Deal ya! Mau pulang bareng. Nggak kasihan apa dengan diriku yang tengah sakit ini. Tolonglah owh tolong." Menekan perutnya seakan menahan sakit luar biasa parahnya.
"Udah! nggak usah ngedrama. Bilang saja mau pedekate sama aku," dengan super pedenya Andhra bicara lalu pergi mengguyur tangannya sebelum Rossi menjawab.
"Wooi nggak usah kepedean ya jadi cowok. Kalau nggak mau ya sudah, padahal niatku baik cuma memberi tumpangan," jelas Rossi agar cowok yang menurutnya sok tampan dan songong itu tau diri.
Dan setelahnya Rossi meletakkan tasnya. "Kenapa badanku terasa remuk gini ya, perutku juga terasa nyeri," memegang perut dan mencari tempat yang nyaman untuk merebahkan tubuhnya. Dia mengambil tas untuk digunakan bantal.
"Hai, anak perempuan jangan tidur sembarang tempat," suatu perhatian yang Andhra sendiri tidak mengerti, kenapa meluncur begitu saja, padahal selama ini dia sangat anti dengan yang namanya wanita apalagi memberi perhatian. Kecuali jika mereka keluarga.
"Perutku sedikit nyeri. Apa aku...!" Rossi langsung berdiri, matanya melotot. Seperti ada sesuatu yang merembes di bawah sana. Segera dia keluar dari gerbang masjid celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. Diapun tersenyum ketika melihat ada toko kecil di sebelah masjid.
"Titip tas sebentar ya, aku mau beli sesuatu," ucapnya sambil memegang perut sesekali berdesis.
"Kau..! Dasar cewek aneh." Kalimat kutukan yang tidak di dengar lagi oleh Rossi karna sudah berlari keluar gerbang masjid.
Andhra duduk mengamati ransel Rossi yang masih terbuka. Dia hendak mengembalikan resleting tas itu, tapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Di sana ada sebuah boneka yang sepertinya sudah lama tapi masih terawat dengan baik walau kecil dan mungil.
"Hai, ngapain kamu geledah tas, aku?" sebuah suara mengagetkan Andhra, boneka yang di lihatnya itupun hilang dari pandangannya.
"Lain kali jangan tinggalkan tas dalam keadaan terbuka," Rossi sadar akan keteledorannya.
"Hehe lupa," Rossi nyengir sambil tetap memegang perutnya.
"Tungguin motor aku ya...!aku mau ganti pakai roti ini dulu." Tak tahu malunya Rossi menunjukan barang yang di belinya. Sedangkan
Andhra terbengong melihat benda kotak yang disebut roti di bawa Rossi masuk ke dalam kamar mandi.
*"Bagaimana caranya orang pakai roti bukannya roti di makan ya* batin Andhra.
"Makan roti aja pakai ke dalam kamar mandi. Memang kenapa nggak di makan di sini aja."
Rossi yang mulai berjalan ke arah motornya menoleh pada Andhra.
"Apa maksudnya!"
"Nggak, apa apa, forgeted."
*Dasar cewek aneh, suka bagi makanan kalau ada orang banyak tinggal aku seorang eh roti malah di makan di kamar mandi.* Andhra menggelengkan kepalanya berulang membuang pikiran buruknya.
"Mana kuncinya." Menodongkan tangannya.
*Dari pada nunggu jemputan si Farid yang katanya sibuk banget, mending sama dia aja* pikir Andhra.
"Beneran bareng aku!" Rossi menunjuk dirinya sendiri sambil menahan rasa nyeri karna haid.
"Iya, kamu kenapa mukanya begitu. Apa kamu lagi sakit?" Bertanya sambil menunggu Rossi menyerahkan kunci motor.
"Biasa lah kalau lagi palang merah," masih menahan sakit lagi. Andhra seperti tidak tega melihat gadis yang baru di kenalnya itu meringis sesekali.
"Mau ke rumah sakit dahulu apa langsung pulang," khawatir Andhra.
"Langsung pulang saja," sekejap Rossi sudah posisi wenak di belakang kemudi. Perlahan Andhra mulai melakukan motor, meski perlu sedikit menguras memory agar bisa mengendarai motor ini dengan baik.
Hening.
*Dia kok diam kenapa ya? Katakanlah sesuatu.*
"Kang, pinjem punggungnya ya."
Kini mereka sudah di jalan. Andhra hanya diam mendengar pertanyaan Rossi. Lawong belum di jawab sudah main bersandar aja seh.
Merepotkan
*Rasa ini. Kenapa bisa senyaman ini ya* batin Rossi. Dia membuka helmnya agar bisa lebih nyaman bersandar di punggung Andhra. Kebetulan jalan yang mereka lalui bukanlah jalan raya.
"Rossi, helmnya di pakai dong, demi keselamatan," teriak Andhra dia merasakan kepala Rossi yang bersandar nyaman di punggungnya dan tangan Rossi yang melingkar di perutnya.
"Kau baru saja menyebut namaku ya, kau perhatian juga rupanya."
*Gadis unik ini, pelukannya terasa nyaman. Eh dia kan berpegangan bukan memeluk.*
Andhra berulang kali menggelengkan kepalanya. Kenapa pikirannya sekacau ini. Dia bahkan sering dekat dengan perempuan tapi baru pertama kali inilah ada rasa nyaman saat berdekatan. Padahal selama ini sudah begitu banyak gadis yang berusaha untuk bisa berdekatan dengannya. Dan semuanya berakhir kecewa karena Andhra tidak mau menanggapi.
"Rossi...Ros!"
Andhra menepuk lembut tangan yang melilit pinggang kekarnya, bukannya melonggar tapi pegangan Rossi malah semakin erat.
"Hemmm!"
"Rossi apa kau tidur?" khawatir jika nanti Rossi tertidur, maka itu sangat berbahaya. Khawatir jika kemungkinan jatuh atau bisa saja terguling dan jatuh ke aspal.
"Tidak, tapi perutku nyeri. Sudahlah kau fokus saja berkendara biar aku bisa langsung rebahan di rumah nanti."
Rossi menggerakkan kepalanya, mengeratkan tangannya yang mulai mengendor. Dia menghirup aroma tubuh Andhra yang membuatnya nyaman.
"Kau tahu punggung kamu nyaman sekali untuk bersandar walau terasa keras," celoteh Rossi.
Tanpa sadar Andhra menarik garis di bibirnya. Matahari yang hampir tenggelam itu membuat suasana romantis untuk dua orang yang baru saling kenal.
To be continued
ozan dilema donk,mw nolong yg mana dulu...
aq agak amnesia😊😊😊
abis malam jumatan khan
Salam dari
SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA
🙏🙏🙏
salam dari jodohku Cinta Pertamaku 🙏🙏 by. Sri Ghina Fithri