Tiara nama panggilan yang cantik, secantik orang yang menyandangnya
Namun siapa sangkah ada terselip kisah kelam dibalik nama cantiknya.Kehilangan orang tua, suami dan adik nya membuatnya menjadi wanita tangguh demi sang anak dan keluarga barunya
Bram ayodya seorang pembisnis kenamaan yang menyamar jadi seorang pengajar disebuah sanggar seni.
Karna hoby nya melukis Dia bisa menghabiskan waktunya berlama-lama didepan kanvas
Dion mantan suami Tiara.
pemuda baik yang hanya menjadi korban kelicikan orang-orang terdekatnya. Kehilangan cinta sejatinya hanya karna sebuah kebohongan.
Willi dokter tampan nan rupawan. Dokter ternama yang tidak pernah sepi pasien.
Elisya seorang publick figure yang sedang naik daun.
Bertemu tanpa sengaja dan menjalin persahabatan dengan Tiara, namun siapa sangkah ada kisah dibalik ketenaran Elisya
Penasaran dengan kisah mereka?
Ikuti kisah mereka dalam kisah Tiara yang Serra buat, selamat menikmati dan semoga terhibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serra R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiara
...Janji itu harusnya selalu diingat...
...Janji itu harusnya selalu dipegang...
...Tapi...
...Ketika janji sudah banyak teringkar...
...Maka...
...Luka dan dendam yang akan tersisa dalam benak dan juga...
...JIWA...
*********🌹🌹🌹🌹🌹************
Bram berjalan tergesa, sungguh dia hanya ingin segera sampai ke rumah. Hanya untuk melihat senyum itu, ya senyum yang selalu membuat nya rindu.
Sore ini, Tiara sedang duduk bersantai menikmati kripik singkong ditaman belakang. Nara selalu setia menemaninya bercerita.
" Nara, boleh aku bertanya?"
" Apa yang ingin kamu tau Tiara, bertanyalah. Kalau aku bisa jawab pasti ku jawab, tapi kalau aku tidak bisa jawab jangan dipaksa ya😝"
Nara hanya ingin memastikan saja, dia sangat tau tabiat Tiara. Mana mau berhenti kalau yang diinginkan belum kesampaiian. Mungkin bawaan bayi, kata orang sih begitu.
" Iya, janji nggak nanya yang aneh-aneh kok"
Tiara terdiam menarik nafas panjang, sebelum menoleh dan tersenyum pada Nara.
" Nara, sejak kapan Nara tinggal disini. Ehmm..maksudku mulai kapan Nara mengikuti Bram?"
" Sejak 3 tahun lalu, Sejak tuan muda membawaku kemari"
" Oh, lalu keluargamu gimana? mereka sering nengok kamu disini kan Nara?"
" Mereka sudah meninggal Tiara, kakek dan nenek sudah berpulang."
" Oh astaga, maaf kan aku Nara. Maaf aku tidak mengetahuinya"
Tiara menutup mulutnya sebelum menangkupkan kedua tangannya didepan dada, sebagai permintaan maaf nya.
" Tidak apa-apa, lagi pula kejadiannya sudah cukup lama. Jadi sudah tidak sedih lagi"
" Tapi kenapa aku masih suka sedih kalau mengingat orang tuaku ya Nara?" Tanya Tiara sendu
Tiara masih ingat semua kejadian lalu yang terjadi pada keluarganya.
Kepergian ayah, adalah awal dari tercerai berai keluarganya. Andai saja hanya itu yang bisa Tiara gumamkan. Namun dia sadar, semua sudah takdir.
Termasuk, keadaannya sekarang pun Tiara menganggapnya sebuah takdir. Iya, Takdir yang tidak bisa dia hindari.
" Jangan bersedih, kan sekarang ada aku, Lena, Sita. Ada tuan Bram juga, masih banyak orang disini yang bersama kita"
Nara beranjak, memeluk Tiara penuh sayang. Nara memang lebih muda 5 tahun dari Tiara, tapi kenyataan hidup dan keadaan yang membuat dia terlihat lebih dewasa.
Nara sadar, dalam keadaan hamil. Mood Tiara akan berubah sewaktu-waktu, oleh sebab itu dia selalu mengantisipasi semuanya. Agar mood ibu hamil itu bisa kembali normal.
**********
Sementara itu sepeninggal Bram, Suta masih berada disana. Ditempat tadi, dimana Bram mengintrogasi DOni dan Sam.
Suta adalah orang kepercayaan Bram, tanpa Bram perintahpun dia terkadang melakukan hal yang menurutnya penting suatu saat nanti.
Masih duduk berhadapan dengan kedua anak buah yang beru beberapa waktu dia rekrut sendiri.
" Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui, dan ini juga menyangkut kelangsungan hidup kalian"
Suara Suta menggema dalam ruang vvip yang telah mereka pesan.
Bagi Doni dan Sam, Suta lah bos merela selama ini. Tidak menyangka masih ada seorang bos besar lagi dibelakang Suta.
" Maafkan kami bos, kami benar-benar tidak mengetahui kalau wanita yang kami celakai waktu itu ada hubungan dengan Tuan Bram" Sam yang sejak awal hanya terdiam dalam kekhawatiran saja akhirnya berani bersuara didepan Suta.
Tadi, semenjak awal dia melihat Bram. Mulutnya seakan tetkunci rapat, Sam mengakui, aura Bram yang sangat dominan walau hanya diam terduduk sudah cukup membuat lawan bicaranya mati membeku.
" Tidak apa, untung saja kalian tidak sampai melakukan hal fatal pada nona Tiara. Kalau itu terjadi, tentu saja aku pun tidak akan tau bagaimana nasib kalian selanjutnya.
Sesuai perintah Bram, Suta tidak diperbolehkan membongkar jati diri Tiara. Biarlah di mata banyak orang Tiara adalah bagian dari keluarga Bram.
" Begini, aku ingin kalian memerintahkan keluarga kalian untuk segera pindah dalam waktu dua hari ini."
" Pindah?, bos maksudnya apa bos mau memisahkan kami dari keluarga kami bos?"
" Bos, ini semua adalah kesalahan kami. Jadi mohon bos berkenan membebaskan keluarga kami, biarlah kami saja yang menanggung akibat perbuatan kami."
Sam dan Doni terperanjat mendengar perintah Suta. Bagaimanapun, mereka yang bersalah tidak ada hubungan dengan orang-orang terdekat mereka apalagi keluarga.
" Huuuft,, kalian ini. Bisa tidak untuk mendengarkan saya bicara sampai selesai. Jangan dipotong dulu."
" Maaf kan kami bos" ucap Sam dan Doni bersamaan
" Setelah ini, kalian hubungi keluarga kalian masing-masing, ingat lakukan secepatnya. Aku sudah siapkan rumah untuk keluarga kalian tempati."
" Tapi kenapa harus pindah bos?"
" Di tempat yang baru nanti, mereka aman dalam pengawasan kami. Tapi ditempat kalian tinggal kami tidak lagi bisa menjaminnya."
" Baik bos, kami mengerti secepatnya kami bawa mereka pindah."
" Tunggu!!" Cegah Suta ketika melihat Doni dan Sam yang hendak beranjak pergi.
" Jangan kalian yang melakukannya sendiri, suruh orang lain yang menjemput. Kalian cukup menghubungi mereka dan tunggu di tempat tinggal yang baru. Usahakan untuk beberapa hari ini kalian tidak keluar dari daerah ini."
" Baik bos kami akan melakukannya"
" Hemm" Suta berdehem sebagai jawaban pada anak buahnya tersebut.
Bagaimana pun Suta harus berfikir jauh kedepan, demi keselamatan keluarga mereka yang mungkin akan menjadi sasaran agar mereka keluar menunjukkan batang hidung mereka. Mengingat detail cerita dari mereka, Suta dapat menyimpulkan kalau Nyonya Amel masih mencari keberadaan mereka itu.
*******
Dion berdiri dibalkon kamarnya, dia menatap nanar cahaya rembulan yang menyembul di balik awan.
Besok adalah hari terakhirnya menjadi duda, walau dia sendiri tidak pernah menganggap dirinya duda. Karna selama lima bulan terakhir Sasya masih lah tetap hidup abadi dalam hatinya.
Dan besok lusa adalah hari penghianatannya kepada sang istri. Tidak pernah terpikirkan bahkan mimpi pun dia belum pernah ingin melakukannya. Baginya sang istri adalah segalanya.
Menjadi anak tunggal juga bukanlah keinginannya, andai bisa memilih Dion lebih memilih menjadi orang biasa yang tidak punya latar belakang bisnis. Dan seandainya dia mempunyai saudara mungkin juga hal ini tidak akan pernah terjadi. Dion ingin mempertahankan kesetiaannya pada sang istri, namun kenyataan dan keadaan yang dia hadapi tidak memihaknya sedikitpun.
" Sayang, maafkan aku maaf. Aku tidak bisa mempertahankan kesucian cinta kita. Maafkan aku harus menghianatimu, percayalah aku hanya mencintaimu. Hanya kamu Sasya, hanya kamu"
Dion menangkupkan kedua tangannya, ingin dia pergi menyusul sang istri tapi bayangan sang mama selalu menghampirinya. Setelah kepergian papa dan Sasya, mama hanya punya dirinya. Kalau Dion mengakhiri hidupnya menyusul sang istri, bagaimana dengan mama?
Tok tok tok
Dion menghela nafas berat, dia hanya ingin sendiri untuk beberapa waktu. Tapi selalu saja ada yang mengganggunya.
" Sayang, boleh mama masuk?"
" Masuklah ma, tidak dikunci"
Dion segera menyelipkan album foto nya bersama sang istri di bawa tempat tidurnya. Beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan menghampiri pintu yang perlahan terbuka.
" Mama tau kamu belum tidur, makanya mama kesini. Boleh mama bicara sebentar sayang."
Wanita paru baya itu sangat faham kegundahan putranya, dia juga sangat merasa bersalah karna harus memaksanya untuk menikah lagi.
" Soal apa ma? kenapa tidak menunggu besok pagi? ini sudah larut seharusnya mama beristirahat." Dion membimbing mamanya duduk disofa yang ada di dalam kamarnya.
Setelah menutup pintu barulah dia ikut duduk disamping sang mama.
" Maafin mama nak, mama tau kamu sangat tersiksa karna melakukan ini semua. Mama juga tau, bagaimana kamu sangat mencintai istrimu. Tapi nak semua masih bisa diurungkan jika kamu keberatan. Mama tidak tega melihatmu tertekan begini."
Isakan mulai terdengar dari wanita paru baya itu, Dion segera membawa sang mama dalam pelukannya. Dia juga tau, sang mama sama terpukul dan tertekan karna meninggalnya Sasya. Hal yang mereka yakini selama ini walau sampai sekarang tidak pernah ditemukan mayat maupun jejaknya.
*****
" Tidak jangan mendekat, tolong-tolong lepaskan saya hiks hiks" Suara tangis dan teriakan Tiara terdengar pilu.
TO BE CONTINUE
Ehh semua bahagia pokoknya 😚😁
Mark siap2 puasa nih kata Abang, tak apa ya Mark puasa juga demi istri tercinta dan si twins buah hati kalian 😁😚
Nah, papah Bram jangan bicara sembarangan didepan Qee dia pasti keppo apa yang papahnya ucapkan😁
Semangat berkarya dan sukses selalu Thor 💪😚