Masih ingatkah kalian dengan pasangan fenomenal Satria dan Sarah?
Kini mereka sudah memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Arkana.
Ya, kehidupan Arkana tiba-tiba saja berubah 360° saat dia harus bertanggungjawab dan menikahi seorang gadis yang tidak di kenalnya sama sekali.
Lalu bagaimana kehidupan mereka, akankah Arkana bisa menjadi suami yang baik, atah malah sebaliknya.
Simak cerita mereka dan sebelum itu baca dulu cerita sebelumnya oke.
My Wife Is, My sugar mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bicara
Arkana membawa Rania ke kamar mereka. Kamar yang dulu di tempatnya sendiri, kini menjadi tempat mereka berdua.
"Masuk, cil." Arkana membuka pintu kamarnya dan membawa Rania masuk.
Deg!
Jantung Rania seperti berhenti berdetak melihat apa yang terpampang nyata dh depan matanya saat ini.
"Cil, lu kenapa sih dari tadi diem aja? Lu sariawan ta?" tanya Arkana lagi.
"Ini beneran kamar?" tanya Rania pada suaminya.
"Kayaknya bukan. Ini lapangan basket!" jawab Arkana kesal.
"Ya iyalah, ini kamar gue. Eh, maksudnya kamar kita. Emangnya kenapa? Lu gak suka ya?" Rania melangkahkan kedua kakinya memasuki ruangan penuh dengan kemewahan itu dan melihat sekelilingnya.

"Ini beneran kamar kita?" tanya Rania setelah berkeliling ruangan itu.
"Yoi, kamar kita. Gak mau nyoba ranjangnya? Bagus banget loh. Cobain yuk cil," ucap Arkana sengaja menggoda Rania hingga membuat pipi wanita itu langsung berubah seperti bunga sakura yang sedang bermekaran di musim semi.
"Apaan, sih kamu." ujar Rania meninggalkan Arkana dan dia kembali berkeliling.
Sedangkan Arkana hanya tersenyum saja melihat sikap menggemaskan istrinya itu. "Gemes banget istri gue ya ampun." gumamnya melihat sikap Rania dan menyusulnya.
Kini Rania berasa di ruangan ganti mereka dan dia kembali di kejutkan dengan apa yang di lihatnya.

"Nahkan, apa gue bilang. Mami udah nyiapin semuanya buat lh kan cil." ucap Arkana yang tiba-tiba bersuara di belakang Rania membuat wanita itu terkejut dan hampir terjatuh jika Arkana tidak cepat menangkap tubuhnya.
Keduanya saling menatap satu sama lain, hingga membuat jantung keduanya berdetak kencang. Benar-benar tidak terkendali lagi. Terutama Rania yang berdekatan dengan Arkana tanpa jarak seperti ini.
Namun, siapa sangka jika apa yang terjadi selanjutnya semakin membuat Rania tidak bisa berpikir dengan baik lagi.
Cup...
Sebuah kecupan manis berhasil mendarat di bibir merah jambunya membuat tubuhnya semakin menegang kaku di buatnya.
"Manis banget, cil." gumam Arkana yang membuat Rania langsung tersadar.
"Mau kemana, cil? Plis jangan ngahindar dari gue. Lu kan udah janji sama gue buat bisa terima pernikahan ini. Gue tau gua salah, bahkan mungkin kesalahan gue itu gak akan di maafkan sama Allah, tapi gue beneran sama pernikahan ini cil. Gue mau nikahin lu dan bangun semuanya sama elu juga." ujar Arkana panjang lebar.
"Tapi-"
"Sttt..." Arkana memotong perkataan Rania.
Dia menatap wanita yang masih berada di dalam rangkulannya itu dengan penuh perasaan.
"Gue gak butuh jawaban itu sekarang. Gue tau lu belum bisa terima laki-laki berengsek ini. Tapi gue harap, suatu saat lu bisa Nerima gue, cil. Gue janji bakalan belajar jadi suami yang baik buat elu, cil." Rania diam sejenak.
Dia bingung harus bereaksi seperti apa untuk suaminya ini. Karena jujur saja, dia belum terbiasa dengan semuanya.
"Rania, lu mau kan mulai semuanya dari awal sama gue?" tanya Arkana dengan lembut.
Rania menatap Arkana, dan mencari kejujuran di mata laki-laki yang telah menjadi suaminya itu. Namun, belum sempat dia menemukan jawaban itu, tiba-tiba saja pintu ruangan ganti mereka terbuka dan masuklah mami Sarah ke dalamnya membuyarkan interaksi keduanya.
"Rania, sayang? Gimana, suka sama-kamarnya gak?" tanya Sarah merasa bersalah karena telah datang di waktu yang tidak tepat.
Rania langsung ingin melepaskan dirinya dari rangkulan Arkana, tapi tidak bisa. Karena lengan kekar laki-laki itu masih menahannya.
"Mami, ini gak kayak yang mami pikirkan kok. Rania sama kak Arkana-"
"Seperti yang mami pikirkan juga gak apa-apa kok sayangnya mami. Lanjutkan sayang! Arkana, jangan lupa ya nak. Tembak dalam biar jadi!" ungkap Sarah yang membuat Arkana hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.
Sementara Rania, dirinya tidak tau apa yang di maksud oleh mami mertuanya hanya bisa menatap ibu dan anak itu.
"Bye sayang! Jangan lupa turun untuk makan malam ya. Lopyu!"
Brak!
Sarah menutup pintu kamar anak dan menantunya itu dengan keras karena terlalu bahagia dengan apa yang di lihatnya.
Sepeninggal mami Sarah, Rania langsung bertanya pada suaminya, apa yang dh maksud oleh maki mertuanya.
"Kak, yang di maksud mami tembak dalam itu apa?" tanya Rania dengan polosnya.
Sedangkan Arkana hanya tersenyum saja. Dia memiliki ide cemerlang untuk hal itu.
"Nanti malam gue jelasin cil. Btw, gue suka deh di panggil kakak. Untuk saat ini oke sih, tapi lebih oke lagi kalau panggilnya sayang. Biar romantis kayak mami sama papi."
Blush...
Pipinya kembali bersemu merah jambu membuat Rania salah tingkah.
"Aduh aduh, gemesnya isteli aku. Jadi makin tayang deh. Cini, tium lagi cini." ucapnya dengan imut membuat Rania melarikan diri darinya.
"Aku mau mandi!" alibinya agar bisa melepaskan diri dari Arkana yang membuat laki-laki itu semakin gemas dengan istrinya.
"Beneran gemesin banget istri gue ampun dah!" ungkap Arkana sambil tersenyum membayangkan wajah menggemaskan Rania.
next my