Surinala Maharani atau biasa dipanggil Nala. Dia seorang gadis yatim piatu, dan hanya tinggal bersama bibinya.Kehidupannya yang berat membuat dia harus bekerja banting tulang.
Pertemuan tidak disengaja Nala dengan pria bernama Akira membuatnya harus menurut pada pria itu karena hal berharga Nala telah diambil secara tidak sengaja pula oleh Akira.
Akira berjanji akan bertanggung jawab dan menikah Nala, tapi Nala tidak tau jika semua itu adalah suatu rencana besar yang sedang Akira jalankan, dan mirisnya, dia membawa Nala dalam rencananya itu.
Nala yang mengetahui rencana Akira memilih menjauhi pria yang sudah membuatnya jatuh cinta. Nala memilih pergi dari kehidupan Akira dan dia pergi dengan membawa buah cintanya dengan Akira yang tidak Akira ketahui.
Akankah Akira menyesal sudah membuat wanita yang mencintainya pergi? Dan bagaimana reaksinya saat tau wanita yang sudah dia nikahi itu pergi dengan membawa calon bayinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Perasaan
Reno yang menunggu jawaban dari Nala, melihat Nala dari pantulan kaca spion di atas kepalanya.
"Aku belum punya pacar, Pak Reno. Aku tidak pernah pacaran sebelumnya." Nala langsung melihat ke arah Akira.
"Wah bagus itu!" seru Reno bahagia.
"Apanya yang bagus? jangan banyak bertanya! kamu menyetir saja!" hardik Akira.
"Aku kan cuma bertanya, Bos. Kita kan jarang menemukan gadis sepolos dan selugu Nala. Kamu gadis impianku, Nala," ucap Reno pelan.
"Apa maksud ucapan kamu? dia itu akan menikah denganku!" Akira menekankan kata-katanya.
"Iya, maksudku dia gadis impian kamu, Bos." Reno kembali fokus menyetir, Nala bingung mendengar apa yang di maksud oleh Reno.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah restoran mewah, mata Nala membulat melihatnya, dia seumur-umur tidak pernah masuk ke restoran semewah ini, bagi dia tempat makan paling mewah yang pernah dia injakkan kakinya adalah di cafe tempat dia bekerja.
"Kita makan di sini? apa tidak salah? sebaiknya tidak usa, aku bisa makan di tempat kerja aku." Nala hendak pergi jika Akira tidak menggandeng tangannya.
"Kamu mau ke mana? pagi ini temani aku makan." Akira menggandeng Nala masuk dan Reno juga ikut masuk.
Akira memilih tempat duduk yang berisi dua orang saja. "Ren kamu cari meja lainnya, aku mau berbicara dengan calon istriku."
"Apa? hem ...!" Reno melengos pergi, kenapa dia tidak diikutkan dalam pembicaraan mereka? bukannya dia yang memberi ide pada Akira.
"Selamat pagi. Ini menu makanan yang Anda bisa pesan." Seorang pelayan cantik dengan ramah menyambut mereka.
Nala membuka menu makanan dan dia bingung dengan tulisan di sana, dia tidak tau artinya, dan dia tidak pernah makan makanan dengan nama seperti yang ada di buku menu itu. "Akira, kamu saja yang memesankan makanannya, aku bingung mau makan apa?"
"Baiklah, aku yang akan memesankan, di sini semua makanan adalah makan Italy, dan aku sangat menyukainya. Apa kamu mau sup, roti, atau makanan yang ada nasinya?"
"Aku ikut apa yang kamu makan saja."
"Baiklah. Aku memesan dua Gnocchi dan 2 vanilla latte satu dingin dan satu hangat."
"Baik." Pelayan restoran itu pergi dari sana.
Nala melihat sekeliling restoran itu, di sana dekorasi dan funiturenya sangat indah, benar-benar terkesan elegant, dan mewah. "Apa kamu sering makan di sini?"
"Iya, aku sangat senang makanan khas Italy. Apa kamu pernah makan, makanan Italy?"
"Yang aku tau makanan Italy itu pizza dan pasta, dan itupun aku pernah diajak makan sama mas Radit."
"Mas Radit? siapa itu mas Radit?"
"Dia bos aku di tempat kerja, dan dia sangat baik denganku, Akira," Nala kelihatan bersemangat saat menceritkan Mas Radit.
"Kalian tidak berpacaran, Kan?" tanya Akira tegas.
Seketika Nala terdiam, belum sempat dia menjawab, makanan yang mereka pesan datang. Nala bingung melihat makanan yang di hidangkan di hadapannya. "Ini pasta?"
"Gnocchi ini hampir sama pentingnya seperti sup dan pasta, makanan ini terbuat dari tepung gandung, kentang, keju, dan telur serta semolina. Ini bisa menggantikan sup apa pasta. Cobalah pasti kamu menyukainya."
Akira menyendokkan sedikit Gnocchi dan menyuapkan ke dalam mulut Nala. Nala yang reflek membuka mulutnya dan mencicipi makanan yang di berikan oleh Akira.
"Hem ... rasanya aneh, tapi enak. Aku baru saja mencicipi makanan seperti ini."
"Ya sudah, kamu habiskan makanannya."
"Iya. Nala memakan makanan yang menjadi makanan favorite Akira itu.
"Nala, kamu sudah membawa ponsel yang aku berikan? aku sudah memasang kartu sim di sana jadi aku bisa menghubungi kamu denhan mudah. Nanti aku hubungi kamu, nanti malam siapkan semua surat-surat kamu. Aku ingin pernikahan kita secepatnya terjadi, dan kemudian kita akan berbulan madu di Italy."
"Hah? bulan madu?" Muka Nala tampak malu.
"Iya, setiap orang yang menikah, Kan, nantinya pasti berbulan madu."
"Tapi--. Kalau mau berbulan madu, aku kan harus pergi dalam waktu lama, dan aku harus libur kerja dan meninggalkan bibiku dalam waktu yang lama. Kita nanti tidak usah berbulan madu saja. Aku juga tidak akan di bolehkan untuk bolos kerja dalam waktu yang lama."
Akira baru kepikiran masalah ini, susah juga, mereka kan memang menikah diam-diam. Akira sendiri yang meminta menikah diam-diam.
"Nanti kita pikirkan lagi masalah ini, yang terpenting kita menikah dulu." Akira memegang tangan Nala. Dan hal itu dilihat Tommy dari kejauhan.
"Apa benar bos tidak akan jatimuh cinta benaran sama gadis itu, aku lihat dia kenapa lebih hangat dengan gadis itu? aku berharap bos tetap ingat rencananya, dan nantinya aku yang akan mendekati Nala, saat hatinya tersakiti.
Loh ... ada apa ini?
lanjuut
lanjuutt