NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Pulih dengan Dingin, Kembali ke Kokpit

“Kalau dia ingin membeli Klub Enggar, suruh dia bicara langsung dengan saya.”

Suara Anindya masih lemah, tetapi ruangan rumah sakit mendadak terasa seperti ruang rapat.

Sisi meletakkan tablet di meja lipat dekat ranjang. Dua minggu telah berlalu sejak operasi. Jahitan di sisi perut Anindya belum dilepas seluruhnya. Bahunya masih ditopang, dan ia baru mampu berjalan beberapa langkah dengan bantuan tongkat.

Namun, seorang direktur grup investasi mengira masa pemulihan itu adalah kesempatan untuk merebut sebagian aset Klub Enggar.

“Dia menekan tiga pemegang kontrak gedung dan menawarkan pelunasan utang kepada salah satu mitra,” lapor Enggar. “Katanya pemilik sebenarnya mungkin tidak akan kembali bekerja.”

“Hubungkan teleponnya.”

Sisi menekan tombol panggilan. Setelah dua dering, suara pria terdengar dari pengeras.

“Pak Enggar, saya sudah memberi penawaran terakhir. Kalau Anda tetap menolak, izin operasional klub itu bisa mengalami masalah.”

“Anda sedang berbicara dengan orang yang salah,” kata Anindya.

Hening.

“Siapa ini?”

“Orang yang Anda tunggu tidak kembali.” Anindya menyandarkan kepala karena nyeri, tetapi suaranya tetap rata. “Saya punya pertanyaan. Apakah komisaris perusahaan Anda tahu dana akuisisi berasal dari rekening perantara di Singapura? Atau hanya Anda yang tahu mengapa tiga invoice konsultasi memakai alamat kantor kosong?”

Napas pria itu terdengar berubah.

“Saya tidak mengerti maksud Anda.”

“Bagus. Berarti Anda juga tidak keberatan kalau auditor dan penyidik pajak membantu menjelaskan.”

“Tunggu. Kita bisa bicara baik-baik.”

“Tarik semua tekanan terhadap mitra kami. Kirim pernyataan tertulis sebelum pukul lima. Setelah itu, jangan sebut Klub Enggar lagi.”

“Siapa sebenarnya Anda?”

Anindya memutus panggilan.

Enggar tersenyum untuk pertama kali sejak kecelakaan. “Selamat datang kembali, Bos.”

“Saya belum pernah pergi.”

Tiga puluh menit kemudian, surat penarikan penawaran tiba. Mitra gedung juga menerima pemberitahuan bahwa semua tekanan dihentikan.

Pintu kamar terbuka. Arka masuk membawa bubur ayam dari warung yang dulu sering mereka datangi setelah penerbangan malam.

Sisi segera mematikan layar. Enggar mengambil map dan berdiri.

“Kami lanjut nanti, Bos.”

Arka mendengar panggilan itu, tetapi Enggar sudah berjalan keluar sebelum ia sempat bertanya.

“Kamu bekerja lagi?” Arka meletakkan makanan di meja.

“Saya menjawab satu telepon.”

“Dokter menyuruhmu istirahat.”

“Dokter tidak melarang saya berpikir.”

Arka membuka wadah bubur. “Kamu belum sarapan.”

“Sudah.”

“Perawat bilang hanya tiga sendok.”

Anindya menatapnya. “Anda bertanya kepada perawat soal berapa sendok makanan saya?”

“Saya perlu tahu.”

“Tidak. Anda ingin tahu. Itu berbeda.”

Arka terdiam. Ia mendorong bubur ke dekat tangannya, tetapi Anindya tidak menyentuhnya.

Hari berikutnya ia datang membawa jeruk tanpa biji yang biasa disukai Anindya. Hari sesudahnya, ia membawa bantal kecil untuk menyangga bahunya. Semua diterima perawat, bukan oleh Anindya.

Saat ia mencoba membantu mengatur meja, Anindya menghentikannya.

“Saya bisa sendiri.”

“Tangan kananmu belum kuat.”

“Ada tombol panggil perawat.”

“Nindya...”

“Jangan menjadikan rasa bersalah Anda sebagai pekerjaan tambahan saya.”

Kalimat itu membuat Arka mundur. Ia tetap datang, tetapi setelahnya selalu menunggu izin sebelum menyentuh apa pun.

Ratih mengunjungi setiap sore sepulang kerja. Ia membawa pakaian bersih, mengisi token listrik kontrakan, dan mengomel ketika Anindya mencoba membaca laporan sambil latihan pernapasan.

“Aku tahu kamu bos kecil di pekerjaan konsultasimu,” katanya sambil menyembunyikan tablet di dalam tas, “tapi paru-parumu tetap bukan direksi. Istirahat.”

“Bos kecil?”

“Ya. Jangan senang dulu. Kamu masih kalah galak dari ibu kos.”

Tawa Anindya hanya bertahan satu detik sebelum nyeri menarik sisi perutnya. Ratih langsung menyangga bantal dan memanggil perawat.

Pada hari kepulangan, Enggar mengembalikan kotak beludru hijau yang diamankan dari barang pribadinya. Anting mendiang Laras tidak rusak. Anindya memasangnya dengan satu tangan, menatap bekas jahitan yang tampak di atas bahunya, lalu menutup kerah baju.

“Dokter bilang bekasnya bisa memudar,” kata Ratih.

“Tidak harus hilang.”

Anindya kembali ke kontrakan Ciputat, bukan ke apartemen mewah atau rumah keluarga. Tetangga membawa sup hangat dan bertanya apakah maskapai membayar biaya rumah sakit. Tak seorang pun mengetahui bahwa malam harinya ia mengendalikan Klub Enggar dari laptop terenkripsi di meja makan kecil.

Seminggu kemudian, setelah hasil kontrol membaik, Dewa mengizinkan Anindya memulai rehabilitasi kerja terbatas. Izin itu bukan izin membawa penumpang. Medical certificate penerbangannya masih ditangguhkan sampai kekuatan bahu, tungkai, dan respons darurat memenuhi standar.

Adiwijaya menyiapkan sesi pengenalan ulang di pesawat kosong yang terparkir, didampingi instruktur dan petugas medis penerbangan.

Saat Anindya memasuki kokpit, aroma panel dan kursi kulit membuat langkahnya berhenti. Bahunya berdenyut. Telapak tangannya menjadi dingin ketika ingatan tentang batu dan suara tali putus muncul.

“Kita bisa berhenti,” kata instruktur.

“Tidak.” Anindya duduk di kursi kanan. “Saya hanya butuh satu menit.”

Ia memasang headset, meraih checklist, dan menjalankan simulasi prosedur tanpa menyalakan mesin. Gerakannya lebih lambat daripada dulu, tetapi tak ada satu tahap pun terlewat.

Instruktur sengaja menjatuhkan kartu prosedur ke sisi kursi dan meminta Anindya meraih panel atas dengan tangan yang cedera. Bahunya langsung menegang. Rasa sakit menjalar sampai siku.

“Berhenti kalau lebih dari enam,” kata petugas medis melalui pintu kokpit.

“Tujuh,” jawab Anindya jujur.

Sesi dihentikan. Ia tidak berdebat. Memaksakan gerakan hanya akan membuktikan bahwa dirinya belum layak dipercaya di udara.

“Kita ulang setelah rentang gerak bertambah,” kata instruktur. “Kemampuan prosedural Anda masih baik. Masalahnya sekarang murni fisik dan respons setelah trauma.”

Anindya mencatat dua bagian yang gagal di buku kecil. Ia tidak menyembunyikan hasilnya dan tidak meminta standar diturunkan.

Di luar kaca, Arka berdiri di apron. Ia tidak masuk dan tidak mengganggu evaluasi. Tatapannya mengikuti setiap gerakan Anindya sampai sesi selesai.

Seorang manajer operasi sempat mendekatinya dan menawarkan percepatan clearance atas nama kebutuhan perusahaan. Arka menolak sebelum pria itu selesai bicara.

“Tidak ada pengecualian. Dia kembali hanya kalau dokter penerbangan dan instruktur menyatakan aman.”

Anindya mendengar kalimat itu dari balik pintu kokpit. Untuk sekali ini, perlindungan Arka tidak mengambil keputusan dari tangannya atau mengubah aturan demi dirinya.

Anindya turun dengan tongkat. Keringat dingin membasahi punggungnya, tetapi ia tidak menerima tangan yang hendak diulurkan Arka.

“Hasilnya belum cukup untuk terbang,” kata petugas medis. “Kita evaluasi lagi setelah fisioterapi lanjutan.”

“Saya mengerti.”

Malam itu, Anindya menghubungi Sisi dari kontrakan.

“Perluas penyelidikan Laras. Periksa rekening Sri Wahyuni, Amara, bekas pegawai rumah, dan semua laporan medis sepuluh tahun lalu.”

“Termasuk berkas tali Merapi?”

“Pisahkan kasusnya, tapi cari siapa yang dibayar.”

“Baik, Bos.”

Pada kontrol berikutnya di RS Wira Medika, Dewa menyatakan pemulihan berjalan sesuai rencana. Belum cepat, belum sempurna, tetapi maju.

Arka mendorong pintu saat Anindya sedang membaca jadwal evaluasi berikutnya. Pandangan mereka bertemu.

Ia membawa sekotak makanan lagi dan banyak kalimat yang tak pernah berhasil diucapkan.

Anindya menutup berkas.

“Kapten,” katanya, “saya ingin kembali terbang secepat aturan medis mengizinkan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!