NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20 — Malaikat Maut

Di lantai tiga bawah tanah, sorakan tidak terdengar seperti sorakan.

Tri turun dari tangga besi dan langsung meralat pikirannya.

Ada suara.

Banyak.

Tetapi itu bukan suara penonton lantai satu yang ribut karena taruhan kecil. Suara di lantai tiga lebih berat, lebih lapar, dan lebih sabar. Orang-orang di sini tidak hanya ingin melihat siapa menang. Mereka ingin melihat apa yang rusak saat seseorang kalah.

Bang Somad menunggu di bawah tangga, wajahnya tidak seceria biasa.

“Kau yakin mau naik malam ini?”

Tri menatapnya.

“Pertanyaan itu biasanya berarti harga tiket lebih mahal.”

“Pertanyaan itu berarti aku tidak mau kehilangan sumber komisi terlalu cepat.”

“Saya tersentuh.”

“Jangan. Mahal.”

Bang Somad menyerahkan gelang peserta lantai tiga. “Hari Pembantaian. Kolam acak. Peserta L3 ke bawah yang mendaftar bisa ditarik ke panggung mana saja. Surat hidup-mati berlaku penuh. Penonton bayar untuk darah.”

Tri memasang gelang itu.

Lampunya menyala merah.

“Hadiah?”

Bang Somad menatapnya seperti melihat orang sakit yang masih menawar harga peti mati. “L3 menang satu laga lima ratus ribu. Hari Pembantaian punya bonus tontonan. Kalau kau bertahan sampai akhir, bisa jutaan.”

“Itu baru informasi berguna.”

“Informasi berguna lain: jangan ditarik melawan Malaikat Maut.”

Nama itu terdengar dari arena utama sebelum Bang Somad selesai bicara.

Penonton tidak meneriakkan ID itu seperti dukungan.

Mereka menyeretnya.

Ma-la-i-kat Maut.

Ma-la-i-kat Maut.

Tri berjalan ke pagar penonton.

Arena utama lantai tiga lebih besar daripada lantai satu. Dinding pelindungnya lebih tebal. Lantainya hitam oleh bekas panas yang tidak sepenuhnya hilang. Di atas, ruang-ruang VIP menggantung seperti sarang burung pemangsa, kaca gelapnya memantulkan cahaya merah arena.

Di tengah panggung, satu Mecha berwarna kelabu berdiri gemetar.

ID-nya:

si Monyet.

Mecha itu sudah kehilangan satu lengan. Lutut kirinya rusak. Pilotnya jelas masih sadar, karena mesin itu terus mencoba mundur dengan gerakan panik.

Di depannya, Mecha hitam tinggi berdiri santai.

Tidak terlalu besar.

Tidak terlalu tebal.

Tetapi semua garisnya salah.

Terlalu tajam di tempat yang tidak perlu tajam. Terlalu ringan untuk tenaga yang ia keluarkan. Sendi bahunya bergerak dengan kelenturan yang tidak sesuai dengan bahan L3. Di siku kanan, ada kilatan pucat sesaat setiap kali ia memutar lengan.

Tri menyipit.

Kristal sendi?

Warnanya bukan kelabu.

Bukan biru murah.

Pucat, hampir emas.

Bang Somad berdiri di sampingnya. “Itu Malaikat Maut. Kalau dia melepas kepala Mecha-mu, pilot bisa ikut hilang separuh pikirannya. Banyak yang tidak kembali normal.”

Di arena, si Monyet mengangkat tangan satu-satunya.

“Aku menyerah!”

Suara itu keluar dari pengeras kokpit, pecah, penuh napas.

Penonton mencemooh.

Malaikat Maut memiringkan kepala.

Layar aturan di atas arena berkedip:

Penyerahan sah bila lawan menghentikan serangan atau wasit mengaktifkan jeda.

Wasit tidak menekan apa pun.

Malaikat Maut melangkah maju.

Si Monyet mencoba merangkak mundur.

Tri melihat pergerakan Mecha hitam itu lebih teliti.

Torsi bahu terlalu tinggi.

Respons lutut terlalu bersih.

Tenaga cengkeramnya bukan milik mesin L3 standar.

Seseorang mengganti bagian dalamnya.

Dengan bahan yang terlalu bagus untuk tempat ini.

Malaikat Maut mencengkeram kepala Mecha si Monyet.

“Tidak! Aku menyerah!”

Tangan hitam itu memutar.

KRAK.

Kepala Mecha kelabu terlepas.

Di layar kokpit pecah, tubuh pilot si Monyet kejang, lalu jatuh lemas di kursi. Tim medis bawah tanah baru bergerak setelah penonton bersorak.

Tri tidak berkedip.

Itu bukan sekadar menang.

Itu sengaja merusak sambungan saraf setelah lawan menyerah.

Orang seperti ini tidak memotong mesin untuk menang. Ia memotong orang di balik mesin.

Malaikat Maut mengangkat kepala Mecha yang putus, lalu mencabut satu kristal sendi dari lehernya. Ia menggoyangkannya di antara dua jari mekanik seperti mainan.

Penonton tertawa.

Di salah satu ruang VIP, kaca gelap terbuka sedikit.

Tri melihat kuku merah.

Sangat merah.

Seorang wanita duduk di balik kaca, dagu ditopang tangan, kuku panjangnya mengetuk pagar logam. Rambutnya gelap, bibirnya tersenyum tipis. Ia tidak terlihat seperti penonton yang kebetulan suka darah. Ia terlihat seperti pemilik rasa sakit di arena.

Bang Somad mengikuti arah mata Tri, lalu suaranya turun. “Jangan lihat lama-lama. Itu Rara. Orang sini memanggilnya si Cakar Merah.”

“Keluarga Malaikat Maut?”

“Kakaknya. Atau pemiliknya. Bedanya tipis.”

Tri menatap kembali arena.

Malaikat Maut membuang kepala Mecha si Monyet ke lantai. Benda itu berguling, berhenti tidak jauh dari garis pagar penonton. Mata sensor yang mati menghadap Tri.

Malaikat Maut di dalam kokpit seolah-olah melihatnya.

Mecha hitam itu mengangkat tangan, menunjuk langsung ke pagar tempat Tri berdiri.

Lalu ia menyeringai.

Bukan wajah Mecha yang menyeringai.

Pilotnya membuka saluran visual sebentar. Seorang pria dengan mata cekung dan senyum terlalu lebar muncul di layar samping arena. Ia menjilat bibir, lalu mengangkat kristal sendi rampasan.

“Tunduk pada Nasib,” katanya lewat pengeras. “Aku lihat rekamanmu. Kau suka membongkar, ya?”

Penonton langsung menoleh.

Nama Tri merambat di antara kursi.

Tunduk pada Nasib.

Tukang bongkar.

Pendatang baru yang naik terlalu cepat.

Tri tidak bergerak.

Bang Somad berbisik, “Jangan jawab.”

Tri memang tidak menjawab.

Ia hanya melihat siku kanan Mecha hitam itu.

Gerakannya terlalu ringan.

Kalau kristal pucat itu benar bahan S, satu tarikan salah dari lawan bisa menghancurkan seluruh struktur nomor tujuh belas. Titis Darah ada di kalungnya, tetapi memakainya di Bengkel Hitam berarti membuka terlalu banyak mata. Nomor tujuh belas tidak akan tahan lama.

Masalahnya, aturan tempat ini selalu menemukan cara membuat orang tidak punya pilihan.

Layar besar di atas arena berubah.

HARI PEMBANTAIAN.

KOLAM ACAK DIMULAI.

Nama-nama ID berputar cepat dalam cahaya merah.

Penonton mulai menghitung keras.

Bang Somad mengumpat pelan.

Tri memegang pagar.

Nama pertama berhenti.

Malaikat Maut.

Sorakan pecah seperti ledakan.

Nama kedua masih berputar.

Tri tidak bernapas.

Ia ingin uang. Ia ingin naik. Ia ingin melihat dari dekat bagian yang salah pada Mecha hitam itu. Tetapi melawan mesin dengan komponen yang mungkin S memakai nomor tujuh belas adalah cara cepat menjadi catatan medis.

Nama kedua berhenti.

Tunduk pada Nasib.

Lantai tiga meledak.

Di ruang VIP, Rara menghentikan ketukan kuku merahnya.

Malaikat Maut menoleh ke arah Tri dan mengangkat kristal rampasan, seolah-olah menawarkan tempat berikutnya di antara koleksinya.

Bang Somad mencengkeram lengan Tri. “Kau bisa mundur sebelum masuk arena. Tapi deposit dan reputasimu habis.”

Tri menatap layar yang memaku dua nama itu.

Deposit.

Reputasi.

Uang.

Nyawa.

Semua kata itu berbaris seperti baut yang harus dipilih satu per satu.

Ia melepaskan tangan Bang Somad.

“Nomor tujuh belas masih bisa jalan?”

Bang Somad menatapnya seperti ingin memaki.

“Bisa. Tapi melawan itu?”

Tri melihat Mecha hitam yang masih memegang kepala lawan.

Senyumnya hilang.

“Kalau dia suka merusak kepala,” katanya pelan, “berarti gue mulai dari tangannya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!