Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 — HARI FESTIVAL
Pagi yang ditunggu-tunggu seluruh warga SMA Garuda Bangsa akhirnya tiba. Hari Sabtu ini, langit di atas sekolah begitu cerah tanpa setitik pun awan kelabu. Alunan musik pop energetik bergema dari pengeras suara raksasa panggung utama, bercampur riuh tawa ratusan siswa, pengunjung dari sekolah lain, serta deretan stan pameran dan makanan yang dipenuhi pernak-pernik warna-warni.
Sebagai Ketua Pelaksana Utama Garuda Bangsa Art Festival 35, Arka tampak luar biasa sibuk sejak subuh. Mengenakan jas kemeja putih berlapis rompi panitia biru gelap yang terpasang presisi di tubuhnya, lengkap dengan walkie-talkie terselip di pinggang, Arka bergerak cepat dari satu titik ke titik lain. Ia memastikan aliran listrik panggung stabil, stan pameran teratur, dan protokol keamanan berjalan rapat.
Namun, di tengah segala hiruk-pikuk tugasnya, ada satu jadwal yang sudah terpatri khusus di benak Arka: pukul sebelas siang, pertunjukan drama komedi singkat perwakilan kelas 12 IPS 2 di panggung teater terbuka.
Pukul sebelas kurang lima menit, Arka secara tidak sadar melangkah mendekati area panggung teater terbuka. Ia berdiri di sudut belakang kerumunan penonton, agak tersembunyi di balik naungan pohon angsana.
Saat tirai panggung ditarik, sorak-sorai penonton pecah. Dan di sana, di tengah panggung yang diterpa sinar matahari pagi, berdiri Naya.
Naya mengenakan gaun terusan retro berwarna kuning cerah dengan garis-garis putih di bagian pinggangnya. Rambutnya yang biasa dikuncir kuda kini terurai bergelombang halus dengan pita merah di kepalanya. Riasan wajahnya tipis namun memancar alami, menyempurnakan binar matanya yang bulat dan senyum lebarnya yang penuh energi saat melafalkan dialog pertunjukannya.
Arka membeku di tempatnya berdiri.
Jemarinya yang memegang papan jalan kayu mendadak melemah. Seluruh keriuhan di sekelilingnya—suara musik, tawa penonton, dan panggilan dari walkie-talkie-nya—seolah mendadak meredup, menyisakan sosok Naya yang bergerak penuh percaya diri di atas panggung.
Untuk beberapa detik yang berharga, Arka lupa pada seluruh tugasnya sebagai Ketua OSIS. Lupa pada lembar anggaran di tangannya, lupa pada pengawasan stan, dan lupa pada protokol keamanan yang biasanya selalu ia agungkan. Matanya terkunci rapat pada Naya—gadis yang selama ini ia cap sebagai sumber masalah berjalan, tetapi siang ini terlihat begitu memesona dan penuh kehidupan.
"Ehem... Pak Ketua? Kaca matanya nggak aus tuh melototnya?"
Sebuah suara jahil berbisik tepat di samping telinga Arka, memecah sihir keheningan yang menguasainya.
Arka tersentak kaget, refleks menegakkan tubuhnya kaku. Ia menoleh dan mendapati Dito berdiri di sampingnya sambil membawa dua cangkir es kopi. Dito menyunggingkan senyum tebal yang sarat akan godaan.
"Lagi ngeliatin siapa sih, Ka? Serius amat sampai panggilan panitia di walkie-talkie tadi dicuekin dua kali," goda Dito sambil mengocok es kopi di tangannya.
Arka buru-buru menguasai raut tenangnya kembali, merapikan letak rompi panitianya. "Saya cuma sedang mengecek kelayakan tata panggung dan respons penonton. Tugas pengawasan standar."
"Ooh... pengawasan standar," Dito manggut-manggut dengan nada mengejek yang sengaja dipanjangkan. Dito ikut melirik ke arah panggung, menunjuk Naya yang sedang memperagakan adegan komedi hingga membuat penonton tertawa riuh. "Tapi nggak bisa dipungkiri sih, Naya hari ini beda banget. Cantik, manis, ramah lagi. Pantas aja dari tadi anak-anak cowok dari sekolah sebelah pada heboh nanyain namanya ke anak IPS."
Arka menegang seketika. Manik mata hitamnya berkilat tajam ke arah Dito. "Pria sekolah sebelah?"
"Iya," Dito menunjuk dengan dagunya ke arah barisan penonton depan tempat beberapa siswa berseragam sekolah lain berdiri mengagumi Naya. "Tadi gue dengar sendiri ada yang bilang, 'Cewek baju kuning itu manis banget ya, minta nomor HP-nya ah habis ini'. Wah, saingan lo berat juga, Ka."
Rasa panas yang tak asing mendadak menyengat dada Arka. Jemari tangannya meremas papan jalan di genggamannya erat-erat.
Dito yang memperhatikan perubahan drastis pada raut wajah Arka langsung menepuk pundak sahabatnya itu pelan, lalu menatap Arka dengan pandangan yang tiba-tiba berubah serius.
"Ka... gue mau tanya jujur," suara Dito merendah. "Lo... beneran suka kan sama Naya?"
Pertanyaan langsung tanpa selubung dari Dito itu menghantam dada Arka begitu telak.
Arka terpaku. Lidahnya yang biasanya selalu lincah mengeluarkan alibi persahabatan orang tua atau pasal-pasal OSIS mendadak kelu total. Arka bermaksud untuk menyangkal secara otomatis—seperti yang biasa ia lakukan tiap kali Dito menggodanya. Namun hari ini, kata-kata 'Saya tidak suka' atau 'Dia cuma pemicu masalah' terasa teramat bohong di tenggorokannya sendiri.
Arka menatap ke arah panggung lagi, melihat bagaimana Naya tertawa lepas bersama teman-teman sekelasnya saat pertunjukan usai dan tirai ditutup diiringi tepuk tangan meriah.
"Saya..." suara Arka terdengar serak dan tertahan, "...saya tidak berhak membicarakan hal itu di sini."
Dito menyunggingkan senyum tipis yang penuh pemahaman, lalu menepuk pundak Arka dua kali sebelum melangkah pergi. "Terserah kata gengsi lo deh, Ka. Tapi ingat, kalau lo kelamaan ngakuinnya, cewek seindah Naya nggak bakal nungguin perasaan lo selamanya."
Arka berdiri sendirian di bawah naungan pohon angsana.
Kata-kata Dito bergema dalam kepalanya bersamaan dengan bayangan siswa-siswa lain yang mengagumi Naya hari ini. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, rasa takut yang nyata menyusup dingin ke dalam dada sang Ketua OSIS.
Bukan takut pada kegagalan acara, bukan takut pada teguran pembina sekolah... melainkan takut bahwa perasaan asing di dadanya ini bukan lagi sekadar bentuk rasa tanggung jawab atau keterpaksaan akibat pernikahan rahasia mereka.
Arka sadar betul, ia telah jatuh terlalu dalam pada Naya Aurelia. Dan kenyataan bahwa ia bisa kehilangan cewek itu sewaktu-waktu... terasa jauh lebih menakutkan daripada apa pun di dunia ini.