NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Selingkuhan Suamiku

Menikahi Ayah Selingkuhan Suamiku

Status: tamat
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vivi

Ketika Kamila Santoso pulang membawa kue ulang tahun pernikahan, ia tidak menyangka akan menemukan suaminya bersama perempuan lain di ranjang mereka sendiri. Tujuh tahun pengorbanan, harta yang dijual demi bisnis keluarga, dan semua hinaan yang ia telan runtuh dalam satu malam.
Kali ini Kamila tidak menangis dan tidak memohon. Ia mengumpulkan bukti, menuntut haknya, dan pergi dengan kepala tegak. Namun saat ayah sang selingkuhan, Gibran Beltran, muncul untuk meminta maaf, hidup Kamila berubah ke arah yang tidak pernah ia bayangkan.
Di antara perceraian, perebutan harta, keluarga mertua yang tamak, dan hati yang perlahan belajar percaya lagi, Kamila harus memilih: tetap menjadi korban masa lalu, atau merebut kembali martabatnya dengan cara yang membuat semua orang terdiam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Kompensasi yang Harus Diterima

Kamila menatap Gibran yang berlutut di hadapannya.

Wajah pria itu sedikit terangkat, ekspresinya terlalu khidmat untuk disebut bercanda.

"Kamu..."

Kamila membuka mulut dan sadar suaranya nyaris tidak keluar.

"Berdiri dulu."

"Tidak."

Gibran menjawab dengan sangat tenang.

Jari yang menggenggam tangan Kamila mengerat sedikit.

"Kamu belum menjawabku."

Tangan Gibran kuat, dengan jari-jari panjang. Ibu jarinya mengusap perlahan punggung tangan Kamila.

Jantung Kamila melonjak keras.

"Kamila, aku menyukaimu. Maukah kamu menjadi kekasihku?"

Ia mengatakannya lagi.

Suaranya dalam dan mantap.

"Kamu tahu apa yang kamu katakan?" tanya Kamila dengan suara serak yang terdengar asing di telinganya sendiri. "Kamu minum di lelang. Mungkin sebaiknya kita bicara setelah efeknya hilang."

"Aku tahu persis apa yang kukatakan."

Gibran menahan tatapannya dan mengucapkan setiap kata dengan jelas:

"Ini bukan dorongan sesaat. Aku sudah lama merencanakan cara untuk mendekatimu."

Kamila terpaku.

Sudah lama?

Pengakuan itu jatuh di dadanya seperti guntur.

Gibran memang mencari jalan untuk mendekat.

Pertama ia muncul sebagai ayah yang ingin meminta maaf atas perbuatan Valerie. Lalu ia memakai kompensasi untuk merentangkan jaring yang terhitung di sekeliling Kamila.

Ia menuntunnya selangkah demi selangkah ke tengah, dan setelah Kamila berada di sana, jaring itu mulai ia tutup.

"Sejak kapan?" tanya Kamila dengan suara gemetar. "Sejak hari kita bertemu di depan kantor pengacara?"

Mata Gibran menggelap.

Ia menempelkan tangan Kamila ke pipinya dan mengusapnya sambil tersenyum.

"Sebelum itu."

"Sebelum?"

Kamila mengernyit.

Sebelum itu hanya bisa berarti malam ketika ia menemukan perselingkuhan. Hari itu adalah kontak nyata pertama mereka.

Gibran tidak menjelaskan.

Ia memalingkan wajah dan mengecup tengah telapak tangan Kamila.

"Kamu masih belum menjawab pertanyaanku."

Kamila tersentak dan mencoba menarik tangan, tetapi Gibran menahannya lebih kuat.

Ia masih duduk di sofa.

Bibirnya masih panas, dan di lehernya tersisa tanda yang ditinggalkan Gibran. Tubuhnya mengingat setiap sentuhan dengan kejujuran yang jauh melebihi hatinya.

"Berdiri."

Kamila menarik tangannya.

"Kamu terlihat konyol berlutut begitu."

"Aku tidak akan berdiri sebelum kamu menerima."

Kamila menatapnya marah.

"Itu curang."

"Ya."

Gibran mengaku tanpa malu.

"Aku sedang curang supaya bisa tinggal bersamamu."

Kamila menarik napas dalam.

Dari sikapnya, Gibran tampak siap berlutut di sana sepanjang malam.

"Gibran."

Suaranya masih gemetar.

"Kamu yakin kamu menyukaiku? Bukan karena kamu perlu merasakan sesuatu untuk seseorang? Atau mungkin... kamu hanya ingin menebus perbuatan putrimu?"

Gibran diam.

Lalu ia tersenyum.

"Semua itu."

Ia mengusap pipi Kamila.

"Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Aku ingin mencintai seseorang dan menjaganya dengan sungguh-sungguh. Orang itu kamu."

Senyumnya menyimpan sedikit kenakalan.

"Valerie merampas suamimu, jadi papanya akan membayar utang itu. Dia merampas rumahmu, dan aku memberimu rumah lain."

Gibran menegakkan tubuh tanpa berdiri.

Matanya menyusuri setiap garis wajah Kamila.

"Dia merampas seorang pria darimu. Aku menyerahkan diri sebagai kompensasi. Kamu menerimaku?"

Itu disebut ganti rugi? Kamila butuh waktu untuk bereaksi.

Keluarga Beltran punya cara yang sangat aneh dalam menegakkan keadilan: mengembalikan persis apa yang telah diambil.

Sebagai kompensasi maupun pernyataan cinta, semuanya sama-sama ganjil.

"Katakan, Bu Santoso. Apakah tawaran ini memuaskan?"

"Aku tidak..."

Kamila belum sempat menyelesaikan kalimat.

Gibran menahan tengkuknya dan menariknya mendekat.

Mulut pria itu jatuh di atas bibirnya.

Ciuman itu kuat, dalam, seolah ia ingin meleburkan Kamila ke tubuhnya sendiri.

Kamila kehilangan napas.

Ia meletakkan tangan di dada Gibran untuk mendorongnya, tetapi pria itu menangkap pergelangan tangannya dan mengangkatnya ke atas kepala.

Gibran menciumnya begitu lama sampai Kamila merasa hampir kehabisan udara.

Baru setelah itu ia melepaskan Kamila.

Kamila bernapas tersengal. Matanya basah, bibirnya merah dan berkilau.

"Kamila."

Suara Gibran kasar.

"Kompensasi ini harus kamu terima, mau atau tidak."

Jantung Kamila bergemuruh.

Gibran tampak tidak berniat memberinya jalan keluar, tetapi setiap kata yang ingin ia ucapkan hancur di udara.

Ia memalingkan wajah, tak sanggup menahan mata panas itu.

Telinganya terbakar.

Kamila memaksa dirinya berpikir dengan ketenangan perempuan dua puluh delapan tahun.

"Gibran, kamu benar-benar sudah memikirkan semua yang baru saja kamu katakan?"

"Ya."

Gibran melepaskan tangannya, tetapi tidak berhenti mengamati setiap perubahan ekspresinya.

"Biarkan aku selesai. Kamu bilang menyukaiku sejak pertama kali, tapi yang kamu lihat adalah perempuan yang hancur setelah menemukan pengkhianatan. Kamu yakin itu cinta, bukan kasihan? Atau mungkin dorongan untuk melindungiku?"

Gibran menyingkirkan sehelai rambut dari wajahnya dengan hati-hati, seolah takut membuatnya pecah.

"Kamila, usiaku empat puluh lima tahun. Aku sudah mengenal banyak perempuan dan pernah menikah. Aku tahu apa yang kurasakan kepadamu. Kamu tidak perlu takut ini hanya emosi sesaat."

Suaranya melembut.

"Beri aku kesempatan mencintaimu seperti yang layak kamu terima. Aku tidak akan pernah memperlakukanmu seperti Maulana. Kamu juga tidak perlu khawatir soal konflik dengan orang tuaku, karena mereka sudah tidak ada."

Ia menahan tatapan Kamila.

"Valerie putriku. Sebagai ayah, aku mencintainya karena ikatan kami. Kamu bagian paling lembut dari hatiku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, bahkan dia."

Mata Kamila dipenuhi air.

Untuk pertama kalinya, Gibran menunjukkan kegelisahan seorang pemuda yang menunggu jawaban.

"Kamu pantas dicintai. Bersamaku, kamu tidak perlu merendahkan diri atau menyenangkan siapa pun. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri dan menjalani hidupmu."

Air mata Kamila mulai jatuh. Selama tujuh tahun ia menanggung kritik keluarga Zamora tanpa menerima kasih sayang dari suaminya. Ia tetap berada di sisi Maulana saat laki-laki itu belum punya apa-apa, dan setelah perusahaannya berdiri, Maulana meyakinkannya bahwa ia menyebalkan, tidak ada yang akan menginginkannya, bahkan orang tuanya pun menolak dirinya. Teresa melengkapi penghinaan itu dengan menyebutnya malas, tidak tahu terima kasih, tidak tahu sopan santun, dan aib keluarga. Kamila sudah terlalu lama memikul hinaan yang tidak pernah mendefinisikan dirinya.

Ia ingin mencabut semuanya dan hidup setidaknya sekali tanpa memikirkan tatapan orang lain.

Kamila menarik napas dalam dan menatap Gibran dengan mantap.

"Kuharap kamu tidak menyesal."

"Tidak akan pernah."

"Aku janda cerai."

"Aku duda."

"Aku dua puluh delapan."

"Aku empat puluh lima."

Kamila ragu sedetik.

Pertanyaan itu lolos sebelum sempat ia tahan:

"Dan kamu masih... bisa?"

"Aku..."

Tatapan Gibran menggelap.

Wajah Kamila terbakar.

Ia tidak percaya telah mengucapkan keras-keras pikiran yang baru saja melintas di kepalanya.

Gibran mengangkatnya ke dalam pelukan.

"Gibran! Apa yang kamu lakukan?"

Kamila menjerit pelan dan secara naluriah melingkarkan tangan di lehernya.

Gibran mengecup dahinya.

Dalam suaranya ada tawa tertahan dan janji yang membuat jantung Kamila kembali berlari.

"Aku akan memberi Bu Santoso jawaban yang memuaskan."

Kamila menyembunyikan wajah di lehernya.

Telinganya serasa menyala, tetapi ia tidak bisa menahan senyum.

Kalau ini akhir yang sudah lama direncanakan Gibran, ia menerimanya.

Lengan Gibran kokoh.

Meringkuk di dadanya, Kamila seperti anak kucing yang akhirnya menemukan rumah.

Gibran meletakkannya di ranjang dengan kelembutan yang disimpan untuk sesuatu yang rapuh.

Ia membungkuk di atas Kamila, menahan berat tubuh dengan kedua lengan, tanpa tergesa turun.

Matanya menyusuri alis, hidung, dan bibir Kamila perlahan.

Kamila terbakar di bawah tatapan itu.

Ia memalingkan wajah untuk bersembunyi di bantal, tetapi Gibran memegang dagunya dan dengan lembut memaksanya menatap.

"Jangan sembunyi. Biarkan aku melihatmu."

"Tidak ada yang bisa dilihat..."

Protes itu keluar dengan kelembutan yang tidak ia sadari.

Hati Gibran melunak.

Ia mengusap dagu Kamila dengan ibu jari.

"Kamu cantik. Bertahun-tahun aku bergerak di antara orang-orang paling berkuasa di kota ini dan mengenal berbagai macam perempuan. Tidak pernah kulihat perempuan secantik kamu."

Kelembutan kalimat itu datang bersama rasa sakit lama.

Maulana tidak pernah mengatakan Kamila cantik.

Pada sedikit kesempatan ketika Kamila berdandan, Maulana akan mengernyit.

"Percuma kamu berdandan. Sekali melihatmu saja, keinginanku hilang."

"Gibran."

"Ya?"

"Di masa depan..."

Kamila menggigit bibir, tetapi akhirnya tetap bertanya.

"Kamu akan merendahkanku?"

Gibran membeku.

Ia menunduk sampai dahinya menempel pada dahi Kamila. Ujung hidung mereka bersentuhan.

"Dengarkan aku baik-baik, Kamila. Dalam hidup ini, aku hanya akan menyesal kalau aku tidak cukup baik untuk pantas mendapatkanmu. Aku tidak akan pernah merendahkanmu."

Air mata kembali keluar dari mata Kamila.

Gibran tidak memintanya berhenti menangis.

Ia menurunkan wajah dan memungut setiap air mata dengan bibirnya.

Ia mengecup sudut mata, tulang pipi, pangkal hidung, lalu berhenti di dekat mulut Kamila.

"Kamu pantas dicintai," bisiknya di bibir Kamila. "Kamu pantas menerima cinta terbaik yang ada."

Kamila melingkarkan tangan di lehernya dan menciumnya lebih dulu.

Ciuman itu berbeda dari semua sebelumnya.

Kini bukan Gibran yang menuntut jawaban, melainkan Kamila yang dengan hati-hati menyerahkan sesuatu.

Ia menciumnya dengan canggung dan takut.

Ia takut kehilangan batas. Takut melupakan pelajaran tujuh tahun terakhir dan kembali menaruh hati di tangan orang lain.

Namun setiap geraknya menyimpan keinginan yang terlalu lama ia bungkam.

Napas Gibran menjadi lebih berat.

Ia membalas ciuman itu tanpa lagi menahan diri.

Tangannya turun perlahan di punggung Kamila, meninggalkan panas di sepanjang jalur.

Pakaian Kamila jatuh satu per satu ke lantai.

Kemeja dan celana Gibran berakhir bercampur dengan pakaiannya.

Lampu meja tetap menyala.

Di dinding, bayangan mereka menyatu, terpisah, lalu bertemu lagi.

Bersama Gibran, semuanya berbeda.

Maulana hanya memikirkan diri sendiri. Ia selesai dalam tiga menit, membalik tubuh, lalu tidur. Yang tersisa untuk Kamila hanyalah rasa tidak nyaman di tubuh dan kekosongan yang lebih menyakitkan.

Gibran memperhatikan setiap reaksinya.

Jika terlalu cepat, ia melambat. Jika terlalu kuat, ia melembut.

Ia berusaha memberi Kamila kenikmatan, bukan mengambilnya darinya.

Kamila tidak tahu berapa lama berlalu sebelum ia berbaring lelah di dada Gibran, mendengarkan detak jantung pria itu kembali pelan-pelan stabil.

Tangan Gibran mengusap punggungnya berulang kali, seperti menenangkan kucing yang ketakutan.

"Kamu baik-baik saja?"

Suaranya memiliki serak puas setelah hasrat.

Kamila menyembunyikan wajah di lehernya dan menjawab dengan gumaman.

Telinganya merah seperti tomat matang.

Gibran tertawa rendah.

"Puas?"

Ia menunduk dan menanyakannya tepat di telinga Kamila.

Kamila memukul dadanya.

Pukulannya begitu lemah sampai lebih mirip belaian.

Ia mengingat pertanyaan yang terlontar tadi dan ingin lenyap di antara seprai.

Gibran menangkap tangan yang hendak memukulnya lagi dan mengecup buku-buku jarinya.

"Bu Santoso, apakah Anda puas dengan kompensasi ini? Kalau belum, kita masih bisa negosiasi ulang."

Kamila tidak bisa menahan tawa.

Ia mengangkat kepala dan menatapnya dengan kesal.

Matanya masih lembap, bibirnya bengkak karena ciuman, dan rambutnya berantakan.

Ia tidak tahu betapa cantiknya ia saat itu.

Mata Gibran kembali menggelap.

"Jangan coba-coba..."

Kamila menangkap perubahan itu dan wajahnya memerah.

"Aku tidak mau lagi."

"Aku belum mengatakan apa-apa."

Gibran tersenyum.

"Mulai hari ini kamu milikku."

Jantung Kamila kehilangan satu ketukan.

Intensitas tatapannya yang nyaris posesif membuat Kamila mengerti bahwa ia baru saja memancing pria yang tidak sederhana.

Meski begitu, kegembiraan kecil menyebar di bagian terdalam dadanya.

Ia mengecup ringan bibir Gibran.

"Dan kamu milikku, Gibran."

Pria itu diam sesaat.

Lalu ia tersenyum, membenamkan wajah di leher Kamila, dan memeluknya erat.

"Tidurlah."

Suaranya kembali lembut.

"Ya."

Kamila diam beberapa detik sebelum bertanya:

"Gibran, besok kamu akan minum kopi lagi?"

Sudut bibir Gibran terangkat.

"Aku akan datang setiap hari."

"Setiap hari? Itu terlalu..."

Suara Kamila bergetar.

Setiap hari lebih dari yang sanggup tubuhnya tanggung.

"Tidak. Aku akan datang setiap hari. Tanpa absen."

Gibran memeluknya lebih rapat dan menepuk lembut punggungnya agar ia tertidur.

Setiap sel dalam tubuh Kamila masih menyimpan gema dari apa yang terjadi.

Ia memejamkan mata dan mendengarkan detak jantung Gibran yang mantap. Pria itu memperlakukannya dengan hormat dan perhatian yang tidak pernah ia terima karena belas kasihan, keterpaksaan, atau kebiasaan.

"Gibran."

Suara Kamila nyaris tak terdengar.

"Ya?"

"Terima kasih."

Gibran mengeratkan pelukan, dan Kamila tertidur. Itu malam pertama sejak perceraian ketika ia bisa beristirahat dengan damai.

Ia tidak tahu Gibran lama sekali menatapnya setelah matanya tertutup.

Pria itu memandangi wajah tidurnya dan dengan sangat lembut menyeka kelembapan di salah satu bulu matanya.

"Kamila," bisiknya pada diri sendiri. "Akulah yang seharusnya berterima kasih."

Ia menyelimuti Kamila dengan baik, mengecup dahinya untuk terakhir kali, lalu menutup mata.

Meringkuk di dalam pelukannya, Kamila terlindung dari ingatan tentang Maulana, Teresa, dan malam-malam yang ia habiskan menangis sendirian.

Di ujung lain ibu kota, malam itu jauh dari tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!