Mengandung adegan 21+ harap bijak dalam membaca cerita ini 🙏🙏🙏
Bahira Anjani wanita cantik berusia dua puluh tiga tahun,harus terjebak cinta seorang CEO yang memiliki perangai gila.
Kenapa dikatakan gila.? selain memiliki sifat yang tegas dan berwibawa,sang CEO juga memiliki sifat yang sangat humoris. Dan yang lebih mengagetkan lagi,dibalik sifatnya yang baik hati dan penuh kasih sayang,sang CEO memiliki sifat tempramental,egois dan sangat kejam.
River Bagaskara dialah CEO gila itu.Pria tampan berusia dua puluh tujuh tahun.Yang selalu ditinggalkan oleh para kekasihnya,karena perangainya yang gila itu.
Hanya Bahira Anjani lah yang mampu merubah perangai gila River Bagaskara.Walau pun banyak sekali konflik yang menguras airmata dan juga menciptakan kesakitan bagi keduannya.
Konflik apa saja yang mewarnai kisah cinta CEO gila dan wanita penyabar dan juga baik hati.?
Akankah kesabaran dan pengorbanan cinta Bahira Anjani akan membuatnya bersatu dengan River Bagaskara.?
Dan ada kisah apa yang membuat River Bagaskara memiliki perangai gila itu.
Hanya TERJEBAK CINTA CEO GILA yang mampu menjawabnya.
Jangan lupa untuk selalu memberi dukungan setelah membaca karya ini.Like pada setiap Babnya,Vote dan juga Rate.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TCCG 09
Dua bulan sudah River dan Keyra berstatuskan sepasang kekasih, dan Selama dua bulan juga cinta dihati keduanya semakin tumbuh dengan suburnya. Perangai River pun semakin terlihat dan semakin menjadi jadi.
Untuk saat ini Keyra masih bisa menerimanya, bahkan membuat semua larangan itu menjadi bahan lelucon saja. Tapi untuk kedepannya, kesabaran Keyra akan benar benar diuji.
Jam kerja Keyra telah usai, seperti biasa gadis itu akan selalu menghampiri kendaraan sang kekasih yang sudah terparkir manis didepan gedung tempatnya bekerja. Dengan berjalan bersama Arya, Keyra keluar dari sana.
"Jemputan loe mana.?" tanya Arya.
"Itu." tunjuk Keyra pada kendaraan sport hitam yang terparkir tidak jauh dari mereka.
"Jangan lupa kalau udah dapet black card teraktir kita semua." ucap Arya diselingi kekehan.
"Beres, gue bakal ajak kalian keliling monas." janji Keyra
"Dih gembel bener. Mending gue dirumah aja nampung iler diember." timpal Arya.
Mereka pun terbahak bersama sebelum akhirnya mereka memisahkan diri, dan Keyra menghampiri kendaraan River.
Tatapan tajam dan wajah permusuhan Keyra dapatkan dari River kala ia memasuki kabin kendaraan mewah itu.
"Kamu itu tuli apa bodoh.? udah berapa kali aku ngomong jangan bersinggungan sama yang namanya laki laki, tapi masih aja kamu lakuin." umpatan River tanpa berbasa basi dengan suara sedikit meninggi.
"Itu Arya king, dia temen satu bagian aku, dia tau soal kita."
"Aku enggak perduli mau dia siapa. Enggak ada yang namanya temen laki laki buat kamu, cuma aku dan dua sahabat aku. Mau itu Dion sekalipun aku enggak mau tahu dan enggak mau lihat kamu bersinggungan sama mereka." tegas River.
"Cemburu itu boleh king, tapi yang beralasan. Arya, Dion itu sahabat aku, bahkan Dion udah dari umur tiga belas tahun sahabatan sama aku, dia juga pacar Dira kan.?" jelas Keyra.
"Kamu masih mau berhubungan sama aku enggak.?" tanya River dengan mata yang menatap tajam kepada Keyra.
"kamu ngomong apa sih.?"
"Kalau kamu masih mau berhubungan sama aku, turuti mau aku. Enggak ada bantahan dan alasan, kamu ngerti." ucap tegas River seraya menyalakan mesin kendaraan.
Keyra hanya mampu terdiam, ia tidak mau berdebat didalam kendaraan itu. Sampai dirumah Keyra, aksi saling diam masih betah mereka lakukan.
River segera meninggalkan rumah Keyra, setelah kekasihnya itu keluar dari kabin kendaraannya. Helaan nafas berat sejuta makna kemabli Keyra lakukan.
"Kenapa loe.?" selidik Bendino dan Aezar kala River baru bergabung duduk dengan mereka.
"Gue udah bilang jangan bersinggungan sama mahluk yang namanya laki laki selain gue dan kalian, masih aja dilakuin." jelas River.
Bendino dan Aezar seketika saja mengusap tengkuk mereka masing masing dengan gemasnya.
"Susah ya ngomong sama loe itu.? jangan bilang loe memaki marmut didepan umum.?" tanya Aezar
"Enggak, didalem mobil gue ngocehnya." jawab River
"Gue udah girang bener melihat loe ada kemajuan belakangan ini. Perhatian sama Marmut, sering ketawa, sering memberi kabar sama dia, gue fikir loe itu berubah, tapi tahunya sama aja." ucap Bendino
"Sepertinya enggak sampe enam bulan kus.?" timpal Aezar
"Ini juga harusnya udah dapet rekor muri, bertahan selama dua bulan tanpa berantem." sahut Bendino
"Berisik loe pada, bukan ngomong yang enak malah makinan bikin gue darah tinggi aja." ucap River tak suka.
"Percuma ngomong enak, loe enggak bakal dengerin." sahut Aezar
"Ditinggal marmut baru melintir itu hati loe." ucap Bendino
"Gue bikin patah kakinya berani ninggalin gue." balas River tanpa fikir panjang.
"Minta dikirim telur bungkus kain kafan beneran dia." ucap Aezar dan Bendino bersamaan.
Sementara itu, Keyra dengan wajah murungnya terus mengarahkan sepasang netra kelayar ponsel miliknya, yang menampilkan potret dirinya dan River dibagian layar depannya.
Satu pesan akhirnya Keyra ketik disana dan dikirimkan kepada sang kekasih.
"Jangan pulang larut malam, dan udah ngambeknya. Nanti aku hadir dimimpi kamu dalam wujud sundel bolong nangis lagi"
Pesan pun terkirim dan tanda terbaca langsung nampak disana. Tak lama pesan balasan dari River masuk keponsel Keyra.
"Aku ajak malam pertama aja itu sundel bolong, biar enggak nangis lagi dan berubah menjadi titisan ibu sejati."
Keyra terkekeh, nafas kelegaan pun ia hembuskan. Setiap pertengkaran yang terjadi, selalu Keyra yang akan mengawali untuk menyelesaikan. Keyra tahu, jika menunggu River yang melakukannya, itu seperti menanti bumi bersatu dengan langit.
Keyra segera menikmati makan malamnya bersama sang ibu.
Sementara River masih berada dikafe bersama kedua sahabatnya. Kekehan River saat mendapat pesan singkat diponselnya, membuat kedua sahabat menghadiahi satu dorongan dikepalanya.
Pagi hari seperti biasa River akan mengantarkan Keyra bekerja. Tapi lagi lagi pertengkaran mereka harus terjadi karena Anton yang kedapatan menggenggam tangan gadis ayu, Keyra.
"Enak ya pagi pagi udah bernostalgia aja.?" tanya River judes seraya berdiri dan bersedekap dihadapan Keyra dan Anton.
"King, ini enggak seperti yang kamu fikirkan." sahut Keyra seraya menglepaskan genggaman tangan Anton, dan menghampiri River.
Mata elang River menatap tajam Keyra dan Anton secara bergantian.
"Loe mau apa lagi dari pacar gue.?" tanya River menantang kepada Anton.
"Bukan urusan loe." jawab Anton ketus.
"Brengsek loe."
BUG
Satu hantaman tepat mendarat dirahang Anton. Pria tampan itu pun seketika saja jatuh tersungkur ketanah.
Pekikan dari Keyra sontak menarik perhatian sang ibu. Wanita paruhbaya itu bergegas melerai perkelahian River dan Anton.
"Udah River ini masih pagi, nanti agak siangan kalau mau adu tinju, biar ibu siapin ringnya dulu."
"Aku siangan ada rapat bu, jadi enggak bisa. Sore sampai malam ada perjamuan bisnis, enggak ada waktu." jawab River dengan nafas yang tersengal sengal karena menahan emosi.
"Sibuk bener, ya udah sekarang aja kalau gitu." timpal ibu seraya melepaskan cekalan tangannya pada River.
"IBU.!" seru Keyra kepada sang ibu.
'Besok aja king dilanjutin ya.? ini udah siang nanti kita telat." bujuk Keyra.
"Kamu lupa aku siapa.? bebas aku mau apa juga, diem aja jadi kamu." tunjuknya River kepada Keyra.
"Sekarang ngomong loe mau jadi apa gue bikin.?" tanya River kepada Anton.
River melepas pakai bagian luarnya "nitip dulu bu, takut lecek." ucap pria gila itu sembari menyerahkannya kepada sang calon ibu mertua.
"Betah kamu mut sama laki laki kaya begini.?" alih alih menjawab pertanyaan River, Anton justru semakin memancing emosi pria tampan itu karena pertanyaannya kepada Keyra.
Sudah pasti bogem mentah kembali mendarat dirahangnya, bahkan bukan hanya satu kali saja.
"KING UDAH..!" seru Keyra seraya memeluk pinggang River.
"Gue kasih tau sama loe, jauhi Keyra.. Berhenti datang kesini dan menemui dia dimana pun, kalau enggak gue bikin loe dan keluarga loe itu jadi gelandangan." ancam River dengan suara tingginya dan wajah yang sangat menyeramkan.
"Kamu mending pergi deh ikan teri, ribet urusan entar. Besok lagi dilanjutin, sekarang udah cukup sampai disini." ucap ibu dengan tubuh yang bergetar ketakutan.
Anton pun meninggalkan rumah Keyra, dengan tatapan permusuhan kepada River. Sementara pria gila itu langsung berpamitan kepada ibu tanpa memperdulikan Keyra.