Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terusik
Bukan Sasa namanya jika tak bisa mendapatkan kontak orang yang ia sukai, terlebih tetangga depan rumahnya terlihat akrab dengan Tama. Besyukur karena Kara dan Dirga sedang lengket-lengketnya, Sasa punya banyak waktu untuk mengambil kontak Tama dari ponsel calon kakak iparnya. Sedekat itu memang mereka, bagi yang tak tau akan sangat mungkin mengira Sasa adalah saudara Lengkara. Dibanding dengan kakaknya, Sasa memang lebih sering menghabiskan waktu dengan Lengkara, apalagi gadis itu sering mendatangi rumahnya.
Namun nyatanya meski sudah mendapat kontak Tama, Sasa tak mendapat sambutan yang baik. Chat nya tak satu pun dibalas padahal sudah dibaca. Foto dengan aneka fose tercantiknya juga sudah ia kirimkan, hasilnya tetap nihil.
"Besok Sasa tungguin di mini market depan aja lah. Kayaknya udah langganan deh, dua kali ketemu disana terus." gumamnya setelah mengirim pesan terakhir sebelum tidur.
Esok harinya Sasa bangun dengan semangat. Sarapan dengan lebih cepat dari biasanya kemudian mondar-mandir di depan pagar rumahnya yang tak ditutup, berharap ada Tama yang menjemput Kara, ia mau ikut nebeng ke sekolah meskipun beda arah, bodo amat yang penting bisa lebih dekat.
"Lo ngapain, Sa? duduk sana! daddy sarapannya belum selesai." ucap Dirga yang mengeluarkan motornya.
"Lagi nunggu orang, kak."
"Ririd?" tebak Dirga, "Dia nggak usah ditungguin, biasanya juga keluarnya bareng kalian." lanjutnya.
"Bukan. Kakak berangkat duluan aja sana!" usirnya.
Sasa mecebikkan bibirnya kala melihat Kara di bonceng kakaknya. Bisa-bisanya ia lupa jika mereka sudah baikan kemarin. Sasa membalas lampaian tangan Kara dengan ceria.
"Berarti bang Tama nggak kesini dong yah." ucapnya lirih.
Tak lama Ridwan keluar dari rumahnya. Seperti biasa dengan ponsel miring di tangannya dan berdiri di samping Sasa. "Daddy masih lama nggak?" tanyanya tanpa melihat Sasa.
Tak mendapat jawaban, Ridwan menyenggol lenggan Sasa. "Micin!"
"Hih!" jari telujuknya mengacak layar ponsel Ridwan.
"Lo ngapa sih, Sa? mati nih gue." keluh Ridwan.
"Game aja terus! HP aja terus! belajar yang bener jangan HP terus!" cerocos Sasa.
Ridwan tersenyum masam, "lo lagi error yah? jam segini udah ngomel-ngomel." ejeknya.
"Ririd, Sasa, ayo berangkat!" panggilan daddy Ardi membuat percekcokkan pagi itu berakhir.
"Tumben duduknya di depan? biasanaya Daddy kayak supir, kamu duduk di belakang sama Ridwan." tanya Ardi.
"Lagi kesel sama Ririd."
"Lah gue kagak ngapa-ngapain, ketemu juga paling baru dua menit." protes Ridwan, "aku nggak ngapa-ngapain Sasa, Dad. Dia yang tiba-tiba ngambek. Aneh." lanjutnya menjelaskan.
"Biarin aja, Rid. Lagi kumat dia." balas daddy Ardi dengan santai. Sasa langsung melotot padanya.
"Jangan kayak gitu nanti matanya keluar loh." ledek Ardi.
"Nih ditambahin dah." Ardi mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan.
Mata Sasa langsung berbinar menerimanya, "makasih daddy." ia mengibaskan uang itu sebelum dimasukan ke dalam saku.
"Ririd ntar istirahat Sasa traktir deh." lanjutnya.
Ridwan hanya mengangguk. "Dasar mata duitan. ngambek nggak jelas, dikasih duit langsung happy." batinnya.
Sampai sekolah, setelah menyalami daddy nya Sasa berjalan beriringan dengan Ridwan.
"Pagi Sasa Raurani Nabillah." Sapa seorang lelaki yang berdiri di samping gerbang, menggenakan jas OSIS dengan beberapa anggota yang lain.
"Hai... Pagi juga kak Justin." balas Sasa. Ia berhenti sejenak di samping Justin sementara Ridwan berlalu meninggalkannya.
"Lagi tugas yah kak?" lanjutnya bertanya meski sudah tau betul jawabannya. Tapi mau bagaimana lagi, ketua OSIS nya ini lumayan ganteng, sayang kalo diabaikan.
"Iya. Sasa udah sarapan belum? jangan sampe pingsan nanti upacara."
"Udah dong." jawab Sasa, "tapi Sasa mau pingsan aja deh biar ditolongin kak Justin." lanjutnya sambil tertawa.
"Kalo Sasa pingsan gendong yah." Ia ingat betul ajaran Kara. Calon kakak iparnya itu hampir setiap upacara selalu merepotkan kakaknya.
"Modus banget lo. Pake segala rencana pingsan." ucap seorang senior yang kini berdiri di belakangnya. Sheila Ayu, senior pramuka yang memarahinya selama kegiatan kemarin.
"Kemarin kemah lo pura-pura sakit, sekarang upacara juga mau pura-pura sakit lagi?" lanjutnya seraya menggelengkan kepala.
"Yang kayak gini harus dikasih paham, Justin." ucapnya pada Justin.
"Serius banget kak Sheila. Sasa cuma bercanda kak." ucap Sasa enteng.
"Tuh becanda doang dia, Shel. Jangan galak-galak lah jadi senior." timpal Justin.
"Bener kak Sheila jangan galak-galak ntar pada takut." sambung Sasa, "duluan yah kak Justin, kak Sheila." pamitnya kemudian. Kedatangan Sheila membuat paginya tak asik. Padahal kan lumayan ngobrol-ngobrol sama ketua OSIS ganteng buat dopping semangat dihari senin yang malas.
Belum sampai kelas, Sasa kembali di hampiri oleh Sheila yang ternyata menyusulnya. Gadis itu berdiri di depannya.
"Gue mau ngomong sama lo!"
"Ya, silahkan ngomong aja kak." jawab Sasa enteng.
"Lo jadi bocah jangan songong yah! gue senior disini, lo tau kan gue suka sama Justin?"
"Iya kalo kak Sheila suka sama kak Justin bilangnya ke kak Justin dong. Ngapain kakak bilang ke Sasa?" tanya Sasa.
"Apa perlu Sasa bantu sampain ke kak Justin gitu?" tebaknya sambil tersenyum. Justin memang tampan tapi hatinya tak tergerak sama sekali. Tama masih nomor satu untuk saat ini. Dan soal bantu membantu Sasa tak keberatan selama ia bisa.
Namun respon yang ia terima tak sesuai ekspektasi. Sheila menatap kesal padanya.
"Lo ngeledek gue!"
"Ih Sasa nggak ngeledek kak. Serius ini, kalo perlu bantuan Sasa tinggal bilang aja. Ntar Sasa bantuin, apalagi kak Justin baik banget ke Sasa. Jadi pasti Sasa bakal lebih mudah bantuin kak Sheila." jelasnya yang makin membuat Sheila marah.
"Lo! awas aja lo yah! gue bakal kasih lo pelajaran." sentaknya.
"Nggak usah kak. Ngasih pelajaran bukan tugas kak Sheila, itu tugas ada guru. Tugas kak Sheila sama kayak Sasa, belajar."
"Lo!" Sheila menunjuk wajah Sasa.
"Awas aja!" ancamnya kemudian berlalu pergi karena bel tanda berkumpul di lapangan sudah berbunyi.
Ck! Sasa hanya berdecak lirih. "dasar aneh!"
"Kenapa sih pada suka hidup ribet? padahal kalo suka tinggal bilang langsung ke orangnya, ngapain coba marah-marah ke Sasa? buang-buang energi." batinnya.
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣