Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAMA-SAMA DI PEMAKAMAN
Taufik terduduk lesu di pinggir pemakaman Renima. Di sisi kirinya, ada Samudra yang tengah terisak-isak sedih. Dia anak lima tahunan yang sudah mulai mengerti Kemana pergi ibunya saat itu. Pergi yang tak akan pernah dapat kembali lagi.
Taufiq segera merangkul Sam, dia memeluk anak itu dengan erat agar bisa kuat dan sabar melebihi dirinya sendiri.
"Daddyyy... hiks... hiks... hiks..." Isak Sam terdengar pilu.
"Iya, sayang... Kamu yang kuat ya, Nak. Tunjukkan kepada adik-adikmu, kalau kamu adalah seorang abang yang sangat tegar. Ada Daddy yang selalu mendukungmu, Nak. Kamu jangan menangis lagi. Daddy janji, Daddy akan jadi Daddy kamu yang terbaik dan juga untuk Sunny dan Langit." Ucap Taufiq berat. Dia terlihat menekan suaranya dan memaksa air matanya untuk tidak jatuh di depan Samudra. Dia tidak ingin Sam terlalu larut dengan dukanya setelah kepergian Renima.
"Daddy... Kalau saja Langit tidak lahir, mungkin Ibu masih akan berada di sini bersama Sam dan Sunny. Iya kan Daddy?" Tanya Sam terdengar kecewa.
"Sam... Kamu tidak boleh bicara seperti itu, Nak. Langit, dia adalah adikmu dan Sunny. Kamu tidak boleh menyesali kelahirannya. Langit lahir tanpa ingin dilahirkan ke dunia ini, Sayang. Dia adalah anugerah yang dikaruniakan Allah untuk kita. Jadi, kamu harus menyayangi Langit dan Sunny." Tutur Taufik.
Samudra mengangguk. Air matanya terus berjatuhan menatap pemakaman Renima, ibunya.
Tidak, Nak. Renima, ibu kalian meninggal karena dokter itu. Dokter yang tidak berhati nurani. Dia hanya mementingkan kebahagiaannya sendiri, tanpa dapat melihat sakit dan penderitaan orang lain.
Dia tidak pantas disebut sebagai Dokter. Daddy janji, Daddy akan membuat dia sadar, bahwa dia bukanlah Dokter yang sebenarnya.
"Ayo, Sam... Kita pulang, Nak. Kasihan Sunny dan Langit. Mereka pasti menunggu kita di rumah." Ajak Taufiq sembari melepaskan Sam dari dekapannya.
"Tapi Dad... Sam masih ingin bersama ibu di sini. Sunny dan Langit juga bersama Nek Lian kan, Dad?" Elak Sam. Dia tampak begitu berat meninggalkan pemakan ibunya.
"Iya, Sayang. Mereka memang bersama Nek Lian. Tapi kasihan Kan Nek Lian harus jaga mereka terus? Besok-besok, kita akan berkunjung ke sini lagi." Bujuk Taufiq dengan lembut.
"Beneran, Dad?" Tanya Sam berharap.
"Iya, Nak. Kita kembali dengan membawa Sunny dan Langit. Ibumu pasti juga merindukan mereka." Ikrar Taufiq tampak yakin.
Samudra menurut. Dia bangkit dari sana dan berlalu mendahului Taufiq yang memperhatikannya dengan iba dari belakang.
Taufiq masih mematung, berdiri menatap pemakaman Renima. "Maafkan Kakak, Ren. Kak Taufiq tidak bisa datang kesini membawa anak-anak lagi. Kakak ingin mereka memiliki ibu, agar mereka tidak merasa bersedih sepanjang hari. Kakak janji, kakak akan memberi mereka ibu yang terbaik. Yang akan menyayangi mereka seperti kamu menyayangi mereka." Setelah berucap begitu, Taufiq berlalu meninggalkan pemakaman Renima dan menyusul Sam ke parkiran depan TPU.
Di parkiran mobil, Taufiq mendapati Sam tengah berdiri menatap sebuah mobil sedan yang bergerak meninggalkan parkiran TPU.
Siapa mereka? Kenapa Sam melihat mereka dengan lekat begitu? ~ Tanya Taufik dalam hatinya. Dia segera mendekati Sam.
"Ada apa, Sam? Siapa mereka? Kenapa melihat mereka seperti itu?" Tanya Taufiq beruntun kepada Sam.
"Tante itu kasihan, Dad... Dia pasti juga mengantar keluarganya yang meninggal kesini. Dia histeris dan meraung-raung, Dad... Dia juga kencing di celana. Dia..." Sam tak lagi melanjutkan ceritanya. Dia terdiam dengan air mata menderas seketika.
"Kenapa, Sayang? Kenapa kamu menangis?" Tanya Taufiq kebingungan.
"Ternyata banyak orang yang bersedih di dunia ini, Dad. Tidak hanya Sam. Semoga Tante itu bisa tersenyum lagi." Ucap Sam begitu dalam maknanya.
Taufiq berjongkok. Dia mengambil posisi menyamai tegak Sam. "Iya sayang... Kamu benar, Nak. Kamu juga harus kuat ya. Do'ain Tante itu supaya juga kuat sepertimu." Ucap Taufiq sembari tersenyum. Air matanya nakal berjatuhan membasahi pipinya. Meninggalkan jejak yang syarat akan penyesalan.
Betapa bijaknya kamu, Sayang. Semoga kamu benar-benar kuat.~ Bathin Taufiq. Dia berdiri dan mengajak Sam memasuki mobilnya.
.
.
.
.
.---
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍