Lanjutan dari novel: Wanita Cantik Tuan Muda Dingin.
__________
Setelah melewati banyak waktu dan masalah. Raka sang CEO termuda di perusahaan Welfin telah berhasil menemukan kekasihnya dan bahkan tak menyangka jika kekasihnya itu memberikan sepasang anak kembar yang cerdas dan menggemaskan.
Namun masalah kembali datang dari istri tercinta yang memiliki Kepribadian Ganda. Karena itulah Raka mencoba menyembuhkan Sovia dan mulai belajar untuk menjadi Suami idaman untuk sang istri.
Akan tetapi seseorang mulai meneror keluarga kecilnya dan bahkan mencoba menyingkirkan satu persatu keluarga dekatnya. Hal ini karena perebutan harta waris di masa lalu di keluarga Welfin. Dapatkah Raka melindungi sang Istri dan kedua anak kembarnya, serta menyembuhkan mental Sovia?
Yuk kita simak perjuangan Raka dalam menyembuhkan Sovia dan perjuangannya menyelesaikan masalah yang silih datang berganti di keluarga kecilnya Raka.
Baca sampai selesai ya ^^
Terima kasih~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Mulai Jahil
...[Beri like dan komen]...
Keesokan harinya, Raka, Sovia, dan Dean serta Andis. Mereka kini sarapan pagi. Tak ada sedikitpun terdengar obrolan sama sekali dan hanya diam diantara mereka.
Krak!
Andis telah usai sarapan. Ia langsung berdiri lalu pergi begitu saja. Sovia yang melihatnya merasa heran.
"Apa yang terjadi padanya? Apa dia sedingin ini padaku?" gumam Sovia melihat ke arah pintu.
"Sayang, ada apa?" tanya Raka yang melihatnya diam.
"Eh, tidak apa-apa kok." jawab Sovia tersenyum lalu ia pun memakan kembali sarapannya.
Raka mencoba kembali untuk mendengar isi hati Sovia. Namun sama sekali tak ada apa-pun ia dengar.
Setelah menghabiskan sarapan paginya, Raka pun beranjak untuk ke perusahaannya dan tak lupa Sovia serta Dean ikut bersamanya. Mereka berjalan bersama menuju keluar rumah.
Sementara para pelayan agak was-was melihat Sovia. Mereka ketakutan jika istri majikannya itu bukanlah wanita baik. Hal itu karena Sovia yang tak lain MiRa waktu itu pernah menyodongkan pisau ke arah mereka dan itu membuat mereka kuatir dan takut.
Willy sang asisten yang setia. Ia pun mengantarkan atasannya itu ke perusahaan Welfin. Sedangkan Andis, remaja itu keluar entah kemana tujuannya kali ini. Maklum, sekolah masih libur dan Andis leluasa kemana saja. Apalagi sekarang tak ada yang mengganggunya.
Hanya beberapa saat saja, mobil Raka telah tiba ke perusahaannya. Kini semua pandangan mata tertuju pada Raka serta Sovia dan Dean. Mereka nampak berbisik-bisik satu sama lain melihat Sovia ikut berjalan bersama Raka.
"Lihat dia, apa hubungannya dengan Presdir?"
"Entah, mungkin dia sudah merayu Presdir kita.
"Lagi pula akhir-akhir ini dia tak pernah hadir di perusahaan."
"Yap betul. Aku rasa dia telah menggoda Presdir, dasar wanita jal4ang!" umpat salah satu diantara kedua wanita yang sirik dengan kedekatan Sovia dan Raka.
Sontak langkah Raka terhenti, ia nampak geram melihat dan mendengar obrolan serta isi hati mereka. Sovia dan Dean ikut berhenti dan merasa terkejut.
"Ada apa, Presdir?" Willy bertanya.
"Willy, pecat dua wanita itu dan jangan pernah ada yang menerima mereka di kota ini!" titah Raka dengan raut wajah masam dan dingin.
Willy pun mengerti, ia kini berjalan ke arah dua wanita yang mengghibah Sovia. Willy berhenti di depan mereka dan langsung memecat dua wanita itu.
Sovia yang melihatnya langsung terkejut, ia pun melihat Raka.
"Ada apa dengan Willy?" tanya Sovia kepada Raka sambil memegang tangan Dean.
"Tidak apa-apa, itu urusan mereka. Kalian ikutlah denganku." ucap Raka tersenyum pada Sovia lalu meraih tangan istrinya itu menuju ke arah lift yang kosong.
Tentu kini para karyawanan terkejut melihat Presdirnya tersenyum di depan Sovia. Mereka kini malah berbisik satu sama lain menggosipi Sovia lagi.
Di dalam lift, Dean meminta untuk digendong. Ketika Sovia ingin mengangkat Dean. Tiba-tiba saja pinggangnya malah terasa sakit.
"Aduh!" rintih Sovia memegang pinggangnya. Rasa sakit itu karena gerakan dan goyangan yang mereka buat semalam.
"Mami, kenapa?" Dean bertanya saking kuatirnya.
"Ah tidak apa-apa kok." jawab Sovia tersenyum lalu melihat Raka. Tatapannya agak tajam karena ini semua ulah dari suaminya itu. Raka cuma melihat ke segala arah lalu senyum-senyum nggak jelas.
"Sini, biar Papi yang gendong." Raka pun yang menggendong putri manjanya itu. Dean yang digendong merasa senang.
"Oh ya, aku lebih baik ke bawah. Tidak enak lihat sama orang jika aku terus-menerus berada di ruanganmu." ucap Sovia ingin memencet tombol lift, namun Raka langsung menahannya.
"Tidak masalah. Kamu itu istriku, jadi tak usah peduli sama mereka." Raka melihat Sovia dengan senyumannya.
"Tapi, aku kuatir mereka akan menggosipkan ku yang tidak-tidak." Sovia melihat Dean. Ia kuatir dengan omongan jelek dari mereka.
"Kalau begitu, aku akan mengumumkan pernikahan kita untuk dirimu hari ini." Raka menyentuh wajah istrinya namun Sovia langsung memegangnya. Ia terlihat murung.
"Tidak, jangan sekarang. Aku masih belum siap diketahui oleh mereka." Sovia menolak usulan suaminya.
Karena melihat wajah Sovia yang bersedih, Raka pun menepuk pelan kepala istrinya.
"Baiklah, tidak masalah. Tapi jangan sedih, senyum dong, sayang." Raka mencubit pipi Sovia. Sovia kemudian tersenyum manis.
Sementara Dean, gadis kecil itu hanya terdiam melihat kedua orang tuanya bermesraan di dalam lift.
Inilah awal Dean akan terus-menerus melihat asupan pagi dari kemesraan Ibu dan Ayahnya.
"Ekhm! Papi sama Mami cocok banget deh, Dean jadi iri." Dean tersenyum manis. Sontak Raka segera melihatnya begitupun Sovia.
"Ahaha ... kamu ini bisa saja ya ngomong kayak gitu, dasar!" Raka pun mencubit lembut pipi putrinya itu. Ketiganya tertawa kecil di dalam lift itu lalu tiba-tiba saja kembali sunyi karena Dean mengungkit adik kecilnya.
"Papi, kapan Dean bisa lihat adik kecil?"
Pertanyaan Dean membuat Sovia dan Raka saling tatap dan terdiam.
"Hm, kenapa pada diam semua?"
"Apa ada yang salah, Pih, Mih?" lanjut Dean celingak-celinguk.
"Ahaha ... adik kecilmu masih ada di tempat lain." Raka pun menjawabnya, terlihat Raka bodoh dengan pertanyaan dari putrinya itu. Sovia di sana cuma cengir-cengir saja. Ia tak tahu mau jawab apa. Memang karena ia belum hamil juga.
"Oh gitu, hihihi ... nggak sabar mau lihat adik kecil." Dean tertawa tak sabar.
Ting!
Pintu lift akhirnya terbuka, ketiganya pun keluar dari lift itu lalu berjalan menuju ke arah ruangannya.
Dalam ruangannya, terlihat Dean langsung lompat turun lalu menuju ke sofa sambil memainkan sebuah permainan. Sementara Raka, ia tiba-tiba merangkul pinggang Sovia.
"Aduh!" rintih Sovia menepis tangan Raka.
"Masih sakit?" Raka kuatir dengan kesakitan Sovia.
"Ya, masih." jawab Sovia manja. Tiba-tiba saja, Raka langsung menggendongnya membuat Sovia dan Dean terkejut melihatnya.
"Eh, kamu mau apa? Ada Dean di sini." Sovia mencoba untuk turun.
"Diamlah sayang, aku tak akan memakanmu." ucap Raka membuat Sovia geli mendengarnya.
Tatapan Dean pun teralih dan tak peduli melihat Ibunya duduk di kursi Raka. Gadis kecil itu nampak fokus dengan drama-drama yang ia buat. Keinginan terbesarnya untuk menjadi aktris yang jago berakting.
Terlihat Raka kini berdiri di depan Sovia dengan botol kecil ditangannya.
"Kamu mau apa dengan itu?" Tunjuk Sovia pada botol itu.
"Sini, angkat bajumu." ucap Raka membuat Sovia terkejut.
"Apa? Angkat baju. Kamu ini, ada Dean. Jangan bicara yang tidak-tidak." Sovia berpikir jika Raka ingin menjahilinya lagi.
"Pfft ... kamu ini sedang berpikir apa? Aku cuma ingin mengolesi pinggangmu yang sakit, sayang." ucap Raka begitu lembut sambil menunjuk pelan hidung istrinya.
Sovia langsung menunduk, terlihat wajahnya memerah telah berpikir yang tidak-tidak.
"Sini, biar aku saja. Kamu lebih baik duduk sini." Sovia berdiri namun Raka kembali mendudukkan Sovia ke kursinya.
"Diam di sini. Aku ini lagi belajar jadi suami yang perhatian. Jadi tak ada penolakan!" tegas Raka.
Sovia cuma menurut melihat Raka begitu serius. Ia senyum-senyum melihat Raka begitu lembut padanya.
Raka pun mengolesi sesuatu pada pinggang Sovia dan itu malah membuat Sovia merinding.
"Eh, jangan sentuh yang tidak perlu disentuh." Sovia berbalik melihatnya dengan tatapan tajam. Pasalnya tangan Raka malah jahil di pantat Sovia dan itu membuat Sovia tak nyaman.
Bisa saja ia mendesah merasakan tangan-tangan Raka yang jahil meremas bokongnya. Apalagi ada Dean yang tak jauh dari mereka.
Raka cuma senyum-senyum jahil lalu ia pun kembali mengolesi pinggang Sovia.
"Sayang, kalau kamu diam dan tak bergerak. Aku tak akan macam-macam. Jadi jangan memancingku dipagi ini." bisik Raka pada telinga Sovia. Sovia dengan cepat langsung mengangguk.
"Dulu dia begitu dingin dan tak peduli padaku. Tapi sekarang, dia begitu lembut dan perhatian padaku." gumam Sovia dalam hati, namun ia terlihat murung memikirkan pernikahannya yang tak diketahui oleh orang lain.
"Maaf, aku tak bermaksud menolak tadi. Tapi semua itu entah kenapa aku merasa sedih. Ketika kau umumkan pernikahan kita, kau pasti akan menyebut nama MIRA dan itu membuatku merasa sedih. Padahal itu nama asliku, tapi aku malah merasa jika aku adalah orang asing bagimu."
Itulah kegundahan Sovia dan ditambah lagi, ia memikirkan obrolannya dengan Willy kemarin.
..._____...
...❤❤❤❤❤...
...Jangan lupa...
...Like...
...Komen...
...Dan...
...Vote...
...⭐⭐⭐⭐⭐...