Namanya Sinta Anjani, janda satu anak yang mempunyai ambisi untuk mencari suami dan ayah baru untuk anaknya, James. Kegagalan rumah tangga disebabkan oleh mantan suami yang dengan tega menyelingkuhi dirinya bahkan ketika janda itu dalam keadaan hamil. Tentu saja banyak rintangan dalam masa pencarian jodohnya, beberapa konflik keluarga bahkan sahabat baru dalam hidupnya menjadi kendala besar bagi janda itu. Akankah Sinta melabuhkan lagi cintanya? atau dia memutuskan untuk hidup tanpa ikatan pernikahan dan memilih menjadi seorang janda seumur hidup? entahlah kita ikuti saja takdir sang kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurlaeli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJAUH
Seandainya dulu dia bisa menghindar dan bersikap biasa saja, maka pasti sekarang sinta tidak terjebak dalam perasaan rumitnya.Tidak menaruh hati dan seperti merebut bram dari natasya, gadis penuh semangat itu sudah hampir dua pekan semenjak berakhir dengan bram tidak pernah lagi menemui sinta. Rasa takut dan menyesal semakin menggerogoti hati janda anak satu itu, tidak bisa dipungkiri bahwa semenjak perceraiannya itu membawanya menjadi perempuan yang ekspresif, jika dulu dia banyak diam semasa menjalin hubungan dengan kelvin sekarang wanita itu lebih berani mengutarakan perhatiannya kepada bram. Meski laki-laki itu bukanlah siapa-siapa sinta, miris bukan.
Sinta terlalu terpaku setiap kali melihat bram yang mampu menenangkan tangis james, yang dengan sabar dan telaten membuat putra semata wayangnya itu tertawa. Semua itulah yang menumbuhkan benih cinta didalam hati sinta, semenjak teguran firman kemarin sinta menjadi lebih sadar bahwa apa yang telah dia lalui bersama bram adalah sesuatu yang tidak benar. Meski tidak mudah menghilangkan kembali perasaannya kepada bram yang baru saja tumbuh itu. Dia tidak bersemangat menjalani hari, butiknya tutup sampai siti kembali lagi bekerja. Semakin repot membawa james bekerja meski kemarin dia sedikit berterimakasih kepada firman yang tidak keberatan membawa james mengganggu makan siangnya, sebenarnya laki-laki itu baik tetapi entah mengapa sinta tidak suka, tampang dingin yang tidak memberi kesan ramah itu membuat sinta jengah. James kini tengah bermain diranjang sedang sinta, sementara sang ibu menatap dalam kosong wajah sang putra. Kegalauan karena bercerai yang sudah hampir hilang kini ditambah kekacauan yang dia ciptakan sendiri.
ting tong
Bel apartemen itu menyadarkan sinta dari lamunannya, james dia bopong bersamanya membuka pintu. Beberapa menit setelah pintu itu terbuka james seperti kegirangan, tangannya mencoba menggapai seseorang didepannya sedangkan sinta hanya menatap datar orang itu.
"Maaf aku sibuk!" setelah mengatakannya sinta menutup kembali pintu itu, bram laki-laki yang berdiri didepan pintu mematung karena mendapat perlakuan dingin sinta. Setelah ribut dengan sang mama yang memaksa bram untuk tetap berada di Solo akhirnya laki-laki itu nekat pulang ke Jogja, demi menuntaskan rasa rindunya kepada dua orang yang tengah berada didalam apartemen. Dia terus memencet bel apartemen itu berkali-kali namun sinta tak mengindahkan perlakuan bram dan menyerah, dia kembali lagi membawa james kedalam kamarnya, menarik selimut dan memeluk tubuh mungil itu. Dia lelah dan ingin memejamkan matanya barang sejenak, melupakan keresahan yang mengganggunya dari kemarin.
drtt drtt
17.05 wib
Bram send 10 messages
5 panggilan tidak terjawab
Sinta mengabaikan pesan dan telfon yang terus berdering di ponselnya, dia ingin menjauh dari laki-laki itu, setelah nanti dia berhasil semuanya akan kembali baik-baik saja, didalam benak perempuan itu terus terucap seperti itu.
Bram tidak pernah meninggalkan lantai depan apartemen sinta barang sedetik saja, laki-laki itu terus menggerutu dalam bibir tipisnya tangannya sudah berhenti memencet bel, dia sekarang duduk dilantai sementara hari sudah menjelang malam, sesekali dia menatap tajam orang-orang yang menatap aneh kepadanya. Dia akan terus menunggu sinta membuka pintunya, seperti tidur dilantai itu bukan masalah bagi bram. Sekarang dia sudah memejamkan matanya, begitupun dengan wanita yang tengah rela ia tunggu sedari tadi, dia dan bayi gemasnya itu telah terlelap didalam.
.......
"Mas mas bangun jangan tidur disini!"
Goncangan pelan dibahu bram membuatnya terbangun, seorang bapak-bapak tengah berdiri dihadapannya.
"Ada apa?" tanya bram dengan sedikit kesal.
"Sebaiknya masuk kedalam kalau mabuk jangan tidur disini!"
Bram tidak menjawab ucapan orang itu, dia menyilangkan kedua tangannya didepan dada sementara bapak-bapak itu terus mengoceh menyuruh bram untuk tidak tidur didepan apartemen yang mungkin akan menakuti orang-orang yang hendak lewat. Sinta sendiri sedikit mendengar keributan diluar, dia barusaja terbangun untuk mengambil minuman, karena penasaran akhirnya dia menghampiri keributan itu.
"Tidak bisakah bapak diam saya tidak mabuk sama sekali, calon istri saya tidak mengizinkan saya masuk kedalam puas anda pak!" bram sudah berdiri dan melotot kearah bapak-bapak tadi, Keduanya tidak menyadari kehadiran sinta yang tengah terbengong mendengar penuturan laki-laki yang ternyata masih menunggunya diluar. Hingga acungan jari bapak asing itu membawa kepala bram untuk menengok kebelakang dan melihat sinta tengah menatap bram dengan sayu, belum sempat bram mengejar sinta sudah kembali menutup pintunya. Merasa dirinya dihindari membuatnya pusing, laki-laki itu melangkahkan kakinya dengan gontai meninggalkan apartemen sinta. Heran dengan sikap tidak peduli perempuan itu, barusaja dia tidak bertemu selama dua hari ternyata membuat perubahan yang banyak kepada sinta. Bukan hanya mata cantiknya yang membengkak wajah itu terlihat sangat lesu, tatapannya kosong sekali. Apa yang dipikirkan perempuan itu, bram ingin sekali rasanya mendobrak pintu itu jika saja bisa, dia akan meminta penjelasan apa yang telah terjadi selama dia tidak ada bersama sinta.
Dia akan mencoba lagi besok siapa tahu sinta sudah membaik dan membuka pintu itu lebar-lebar untuk dirinya, barusaja dia merasa bunga-bunga dalam hatinya mekar namun sekarang dia sudah dihantam oleh batu-batu yang menumbuk hatinya. Rasanya lebih sakit daripada rasa kesepian yang dia rasakan selama beberapa tahun bersama natasya, Kali ini rasanya sangat mengganggu bram tidak pernah mendapat rasa sekacau ini ketika bersama natasya.
Kakinya menuruni mobil dan melangkah masuk kedalam kafe yang biasa dia singgahi ketika penat, tidak disangka disana ada sahabat lamanya tiara dan kelvin. Pasangan perawan dan duda itu tampak tak menyadari kedatangan bram dikafe itu.
"Boleh aku bergabung?"
"Oh hallo bram ada apa denganmu?" tiara mengamati penampilan bram dari kepala hingga kaki, rambut acak-acakan dan juga tampang kusut yang menghiasi wajah macho itu.
"Seperti tengah bertengkar dengan seorang perempuan," tiara terkekeh yang diikuti tawa keras dari kelvin.
Bram sama sekali tidak menanggapi kedua sahabat lamanya itu, matanya memicing sebelah ketika kelvin menyodorkan selembar undangan pernikahan, di bacanya tanggal dan hari acara bram meninju lengan kelvin dengan sedikit keras.
"kamu gila vin pernikahanmu besok dan undangan ini baru aku terima?"
Bram memijat pelipisnya, seandainya ia tahu kapan kelvin dan tiara akan menikah dia pasti tidak pergi ke Solo dan tidak akan ada istilah sinta mendiamkannya. Bram berharap bisa mendatangi pernikahan mantan suami sinta dan sahabat lamanya itu bersama james dan juga sinta, dia ingin membuktikan kepada kelvin bahwa mantan istrinya itu juga bisa melupakannya dan membuka hidup baru, namun sepertinya niat bram kali ini tidak berhasil karena sinta pasti akan menolaknya pergi bersama.
"Seperti tidak punya banyak waktu saja"
bram mengatakannya lagi yang hanya ditanggapi maaf dan gelengan kepala dari tiara.
"Tiara kamu tunggu dimobil aku akan bicara sebentar dengan bram!"
"Aku mau mendengarnya juga."
"Baiklah kalau begitu mungkin lain kali saja bram," kelvin menggandeng tangan sinta keluar, sedangkan bram menoleh mengikuti arah gerak pergi tiara dan kelvin menebak-nebak apa yang akan kelvin bicarakan. Mungkin pesan-pesan terakhir kelvin sebelum melepas masa dudanya untuk menjaga anaknya, james. Sepertinya bram menebak dengan benar kali ini dan jika memang seperti itu maka dengan senang hati bram akan menurutinya, tanpa izin dari kelvin pun pasti bram akan menjaga ibu dan anak itu.
.......
ting tong
Sinta mendengar bel tamu tetapi dia sengaja tidak membukanya, dia berfikir bahwa itu adalah bram. Sekarang dia tengah dandan untuk menghadiri pesta pernikahan mantan suaminya, sinta berhenti memoleskan lipstik dibibir ranum itu dia berfikir sejenak dan mengecek keadaan hatinya. Sinta mencari dimana letak sakit hati itu ketika dia akan menyaksikan mantan suaminya bersanding dengan perempuan lain dipelaminan, namun sinta tak merasakan perih ataupun sesak didadanya, dia benar sudah ikhlas merelakan mantan suaminya itu untuk selingkuhannya. Lagipula sinta memang tidak pernah bergantung pada kelvin, dia menolehkan kepalanya kearah james yang tengah tertidur dikeranjang bayi itu. Setelah dimandikan dan menyusu ternyata james selalu tertidur, sinta tidak heran karena masih bayi. Merasa kasihan kepada james yang akan melihat ayahnya menikah lagi, meski bayi itu belum mengerti apa-apa namun itu cukup tidak mengenakkan bagi sinta.
ting tong
Bel itu terus berbunyi mau tidak mau sinta tetap membukanya, disana natasya berdiri dan langsung menghambur tubuh berisi sinta, dia seperti mengucapkan beberapa kalimat penenang dan pesan untuk selalu sabar.
"Aku baik-baik saja natasya kamu tidak perlu khawatir."
"Aku tahu sinta kamu bicara seperti itu untuk menenangkan diri saja kan?"
"Aku benar-benar sudah ikhlas," sinta melangkah kedalam kamar.
"James dimana?"
"Dia sedang tidur."
Natasya menyerobot masuk kedalam kamar sinta, sinta sendiri kembali melanjutkan dandannya dia merasa sedikit lega karena natasya tidak menyadari kedekatan dia dan bram. Di pandang wajah yang tengah berusaha membopong james itu, wajah periangnya yang semakin membuat sinta tidak enak gadis itu sangat baik kepada sinta dan james, mana mungkin sinta tega menyakiti perasaannya. Sudah cukup kekhilafannya kemarin, sinta tidak akan lagi mengulanginya.
"Kamu akan membawa james?"
"Iya sya siti sedang pulang kampung."
"Baiklah aku berangkat bersama kalian."
"kamu bisa menyetir natasya?"
"Aku bisa."
"Kalau begitu kamu yang menyetir ya?"
"Boleh."
***
Banyaknya para tamu seperti orang tua muda-mudi hingga anak-anak yang saling bercengkrama, makanan khas indonesia yang tersaji dengan lengkap dan jangan lupakan sepasang pengantin yang tersenyum sumringah kepada para tamu. Kelvin dan tiara menggelar pesta pernikahan dengan megah, gaun yang menjuntai kebelakang dan juga tuxedo hasil karya sang mantan istri, pengantin laki-laki itu menjadi banyak pusat perhatian. Tiara dirias sedikit lebih dewasa, mereka tampak serasi sekali. Sang mantan istri sendiri baru tiba disana, dia menggendong james yang masih terlelap natasya menggandeng sinta untuk menyalami pengantin.
"Selamat ya kalian berdua semoga cepat diberi momongan."
"Aduh natasya makasih ya eh aku dengar kamu berakhir dengan bram?"
"Beritanya sudah menyebar ya," natasya menggaruk tengkuknya merasa malu.
"kamu yakin sya tidak ada perempuan lain diantara kalian?" tiara menyikut lengan kelvin yang dibalas anggukan dan senyum mengejek kearah sinta, natasya yang menyadari arah wajah kelvin menyadari bahwa pasangan pengantin itu tengah memanasi sahabat barunya. Natasya berjalan maju memberi kesempatan untuk sinta mengucapkan selamat.
"Selamat atas pernikahan kalian dari aku dan james."
kelvin menatap wajah lugu james yang tidak terusik bisingnya keramaian disana.
"Aku ingin menggendongnya!"
Tiara melotot dan langsung menyuruh sinta untuk turun dari panggung, kelvin merasa tidak diberi kesempatan untuk melihat anaknya barang sedikit saja.Tiara meremas tangan suaminya itu agar pandangannya beralih kepada dirinya, kelvin yang mengerti akan kecemburuan istri barunya itu mengalihkan pandangannya dari sinta dan james. Anak laki-lakinya itu memang tumbuh dengan tampan, rupanya sinta mampu mengurus sendiri tanpa seorang suami. Sedetik dia kagum terhadap sinta, tiara tak henti-hentinya menyebikkan bibirnya. Di hari bahagianya ini dia harus menyaksikan reuni singkat suami barunya itu dengan perempuan yang sangat dia benci.
"Kamu tidak apa-apa sinta?"
"Tidak apa aku tahu tiara pasti akan marah jika suaminya mencoba berinteraksi denganku dan james dihari bahagianya."
Tidak ada yang perlu diambil hati saat tiara mencoba membuatnya panas, toh dia dan kelvin sudah bukan apa-apa. Natasya melihat bram berjalan ditengah kerumunan orang-orang, laki-laki itu sendiri menghampiri kelvin dan tiara. Mereka tampak berbincang lalu setelahnya ketiganya tampak tertawa, betapa natasya sangat merindukan sosok mantan tunangannya itu, sudah lama rasanya natasya tidak pernah lagi melihat bram setelah pertemuan keluarga mereka.
"Sinta!"
Ibu muda itu menoleh karena merasa terpanggil, arah matanya mengikuti pandangan natasya. Disana diatas panggung berdiri laki-laki yang tengah mati-matian sinta hindari, bram sangat rapi namun seperti ada yang berbeda dari penampilannya, bukan kemeja putih dan tuxedo hitam yang ia kenakan tetapi rambutnya yang lebih pendek seperti habis dipotong. Bram turun dari panggung matanya sempat menoleh kearah natasya, mereka saling beradu pandang hanya sekilas karena bram yang berlalu dan memutuskan kontak mata mereka berdua. Kenapa hanya menyaksikan bram dan natasya yang tidak sengaja berpandangan lebih menyakitkan dari pada melihat pengantin baru yakni mantan suaminya sendiri. Sinta menoleh kearah natasya yang tampak kikuk, rasanya sinta masih bisa merasakan perasaan yang begitu dalam antara natasya untuk bram. Gadis itu masih saja menatap bram yang tengah menyantap hidangannya, meski dari jauh tapi sinta bisa mendengar hembusan nafas natasya yang tampak frustasi. Ternyata natasya masih berharap terhadap bram, gadis itu menarik sinta untuk berdiri lebih dekat dengan bram. Natasya seperti tengah berusaha mendekati laki-laki itu, dimulai dari ketika natasya sengaja berjalan mundur dan disitu tepat bram akan mengambil salah satu makanan yang tersaji rapi secara melingkar, alhasil natasya dan bram saling menabrak dan mereka sama-sama kaget, meski sinta tahu bahwa natasya hanya pura-pura terkejut. Bram sedikit mengusap lengannya yang seperti ketumpahan minuman digelas yang di pegang natasya, gadis itu berusaha ikut membersihkan dan berkali-kali mengucapkan maaf, bram tidak bersuara untuk sekedar menanggapi rintihan maaf natasya. Sinta sempat menyadari mata bram melirik kearahnya, perempuan itu membuang muka kearah james. Pemandangan bram dan natasya tadi sempat membuatnya sesak, entak mengapa matanya seperti ingin mengeluarkan sesuatu yang bening. Dia berbalik untuk berpura-pura mengambil minuman lagi, tanpa sinta sadari kelvin dan tiara juga ikut menyaksikan insiden lucu bram dan natasya, juga menyadari keberadaan kaku sinta disebelah mantan pasangan tunangan itu.
Tidak punya harga diri rupanya
Lanjut lagi
Mau lanjut baca nih
Maaf tekat
Lama ya, kita nggak berjumpa.wkwkwk
Btwe sekarang author sudah ada kerjaan lain. Alhamdulillah.
Aku datang membawa info tentang cuan. Hehe.
Apakah di sini ada yang mau menjajal platfrom lain? Kebetulan saya salah satu Editor Akuisisi di sana. Maaf sebelumnya, saya sengaja tulis ini di kolom komentar. Takutnya kalau lewat pengumuman menyinggung pemilik rumah. Buat kalian yang mau dapat fee hingga 400 dollar. Boleh whatsapp ke saya 081413030520.. untuk info lain saya jelaskan di wa ya teman-teman. Terima kasih.
apa dibiarkan menggantung..
up trus Thor sukak banget sma karyamu lope lope
semangat terus jangan sampai DOWN
Contohnya dilapak aku banyak siders yang baca perhari tapi kamu lihatkan yang komen hanya itu2 saja, like cuma seberapa? Tapi itu tak apa? Yang penting Aku sudah memberikan yang terbaik untuk mereka kalau masalah like dan komen itu Bonus bwat aku yang penting mereka BACA.
Sebenarnya aku nulis ini desakkan dari temen2 sesama author padahal aku sibuk banget kerja.Ini aku juga nulis di sela-sela waktu santai kalau gak ada kerjaan.Makanya saat ada yang minta bwat crazy Up itu tidak mungkin terjadi...??!
Semangat jangan sampai menyerah begitu mudah 🤗🤗🤗
main main ke karyaku ya mkasih