"Derajat kita berbeda, hidup kita tidaklah sama, aku tak pantas untukmu, walau aku mencintaimu"
Pada awalnya Nisa lebih dulu mengenal Ryan, saat ia menggantikan posisi bibinya sebagai seorang baby sitter untuk menjaga Viona, gadis kecil anak dari seorang Ryan Brawster.
Semakin hari Viona mulai merasa nyaman saat berada didekat Nisa, hingga membuat Viona ingin menjadikan Nisa sebagai ibu sambungnya. Namun, ternyata keinginan itu ditentang oleh Katty yang sudah menjodohkan Ryan anaknya dengan seorang wanita yang bernama Merry.
Akankah takdir menyatukan Nisa dan Ryan?
Apa keinginan Viona bisa terwujud?
Ikuti kisah mereka yang berliku dan penuh haru dalam menuju kebahagiaan.
Terima kasih semua.
Jangan lupa vote dan like ya.
Selamat membaca!
Terima kasih ya all.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Haru
Selamat membaca!
Setibanya di rumah, Ryan keluar dari mobil dengan terburu-buru. Langkahnya begitu panjang memasuki rumah, untuk melihat kondisi Viona yang dikabarkan oleh Mia sedang sakit.
"Bagaimana kondisi Viona, Mia?" tanya Ryan dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Syukurlah Tuan, baru saja demamnya menurun. Tadinya saya sudah panik saat Nona Viona tak kunjung reda demamnya."
Ryan kini dapat bernapas dengan lega. Ia pun masuk ke dalam kamar Viona untuk mendekati putri kecilnya itu. Ryan duduk di samping ranjang dan mulai membelai rambut Viona dengan penuh cinta. Ia begitu sedih bila sesuatu yang buruk menimpa putrinya. Ryan tak ingin merasakan kembali perihnya sebuah kehilangan, terlebih trauma masa lalunya yang dulu masih melekat dalam ingatannya. Luka itu mungkin tak akan bisa sembuh dan selamanya akan selalu membekas di dalam hatinya.
"Sayang, ini Ayah sudah pulang."
Viona mulai terbangun dan terlihat mengerjapkan kedua matanya.
"Ayah." Viona seketika langsung memeluk erat tubuh Ryan yang saat ini sudah membungkuk.
"Iya sayang, gimana keadaan kamu?" tanya Ryan dengan mengusap pucuk rambut Viona yang masih dalam posisi tertidur.
"Aku rindu dengan Ibu. Kenapa Ibu tidak juga pulang, Ayah?" lirih Viona dengan pertanyaan yang membuat Ryan bingung untuk menjawabnya.
Ryan masih terdiam. Ia tak sampai hati mengatakan pada putri kecilnya sesuatu yang akan mematahkan harapannya. Pria itu pun terus memutar otaknya untuk menemukan alasan yang tepat, agar jawabannya dapat membuat Viona menjadi lebih tenang.
"Sabar ya sayang, nanti jika kamu sudah besar, kamu akan mengerti apa yang terjadi saat ini," ucap Ryan yang tak punya pilihan lain selain mengatakan hal ini.
"Kenapa harus menunggu aku besar Ayah? Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Ibu dan tidur bersama Ibu lagi seperti waktu dulu," tanya Viona dengan penuh keluguan.
Hati Ryan terasa bergetar hebat, perasaannya begitu terpukul setiap kali Viona berkata demikian, sebuah permintaan yang mustahil untuk dikabulkannya. Rasa bersalah itu selalu menghantuinya, karena telat menjemput Bella di stasiun tempat biasa Bella menunggu dirinya untuk datang.
"Viona sayang, sabar ya. Ayah yakin, setiap malam Ibu akan selalu datang untuk menemani dan memeluk kamu tidur. Lusa Ayah akan mengajak Vio ke tempat Ibu tinggal ya, tapi sekarang kamu harus sembuh dan jangan menangis lagi."
Viona bersorak bahagia mendengar ucapan yang Ryan katakan padanya, ia segera bangkit dan menghambur masuk ke dalam pelukan sang ayah.
"Makasih ya Ayah, Vio bahagia akan bertemu Ibu lagi, tapi lusa itu kapan Ayah?"
Ryan terkekeh mendengar pertanyaan putrinya. "Lusa itu artinya dua hari lagi, sayang. Setelah besok terus besoknya lagi."
"Oh begitu ya Ayah. Oke deh, Viona akan menunggu sampai lusa datang, tapi Ayah tidak boleh bekerja ya, libur dulu dan temani aku bertemu dengan Ibu."
Ryan tersenyum sambil mengusap pucuk rambut putri kecilnya itu. "Ayah janji tidak akan masuk kerja, setelah bertemu Ibu kita pergi ke mall dan Vio boleh beli mainan sebanyak-banyaknya."
Viona pun tersenyum lebar mendengar tawaran dari Ryan. Suasana haru saat itu kini sudah mencair bersama suara tawa Viona yang terdengar, saat Ryan mulai menggelitiknya.
"Ampun Ayah, ampun. Aku geli Ayah." Viona terus memohon untuk meminta Ryan berhenti menggelitik pinggangnya.
Di ambang pintu kamar, Mia yang melihat semua itu, menjadi ikut merasa bahagia. Mia memang sudah lama bekerja di rumah kediaman Ryan, jadi ia sudah menganggap majikannya itu sebagai keluarganya sendiri.
"Semoga Nyonya Bella saat ini sudah lebih tenang melihat kebahagiaan Viona saat ini," batin Mia penuh haru.
Bersambung ✍️