NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17.Di Bawah Langit Oranye

Langit di atas cakrawala kota besar berubah warna menjadi kombinasi oranye kemerahan dan ungu pekat yang sangat indah ketika Lentera melangkah keluar dari pintu gerbang belakang kompleks Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa.

Shift tugas jaganya yang melelahkan dari pagi hari akhirnya resmi berakhir tepat pada pukul lima sore.

Dengan tas jinjing kain kanvas usangnya yang setia menemani di pundak kiri, Tera berjalan dengan santai menyusuri trotoar jalan setapak yang ditumbuhi oleh deretan pohon angsana yang daun-daunnya mulai berguguran.

Dia sengaja memilih untuk berjalan kaki sedikit lebih jauh menuju ke halte bus kota yang agak sepi di ujung blok, demi bisa menikmati hembusan angin sore yang segar setelah seharian penuh mengurung diri di dalam ruangan periksa yang dingin berpendingin udara.

Tera sedang asyik mendengarkan alunan musik pop dari ponselnya menggunakan earphone kabel murah warna putih sambil sesekali bersenandung kecil mengikuti lirik lagu, ketika sebuah bayangan tubuh yang sangat jangkung mendadak muncul dari arah samping kanannya.

Bayangan itu berjalan sejajar dengannya, menyamai ritme langkah-langkah kakinya yang pendek secara konsisten.

Tera menoleh dengan cepat karena merasa ada pergerakan asing, dan sedetik kemudian dia melepaskan salah satu earphone dari telinga kanannya dengan ekspresi wajah yang sepenuhnya syok.

"Astaga! Kamu lagi?! Kenapa kamu hobi sekali muncul tiba-tiba seperti hantu?!"

Sean Eagle Nugraha sedang berjalan dengan santai di sampingnya di atas trotoar jalan umum yang berdebu.

Pria itu kini telah menanggalkan jas wol mewahnya yang mahal, dia hanya mengenakan kemeja putih premium dengan dua kancing teratas yang sengaja dibuka, memperlihatkan sedikit tulang selang-kangnya yang kokoh, serta celana bahan hitam.

Kedua telapak tangannya disembunyikan dengan rapi di dalam saku celana bahannya.

Dengan postur tubuhnya yang tegap, rambut yang sedikit berantakan tertiup angin sore, dan wajah tampannya yang diterpa kilauan cahaya matahari senja, dia tampak seperti seorang model papan atas internasional yang sedang melakukan sesi pemotretan bertema jalanan perkotaan—sangat kontras dan tidak cocok dengan latar belakang trotoar umum pinggiran kota yang berdebu dan penuh dengan pedagang kaki lima.

"Kebetulan sekali, Dokter Tera," ucap Sean dengan nada suara yang sangat datar tanpa dosa, seolah-olah keberadaannya di tempat itu adalah sebuah ketidaksengajaan yang murni—padahal mobil Rolls-Royce Phantom hitamnya sengaja dia perintahkan untuk menunggu di tikungan tiga blok di depan agar tidak memancing kecurigaan.

"Kebetulan?" Tera menghentikan langkah kakinya secara mendadak, memutar seluruh tubuhnya menghadap ke arah Sean dengan kedua tangan bertumpu di pinggang kecilnya.

"Tuan Sean yang agung, ini sudah berada di luar wilayah kekuasaan rumah sakitmu. Dan arah jalan trotoar ini menuju langsung ke kawasan pemukiman padat penduduk kelas menengah ke bawah. Jangan berani-berani katakan padaku kalau kantor pusat operasional Nugraha Group mendadak pindah ke samping lapak bengkel tambal ban dan jualan es degan di depan sana?"

Sean ikut menghentikan langkah kakinya, berdiri tegak tepat di hadapan Tera sambil menatap wajah gadis itu dengan pandangan mata yang sangat tenang dan teduh.

"Saya sedang mencari angin sore secara kasual. Dokter spesialis saraf pribadi saya bilang, berjalan kaki santai di bawah paparan sinar matahari senja sangat baik untuk memperbaiki sistem metabolisme otak pasca-trauma benturan kepala akibat kecelakaan."

"Oh, ya? Dokter spesialis bedah saraf mana di dunia ini yang memberikan saran medis sekonyol itu? Menyuruh seorang miliarder sepertimu jalan kaki sendirian di trotoar pinggir jalan raya yang penuh dengan kepulan asap knalpot hitam dari bus kota dan angkot begini?" sindir Tera dengan nada tajam yang kental, kedua alis matanya menukik ke bawah membentuk sudut tajam.

"Kalau kamu memang benar-benar mau cari angin sore yang sehat untuk kesehatan sarafmu, pergilah ke resor pribadimu yang super mewah di Bali atau naik helikopter pribadimu ke puncak pegunungan Alpen! Jangan berjalan di sampingku di atas trotoar umum seperti seorang detektif amatir yang sedang menguntit buronan kelas kakap!"

Sean menarik napas dalam-dalam, menghirup udara sore kota besar yang berbaur samar dengan aroma debu jalanan.

"Udara sore di tempat ini, ternyata tidak seburuk apa yang saya bayangkan sebelumnya, terutama jika dinikmati sambil mendengarkan rangkaian ocehan protes dari Anda."

Wajah Tera seketika merona merah padam mendengar kalimat yang terdengar seperti sebuah godaan halus yang keluar dari bibir pria sedingin es itu, namun harga diri tingginya sebagai anak petani yang mandiri segera menepis rasa canggung tersebut dengan cepat.

Dia mendengus keras, memalingkan wajahnya ke arah lain. "Dengar ya, Tuan Kaku yang menyebalkan. Aku ini sangat lelah setelah delapan jam penuh memeriksa puluhan pasien dengan berbagai keluhan di UGD bawah. Aku sama sekali tidak memiliki sisa energi untuk meladeni permainan kata-kata atau tebak-tebakan konyolmu ini. Kalau kamu memang masih mau lanjut mencari angin sore, silakan jalan lurus terus ke depan sana. Aku mau belok kanan menuju ke halte bus kota di seberang jalan itu."

Tera kembali melangkah dengan cepat, sengaja menghentakkan kakinya ke atas permukaan aspal trotoar sebagai tanda protes.

Namun, Sean dengan ukuran langkah kakinya yang panjang dapat dengan sangat mudah mengimbangi kecepatan berjalan Tera tanpa terlihat mengeluarkan usaha keras atau bersusah payah.

"Apakah naik bus kota di jam-jam pulang kantor seperti ini tidak terlalu penuh dan melelahkan untukmu?" tanya Sean dengan nada suara tenang saat mereka berdua akhirnya tiba di dekat area halte bus yang mulai dipadati oleh para pekerja kantor.

"Tentu saja sangat penuh dan berdesakan! Tapi mendaki dan berdesakan di dalam bus kota tua itu adalah bagian dari seni perjuangan hidup orang-orang biasa seperti kami, Tuan Sean. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa dimengerti oleh seseorang yang sejak lahir pantatnya hanya terbiasa menyentuh permukaan jok kulit lembut mobil mewah antipeluru," jawab Tera ketus tanpa sudi menolehkan wajahnya ke arah Sean.

Tepat pada saat kalimat Tera berakhir, sebuah bus kota bertubuh tua dengan karoseri yang sudah berkarat di beberapa bagian berhenti mendadak di depan halte dengan suara deru mesin diesel yang sangat bising dan kepulan asap hitam pekat dari knalpotnya yang membuat beberapa orang terbatuk.

Penumpang di dalam bus tersebut tampak berjubel sangat padat hingga ke area tangga pintu masuk yang terbuka.

"Lihat sendiri? Kondisinya sangat penuh dan tidak layak," kata Sean. Dia secara refleks mengulurkan tangan kanannya, memegang lengan atas Tera dengan lembut namun kokoh saat kerumunan orang dari arah halte mulai merangsek maju saling sikut untuk berebut masuk ke dalam bus kota yang penuh itu.

Genggaman tangan Sean yang protektif dan kuat membuat tubuh Tera tertahan di tempatnya berdiri, tidak ikut terdorong oleh arus massa. "Jangan memaksakan diri naik ke dalam bus itu, Dokter Tera. Kondisi massanya sangat agresif dan berbahaya untuk keselamatan fisikmu."

Tera menatap ke arah tangan Sean yang masih memegangi lengan jas rajutnya dengan erat, merasakan aliran hangat misterius dari tubuh pria itu kembali berdesir lembut menenangkan gejolak emosi kekesalannya dalam sekejap mata.

Dia menarik lengannya secara perlahan dari genggaman Sean, lalu menatap wajah pria itu dengan pandangan mata yang sedikit melembut namun tetap dibentengi oleh rasa gengsi yang kokoh.

"Kalau aku tidak memaksakan diri naik bus ini atau bus berikutnya, aku bisa telat sampai ke rumah kontrakan, Tuan Sean. Dan ibuku di rumah pasti akan sangat cemas menungguku pulang hanya untuk makan malam bersama."

"Saya memiliki mobil operasional yang sudah menunggu di tikungan depan. Saya bisa memerintahkan sopir saya untuk mengantarkanmu langsung sampai ke depan gang rumahmu dengan aman," tawar Sean dengan nada suara yang terdengar sangat tulus, tanpa ada sedikit pun kesan ingin menyombongkan status kekayaannya.

Tera terdiam sejenak di posisinya. Pikiran rasional kedokterannya mengatakan bahwa menerima tawaran naik mobil mewah Sean akan jauh lebih nyaman, dingin, aman, dan memotong waktu perjalanan secara drastis.

Namun, ingatan tentang perbedaan kasta sosial mereka yang terpisah oleh jurang yang teramat dalam, serta prinsip hidup dari ayahnya, Pak Hasyim, untuk tidak pernah memanfaatkan kemewahan atau kebaikan orang kaya demi keuntungan pribadi, membuat Tera menggelengkan kepalanya dengan sangat tegas.

"Terima kasih banyak atas tawaran kebaikan Anda yang sangat mewah, Tuan Sean. Tapi mohon maaf, saya harus menolaknya," ucap Tera dengan sebuah senyuman tipis yang sangat jujur di bibirnya.

"Aku lebih memilih untuk menunggu armada bus kota berikutnya yang mungkin sedikit lebih longgar penumpang. Menikmati hidup yang sederhana dengan caraku sendiri dan hasil keringatku sendiri adalah sesuatu yang sangat berharga untuk diriku. Anda sebaiknya segera kembali ke mobil mewah Anda sebelum debu-debu jalanan dan asap hitam angkot ini merusak kemeja putih mahal buatan desainer Anda itu."

Sean menatap dalam-dalam ke dalam sepasang mata bulat milik Tera yang memancarkan kilatan keteguhan prinsip baja di balik kesederhanaan pakaiannya.

Di dalam hati kecil Sean, rasa kagum, ketertarikan, dan rasa ingin melindungi gadis ini semakin menancapkan akarnya dengan sangat kuat.

Dia memutuskan untuk tidak memaksakan kehendaknya kali ini. Sean mundur satu langkah ke belakang, memasukkan kembali kedua telapak tangannya ke dalam saku celana bahannya.

"Baiklah. Kalau itu memang keputusan dan pilihan hidupmu malam ini, Dokter Tera," ucap Sean dengan suara pelan yang terdengar lembut. "Sampai bertemu besok pagi di meja pemeriksaan rumah sakit."

Tera hanya memberikan sebuah lambaian tangan singkat yang canggung sebelum berbalik badan membelakangi Sean, bersiap menunggu kedatangan bus kota berikutnya.

Sean tetap berdiri tegak di atas trotoar jalan selama beberapa menit, mengabaikan tatapan heran dari orang-orang di halte, memastikan sebuah bus kota yang agak longgar datang dan Tera berhasil naik ke dalamnya dengan aman dan mendapatkan tempat duduk, sebelum dia sendiri berbalik arah berjalan dengan langkah tegap menuju ke mobil Rolls-Royce-nya yang sudah menunggu di tikungan jalan depan.

Yuk komen nya sebelum lanjut baca ya.

1
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
Siti Aisah
ci muka retak jgan menyakiti tera.. sean akan murka 🤭
Siti Aisah
tera tenang sean sedang memantau keadaan..
Siti Aisah
tenang sera sean ikut dalam rombongan jdi pasti di lindungi ..
Kaa
semoga sampai ke jenjang pernikahan tera sean lanjut thor👍
Kaa
kekuatan Sean mungkin campuran kekutan mominya ya driyana
Kaa
apa ada kekuatan lain dari tera selain aliran penenang tuan Sean lawan Sera gunakan kekuatan mu lanjut thor
Nurul Ambar
semoga hidup bahagia
Nurul Ambar
akhirx....
Nurul Ambar
sean datang
Nurul Ambar
deg deg an smga baik2 saja
Mety Haula
kayanya nanti muksnya buksn retak lahi malah berbalik kebelskang tenang tera tuan sean psdti datang apa yg nyusup ke rs dr klan hitam blm ketahusn ya
Mety Haula
alhamdullilah akhirnya yera luluh juga hatinya semoga kedepannya berjalan mulus langsung tancap mks
Novita Sari
Alhamdulillah tera menerima sean.....
Endang Hidayanti
so sweet bgt Sean, 😍
Novita Sari
si muka retak salah pilih lawan
Novita Sari
tenang tera kekuatan sean udah sempurna..
Novita Sari
si muka retak gak kapok kapok muka udah jelek masih sok sokan
Tri Hastuti
baru bab awal udh tegang
sean anaknya siapa ini?
Rita Susanti
sedikit banget sih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!