NovelToon NovelToon
Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:50.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.

Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8

***

Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah tirai sutra di kamar utama. Lyn perlahan membuka matanya, disambut oleh aroma sandalwood yang begitu pekat mengurung indra penciumannya. Selimut tebal berkerapatan benang tinggi membalut tubuhnya yang lemas. Di sampingnya, Wiliam sudah terbangun. Pria paruh baya itu duduk bersandar pada kepala ranjang mahoni, mengenakan jubah mandi hitam kusam yang longgar, memperlihatkan sebagian dadanya yang bidang.

Jemari tangan Wiliam yang besar dan hangat bergerak lambat, mengusap helai rambut Lyn yang berantakan di atas bantal.

"Selamat pagi, Little Lady," sapa Wiliam dengan suara berat khas bangun tidur.

Lyn memiringkan tubuhnya, menatap wajah tegas Wiliam dengan pandangan yang sarat akan rasa bersalah dan kepasrahan. "Wiliam... ini sudah pagi. Saya harus kembali ke kamar tamu sebelum Clara atau para pelayan melihat saya keluar dari sini."

Saat Lyn hendak bergeser dan bangkit dari ranjang, lengan kokoh Wiliam dengan cepat menyambar pinggangnya, menariknya kembali rapat ke dalam dekapan hangat sang pria.

"Tidak ada yang boleh mengatur pergerakanmu di rumah ini selain aku, Lyn," ujar Wiliam penuh dominasi. Tangannya menangkup dagu Lyn, memaksa mata jernih gadis itu menatap lurus ke dalam matanya yang sehitam malam. "Sebelum kamu melangkah keluar dari kamar ini, dengarkan aturan ikatan kita baik-baik."

Lyn menahan napas, dadanya naik turun tak beraturan. "Aturan...?"

"Pertama," jemari Wiliam mengusap bibir bawah Lyn yang masih sedikit merona, "kamu tidak boleh membiarkan pria mana pun mendekat, menyentuh, atau bahkan menatapmu dengan cara yang sama seperti yang kulakukan. Kedua, tidak ada rahasia antara kamu dan aku. Apa pun yang kamu rasakan, apa pun yang kamu inginkan, kamu harus mengatakannya padaku."

"Lalu... bagaimana dengan Clara?" bisik Lyn dengan nada lirih. "Dia sahabatku, Wiliam..."

"Aturan ketiga," potong Wiliam tegas tanpa memberi ruang sanggah, "Clara tidak boleh mengetahui hubungan ini sampai aku sendiri yang memutuskan untuk memberitahunya. Di depan Clara, kamu bisa bersikap sebagai sahabatnya. Tetapi saat hanya ada kita berdua... kamu sepenuhnya milikku. Mengerti?"

Lyn menundukkan pandangannya, meremas selimut tebal yang menutupi dadanya. Di dalam lubuk hatinya, perasaan bersalah karena mengkhianati kepercayaan Clara terus menggerogoti. Namun di sisi lain, ketegangan dan rasa aman yang ditawarkan oleh kekuasaan pria matang di hadapannya melumpuhkan daya tolaknya.

"S-saya mengerti... Wiliam," bisik Lyn pasrah.

Wiliam menyunggingkan senyum puas, lalu mencium dahi Lyn dengan lembut sebelum melepaskan kukungannya. "Sekarang, kembalilah ke kamarmu dan bersiaplah untuk sarapan."

Satu jam kemudian, suasana teras luar villa terasa begitu tenang. Angin pagi menyapu hamparan kebun anggur Tuscany yang hijau. Di meja makan melingkar beralaskan taplak putih bersih, berbagai hidangan sarapan mewah mulai dari croissant hangat, buah-buahan segar, hingga kopi kualitas terbaik telah tersaji rapi.

Clara duduk di sebelah Lyn dengan wajah ceria tanpa beban, sementara Wiliam duduk tepat di seberang mereka, memangku satu kakinya seraya membaca koran bisnis harian.

"Wah, roti ini enak sekali! Paman Marco memang tidak pernah gagal," seru Clara riang seraya menyendok selai stoberi ke atas rotinya. Clara kemudian berpaling menatap Lyn yang duduk agak kaku di sampingnya. "Lyn, kamu terlihat makin segar pagi ini. Gaun merah mudamu cocok sekali!"

Lyn mengulas senyum tipis yang dipaksakan, mengaduk teh hangatnya dengan jemari gemetar. "Terima kasih, Clara... aku hanya mencoba menikmati udara pagi di sini."

"Oh ya, Pa!" Clara tiba-tiba menoleh pada ayahnya di seberang meja. "Sebelum kita kembali ke Jakarta minggu depan untuk masuk kuliah lagi, Clara mau minta izin mengajak Lyn jalan-jalan ke pusat kota Florence. Aku mau mengajak dia belanja dan keliling museum. Boleh, kan?"

Wiliam tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu menurunkan korannya perlahan, memperlihatkan tatapan matanya yang tajam dan tak tertebak.

"Florence?" ulang Wiliam dengan nada suara yang tenang namun berat. Matanya perlahan bergulir dari Clara, lalu mengunci sosok Lyn yang tampak menegang di kursinya. "Apakah Lyn sendiri ingin pergi ke sana?"

"Tentu saja dia mau, Pa! Iya kan, Lyn?" desak Clara antusias seraya merangkul lengan Lyn. "Kita belum sempat jalan-jalan berdua sejak sampai di Italia."

"A-aku... terserah Clara saja," sahut Lyn canggung.

Di bawah meja makan yang tertutup taplak tebal menjuntai, sebuah pergerakan terselubung mulai terjadi.

Sepatu kulit mahal milik Wiliam perlahan bergerak maju di balik taplak meja. Tak lama kemudian, Lyn merasakan kehangatan jemari tangan yang besar dan kokoh menyentuh lutut mulusnya di balik gaun. Tangan Wiliam merayap perlahan naik menyusuri paha Lyn di bawah meja, sementara wajah pria itu di atas meja tetap tampak tenang dan datar tanpa dosa.

DEG.

Punggung Lyn seketika menegak kaku. Matanya membelalak kaget saat jemari Wiliam mulai meremas pelan pahanya, memberikan tekanan yang begitu intim dan dominan tepat di bawah meja sarapan.

"Lyn? Kamu kenapa? Kok mendadak kaku begitu?" tanya Clara bingung saat merasakan perubahan sikap sahabatnya.

"A-ah... tidak ada apa-apa, Clara!" jawab Lyn panik, suaranya naik satu oktav. Ia berusaha keras menahan getaran di tubuhnya saat tangan Wiliam di bawah meja makin berani menelusuri kulit pahanya. "Cuma... tehnya agak terlalu panas."

Wiliam menyunggingkan senyum tipis yang sangat samar di sudut bibirnya. Pria paruh baya itu kembali menyesap kopi hitamnya dengan tenang, seolah tangannya tidak sedang melakukan interaksi terlarang di bawah meja.

"Kamu boleh pergi ke Florence, Clara," ujar Wiliam santai seraya menatap putrinya. "Tetapi dengan satu syarat."

"Syarat apa, Pa?" tanya Clara penuh rasa ingin tahu.

Di bawah meja, jemari Wiliam menyusup lebih dalam, menekan area sensitif Lyn hingga gadis muda itu harus menggigit bibir bawahnya erat-erat demi menahan desahan yang nyaris meluncur keluar dari tenggorokannya. Napas Lyn mulai memburu pelan, matanya berkaca-kaca menatap Wiliam dengan pandangan memohon agar pria itu menghentikan siksaan manis tersebut.

"Pengawal pribadi dari rumah ini harus mengawasi kalian sepanjang waktu," lanjut Wiliam dengan nada suara yang tak dapat dibantahkan, matanya terus mengunci tatapan pasrah Lyn. "Dan kalian tidak boleh pulang terlalu malam. Aku tidak suka menunggunya terlalu lama."

Clara menghela napas panjang namun tetap mengangguk setuju. "Iya, Pa, siap! Yang penting Papa izinkan kami pergi."

Clara yang sama sekali tidak menyadari interaksi panas di bawah meja terus berceloteh ria mengenai rencana belanja mereka di Florence. Namun di saat yang sama, jemari Clara yang memegang cangkir sesekali terhenti, matanya mengamati ekspresi Lyn yang makin aneh—wajah sahabatnya itu memerah padam dengan napas yang tertahan, sementara mata ayahnya terus tertuju pada Lyn tanpa mengalihkannya sedikit pun.

Sebuah keraguan tipis dan rasa curiga mulai terlintas samar di benak Clara saat melihat ketegangan yang begitu pekat membelit udara di antara ayahnya dan sahabat terbaiknya.

Bersambung....

1
Mutaharotin Rotin
😍😍😍
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰 suka ceritanya
ollyooliver
knp gak panggil mami papi aja..kalau mami papa apa bedanya kay dengan clara yg punya ibu sambung pdhl kaay itu anak kandung evelyn dan william
D_wiwied
Clara sdh ketemu jodohnya, smg Julian benar-benar orang baik
D_wiwied
hanya di dunia halu hamilpun bisa request kembar 😆😆
beybi T.Halim
entah lah., pertama kaki,lalu tangan,gas lah kita baca aja daripada mikir..walau pusing🙈
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading 😚🫶
total 1 replies
D_wiwied
gelagatnya calonnya Clara nih 😆🤭
ollyooliver
wah si kecil yang sudah dewasa🤏😄
ollyooliver
sudah suami istri punya anak pula masih pake "saya". formal ya
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
😍😍😍😍
D_wiwied
alamat bs punya adik nih kaysan, si daddy main sembur aja 😆😆🤭
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
😍😍😍😍🫣🫣
Arum Dyah
jangan end dlu lo kak... tau² udh umur 4th aja kan🤣🤣
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
👍🥰👍🥰🥰
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰 mampir baca
Arum Dyah
kalo perlu dibikin season ke 2🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!