-
Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.
Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
🍂🍂🍂🍂
Derap langkah kaki kuda delman yang dipacu kencang memecah keheningan pelataran rumah joglo. Belum sempat delman berhenti sempurna, Bagas sudah meloncat turun seraya memeluk erat tubuh Candra Kirana yang terkulai lemas tak sadarkan diri. Pria tegap itu berlari cepat menaiki tangga selasar dengan wajah pucat pasi dan napas tersengal-sengal.
"Ibu! Ibu! Tolong, Bu!" teriak Bagas panik, suaranya menggelegar memenuhi seluruh ruangan rumah.
Mbok Sumi yang sedang merapikan cangkir di ruang tengah seketika menjerit kaget. Kain jarik di tangannya terlepas begitu melihat anak tunggalnya memfokuskan seluruh tenaga untuk membopong Kirana yang pucat pasi.
"Gusti Pangeran! Le, Bagas! Kenapa dengan Kirana, Nak?!" jerit Mbok Sumi cemas setengah mati, berlari membuntuti Bagas yang bergegas masuk ke dalam kamar peraduan utama.
"Tadi di pasar Kirana mendadak pingsan, Bu... Wajahnya pucat sekali dan badannya dingin!" jawab Bagas dengan suara bergetar ketakutan seraya membaringkan tubuh anggun istrinya di atas peraduan kayu jati yang empuk. Bagas segera menyelimuti Kirana dengan kain mori halus. "Bagas takut terjadi apa-apa pada Kirana, Bu..."
"Sabar, Le, sabar... Jangan panik!" Mbok Sumi memegang bahu tegap anaknya yang bergetar. "Tadi Kang Saman sudah Ibu suruh memanggil Tabib Dirjo. Itu suara langkah kakinya di depan!"
Sesosok pria tua berkerudung kain batik dengan tas kulit lusuh tergesa-gesa melangkah masuk ke dalam kamar. Dialah Tabib Dirjo, tabib paling berpengalaman di perbukitan Lemah Wungu.
"Sugeng sore, Pak Kades, Mbok Sumi..." sapa Tabib Dirjo terengah-engah. "Mari, biarkan saya periksa keadaan Nyonya Kirana."
Bagas menggeser duduknya, membiarkan Tabib Dirjo duduk di tepi ranjang. Pria tua itu meletakkan jemari tangannya di atas pergelangan tangan halus Kirana, memejamkan mata untuk menghayati denyut nadinya. Setelah itu, telapak tangan Tabib Dirjo berpindah perlahan, menempel lembut di atas perut bagian bawah Kirana yang berbalut kebaya kuning kunyit.
Suasana di dalam kamar utama seketika hening pekat. Hanya terdengar hembusan napas Bagas yang berat dan cemas serta detak jarum jam dinding. Bagas menggenggam erat telapak tangan Mbok Sumi, matanya tak pernah lepas menatap wajah pucat istrinya.
Satu menit... dua menit berlalu. Perlahan, gurat cemas di wajah Tabib Dirjo meluntur, berganti dengan senyuman lebar yang teramat cerah dan hangat. Ia menarik tangannya kembali lalu menatap Bagas dan Mbok Sumi bergantian.
"Bagaimana, Mbah Dirjo?!" pancing Bagas tak sabar, suaranya parau penuh desakan. "Istri saya tidak terkena angin jahat atau ilmu gaib, kan?"
Tabib Dirjo terkekeh pelan, mengusap janggut putihnya. "Tenang, Pak Kades Bagas... Kirana tidak sakit sama sekali. Tidak ada gangguan gaib atau penyakit apa pun di dalam tubuhnya."
"Lalu kenapa Kirana pingsan sampai pucat begitu, Mbah?!" potong Mbok Sumi cemas.
Tabib Dirjo menangkupkan kedua tangannya penuh hormat. "Nyonya Kirana pingsan hanya karena kelelahan dan perubahan hormon di dalam tubuhnya. Den Bagas... Mbok Sumi... Nyonya Kirana saat ini sedang mengandung. Di dalam rahim fananya, telah tumbuh benih keturunan murni Pak Kades yang kini usianya sudah memasuki dua bulan."
DEGG!
Kata-kata Tabib Dirjo bagaikan petikan genta surga yang bergema dahsyat di dalam kamar utama tersebut.
Bagas tertegun kaku, matanya membelalak sempurna seolah tak percaya pada pendengarannya. "A-apa... Mbah...? Kirana... hamil? Kirana mengandung anak saya...?"
"Betul, Pak Kades," tegas Tabib Dirjo mantap seraya tersenyum hangat. "Denyut nadinya ganda dan rahimnya amat hangat. Anak di dalam perut Nyonya sangat sehat dan kuat."
Di samping Bagas, Mbok Sumi mendadak terduduk di lantai kamar. Air mata kebahagiaan yang amat melimpah seketika meledak membasahi pipi tuanya. Wanita tua itu melipat kedua tangannya di dada, lalu bersujud pasrah mencium lantai kayu kamar joglo.
"Matur nuwun, Gusti Allah... Matur nuwun Agung!" tangis Mbok Sumi pecah membahana dalam keharuan yang luar biasa. "Doa Ibu dikabulkan... Impian Ibu untuk menimang cucu fana di rumah ini akhirnya diijabah oleh Gusti..."
Bagas membimbing ibunya berdiri, merangkul bahu Mbok Sumi rapat-rapat. Kedua mata Bagas pun ikut berkaca-kaca, dadanya diliputi gelombang rasa syukur dan kebahagiaan yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.
Tepat pada saat itu, kelopak mata Candra Kirana perlahan bergerak. Sebuah lenguhan halus keluar dari bibirnya yang mulai merona kembali.
"Emmgh... Mas... Bagas..." bisik Kirana pelan, pandangan matanya yang bening perlahan menyesuaikan dengan temaram lampu minyak kamar.
"Kirana!" pekik Bagas bahagia.
Bagas langsung berlutut di samping tempat tidur, merengkuh tubuh anggun istrinya dan mendaratkan kecupan hangat yang amat lama di dahi Kirana. "Dinda... kamu sudah sadar, Sayang...?"
Kirana memandangi Bagas dan Mbok Sumi yang menangis bahagia di samping tempat tidur dengan tatapan bingung. "Mas Bagas... Ibu... Kenapa menangis? Kirana tadi kenapa...? Kenapa bisa ada di kamar...?"
Mbok Sumi menggeser duduknya, merangkul bahu Kirana lalu memeluk menantunya itu dengan derai air mata kebahagiaan. "Nduk... Kirana, anakku yang ayu... Kamu tidak sakit, Nduk... Kamu sedang hamil! Di dalam perutmu ada cucu Ibu!"
Kirana tersentak pelan dalam pelukan Mbok Sumi. Jemari halusnya meraba perutnya sendiri yang masih rata. Ia menoleh menatap Bagas untuk mencari kepastian.
Bagas menggenggam jemari Kirana, menempelkannya di dadanya sendiri seraya tersenyum amat manis. "Benar, Kirana... Mbah Dirjo baru saja memeriksa keadaanmu. Kamu sedang mengandung anak kita... benih manusia fana yang tumbuh secara nyata di rahimmu."
Airmata bening menetes di pipi mulus Candra Kirana. Kebahagiaan murni sebagai seorang wanita fana mengalir hangat di seluruh pembuluh darahnya. Tidak ada lagi kutukan Ratu Ular, tidak ada lagi anak berbentuk telur gaib di dasar danau—kini, buah cinta sejati mereka hadir secara nyata di dalam tubuh manusianya.
"Terimakasih, Mas Bagas..." bisik Kirana halus dengan suara bergetar haru. "Kirana bahagia sekali... Kirana akan menjaga calon buah hati kita dengan segenap jiwa dan raga Kirana."
"Terimakasih, Dinda... Terimakasih sudah sudi menjadi ibu dari anak-anakku," balas Bagas mesra seraya menciumi telapak tangan istrinya.
Malam kian merambat pekat di atas rumah joglo Lemah Wungu. Angin malam perbukitan berhembus lembut membawa wangi bunga melati yang menentramkan. Pintu kamar utama telah terkunci rapat, dan lampu minyak kelapa dibiarkan meredup hangat.
Di atas peraduan kayu jati yang empuk, Bagas telah terlelap tidur dengan amat pulas di samping istrinya. Wajah tegap pria yang kini menjadi Kades sekaligus calon ayah itu tampak begitu tenang, napas dada bidangnya naik turun secara teratur. Rasa lelah pasca-tugas desa dan luapan emosi kebahagiaan siang tadi membuat Bagas tertidur sangat nyenyak.
Candra Kirana berbaring miring menghadap ke arah suaminya. Ia tidak tertidur. Di dalam temaram ruangan, Kirana menyunggingkan senyuman paling manis dan indah yang pernah ada di paras jelitanya.
Perlahan, telapak tangan halus Kirana bergerak, meraba dan mengelus lembut perutnya sendiri yang terbalut kain mori tipis. Di balik kulit mulusnya, Kirana bisa merasakan detak kehangatan gaib yang teramat sejuk—sebuah benih kehidupan fana yang tumbuh dari penyatuan cinta murninya bersama Bagas.
Kirana mendekatkan wajahnya, mengecup pipi tegap Bagas yang tertidur pulas dengan kepatuhan dan kehangatan tiada tara.
"Tidur yang nyenyak, Mas Bagas..." bisik Kirana begitu halus, mendayu-dayu di telinga suaminya yang terlelap. "Terima kasih telah membawaku ke dunia nyata... Terima kasih telah menjadikanku seorang wanita dan ibu yang paling bahagia di dunia ini."
Kirana merapatkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Bagas, lalu memejamkan matanya dengan ketenangan batin yang abadi di rumah joglo Lemah Wungu.
Bersambung...