“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Hangatnya Rumah
"Selamat datang di Jakarta, calon istriku," bisik Dimas lembut di depan bibirku.
Wajahku seketika memerah, menyisakan pendar kehangatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya sepanjang hidupku. Embusan napasnya yang hangat dan tatapan matanya yang pekat mengunci seluruh kesadaranku.
Bagi seorang perempuan seperti aku, memilih pasangan hidup bukan sekadar memilih tangan untuk digenggam, melainkan memilih arah perjalanan jiwanya. Hari ini aku menyadari bahwa aku sedang berdiri di sebuah persimpangan sunyi di antara langkah yang mendekatkanku pada cahaya atau yang perlahan menjauhkanku dari kedamaian.
Cinta bagiku bukan hanya tentang rasa yang berdebar atau desiran manis di dalam dada, tapi tentang siapa yang menguatkan saat iman mulai melemah dan menuntun saat hati dirasa goyah. Dan mungkin, hal yang paling indah bukanlah tentang menemukan siapa sosok yang sempurna di dunia ini, melainkan menemukan ia yang sama-sama ingin bertumbuh dalam cahaya itu.
Mungkin saja perjodohan yang awalnya kutakuti ini adalah cara unik dari Tuhan untuk menyatukan dua insan menuju ikatan suci pernikahan nantinya.
Setelah suasana haru dan kehangatan di ruang kerjanya mereda, Dimas mengajakku merapikan penampilan. Pria itu mengandeng tanganku dengan lembut sebuah gestur posesif yang sangat alami membawaku keluar dari ruangan eksekutifnya untuk memanggil Vino dan mengenalkanku pada jajaran tim inti yang akan bersamaku selama tiga bulan ke depan.
Di sebuah ruang rapat kreatif yang bergaya modern dengan papan tulis kaca besar, tiga orang sudah menunggu.
"Teman-teman, kenalkan," ujar Dimas dengan nada suara resmi khas seorang pimpinan, namun genggaman tangannya di jemariku tidak terlepas. "Ini Maizara Paramita, staf ahli pemasaran dari agensi mitra kita di Yogyakarta. Selama tiga bulan ke depan, Mei akan memimpin divisi kreatif pemasaran untuk ekspansi produk saus Korea kita di Seoul."
Aku melempar senyum hangat dan membungkuk sopan khas tradisi Jawa yang sudah mendarah daging. "Halo semuanya, panggil saja aku Mei."
Seorang wanita berpenampilan sangat energik dengan kemeja ikatan rapi berdiri pertama kali. "Halo Mbak Mei! Aku Sonya, kepala Tim Garuda di bidang pemasaran. Senang banget akhirnya ada staf ahli langsung dari agensi Jogja!"
"Aku Juno, asisten kepala tim, Mbak Mei," sahut seorang pria muda berkacamata dengan ramah.
"Dan aku Rudi, editor pemasaran serta konseptor visual," timpal pria jangkung di sudut meja yang memegang tablet grafis.
"Tim Garuda ini adalah ujung tombak pemasaran kita, Mei," Vino menimpali seraya bersedekah tangan di dekat pintu. "Nanti kamu akan banyak berdiskusi dengan Sonya, Juno, dan Rudi. Tentunya di bawah pengawasan langsung dariku dan si CEO kaku ini."
Sonya tertawa kecil melihat tangan Dimas yang masih setia menggenggam jemariku. "Wah, tapi sepertinya kepemimpinan Mbak Mei bakal aman banget nih, soalnya didukung penuh sama pak bos."
Pipiku kembali merona mendengar godaan Sonya. Dimas hanya berdeham pelan, menatap timnya dengan lirikan penuh peringatan, walau sudut bibirnya terangkat tipis. Suasana di dalam Tim Garuda terasa begitu cair, profesional, dan menyenangkan. Aku tahu, bekerja bersama mereka untuk tiga bulan ke depan akan menjadi pengalaman yang sangat berharga.
Sore harinya, setelah seluruh urusan berkas di kantor usai, Dimas membawaku pulang ke rumah orang tuanya di kawasan perumahan elit Jakarta Selatan.
Rumah dua lantai berarsitektur modern minimalis itu tampak sangat asri dari luar. Pepohonan rindang dan tanaman hias tertata rapi di halaman depan. Walau terkesan tertutup dan privat dari luar, kehangatan menyambut begitu gerbang otomatisnya terbuka.
Dimas memarkir SUV hitamnya, lalu berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu untukku. Pria itu mengambil koper sedangku dari bagasi.
"Yuk, Mami sudah menunggu di dalam," ucap Dimas pelan.
Kami melangkah masuk menyeberangi teras berlantai marmer. Baru saja pintu utama berukir indah itu dibuka, aroma masakan rumahan yang lezat langsung menyerbu indra penciumanku.
"Mih, ini calon mantu Mami sudah datang," panggil Dimas cukup keras ke arah dalam rumah.
Tidak perlu menunggu lama, langkah kaki terburu-buru terdengar dari arah dapur. Seorang wanita paruh baya berpenampilan amat anggun dengan daster batik halus dan celemek masak keluar menyambut kami. Wajahnya yang cantik menyimpan kemiripan yang sangat kuat dengan Dimas.
"Mei!" sapa Ibu Dimas dengan wajah berbinar bahagia. Beliau langsung berjalan mendekatiku dan merengkuh tubuhku ke dalam pelukan hangat seorang ibu.
Aku sempat tertegun sejenak sebelum membalas pelukan tulus itu. "Maaf ya Tante... Mei jadi merepotkan."
Ibunya Dimas melepaskan pelukannya, memegang kedua bahuku sambil menatap wajahku dengan binar penuh kasih sayang.
"Merepotkan apa to, yo ndak lah Mei! Mami malah senang sekali akhirnya kamu sampai di sini," omel beliau dengan nada menyayangi. Lalu matanya melirik ke arah Dimas yang sedang memegang koperku. "Dimas, bawa kopernya ke atas, masukkan ke kamar sebelah kamar kamu ya."
Ucapan polos dari Mami seketika membuat darahku berdesir hebat. Pipiku membakar seketika.
Apa? Kamar aku sebelahan sama kamarnya Dimas? Aduuhhh... mana isi kepalaku sekarang cuma ada bayangan bibir Dimas aja lagi! gumam batinku panik setengah mati. Aku berusaha keras menutupi rasa salah tingkahku dengan menundukkan kepala.
"Siap, Mih," sahut Dimas santai, sama sekali tidak merasa ada yang aneh. Pria berambut gondrong itu melirikku sekilas dengan pendar jenaka di matanya, menikmati raut wajahku yang merah padam. "Mih, Mei... aku ke atas dulu ya. Sekalian mau mandi, gerah soalnya."
Aku hanya bisa mengangguk kaku. Dimas berlalu menaiki anak tangga kayu menuju lantai dua membawa koper sedangku, meninggalkanku berdua bersama Mami di ruang tengah yang luas.
Mami tersenyum manis, memegang tanganku dan menuntunku berjalan menuju ruang keluarga yang menghadap langsung ke kolam renang di halaman belakang.
"Ayo duduk dulu, Nduk. Biarkan Dimas mandi dulu. Mami sudah buatkan teh hangat dan camilan," ujar Mami ramah, memintaku duduk di sofa empuk berwarna krem.
"Matur nuwun, Tante... eh, Mami," ucapku agak canggung saat memanggilnya dengan sebutan Mami.
"Nah, begitu dong, panggil Mami saja ya," Mami melepaskan celemeknya dan duduk tepat di sampingku. Beliau menuangkan teh melati hangat dari poci keramik ke dalam cangkir kecil untukku. "Papi hari ini belum bisa menyambut Mei, soalnya masih ada dinas luar negeri ke Singapura sejak kemarin. Lusa baru pulang. Tapi Papi sudah titip salam dan senag sekali waktu Dimas bilang kamu mau ke Jakarta."
Aku menerima cangkir teh itu dengan kedua tangan, membungkuk sopan. "Iya Mami, tidak apa-apa. Salam kembali untuk Papi."
Mami menyesap tehnya sedikit, lalu memandangi wajahku dengan tatapan intens namun penuh kehangatan. Keheningan sore yang nyaman menyelimuti kami berdua, diiringi suara gemericik air dari kolam renang.
"Mei," panggil Mami pelan, suaranya terdengar begitu lembut. "Mami betul-betul mengucapkan terima kasih sama kamu."
Aku mengernyitkan dahi bingung. "Terima kasih untuk apa, Mami?"
Mami tersenyum tipis, matanya agak berkaca-kaca saat menatap lantai marmer sejenak sebelum kembali menatapku. "Terima kasih karena sudah hadir di dalam hidupnya Dimas. Mami tahu betul bagaimana anak Mami itu. Sejak dulu Dimas itu anak yang sangat tertutup, kaku, dan terlalu keras pada dirinya sendiri. Dia membangun bisnis dari nol sama Vino tanpa mau menyusahkan Papi, kerja dari pagi sampai malam, dan sama sekali tidak pernah membuka hatinya untuk wanita."
Aku mendengarkan setiap kata Mami dengan saksama. Informasi ini mengonfirmasi apa yang kusaksikan sendiri pada diri Dimas.
"Tapi beberapa bulan lalu," lanjut Mami dengan binar gembira di wajahnya, "waktu dia pulang dari acara di Jogja... Dimas berubah. Dia yang biasanya cuek mendadak sering melamun sambil melihat kartu nama kecil dari kamu. Mami sampai bingung, anak Mami yang seperti es batu itu kenapa bisa senyum-senyum sendiri kalau dapat pesan dari kamu."
Pipiku kembali terasa hangat, bayangan Dimas yang menyembunyikan perasaannya membuat dadaku berdesir manis.
"Perjodohan ini..." bisik Mami sambil meremas lembut jemariku, "awalnya Mami takut Dimas akan menolak keras. Tapi waktu Papi bilang calonnya adalah kamu, putri keluarga Natakusumah dari Jogja, Dimas tidak membantah sedikit pun. Mami tahu saat itu juga, anak Mami sudah jatuhkan hatinya sama kamu, Mei."
Hati kecilku bergetar hebat mendengar penuturan tulus dari ibunya Dimas. Ketakutanku selama ini bahwa pernikahan ini hanyalah aliansi bisnis yang dingin dan tanpa perasaan seketika runtuh tanpa sisa.
"Mei sempat takut, Mami..." bisikku jujur, memberanikan diri membuka isi hatiku. "Mei takut tidak bisa jadi pasangan yang baik untuk Mas Dimas. Dunia kami sangat berbeda. Mei tumbuh di keluarga tradisional yang kaku, sementara Mas Dimas adalah pengusaha sukses di kota besar."
Mami menggelengkan kepala dengan tegas namun penuh kelembutan. "Justru perbedaan itu yang menyempurnakan kalian, Nduk. Dimas butuh kehangatan dan keanggunan kamu untuk meredakan kepalanya yang selalu penuh dengan urusan bisnis. Dan kamu... butuh pria tegap seperti Dimas yang bisa melindungimu dan menghargai impian-impianmu."
Mami mengusap punggung tanganku. "Di rumah ini, Mei tidak perlu takut. Mami tidak akan menuntut kamu jadi wanita yang sempurna. Yang Mami ingin hanya kamu dan Dimas saling menguatkan, saling jujur, dan berjalan bersama menuju pernikahan kalian nanti."
Airmata haru menetes tipis di sudut mataku. Aku menunduk dan memeluk Mami dengan erat. Rasa hangat dari pelukan seorang ibu yang begitu mengerti dan menerimaku membuat seluruh kelelahan perjalanan dari Jogja menguap begitu saja.
"Matur nuwun sanget ya, Mami..." bisikku parau.
"Sama-sama, anakku," balas Mami lembut, mengelus rambutku.
Dari arah tangga lantai dua, suara langkah kaki santai terdengar mendekati ruang keluarga. Aku dan Mami melepaskan pelukan.
Dimas turun dengan penampilan yang jauh lebih segar. Rambut gondrongnya yang masih agak basah disisir rapi ke belakang. Pria itu hanya mengenakan kaos polos berwarna hitam dan celana santai, memberikan kesan kasual yang sangat tampan dan menawan. Aroma sabun dan parfum woody-citrus miliknya kembali menyerbak di udara.
Dimas menghentikan langkahnya di dekat sofa, memandangi aku dan ibunya bergantian dengan alis terangkat tinggi.
"Ada apa ini? Kok Mami sama Mei seperti habis drama air mata?" tanya Dimas heran, suaranya berat dan santai.
Mami tertawa kecil sambil mengusap sudut matanya. "Halah, kamu itu! Datang-datang bukannya nawarin calon istrinya istirahat, malah banyak tanya. Mami cuma lagi ngobrol sama mantu Mami."
Dimas melangkah mendekat, berdiri tepat di samping sofaku. Pria jangkung itu menundukkan kepalanya sedikit, menatapku lurus dengan pandangan yang sarat akan kehangatan dan perhatian.
"Sudah tidak capek kan, Mei?" tanya Dimas pelan pada diriku.
Aku mendongak, menatap wajah tampannya, lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum manis. "Sudah tidak, Mas. Obrolan sama Mami bikin rasa capekku hilang."
Dimas tersenyum tipis sebuah senyuman langka yang selalu berhasil membuat jantungku berdegup liar. Tangannya terangkat perlahan, secara sangat alami mengusap puncak kepalaku dengan lembut di hadapan ibunya sendiri.
"Kalau begitu, ayo aku antarkan ke kamar kamu di atas," kata Dimas. "Kamu bisa mandi dan merapikan barang-barangmu sebelum kita makan malam bersama."
Aku berdiri dari sofa, meminta izin pada Mami. "Mei ke atas dulu ya, Mami."
"Iya Nduk, istirahat dulu ya," balas Mami dengan senyuman penuh kasih.
Aku melangkah menyusuri anak tangga kayu menuju lantai dua, berjalan beriringan di samping Dimas. Di dalam koridor lantai dua yang tenang, Dimas membukakan pintu sebuah kamar berdesain sangat cantik bernuansa warna krem dan kayu hangat. Di dalam kamar itu, koper sedangku sudah teruji rapi di dekat lemari.
Dan tepat di sebelah kamar ini, sebuah pintu kayu tebal yang sedikit terbuka memperlihatkan kamar pribadi milik Dimas Arjowibowo.
Aku berdiri di ambang pintu kamarku, menoleh pada pria jangkung di sampingku yang masih menatapku tanpa berkedip.
"Mas Dimas..." panggilku pelan.
"Ya?"
"Terima kasih ya," bisikku tulus, menatap tepat ke dalam manik mata hitamnya. "Untuk semuanya hari ini."
Dimas memiringkan kepalanya sedikit, menatapku dengan pendar kasih sayang yang begitu pekat. Pria itu melangkah satu tapak lebih dekat, menunduk, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut yang hangat di keningku.
"Sama-sama, Maizara," bisik Dimas tepat di keningku. "Istirahatlah. Kamarku tepat di sebelahmu. Kalau butuh apa-apa, kamu tahu harus mengetuk pintu yang mana."
Kecupan di kening itu menutup sore pertamaku di Jakarta dengan keindahan yang sempurna. Perjalanan jiwaku yang sempat berada di persimpangan sunyi kini telah menemukan arahnya, bersama Dimas Arjowibowo, lelaki yang siap menuntunku menuju masa depan yang penuh dengan cahaya.