Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Waktu menunjukkan pukul satu pagi ketika keheningan sepenuhnya bertakhta di kamar pribadi Dominic Ashford. Cahaya remang dari lampu meja di sudut ruangan membiaskan pendar kekuningan yang hangat, memantul pada dinding kayu gelap dan deretan cermin rias berbingkai ukir.
Dominic berdiri membeku di depan cermin besar setinggi tubuhnya. Pria berusia 32 tahun itu membiarkan kemeja sutra hitamnya terbuka sepenuhnya, menampilkan bagian dada bidang serta bahunya yang kokoh.
Tatapan matanya terpaku pada refleksi dirinya sendiri.
Di sana, di atas kulitnya yang mulus, terukir jejak-jejak pertempuran gila kemarin malam—bekas gigitan halus di sekitar dada kanan serta guratan merah tipis bekas cengkraman kuku yang menjulur di sepanjang bahu hingga punggung belakangnya.
Sebuah ukiran kemewahan sekaligus kepemilikan yang murni dari Ester Alba.
Dominic menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan.
Sudut bibirnya yang tegas mendadak terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman manis dan samar yang sangat jarang menghiasi wajah kaku seorang penguasa muda keluarga Ashford.
Ingatannya melayang mundur pada momen beberapa jam lalu, tepat sebelum Ester pulang diantar oleh sopir pribadi keluarga.
Saat itu, Dominic menyempatkan diri menyusul Ester ke dekat pintu samping mansion. Pria itu menangkap bagaimana sesekali Ester meringis pelan, menahan perih di area kewenangannya setiap kali gadis itu melangkah kecil atau mencoba berdiri tegak.
"Apakah... masih sangat sakit?" bisik Dominic saat itu, mendekatkan tubuhnya dengan suara yang begitu sarat akan kelembutan dan rasa bersalah.
Ester yang mendengarnya seketika merona merah padam, menggeleng cepat seraya menunduk dalam-dalam karena malu.
Respon polos yang membuat dada Dominic berdesir hangat.
Dominic terkekeh pelan di depan cermin, membayangkan betapa kontrasnya sifat Ester saat berada di bawah kungkungannya kemarin malam.
Ketika rasa sakit akibat robekan pertama menghantam kesucian gadis 22 tahun itu, Ester tidak menangis meraung-raung atau meracau liar. Gadis itu hanya memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya sendiri hingga memucat demi menahan jeritan.
Melihat kepasrahan yang menyiksa itu, Dominic yang tenggelam dalam pusaran gairah dan emosi sempat membisikkan tawaran gila di telinganya: "Jangan gigit bibirmu sendiri, Ester... Kau boleh menggigitku saja. Salurkan sakitmu padaku."
Tawaran itu diterima tanpa ragu oleh Ester.
Gadis itu menancapkan kuku-kukunya di punggung Dominic dan menggigit dadanya kuat-kuat saat gelombang panas itu mencapai puncaknya. Dan ajaibnya, bukannya meringis kesakitan, Dominic justru merasa begitu terikat dan terpuaskan secara emosional.
Dominic mengusap bekas gigitan di dadanya dengan ibu jari, tersenyum sendiri seperti orang yang hilang akal di tengah malam yang sunyi.
Pria 32 tahun itu baru benar-benar menyadari sesuatu yang mengejutkan: selama dua tahun terakhir, ia sama sekali tidak pernah melihat kecantikan Ester secara utuh dengan mata seorang pria dewasa.
Logika dan pikiran normalnya selama ini selalu memagari Ester sebagai 'gadis muda'—seorang mahasiswi polos, sosok ringkih yang wajib ia lindungi dan hormati posisinya sebagai guru privat keponakannya.
Perbedaan usia sepuluh tahun dan status formal di antara mereka membatasi sudut pandangnya.
Namun malam ini, setelah batas itu hancur berantakan, Dominic tersadar bahwa selama dua tahun terakhir, Ester sebenarnya selalu ada di sekitarnya.
Ester tidak pernah benar-benar jauh dari jangkauannya.
Di setiap pesta kecil keluarga yang diadakan sang Mommy, di acara makan malam formal mingguan mansion, hingga momen-momen santai di akhir pekan... Ester selalu berada di sudut ruangan, memandu keponakannya dengan keanggunan yang tenang.
Dominic bahkan mendadak teringat suatu sore beberapa bulan lalu. Ia baru sadar pernah secara sukarela mengemudikan mobilnya sendiri untuk mengantar Angelo dan Ester ke sebuah pusat perbelanjaan elit di Manhattan, hanya demi membelikan berbagai perlengkapan dan bahan mengajar yang dibutuhkan gadis itu.
Saat itu, Dominic mengingat bagaimana ia memperhatikan Ester dari kejauhan—melihat gadis itu tertawa tipis menanggapi kepolosan Angelo tanpa menyadari bahwa keberadaannya telah perlahan mengikis rasa sepi di hatinya.
Senyuman Dominic makin lebar, berubah menjadi tawa renyah yang tertahan di tenggorokan.
Ia membayangkan bagaimana reaksi dua sahabat gilanya—Julian dan Joy—jika mengetahui rahasia besar ini.
Jika kedua pria itu tahu bahwa Dominic Ashford, pria yang paling kaku, setia, dan dikenal amat menjaga moralitas, tiba-tiba jatuh ke dalam pelukan seorang gadis muda berusia 22 tahun yang usianya bahkan lebih cocok menjadi adiknya sendiri... mereka pasti akan mengejek dan mengulitinya habis-habisan!
Joy pasti akan berteriak gila seraya menuangkan whisky, sementara Julian akan tertawa terbahak-bahak merayakan 'keruntuhan' pertahanan sang Ashford yang legendaris.
Dominic merapikan kemejanya kembali, menatap bayangannya di cermin dengan mata yang kini berkilat tegas.
Rasa lelah akibat drama berdarah Florence tadi siang seolah menguap tanpa bekas.
Yang tersisa di dalam dada Dominic Qiel Ashford malam ini hanyalah sebuah hasrat baru yang membara—sebuah tekad mutlak untuk menggenggam dan melindungi gadis muda bernama Ester Alba itu sepenuhnya di dalam jalurnya, tak peduli badai apa pun yang akan menerjang keluarga besar Ashford di esok hari.
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
berasa sedikit bacanya 🤭
makasih Thor sudah up 🙏