Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pertarungan Pertama
Malam itu, seluruh keluarga kerajaan berkumpul di aula utama untuk pengundian pasangan Tahap Kedua—Pertarungan Berpasangan.
Sistemnya sederhana: tujuh nama ditulis di atas kepingan giok kecil, dimasukkan ke dalam sebuah wadah formasi yang akan mengundi secara acak namun adil, memastikan tidak ada kecurangan yang bisa memengaruhi hasilnya. Karena jumlah peserta ganjil, satu peserta akan mendapatkan bye otomatis ke babak berikutnya.
Chu Feng berdiri di antara saudara-saudaranya, memperhatikan wadah formasi itu berputar perlahan sebelum akhirnya memuntahkan pasangan-pasangan pertama.
"Chu Heng melawan Putra Ketiga."
"Chu Ming melawan Putra Keempat."
"Putra Kelima mendapatkan bye."
Tersisa dua nama terakhir. Chu Feng sudah menduga, dan firasatnya benar.
"Chu Yan melawan Chu Feng."
Keheningan singkat menyelimuti aula, sebelum diikuti gumaman rendah dari beberapa pejabat yang hadir. Dari seluruh kemungkinan pasangan, inilah yang paling tidak seimbang—jenius kultivasi generasi ini melawan pangeran yang baru saja terungkap memiliki sedikit bakat, namun masih jauh di bawah level para peserta lainnya.
Chu Yan tersenyum tipis, menatap Chu Feng dari seberang aula dengan ekspresi yang sulit dibaca—campuran antara mengejek dan waspada.
"Menarik," katanya, cukup keras untuk didengar semua orang. "Sepertinya takdir ingin aku membuktikan sendiri seberapa jauh kemampuan Adik Ketujuh yang sebenarnya."
Chu Feng hanya membungkuk sopan, tidak menanggapi provokasi itu dengan kata-kata. Namun di dalam dirinya, ia tahu bahwa pertarungan besok akan menjadi ujian yang jauh lebih berat dari yang ia perkirakan.
Kembali di paviliunnya malam itu, Chu Feng duduk bersila di lantai kamarnya, pikirannya berkecamuk memikirkan strategi untuk menghadapi Chu Yan.
"Kau khawatir," suara di dalam dirinya berkata, bukan pertanyaan melainkan pernyataan.
"Chu Yan berada di tingkat Lautan Qi lapis kedua," jawab Chu Feng. "Aku baru membuka meridian ketiga. Perbedaannya terlalu jauh untuk ditutupi hanya dengan strategi dan pengetahuan tentang kelemahannya."
"Benar. Kalau kau bertarung head-to-head mengandalkan kekuatan murni, kau akan kalah dalam hitungan detik."
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
Hening sejenak, seolah suara itu sedang mempertimbangkan sesuatu. "Ada satu cara. Tapi ini akan membutuhkan penggunaan Mata Dewa secara penuh selama pertarungan—bukan sekadar sekilas seperti yang biasa kau lakukan. Dan itu akan menguras qi-mu jauh lebih cepat dari yang pernah kau rasakan."
"Apa yang bisa dilakukan Mata Dewa dalam pertarungan?"
"Melihat kelemahan dalam gerakan lawan sebelum gerakan itu benar-benar terjadi. Membaca pola serangan, mendeteksi titik buta dalam pertahanan mereka. Bukan jaminan kemenangan—kekuatan mentah Chu Yan masih jauh di atasmu—tapi cukup untuk membuatnya kesulitan menyerangmu secara langsung, dan mungkin cukup untuk membuatnya melakukan kesalahan."
Chu Feng mempertimbangkan hal itu sejenak. "Kalau aku menggunakan kemampuan itu secara penuh di depan semua orang, mereka akan semakin curiga tentang apa yang sebenarnya kumiliki."
"Benar. Tapi pertanyaannya, Pangeran Ketujuh—apakah kau lebih memilih kalah dengan cepat dan tetap tersembunyi, atau bertahan lebih lama dengan risiko terungkap sedikit lebih banyak?"
Chu Feng menatap ke luar jendela, ke arah bulan yang tergantung tinggi di langit malam. Ia sudah menduga sejak awal bahwa cepat atau lambat, ia harus membuat pilihan semacam ini—antara menjaga rahasianya serapat mungkin, atau mulai mengambil risiko demi tujuan yang lebih besar.
"Aku akan bertahan," katanya akhirnya, tekadnya mantap. "Tapi tidak dengan menunjukkan segalanya. Hanya cukup untuk membuktikan bahwa aku bukan lawan yang mudah dikalahkan."
Keesokan paginya, lapangan latihan kembali dipenuhi ribuan penonton, antusiasme mereka bahkan lebih besar dari hari sebelumnya—kabar tentang pencapaian mengejutkan Chu Feng di Ujian Kekuatan Dasar sudah menyebar ke seluruh kota semalaman, membuat banyak orang penasaran apakah pangeran yang selama ini diremehkan benar-benar menyimpan sesuatu, atau hanya sekadar keberuntungan sesaat.
Chu Yan melangkah naik ke panggung lebih dulu, membawa pedangnya sendiri—sebuah bilah berkilau yang konon merupakan warisan dari gurunya, seorang mantan tetua sekte besar yang kini mengabdi pada Kerajaan Chu. Ia berdiri dengan sikap percaya diri, memutar pedangnya sekali sebagai pemanasan, gerakannya cepat dan presisi, jelas hasil dari bertahun-tahun latihan intensif.
Chu Feng naik setelahnya, membawa tombak latihannya—sederhana, tanpa ukiran mewah, namun sudah menjadi senjata yang familiar di tangannya setelah berminggu-minggu berlatih diam-diam.
"Aku tidak akan menahan diri hanya karena kau adikku, Chu Feng," kata Chu Yan, suaranya cukup keras untuk didengar seluruh tribun. "Kalau kau memang menyimpan sesuatu selama ini, tunjukkan sekarang. Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau pertarungan ini berakhir terlalu cepat."
"Aku tidak berharap kau menahan diri, Kakak Keenam," jawab Chu Feng tenang, mengokohkan pegangan tombaknya. "Aku hanya berharap kau tidak menyesal setelah ini."
Tawa ejekan terdengar dari sebagian tribun mendengar kalimat itu—terdengar terlalu percaya diri untuk seseorang yang baru saja membuka meridian ketiga melawan kultivator Lautan Qi. Tapi Chu Feng tidak peduli. Ia sudah mengambil keputusannya semalam.
Tetua juri yang bertugas mengangkat tangannya. "Pertarungan... dimulai!"
Chu Yan bergerak lebih dulu, kecepatannya jauh melampaui ekspektasi kebanyakan penonton yang mengira ia akan bermain-main dengan lawan yang dianggap lemah. Pedangnya melesat lurus ke arah bahu kanan Chu Feng, serangan cepat yang dirancang untuk segera mengakhiri pertarungan.
Chu Feng mengaktifkan Mata Dewa tepat saat serangan itu dimulai.
Dunia di sekelilingnya seolah melambat—bukan benar-benar melambat, melainkan persepsinya sendiri yang menajam luar biasa, menangkap setiap detail gerakan Chu Yan yang sebelumnya mustahil ia lihat: pergeseran kecil di pergelangan tangan yang menandakan arah sebenarnya dari serangan itu, ketegangan otot bahu yang mengungkap kapan tepatnya kecepatan pedang akan mencapai puncaknya.
Chu Feng menggeser tubuhnya—bukan menghindar sepenuhnya, karena ia tahu itu mustahil dengan kecepatan yang ia miliki sekarang, melainkan mengurangi sudut serangan seminimal mungkin, membiarkan bilah pedang itu hanya menggores lengan jubahnya alih-alih menembus bahunya seperti yang direncanakan.
Gumaman terkejut terdengar dari tribun. Chu Yan sendiri sedikit terkejut, matanya menyipit menatap lawannya yang berhasil menghindari serangan mematikan itu dengan margin setipis kertas.
"Beruntung," gumamnya, namun kali ini nada suaranya kehilangan sedikit dari percaya dirinya sebelumnya.
Ia melanjutkan serangan, kali ini dengan rangkaian gerakan yang lebih kompleks—kombinasi tiga tebasan berurutan yang dirancang untuk tidak memberi ruang bagi lawan untuk menghindar dua kali berturut-turut.
Chu Feng, dengan Mata Dewa yang masih aktif penuh, membaca setiap gerakan itu satu per satu—menghindar, memblokir dengan gagang tombaknya di titik yang paling minim dampak, bergerak mundur secukupnya untuk mengatur ulang posisinya. Setiap gerakan terasa seperti berjalan di atas tali yang sangat tipis, satu kesalahan kecil bisa berarti kekalahan telak—atau lebih buruk, cedera serius.
Qi-nya terkuras jauh lebih cepat dari yang pernah ia rasakan sebelumnya, keringat mulai membasahi dahinya meski pertarungan baru berlangsung kurang dari satu menit.
Bertahan sedikit lebih lama, pikirnya, mengeratkan pegangan tombaknya. Tunjukkan bahwa aku bukan lawan yang bisa dikalahkan dalam hitungan detik.
Di tribun kehormatan, Su Yue duduk tegang di kursinya, tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan kursi setiap kali serangan Chu Yan datang begitu dekat dengan tubuh Chu Feng.
"Dia bertahan," gumam salah satu anggota Klan Su di sampingnya, nada suaranya tidak percaya. "Bagaimana mungkin seseorang di tingkat Kondensasi Qi lapis kedua bisa terus bertahan melawan kultivator Lautan Qi?"
Su Yue tidak menjawab, matanya terpaku pada setiap gerakan Chu Feng di panggung—gerakan yang meski tampak sederhana, jelas menunjukkan tingkat presisi dan pengamatan yang jauh melampaui apa yang seharusnya dimiliki seseorang dengan kultivasi serendah itu.
Kau memang menyembunyikan sesuatu, Chu Feng, pikirnya, sebuah senyuman kecil tanpa sadar terbentuk di bibirnya di tengah ketegangan yang ia rasakan. Dan aku semakin penasaran seberapa dalam rahasia itu.
Di podium tertinggi, Kaisar Chu mengamati pertarungan dengan ekspresi yang semakin sulit dibaca, jemarinya secara tidak sadar mengetuk-ngetuk kotak kayu kecil yang tersimpan di balik jubahnya.
Bertahanlah, Nak, pikirnya, sebuah pikiran yang mengejutkan dirinya sendiri karena kelembutan yang jarang sekali ia tunjukkan bahkan dalam benaknya sendiri. Tunjukkan padaku seberapa jauh warisan ibumu benar-benar membawamu.
Di panggung, pertarungan terus berlanjut, dan Chu Feng—dengan qi yang semakin menipis namun tekad yang tidak pernah goyah—terus bertahan, satu gerakan pada satu waktu, menantikan kesempatan yang mungkin, hanya mungkin, akan datang sebelum kekuatannya benar-benar habis.