Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebenci itukah?
Tak..
Sebotol air mineral dingin diletakkan tepat di samping Angkara yang berusia 29 tahun. Masa dimana Angkara paling benci dan paling syukuri. Masa terberat dalam hidupnya, karena harus mengetahui perselingkuhan ayahnya, pria yang selalu dia anggap sebagai family man, karena begitu menyayangi anak dan istrinya.
Nyatanya, pria penyayang itu kalah oleh godaan wanita yang lebih muda, yang lebih cantik, yang katanya lebih segalanya dari ibunya, Rahayu. Pria yang dianggap panutan itu, kini menorehkan luka yang begitu mendalam pada Angkara.
" Pak bos kalau mau benci, benci aja deh. Nggak ada yang larang kok. " seorang wanita cantik, duduk tepat di samping Angkara. Senjana namanya, sekretaris barunya, baru beberapa hari kerja. Ibunya yang mengenalkan mereka, dan secara khusus ingin Senjana kerja bersamanya.
" Kamu nggak akan tahu rasanya jadi saya. Jadi saya minta tolong.... Jangan sok tahu. " balas Angkara ketus.
" Kalau perselingkuhan sih, saya nggak tahu dan memang nggak mengalami. Tapi kisah hidup saya mirip-mirip lah sama kisah hidup bapak.. Cuma bedanya.... " sengaja Senjana jeda ucapannya.
Angkara menoleh karena penasaran lanjutan ucapan Senjana, " bedanya? "
Senyum kecil terbit di wajah Senjana, " Pak bos mau tahu, apa mau tahu banget? "
Angkara melengos langsung, kesal dibuat sekretaris baru yang cukup berani selalu menjawab apapun ucapannya.
" Saya pernah menjadi bagian kejayaan bisnis papa saya. Tapi ternyata, bisnis yang begitu dibanggakan papa saya, yang saya gunakan hasilnya untuk sekolah, untuk hidup mewah dan mendapatkan apapun yang saya inginkan, ternyata hasil dari merebut milik orang lain.... "
" Saya... malu... "
" Saya merasa begitu jijik saat melihat sosok saya di depan cermin, pak.. Seperti melihat bajin*** yang berbahagia di atas derita orang lain.. "
" Trus apa bapak tahu, saya baru mengetahui semua itu di saat saya sudah kehilangan kesempatan untuk memperbaiki semuanya. " Angkara tatap wajah Senjana lekat. Tak menyangka, manusia seberisik ini ternyata punya hidup yang tidak mudah.
" Kamu... Nggak papa? " tanya Angkara tiba-tiba merasa jika deritanya kalah dibanding Senjana.
" Lumayan sih, pak.. Setelah saya berhasil menerima dengan ikhlas semua yang memang harus saya jalani, pada akhirnya saya membaik. Meski belum benar-benar membaik... "
********
" Mas... Kok udah bangun? Jam berapa ini? " Haruka dibuat terkejut saat dia terbangun dari tidurnya, justru melihat suaminya duduk bersandar di headboard.
" Kamu kebangun karena aku, ya? Maaf ya, tidur lagi aja. Ini masih dini hari kok.. " Angkara terlihat merasa bersalah.
Bukannya kembali tidur, Haruka justru memilih bangun menemani Angkara. Jika sudah begini, biasanya ada sesuatu yang mengganggu pikiran suaminya ini. Haruka mana bisa tidur kalau Angkara sedang ada masalah.
" Mas kenapa? Ada masalah kantor? Cerita aja.. " tangan kanan Haruka mengelus pelan dada suaminya.
" Kantor sih nggak ada masalah, dek. " jawab Angkara.
" Terus?? Soal Yara sama Santana?? Mas masih nggak setuju? " tiba-tiba saja Haruka jadi kepikiran. Pasalnya sejak pertama kali Yara mengenalkan Santana pada keluarga mereka, Angkara adalah orang yang paling menentang.
Kalau tidak salah, waktu itu Angkara mengatakan, " Mas ini pria, Yara.. Sebagai sesama pria, mas tahu banget kalau cowok yang kamu kenalkan tadi belum selesai dengan masa lalunya. Terlihat jelas, kamu di depannya tapi bukan kamu yang dilihatnya. "
" Bukan.. Ini soal.... Senjana.. " lalu mengalirlah cerita tentang Senjana yang ingin resign.
Mendengar cerita suaminya, tentu saja Haruka kaget bukan main. Hal ini pasti mengguncang Angkara. Meski dua orang ini seperti kucing dan tikus, tapi Haruka bisa melihat kalau Angkara ini tidak bisa kalau tidak dengan Senjana.
Haruka jadi teringat sepanjang makan malam kemarin, Senjana tidak secerewet biasanya. Lebih banyak diam, dan terkesan menjauh dari keluarga Antasena. Awalnya Haruka pikir Senjana sedang lelah, tapi setelah mendengar cerita Angkara, sepertinya memang ada sesuatu.
******
" Kamu kok masih di sini sih, Sen? " tanya Angkara sedikit sewot lantaran melihat Senjana yang duduk anteng di meja kerjanya.
" Lah... Terus saya musti dimana, pak? Kan memang ini meja kerja saya, pak. " jawab Renjana keheranan.
" Ck... Maksud saya, kenapa kamu nggak ke ruang meeting? Kamu lupa, hari ini ada penandatanganan kontrak dengan BA untuk launching produk baru kita? " Senjana garuk jidatnya yang kinclong.
" BA baru? "
" Iya.. Udahlah nggak usah banyak nanya. Cepet itu Santana udah nunggu di ruang meeting. " ajak Angkara yang hampir menyeret Senjana ikut dengannya.
" Wait..... Santana? Tunangan bu Yar? Ngapain dia di ruang meeting pak.. Seharusnya kan yang di sana itu Leon... "
" Iya.. Santana Leonidas kan? "
Deg...
Ya ampun, kok bisa Senjana lupa nama lengkap Santana. Kalau sudah begini, memang keputusan Senjana untuk menyingkir lebih dulu adalah keputusan yang tepat. Dia belum siap untuk bertemu dengan Santana saat ini. Atau bisa dikatakan sampai kapan pun dia tidak akan pernah siap.
Terlalu malu, terlalu takut, dan terlalu sakit jika mengingat apa yang menjadi alasan perpisahan mereka dulu. Senjana masih cinta, tapi dia lebih memilih mengubur cinta dan perasaannya. Apalagi sekarang, Santana sudah bertunangan dengan Yara.
" Tunggu dulu pak, jangan main asal tarik aja dong. Bapak lupa ya, kan saya besok udah mulai cuti selama 2 minggu. Kalau saya yang ada di sana, malah ribet nanti pak. " berterima kasihnya pada otak encer mi, Senjana. Karena dia selalu bisa mencari alasan ditengah himpitan kehidupan.
" Terus? "
" Nggak usah terus pak, nanti nabrak. Itu ada Jenifer, bapak ajak aja dia ke sana. Dia yang saya tunjuk. gantiin posisi saya selama saya healing, pak. " Senjana berusaha tersenyum konyol, demi menutupi perasaannya.
" Ck.. "
Tanpa banyak kata lagi, Angkara langsung pergi ke ruang meeting diikuti Jenifer yang tadi dipanggil dulu oleh Senjana. Wajah Angkara langsung angker, karena dia memang tidak suka harus beradaptasi dengan orang baru. Dia tidak suka kalau bukan Senjana yang menemaninya mengurus perusahaan.
" Maaf, saya terlambat. " Angkara langsung meminta maaf begitu masuk ruang meeting.
" Tidak masalah, pak Angkara. Kami juga baru datang. " Bu Mi yang membalas sapaan Angkara.
Bu Mi ini adalah ibu Mia, tantenya Welly yang juga menjadi manager Santana selama mantan Senjana ini bekerja sebagai model.
Mereka pun langsung mengambil duduk di tempat masing-masing. Angkara di sebelah Yara, lalu di sisi sebelah Yara yang lain ada Santana, Welly, bu Mi, kemudian Jenifer, yang duduk di sebelah sisi lain Angkara.
Toel.. Toel..
Yara mencolek pinggang Angkara, " Senjana mana, mas? Kok malah Jenifer yang disini? " tanya Yara kebingungan.
" Lagi ngambek dia, nggak tahu kenapa dari kemarin ada aja gebrakannya. " jawab Angkara yang jadi kembali kesal.
" Mas apain sih? Mas galak sih... " Angkara memilih cuek saja dikatain galak.
Di sisi Yara, Santana mendengar bisik-bisik tetangga itu. Hatinya langsung berdenyut sakit, menyadari jika Senjana seperti menghindarinya.
" Sebenci itukah kamu sama aku, Sen... " batinnya merana.