Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Tarian Bayangan di Menara Barat
Tengah malam di Akademi Solaria biasanya diwarnai oleh dengkuran halus para murid di asrama dan suara jangkrik di taman rumput. Namun malam ini, akademi terasa seperti zona perang yang tertunda.
Dari balik bayang-bayang patung Gargoyle di atap gedung timur, aku menatap ke bawah. Puluhan obor dan lentera sihir menyala terang, menerangi para Ksatria Kekaisaran yang berpatroli dengan wajah tegang. Insiden di Hutan Merah benar-benar membuat mereka kalang kabut. Perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada batas luar akademi, mencari jejak sang 'Penyihir Hitam'.
Mereka mencari di luar pagar, tanpa menyadari bahwa monster yang mereka cari sedang bersantai di atap gedung mereka sendiri.
Aku menarik tudung jubahku lebih dalam dan menoleh ke arah tujuanku: Menara Barat.
Bangunan kuno berbentuk silinder itu menjulang tinggi membelah awan malam. Berbeda dengan gedung lain yang dijaga ketat oleh prajurit bersenjata, Menara Barat dibiarkan kosong tanpa satu pun penjaga manusia. Mengapa? Karena menara itu dilindungi oleh Aegis Ward—sebuah jaring sihir pertahanan transparan yang akan membakar siapa pun yang mencoba masuk tanpa izin Kepala Akademi.
Dalam novel 'Crown of Ash', Leon sang protagonis baru bisa masuk ke sana pada bab ke-100, itu pun setelah ia mendapatkan kunci akses khusus dari Putri Mahkota. Tapi aku tidak punya waktu seratus bab untuk menunggu.
Aku melompat dari atap, mendarat tanpa suara di balkon lantai tiga Menara Barat berkat kelincahan fisikku yang baru. Di depanku, udara tampak beriak pelan, memancarkan pendaran cahaya keemasan yang membentuk pola sarang laba-laba. Itulah Aegis Ward.
Jika aku menyentuhnya secara gegabah, alarm akan berbunyi di seluruh akademi, dan tubuhku akan hangus tersengat petir suci.
Aku mengulurkan tangan kananku, menghentikannya tepat satu sentimeter di depan penghalang itu. Kutuangkan konsentrasiku pada pusaran energi di pusat jantungku.
"Makan," bisikku pelan.
Gumpalan mana hitam pekat merembes keluar dari ujung jari-jariku, menyebar seperti tinta yang diteteskan ke dalam air. Kegelapan itu menempel pada penghalang keemasan, perlahan-lahan menggerogoti dan menelan energi sihir suci di titik tersebut.
Hanya butuh waktu lima detik. Aegis Ward itu tidak pecah—karena jika pecah alarm akan berbunyi—melainkan berlubang seukuran tubuh manusia di titik yang kusentuh, seolah sihirku baru saja 'mengunyah' bagian tersebut tanpa merusak strukturnya secara keseluruhan.
Menakjubkan. Sihir kegelapan ini benar-benar semacam cheat code atau bug di sistem dunia ini.
Tanpa membuang waktu, aku melangkah masuk melewati lubang itu sebelum penghalang keemasan tersebut menutup kembali.
Aku kini berada di dalam Perpustakaan Terlarang. Bau kertas tua, debu, dan kayu lapuk langsung menyergap hidungku. Ribuan buku bersampul kulit tebal tersusun rapi di rak-rak raksasa yang menjulang hingga ke langit-langit yang tak terlihat ujungnya. Beberapa buku bahkan melayang-layang di udara karena sisa-sisa sihir kuno.
Tujuanku bukan buku-buku biasa itu.
Mengingat deskripsi detail dari novel, aku berjalan lurus ke arah utara ruangan, melewati deretan rak hingga tiba di sebuah sudut melingkar yang diterangi oleh satu-satunya jendela kaca patri.
Di tengah sudut itu, terdapat sebuah alas batu pualam. Di atasnya, tergeletak sebuah buku bersampul hitam pekat tanpa judul. Buku itu tidak dijaga oleh mantra api atau es, melainkan diikat kuat oleh rantai perak tebal yang tertancap ke lantai batu.
Grimoire of Vespera. Kitab kuno yang berisi teknik pernapasan sihir tingkat dewa yang telah hilang.
Leon menemukannya secara tidak sengaja di masa depan, tapi karena elemennya adalah api suci, buku itu menolaknya dan Leon menganggapnya sebagai barang rongsokan. Sang penulis novel benar-benar menyia-nyiakan artefak sehebat ini hanya untuk menunjukkan betapa 'suci' elemen milik protagonisnya.
Aku melangkah mendekat. Rantai perak itu bukan sekadar rantai biasa. Itu adalah Perak Murni—material yang dirancang khusus untuk membakar elemen kegelapan.
Aku menarik belati kecil dari balik jubahku. Sama seperti di ruang bawah tanah, aku menggores telapak tanganku. Namun kali ini, alih-alih menempelkan darah itu, aku melapisi tanganku yang berdarah dengan mana hitam pekat. Darahku bertindak sebagai katalis yang membuat sihir kegelapanku menjadi sepuluh kali lebih padat.
Dengan tangan yang terbungkus 'sarung tangan' kegelapan absolut, aku mencengkeram rantai perak itu.
Sssshh!
Suara desisan keras terdengar, disusul asap putih berbau logam yang mengepul ke udara. Panas yang luar biasa berusaha membakar telapak tanganku, tapi aku mengertakkan gigi, memaksa sihir hitamku untuk melahap energi perak itu.
Krak! Rantai perak itu retak, lalu hancur menjadi serpihan debu yang jatuh ke lantai.
Nafasku terengah-engah, keringat dingin membasahi dahiku. Cepat-cepat kubuka sampul buku hitam itu sebelum penjaga magis perpustakaan menyadari ada rantai yang terputus.
Halaman-halamannya kosong melompong. Tidak ada satu pun tulisan di sana.
Namun, saat tetesan darah dari telapak tanganku jatuh ke atas perkamen kosong itu, seluruh buku tersebut bergetar hebat. Halaman-halamannya tiba-tiba hancur menjadi ribuan partikel cahaya hitam, melesat dan menabrak tepat ke tengah dahiku.
Mataku terbelalak lebar. Ribuan informasi, diagram anatomis, dan teknik sirkulasi mana membanjiri otakku bagai ombak tsunami. Kepalaku serasa mau pecah, tapi tubuhku bergerak secara insting.
Aku langsung duduk bersila di lantai dingin. Kututup mataku dan mulai mengatur napasku sesuai dengan pola yang perlahan terukir di dalam ingatanku.
Tarik napas selama empat detik... tahan... biarkan udaranya bercampur dengan energi sihir... lalu hembuskan dalam enam detik.
Satu putaran. Dua putaran. Tiga putaran.
Sesuatu yang ajaib terjadi. Pusaran Mana Core hitam di dadaku yang tadinya liar dan menyakitkan, kini mulai berputar dengan tenang dan elegan. Setiap kali aku menarik napas, energi yang kacau itu dipadatkan. Setiap kali aku menghembuskan napas, kotoran dan residu kelelahan dibuang keluar dari pori-poriku.
Rasa sakit yang menyiksa tulang rusuk dan paru-paruku menguap tanpa sisa. Sebagai gantinya, perasaan ringan dan kekuatan murni mengalir lancar di setiap pembuluh darahku. Wadahku telah stabil. Sekarang, aku bisa menggunakan sihir bayanganku tanpa takut tubuhku sendiri hancur.
Aku membuka mata perlahan, menghembuskan napas terakhir yang mengeluarkan sedikit kabut hitam tipis dari mulutku. Seringai puas terbentuk di bibirku.
"Langkah kedua selesai," gumamku sambil bangkit berdiri.
Kres.
Suara gigitan renyah tiba-tiba memecah keheningan perpustakaan yang pekat.
Tubuhku menegang seketika. Aku berputar seratus delapan puluh derajat, tangan kananku secara refleks memanggil belati bayangan dari udara kosong. Pandanganku menyapu kegelapan rak buku di atas.
Di atas rak tertinggi, sekitar lima meter dari lantai tempatku berdiri, sepasang kaki kecil yang mengenakan sepatu bot kulit mengayun-ayun santai.
Seorang gadis dengan rambut perak sepucat cahaya bulan sedang duduk di atas tumpukan buku kuno. Matanya yang berwarna emas terang menatapku dengan rasa ingin tahu yang dalam, sementara mulutnya sibuk mengunyah sebuah apel merah yang segar. Pakaiannya berantakan, mengenakan kemeja kebesaran dan jubah compang-camping yang jelas bukan seragam akademi.
"Rantai perak suci itu dihancurkan hanya dengan jabat tangan. Dan kau menelan Grimoire kutukan itu seolah itu hanya permen kapas," ucap gadis itu santai, suaranya jernih dan sedikit serak. Ia menelan gigitan apelnya sebelum melanjutkan. "Padahal, tiga ratus tahun ini, semua orang yang menyentuhnya langsung berubah jadi abu."
Otakku berputar cepat. Aku mengingat seluruh daftar karakter, pahlawan wanita, profesor, hingga musuh tersembunyi di dalam novel 'Crown of Ash'.
Nihil. Gadis berambut perak dengan mata emas ini sama sekali tidak ada di dalam database ingatanku.
Kehadirannya bukan bagian dari cerita. Dia adalah variabel anomali.
Gadis itu melompat turun dari rak setinggi lima meter itu, mendarat seringan bulu kucing di depanku tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun. Ia mencondongkan wajahnya, mengendus udara di sekitarku, lalu tersenyum misterius.
"Bau darah, bau kegelapan, dan... bau kebohongan," bisiknya, mata emasnya menatap langsung menembus jiwaku. "Siapa kau sebenarnya, Tuan Muda Pendelton? Karena kau jelas bukan si bodoh arogan yang kukenal."