Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANAK KELAS SATU YANG MENGERJAKAN SOAL KELAS ENAM
PANDE SIKEK, 1971 - 1972 - ANAK PUSTAKO
Jika anak-anak Pande Sikek lain masuk Sekolah Dasar dengan tangis dan dipaksa, Arya Arsyad Sikumbang masuk dengan pertanyaan.
Tahun itu 1971. Arya baru 6 tahun, belum genap 7. Tubuhnya masih seperti anak TK, tapi ia sudah harus berjalan kaki hampir dua kilometer dari rumah gadang ukir ayahnya di Ujung Parak Kopi ke SD Negeri No. 1 Pande Sikek. Jalan tanah merah, becek kalau habis hujan, licin. Sekolahnya bukan gedung megah. Dindingnya papan kayu surian yang sudah dimakan rayap, lantainya tanah yang dipadatkan dan disapu setiap pagi oleh murid piket pakai sapu lidi, atapnya seng karatan yang kalau hujan turun deras, suara guru tidak terdengar sama sekali. Harus berteriak, urat leher keluar. Di depan kelas ada parak kopi dan bengkel ukir, jadi dari jendela kelas yang tidak ada kacanya, hanya lubang persegi, bau kayu surian yang baru dipahat selalu masuk, bercampur debu.
Seragamnya adalah seragam turun-temurun. Baju putih milik Andi Rajo Alam, kakak sulungnya yang sudah Kelas 5 SD, yang sudah menguning di kerah karena daki dan matahari, dilipat-lipat lengannya karena kebesaran sampai ke siku. Celana merahnya juga kebesaran, diikat dengan tali ijuk yang dipintal ibunya, Siti Aminah Sikumbang. Sepatunya tidak ada. Kebanyakan anak Pande Sikek tahun itu sekolah nyeker, kakinya pecah-pecah karena dinginnya tanah Gunung Singgalang yang embunnya menusuk tulang. Hanya tasnya yang baru - tas kain karung bekas goni semen Tiga Roda yang dijahit ibunya dengan mesin jahit tangan, talinya sudah hampir putus.
Hari pertama Kelas 1.
Ibu Guru Nasbah, guru yang sudah mengajar di Pande Sikek sejak zaman Belanda, zaman Jepang, zaman PRRI, menulis di papan tulis hitam yang sudah botak dan bercak putih, dengan kapur tulis yang pendek.
"Ini Budi. Ini Ibu Budi. Budi pergi ke sawah."
Semua anak Kelas 1 mengeja terbata-bata, dengan suara keras. "I-ni... Bu-di... I-bu... Bu-di..."
Arya diam di bangku paling belakang, bangku kayu surian yang kakinya sudah goyang. Bukan karena ia tidak bisa. Karena ia sudah bosan.
Di rumah gadang, buku-buku SD kakaknya, Andi dan Arlan, sudah ia habiskan sejak ia umur 5 tahun di beranda rumah gadang itu, di bawah lampu petromaks yang mendesis. Buku Bahasa Indonesia Kelas 1 itu sudah ia baca sampai sobek di tahun 1970. Baginya, "Ini Budi" bukan pelajaran. Itu adalah sesuatu yang sudah ia lewati jauh, seperti jalan setapak yang sudah ia lewati dua tahun lalu.
Ibu Nasbah yang jeli, yang sudah 30 tahun melihat anak Pande Sikek, melihat anak bungsu Abdullah tukang ukir itu hanya menatap ke jendela, melihat Gunung Singgalang yang puncaknya berasap tipis.
"Arya," panggilnya. "Coba sini, Nak. Baca ini."
Semua anak Kelas 1 menoleh. Arya berdiri. Tubuhnya paling kecil di kelas, paling kurus. Ia berjalan ke depan, dengan celana kebesarannya yang hampir melorot, kakinya nyeker meninggalkan jejak tanah di lantai.
Ia tidak mengeja. Ia membaca, lancar, tanpa jeda.
"Ini Budi. Ini Ibu Budi. Ibu Budi memasak di dapur. Budi membantu Ibu membawa kayu bakar dari Pande Sikek."
Ibu Nasbah terdiam. Kalimat terakhir itu tidak ada di papan tulis. Arya menambahkannya sendiri. Ia menghubungkan buku dengan hidupnya di Pande Sikek.
"Dari mana kau tahu kata 'membawa' dan 'kayu bakar', Arya? Itu pelajaran Kelas 2."
Arya hanya menggaruk kepalanya yang rambutnya dipotong ibunya pakai gunting dapur. "Di buku kakak Andi ada, Bu Guru. Di beranda."
Itu baru hari pertama.
Guncangan di Kelas 1
Minggu kedua, pelajaran berhitung.
Ibu Nasbah menulis dengan kapur yang berderak: 2 + 3 \= ?
Anak-anak lain menghitung dengan jari-jari kaki yang kotor dan hitam. Satu, dua, tiga... mengangkat jari.
Arya sudah menatap kosong ke papan tulis. Baginya, 2 + 3 terlalu lama selesai, seperti menunggu pahat tumpul.
Ibu Nasbah iseng, setengah menguji, setengah penasaran dengan bisik-bisik orang kampung di warung kopi yang bilang "Anak Abdullah yang bungsu itu matanya tua, ingatannya di atas rata-rata."
"Kalau begitu, Arya. Kalau Ibu punya 2 papan kayu surian, lalu Ayahmu, Pak Abdullah mengukir 15 papan lagi di bengkel Pande Sikek, jadi berapa semua papan Ibu?"
Anak Kelas 1 lain bengong. Angka 15 belum diajarkan. Itu angka Kelas 2, belum ada di buku Ini Budi.
Arya tidak menghitung dengan jari. Ia menjawab langsung, dengan suara kecil tapi jelas, tanpa ragu.
"17, Bu Guru."
Kelas hening. Ibu Nasbah mengulang, kacamata bulatnya yang diikat benang hampir jatuh. "Bagaimana kau hitung? Coba jelaskan."
Arya menjawab dengan logikanya sendiri, logika tukang ukir yang ia lihat setiap hari di rumah gadang dari pagi sampai maghrib.
"2 di kepala, Bu. 15 di tangan. 2 ditambah 10 jadi 12. Sisa 5 jadi 17."
Itu adalah metode menyimpan puluhan, metode mental math. Metode yang bahkan belum diajarkan di Kelas 2 Pande Sikek saat itu. Guru-guru masih mengajarkan menghitung dengan lidi.
Sejak hari itu, Ibu Nasbah tahu. Anak ini tidak bisa ditaruh di Kelas 1. Lantai tanah ini terlalu dangkal untuknya.
Perpustakaan Kayu di Sudut Kelas
SD Pande Sikek punya perpustakaan. Namanya saja perpustakaan. Isinya hanya satu lemari kayu ukir Pande Sikek yang kuncinya sering hilang, harus dicongkel pakai pahat kecil, di dalamnya ada buku-buku sumbangan dari Bukittinggi yang sudah menguning, sobek-sobek dimakan tikus, dan berbau minyak tanah dan lembab.
Bagi anak lain, lemari itu tidak menarik, karena tidak ada gambar.
Bagi Arya Arsyad Sikumbang, itu adalah istana. Istana yang sesungguhnya.
Jam istirahat, ketika teman-teman sekelasnya bermain kelereng tanah liat di halaman berdebu yang bercampur serutan kayu, dan bermain galah-galah dengan teriakan keras, Arya izin ke Ibu Nasbah dengan sopan.
"Bu, boleh baca buku di lemari?"
Ibu Nasbah membukakan lemari itu dengan pahat kecil. Arya mengambil buku yang paling tebal, yang bahkan anak Kelas 6 pun malas membacanya karena berat dan tulisannya kecil: Buku Ilmu Bumi dan Sejarah Kelas 5.
Di tahun 1971, di Pande Sikek yang dingin, di lantai tanah Kelas 1 yang berdebu, di bawah cahaya yang masuk dari celah dinding papan, Arya duduk bersila membaca buku Kelas 5. Kakinya nyeker dilipat.
"Bu, kenapa di buku ini dibilang Gunung Singgalang itu gunung berapi yang mati? Tapi di Pande Sikek, kalau pagi, asapnya masih keluar tipis dari puncaknya? Berarti dia tidak mati, Bu, dia tidur. Seperti Datuk di surau kalau mengantuk."
Ibu Nasbah yang hanya tamatan SGB - Sekolah Guru B - zaman Belanda tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa mengelus kepala Arya yang rambutnya bau minyak kelapa, dengan haru.
Kejeniusan Arya bukan menghafal. Banyak anak Pande Sikek bisa menghafal. Keajaibannya adalah ia menghubungkan. Ia menghubungkan apa yang ia baca di buku dengan apa yang ia lihat di Pande Sikek. Ia tidak belajar untuk ujian. Ia belajar untuk mengerti. Pelajaran IPA Kelas 3 tentang perputaran air: hujan turun dari Singgalang, mengalir ke sawah berundak Pande Sikek, menguap lagi kena panas. Bagi anak Kelas 3 lain itu hafalan yang harus dihafal. Bagi Arya Kelas 1, itu adalah apa yang ia lihat setiap hari dari beranda rumah gadangnya, kabut naik dari sawah pagi-pagi.
Hari Dimana Kelas 1 Mengerjakan Soal Kelas 6
Puncaknya terjadi di semester dua, tahun 1972. Arya sudah Kelas 1 akhir, umurnya baru 7 tahun.
Saat itu sekolah kedatangan pengawas dari Kabupaten Tanah Datar, naik sepeda jengki dari Batusangkar. Pengawas itu membawa soal-soal ujian untuk dites ke semua kelas. Soal Kelas 6 yang paling susah, soal pembagian bersisa.
Kepala Sekolah, Pak Dt. Mangkuto, yang juga orang Pande Sikek asli, ingin menunjukkan sekolahnya yang dinding papannya dimakan rayap itu masih bisa bersaing. Ia memanggil anak Kelas 6 yang paling pintar, namanya Syahril, anak tukang ukir juga, yang sudah pakai sepatu.
Syahril maju, keringetan, bajunya basah. Tidak bisa menjawab soal: 125 dibagi 5.
Pak Pengawas menggeleng, kecewa. Suasana kelas yang atap sengnya berisik karena gerimis tipis menjadi tegang. Guru-guru menunduk.
Ibu Nasbah, dengan berani, dengan suara pelan tapi semua orang mendengar karena hujan di seng agak reda, berkata, "Pak, boleh saya panggil anak Kelas 1 saya?"
Satu sekolah tertawa kecil. Anak Kelas 1 disuruh mengerjakan soal Kelas 6? Gila. Mau mempermalukan sekolah saja.
Arya dipanggil. Dengan celana merah kebesaran dan kaki nyeker yang dingin dan hitam, ia maju ke depan papan tulis hitam yang botak itu. Ia melihat soal itu: 125 : 5 \= ?
Tidak ada yang mengajarinya pembagian porogapit di Kelas 1. Tapi ia pernah melihat kakaknya, Arlan Rasyad yang sudah Kelas 3 SD, menangis di bawah lampu petromaks di rumah gadang karena tidak bisa mengerjakan PR itu, PR-nya basah karena air mata.
Ia ingat cara kakaknya diajari Abdullah, ayahnya, tukang ukir.
Ayahnya tidak mengajarkan rumus porogapit. Ayahnya mengajarkan dengan kayu surian.
"125 itu seperti 125 potong kayu surian," kata ayahnya malam itu di bawah petromaks yang mendesis, sambil memahat. "Mau dibagi ke 5 tukang ukir Pande Sikek. Berapa satu orang dapat? Bagi dulu yang 100, dapat 20. Sisa 25, bagi lagi dapat 5. Jadi 20 tambah 5."
Arya mengambil kapur tulis yang pendek, sisa setengah. Tangannya kecil, kapurnya hampir patah. Ia menulis di papan hitam yang botak itu dengan tulisan yang masih berantakan, besar-besar, miring.
"100 : 5 \= 20"
"25 : 5 \= 5"
"20 + 5 \= 25"
Satu kelas, termasuk Pak Pengawas dari Tanah Datar yang berkopiah hitam, diam. Tidak ada suara. Hanya suara hujan di atap seng dan suara pahat dari bawah, tok... tok...
Benar.
Anak Kelas 1 yang baru masuk SD tahun lalu, yang seragamnya kebesaran turun-temurun, yang sekolahnya nyeker, yang tasnya dari karung goni bekas semen, baru saja mengerjakan soal Kelas 6 dengan logika kayu ukir Pande Sikek. Bukan logika buku.
Sejak hari itu, tidak ada lagi yang memanggilnya "Arya Kelas 1". Guru-guru di SD Pande Sikek yang dindingnya dimakan rayap itu memanggilnya dengan panggilan baru, panggilan yang penuh hormat.
"Anak Pustaka."
Karena kalau guru tidak bisa menjawab pertanyaan murid Kelas 6, mereka akan bilang, "Tanya Arya, dia yang jaga lemari pustaka kayu itu. Dia yang pegang kuncinya."
Tetap Anak Kecil Pande Sikek
Namun, sehebat apapun otaknya, Arya tetap anak 6-7 tahun. Anak Pande Sikek.
Ia tetap menangis keras kalau kalah main galah-galah di halaman berdebu dan serutan kayu itu, sampai ingusnya keluar. Ia tetap merengek minta dijahitkan kelereng tanah liatnya yang hilang di selokan yang penuh lumpur. Ia tetap butuh dipeluk Siti Aminah ibunya kalau petir menggelegar keras di atas atap seng rumah gadang pada malam hari, karena suara petir di Pande Sikek, di kaki Singgalang, memang seperti gunung pecah, menggelegar sampai ke dada.
Dan ia tetap hanya bertanya kepada satu orang: ayahnya.
Sore setelah kejadian 125 : 5 itu, ia pulang berlari-lari kecil di jalan tanah Pande Sikek yang becek, tas karung goninya basah kena gerimis. Ia tidak cerita ke ibunya bahwa ia dipuji pengawas dari Kabupaten. Ia tidak butuh pujian. Ia langsung mencari ayahnya di bengkel ukir di bawah rumah gadang, di tempat yang penuh serbuk kayu halus dan bau kayu surian yang wangi.
Di bengkel yang lantainya tanah dan atapnya dari daun rumbia itu, Abdullah sedang memahat ukiran saik galamai yang halus, yang melambangkan kehalusan hati.
"Yah," kata Arya, masih ngos-ngosan, napasnya putih karena dingin. "Tadi Arya bisa jawab soal Kelas 6. 125 bagi 5. Tapi kenapa teman-teman Arya yang Kelas 6 tidak bisa? Padahal mereka lebih besar. Badannya besar. Apakah otak itu seperti pisau pahat, Yah? Kalau tidak diasah, jadi tumpul?"
Abdullah berhenti memahat. Pahat ukirnya yang tajam ia letakkan pelan di atas kayu. Ia menatap anak bungsunya yang lahir tahun 1965 di tahun yang berat itu, tahun PRRI masih membekas, yang kini di tahun 1972 membuat satu sekolah heboh.
Ia tersenyum. Senyum tukang ukir yang jarang senyum, yang giginya sudah kuning karena rokok kretek.
"Bukan, Nak," jawabnya pelan, dengan suara yang hanya bisa didengar Arya di antara suara tok... tok... pahat tetangga dari kejauhan. "Otak itu bukan pisau. Pisau kalau diasah terus, habis. Tipis."
Ia mengelus kayu surian yang sedang ia ukir, kayu yang uratnya indah.
"Otak itu seperti kayu Pande Sikek, Nak. Kayu yang bagus, kalau kau siram terus, kau jaga dari hujan, kau jemur, kau haluskan, dia akan jadi ukiran yang indah, jadi istana. Mahal harganya. Tapi kayu yang bagus kalau kau biarin kehujanan, kepanasan, tidak kau rawat, dia lapuk. Dimakan rayap. Jadi kayu bakar. Teman-temanmu bukan tumpul, Nak. Mereka hanya belum disiram. Mereka belum dijaga."
Arya mengangguk. Ia mengerti. Ia mengerti dengan bahasa kayu. Karena ia anak tukang ukir.
Malam itu, di rumah gadang yang hanya diterangi satu lampu petromaks yang sama yang menerangi kelahirannya dulu, lampu yang apinya menari-nari dan harus dipompa setiap jam, Arya Arsyad Sikumbang, anak Kelas 1 yang bisa pelajaran Kelas 6, tertidur di pangkuan ayahnya yang kapalan. Di luar, hujan deras menghantam atap seng Pande Sikek dengan keras, berisik, seperti ribuan kelereng jatuh. Di dalam, kayu-kayu ukiran ayahnya diam, menunggu besok untuk dihaluskan lagi.
Dan di lemari kayu ukir di SD yang kuncinya sering hilang itu, buku-buku Kelas 6 yang sudah ia baca, menunggu untuk dibaca lagi. Menunggu untuk membawanya, tiga tahun kemudian, tahun 1975, menjadi anak 10 tahun yang sudah duduk di SMP Kelas 1, sekelas dengan Arlan 13 tahun dan Ibrahim 13 tahun, dan membuat Drs. Syafrianto tidak percaya.