Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ABA ABA
"Buka matamu, Sora... Jangan biarkan kamu pingsan sekarang."
Suara bariton Aris terdengar sayup-sayup menembus kesadaran Sora yang perlahan melayang di ambang kegelapan. Udara malam yang dingin bercampur bau anyir darah dan asap mesin mobil yang terbakar menusuk indra penciumannya.
Sora berusaha mengejap-ngejapkan matanya yang terasa amat berat. Pandangannya buram, namun siluet wajah Aris yang berdiri di hadapannya tampak begitu nyata—bukan hantu, bukan pula ilusinasi. Pria itu benar-benar hidup, berdiri tegak di tengah guyuran hujan badai di tepi jalan tol, memeganginya dengan kedua tangan yang kokoh.
Di samping Aris, mobil sedan putih milik Danu terparkir rapi dengan lampu hazard yang berkedip-kedip merah. Danu melangkah mendekat dari arah pengemudi, memegang payung hitam besar untuk melindungi Aris dan Sora dari derasnya air hujan.
"Bagaimana kondisinya, Ar? Apakah dia terluka parah?" tanya Danu dengan nada suara yang terdengar tenang, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun setelah ia baru saja menabrakkan mobilnya ke arah mobil Sora.
Aris mengangkat tubuh Sora yang lemas dengan mudah, menggendongnya ala pengantin (bridal style) menjauhi bangkai mobil Sora yang mulai mengeluarkan percikan api kecil.
"Dia hanya pingsan karena syok dan benturan ringan di kening. Tidak ada luka serius," jawab Aris dingin. "Buka pintu belakang mobil sekarang, Danu."
Danu bergegas melangkah mendahului, membuka pintu belakang sedan putih tersebut. Aris meletakkan tubuh Sora dengan hati-hati di atas jok belakang, lalu ikut masuk dan duduk di sampingnya, memangku kepala Sora agar wanita itu tidak merasa kesakitan.
Sora terbangun dalam debar ketakutan yang luar biasa.
Ia mengerjap beberapa kali, mendapati dirinya tidak lagi berada di jalan tol yang basah, melainkan terbaring di atas sebuah ranjang berukuran besar di dalam sebuah ruangan tertutup yang asing. Ruangan itu bernuansa klasik modern, namun tidak memiliki jendela luar—hanya ada dinding panel kayu yang kokoh dan pintu baja tebal di sudut ruangan.
Sebuah sangkar emas sesungguhnya.
Pintu baja itu berderit pelan saat dibuka dari luar. Aris melangkah masuk ke dalam ruangan, membawa sebuah nampan berisi semangkuk sup hangat dan segelas air putih. Pria itu mengenakan kemeja hitam rapi, lengan bajunya digulung hingga siku, dan sama sekali tidak menyisakan tanda-tanda bahwa ia baru saja kabur dari penjara atau mengalami kecelakaan maut di jalan tol.
Sora buru-buru bangkit, merangkak mundur hingga punggungnya membentur kepala tempat baja. Ia menatap Aris dengan mata membelalak penuh teror.
"Jangan mendekat!" teriak Sora serak, tenggorokannya terasa kering dan sakit. "Kamu... kamu monster, Aris! Kamu memalsukan kematianmu sendiri!"
Aris menghentikan langkahnya di sisi ranjang. Ia meletakkan nampan makanan itu di atas meja kecil dengan tenang, lalu menatap Sora dengan binar mata yang memancarkan rasa kepemilikan yang teramat pekat.
"Aku tidak memalsukan kematianku, Sora. Aku hanya membeli kebebasanku kembali," ucap Aris dengan suara baritonnya yang lembut, seolah ia sedang membicarakan cuaca hari ini. "Di dunia ini, tidak ada hal yang tidak bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan... termasuk nyawa seorang narapidana di sel isolasi."
Sora menggelengkan kepalanya panik, air matanya kembali tumpah membasahi pipinya. "Danu... Danu bekerja sama denganmu dari awal? Semua drama pengkhianatan itu... semuanya bohong?"
"Danu adalah adik angkatku, Sora," sahut Aris tanpa keraguan sedikit pun. Senyuman tipis tersungging di bibirnya. "Keluarganya memang hancur lima tahun lalu akibat konspirasi elit korporat, tapi bukan ayahmu dalang utamanya—melainkan para investor busuk di balik layar perusahaan ayahmu. Danu sengaja kususun untuk mendekatimu, melindungimu, dan memastikan tidak ada pria lain yang bisa menyentuhmu selain kami."
Sora mencengkeram seprai ranjang kuat-kuat. Kepalanya terasa pening luar biasa. Semua teka-teki, semua rasa bersalah, dan semua manipulasi emosional yang ia rasakan selama ini ternyata adalah bagian dari skrip gila yang ditulis oleh dua orang pria di hadapannya.
"Kalian gila..." bisik Sora lemah, suaranya bergetar hebat. "Kalian berdua memanfaatkan traumaku, menghancurkan hidupku, lalu memperlakukanku seperti boneka!"
Aris duduk perlahan di tepi ranjang, mendekatkan wajahnya ke arah Sora. Tangannya terulur hendak mengusap pipi Sora, namun Sora langsung menepis tangan itu dengan kasar.
Aris tidak marah. Ia hanya menarik tangannya kembali, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Sora yang basah.
"Kamu bisa menyebutku apa saja, Sora... iblis, monster, atau penipu," bisik Aris dengan nada suara yang amat sangat dalam, menusuk langsung ke relung jiwa Sora. "Tapi di dunia luar sana, orang-orang mengira aku sudah mati. Rian hancur dan masuk penjara atas tuduhan konspirasi, dan galeri senimu sudah kubeli atas namamu sendiri secara anonim."
Aris berdiri tegak kembali, melangkah menuju pintu baja di sudut ruangan. Sebelum ia keluar dan menutup pintu tersebut rapat-rapat, Aris menoleh sekali lagi ke arah Sora.
"Di ruangan ini, tidak ada lagi Rian, tidak ada lagi dunia luar yang bisa menyakitimu," ucap Aris dingin sebelum memutar kunci baja dari luar. "Nikmati rumah barumu, Sora... karena mulai hari ini, kamu hanya akan hidup untukku."
Klik.
Suara kunci baja yang berputar mengunci dari luar terdengar begitu mutlak. Sora terduduk sendirian di atas ranjang yang luas, dikelilingi oleh dinding kayu tanpa jendela.
Ia memeluk kedua lututnya, menangis tanpa suara dalam keheningan ruangan yang mencekam. Namun di balik air mata kepedihan itu, secercah api amarah dan tekad baja perlahan mulai menyala di dalam dada Sora. Ia tidak akan menyerah begitu saja pada takdir sebagai tawanan obsesi.
Ponsel di saku jubah tidurnya tiba-tiba bergetar pelan.
Sora tersentak kaget. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah ponsel kecil berukuran saku—ponsel selundupan yang diam-diam diselipkan oleh seseorang di balik lipatan selimut saat ia pingsan tadi.
Layar ponsel itu menyala redup, menampilkan sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal:
Sora, jangan putus asa. Aku tahu di mana lokasi persembunyian Aris. Tunggu aba-abaku tengah malam ini.