Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.
Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.
Sejak itu Lorenzo mengurungnya.
"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."
Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Bulan Madu Berdarah
Keesokan harinya setelah pernikahan mewah di gereja St. Patrick, seluruh mansion De Luca masih penuh dengan bunga mawar putih sisa pesta semalam.
Tapi pengantin baru kita tidak ada di mansion. Lorenzo membawa Elena untuk bulan madu.
Bulan madu mereka bukan di tempat biasa. Lorenzo menyewa satu pulau pribadi kecil di dekat Miami, Florida. Pulau itu hanya milik keluarga De Luca. Tidak ada orang lain selain mereka berdua dan 10 penjaga rahasia yang bersembunyi di hutan pulau.
Pulau itu sangat indah. Pasirnya putih bersih, air lautnya biru jernih, ada satu villa mewah berwarna putih di tengah pulau dengan pemandangan langsung ke laut. Di malam hari, langitnya penuh bintang.
Di villa itu, Elena dan Lorenzo menghabiskan malam pertama mereka sebagai suami istri.
Pagi harinya, Elena terbangun di atas tempat tidur besar yang penuh dengan kelopak mawar merah. Dia memakai gaun tidur sutra putih yang tipis. Di sebelahnya, Lorenzo sudah bangun dan sedang menatapnya dengan senyum gantengnya. Tato naga di lehernya terlihat jelas di bawah sinar matahari pagi yang masuk dari jendela villa.
"Selamat pagi, Nyonya De Luca," kata Lorenzo dengan suara serak khas baru bangun tidur yang membuat jantung Elena berdebar.
Elena menutup wajahnya dengan selimut karena malu mengingat kejadian semalam. Malam pertama mereka yang sangat romantis dan penuh cinta.
"Selamat pagi, Tuan... eh, Lorenzo..." kata Elena dengan suara kecil.
Lorenzo tertawa dan menarik selimut dari wajah Elena. Dia mencium kening Elena dengan lembut.
"Bagaimana tidurmu semalam, istriku yang cantik?" tanya Lorenzo.
Elena mengangguk malu. "Nyenyak sekali... terima kasih ya, Lorenzo..."
Lorenzo bangun dari tempat tidur. Dia hanya memakai celana pendek hitam, tubuh atletisnya yang berotot dan tato naga besar di punggungnya terlihat jelas. Elena langsung memalingkan wajah karena malu tapi diam-diam melirik lagi karena Lorenzo memang sangat ganteng.
"Ayo, hari ini kita akan keliling pulau. Saya mau tunjukkan tempat rahasia saya waktu kecil," kata Lorenzo.
Mereka berdua sarapan di tepi pantai. Hanya berdua saja. Elena memakai dress pantai putih cantik dengan topi lebar, Lorenzo memakai kemeja pantai hitam yang kancingnya terbuka, memperlihatkan dada bidangnya dan tato naganya.
Suasananya sangat romantis seperti di film.
"Lorenzo, pulau ini indah sekali... apakah ini milik kamu?" tanya Elena sambil memainkan pasir putih dengan kakinya.
Lorenzo mengangguk. "Ya, pulau ini saya beli 2 tahun yang lalu. Saya beli karena saya ingat kamu pernah bilang waktu di panti asuhan, kamu ingin sekali melihat laut. Kamu bilang kamu belum pernah melihat laut yang biru," kata Lorenzo.
Elena terharu. Ternyata Lorenzo masih ingat semua perkataan kecilnya 5 tahun yang lalu.
"Lorenzo... kamu ingat semua ucapan saya..."
"Tentu saja. Saya ingat semua tentang kamu, Elena. Karena sejak hari kamu memberikan roti becek itu, kamu sudah menjadi satu-satunya wanita di hati saya," kata Lorenzo sambil menggenggam tangan Elena.
Siang harinya, mereka berenang bersama di laut yang jernih. Lorenzo mengajari Elena berenang karena Elena tidak bisa berenang. Banyak adegan romantis terjadi di air, Lorenzo memeluk Elena dari belakang, Elena tertawa bahagia.
Semua terlihat sempurna dan bahagia.
Tapi mereka tidak tahu, bahaya sedang mendekat.
Di balik hutan lebat di ujung pulau, sebuah perahu karet hitam tanpa suara mendarat pelan di pasir. Dari perahu itu turun 6 orang pria bertopeng hitam dengan senjata lengkap. Mereka adalah anak buah bayaran Don Roberto Moretti yang dikirim dari New York untuk menculik Elena.
Pemimpin mereka mendapat telepon dari Don Roberto.
"Halo Don, kami sudah sampai di pulau pribadi De Luca. Kami lihat pengantin baru itu sedang berenang di pantai selatan. Penjaga De Luca ada 10 orang tersebar di hutan. Kami akan culik Nyonya De Luca sekarang," kata pemimpin penculik.
"Bagus! Culik dia! Jangan bunuh Lorenzo dulu, buat dia melihat istrinya diculik! Saya mau dia merasakan sakit hati seperti yang saya rasakan saat putri saya Isabella dibuang ke Italia!" kata Don Roberto dari seberang telepon dengan suara penuh dendam.
Para penculik itu mulai bergerak mendekati pantai dengan mengendap-endap di balik pepohonan.
Di pantai, Elena sedang berjemur di atas handuk sambil memakai kacamata hitam. Lorenzo sedang mengambil kelapa muda untuk Elena di pohon dekat villa.
Itu adalah kesempatan yang ditunggu para penculik.
Dua penculik berlari sangat cepat ke arah Elena dan membekap mulut Elena dengan kain.
"Ummm! Ummmm!" Elena mencoba berteriak tapi mulutnya dibekap.
"Elena!" Lorenzo yang melihat dari kejauhan langsung berlari dengan sangat cepat sambil berteriak.
Lorenzo melempar kelapa yang dia pegang ke arah salah satu penculik dan mengenai kepalanya.
_BUK!_
Penculik itu jatuh. Tapi 4 penculik lain datang membawa pistol dan menodongkan ke arah Lorenzo.
"Jangan bergerak, Lorenzo De Luca! Kalau kamu bergerak, kami tembak istri kamu!" bentak salah satu penculik.
Lorenzo berhenti. Matanya merah penuh amarah. Tato naga di lehernya terlihat menegang.
"Lepaskan istri saya! Kalau kalian berani sentuh dia, saya akan habisi kalian semua!" teriak Lorenzo dengan suara yang sangat menggelegar sampai burung-burung di hutan terbang kaget.
Para penculik itu menyeret Elena yang menangis dan meronta ke arah perahu karet mereka.
Elena menangis. "Lorenzo! Tolong! Lorenzo!"
Lorenzo tidak peduli dengan pistol yang menodongnya. Dia berlari mengejar mereka dengan kecepatan penuh. Dia berkelahi dengan dua penculik sekaligus dengan tangan kosong. Satu pukulan Lorenzo membuat penculik itu pingsan.
_BUK! BUK!_
Tapi salah satu penculik berhasil memukul kepala Lorenzo dari belakang dengan gagang pistol.
_BUK!_
Lorenzo terjatuh ke pasir, kepalanya berdarah sedikit.
"Lorenzo!" Elena berteriak histeris melihat suaminya berdarah.
Para penjaga De Luca yang mendengar keributan langsung datang berlarian dari hutan dengan senjata lengkap.
_DOR! DOR! DOR!_ Suara tembakan saling berbalas di pantai yang tadinya indah dan romantis itu.
Pantai putih yang tadinya penuh cinta sekarang menjadi pantai berdarah.
Dua penjaga De Luca tertembak di kaki, tapi 4 penculik Moretti berhasil dilumpuhkan.
Sisa 2 penculik berhasil membawa Elena ke perahu karet dan melarikan diri ke tengah laut dengan kecepatan tinggi.
"Lorenzo! Tolong saya! Lorenzo!" teriak Elena dari atas perahu yang menjauh.
Lorenzo yang kepalanya berdarah mencoba berdiri dengan susah payah. Dia mengambil pistol dari pasir dan menembak ke arah perahu.
_DOR! DOR!_
Tapi perahu sudah terlalu jauh.
Thomas datang dengan wajah panik. "Tuan Muda! Tuan Muda berdarah! Nona Elena diculik!"
Lorenzo dengan amarah yang tidak pernah dia rasakan seumur hidupnya, berteriak ke langit.
"ELENA!!!!"
Dia meninju pasir dengan sangat keras sampai tangannya berdarah.
"Don Roberto Moretti... saya akan bunuh kamu... saya akan hancurkan seluruh keluarga Moretti... kembalikan istri saya..." kata Lorenzo dengan suara yang sangat dingin dan penuh dendam. Untuk pertama kalinya, sisi Mafia tergelap dari Lorenzo De Luca keluar.
Lorenzo masuk ke villa dengan kepala berdarah. Dia mengambil ponsel satelitnya.
"Halo, siapkan helikopter dan 50 orang pasukan terbaik kita! Kepung semua pelabuhan di Miami! Cari perahu karet hitam! Istri saya diculik! Saya mau Elena kembali dalam 1 jam, atau saya akan bakar seluruh kota Miami!" perintah Lorenzo dengan suara yang membuat semua anak buahnya gemetar ketakutan.
Di tengah laut, di atas perahu karet yang melaju kencang, Elena menangis ketakutan. Tangannya diikat, mulutnya dibekap. Dia hanya bisa berdoa.
"Lorenzo... tolong saya... naga pelindung saya... datang selamatkan saya..." bisik Elena dalam hati.
Apakah Lorenzo berhasil menyelamatkan Elena? Apakah bulan madu mereka akan berakhir dengan darah?