NovelToon NovelToon
Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rosella Nona

Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.

Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.

Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seperti Debu

Keluar dari kamar mandi, Dharma terkejut melihat Melisa masih berada dalam kamarnya. Bahkan di dekat pintu ada dua koper dan barang lain yang bukan miliknya.

“Rupanya perempuan itu serius mau pindah ke kamar ini,” pikir Dharma.

Melisa duduk di sofa menatap ke arahnya, bagaimana ia bisa berganti pakaian kalau begini. Ah, biar saja. Toh, mereka sudah resmi sebagai pasangan. Dharma tetap berganti pakaian seperti biasa. Ia melepas handuk yang terpasang di pinggangnya sejak keluar dari kamar mandi tadi.

“Ih, ga ada etika banget sih Pak Dharma.” Melisa mengatakan itu setelah berteriak terkejut dan menutupi wajahnya. “Kasih aba-aba dulu kek, atau permisi aja gitu. Malah main buka-buka aja.”

Dharma tidak merespon. Ini kamarnya, ia bebas melakukan apapun sesukanya.

Ia selesaikan dulu sesi berpakaian ini sebelum perempuan yang memaksa tinggal di dalam kamarnya itu mengoceh lebih banyak lagi.

“Pak Dharma, lagi sibuk engga siang ini? Saya butuh bantuan banget nih.”

Melisa coba mengabaikan yang terjadi di depan matanya. Ia butuh bertanya di mana tempat tinggal Bu Inggit, ia berencana datang ke sana untuk meminta maaf agar hubungan mereka membaik. Melisa tidak betah kalau harus seperti ini, tidak ada instruksi apapun dari Maya, tidak ada basa-basi dari Bu Inggit juga. Kalau begini terus bisa-bisa ia jadi kurus kering menahan beban mental sendirian di sini.

Dharma belum menjawab apa-apa. Ia berjalan ke nakas untuk menyisir rambutnya dulu.

Melisa menghalangi.

“Mau apa perempuan ini?” Dharma menghela napasnya tanpa sungkan, menunjukkan ekspresi malas dan sedang terganggu dengan kehadiran Melisa di sini.

Dharma bergeser ke samping untuk menghindar, Melisa malah ikut. Jadi, Dharma sedikit mendorongnya mundur.

“Saya tuh harus gimana sih biar diterima di sini? Semua orang kayak anti banget sama rakyat jelata kayak saya. Mana kalau kabur dari sini bakalan ditagih denda lagi.” Melisa menyerah. Ia duduk kembali di sofa dan merutuki nasibnya.

“Pak, kasih saran dong. Atau saya pinjem satu milyar boleh ga? Nanti diangsur perbulan deh.”

Asbun banget, kan? Melisa menyadarai itu, tapi ia sudah menyerah. Sepertinya sampai kapan pun Pak Dharma ini tidak akan tertarik padanya.

Para tamu di acara kemarin saja super modis semua, mana baju dan perhiasannya gonjrang-gonjreng manjah. Melisa semakin terlihat seperti remahan rempeyek basi di kolong meja.

“Denda apa maksud kamu?”

Tanpa ia sangka, ternyata Pak Dharma yang sejak tadi diam itu menimpali ocehannya tentang denda. Wah, ini kesempatan bagus untuk menjual cerita sedih. Melisa yakin sekali ia jago dalam hal itu. Kalau Pak Dharma beneran bersimpati atas nasib tragis yang menimpanya, akan jadi keuntungan yang bagus untuknya. Siapa tahu nanti lama-lama karena terbiasa peduli jadi tumbuh rasa cinta dalam hatinya. Ah, membayangkannya saja membuat Melisa semakin bersemangat.

“Memangnya Pak Dharma tidak ikut dalam kesepakatan kerja itu?”

“Saya tidak paham sama sekali pembicaraan kamu.” Dharma berjalan keluar dari kamar.

Lah.

Melisa kelabakan mengikuti langkah Dharma yang lebar. Ia pikir pertanyaan-pertanyaan tadi adalah sebuah bentuk kepedulian.

“Mau ke mana sih, Pak? Kan belum selesai ngobrolnya.”

“Saya ga banyak waktu. Harus cek stok ke gudang sekarang.”

Alasan saja sebenarnya. Ia tidak mau terlalu lama berada dalam ruangan yang sama dengan Melisa dan mendengarkannya mengoceh tentang sesuatu yang Dharma tidak mengerti sama sekali.

“Saya ikut aja kalo gitu.”

Dharma berhenti sebentar. Ia melihat penampilan Melisa dari atas sampai ke bawah.

Melisa yang diperhatikan seperti itu jadi salah tingkah. Ia memang berdandan seadanya tadi, tapi apa buru sekali sampai harus diperhatikan seperti itu.

Dharma lanjut berjalan.

Itu berarti Melisa boleh ikut. Toh, tidak ada penolakan dan larangan apapun.

...

“Nelayan kami baru memberi pesan kalo cuaca di pantai sedang kurang bagus, Pak. Jadi, untuk sementara tolong jangan promokan menu cumi dan kerang laut dulu. Kalau yang lokal, kami masih punya stok yang cukup untuk seminggu ke depan.” Salah satu pegawai gudang menjelaskan pada Dharma.

Sejak tadi Melisa mengikuti Dharma di belakang, ia tetap mengiringi ke mana pun Dharma pergi meskipun hanya dianggap debu.

Selesai membaca laporan stok, Dharma mengecek salah satu kardus. Memastikan cara mereka menyimpan bahan baku dapur sudah sesuai SOP yang diberlakukan di sana. Ia mengangguk begitu kardus terbuka, lalu menutupnya kembali dan menyerahkan pada salah satu pegawai yang mendampingi kunjungannya.

Pegawai itu menggenggam handy talkie dan tangan satunya membawa map berisi kertas laporan kunjungan dan pena, jadi ia mengoper kardus dari Pak Dharma tadi pada Melisa. Melisa menerimanya lalu meletakkannya asal.

Dharma menuju ruangan lain, tapi ia tersandung tali sepatunya sendiri. Tidak sampai jatuh, hanya mendadak berhenti. Melisa yang sejak tadi berjalan di belakangnya jadi menabrak punggungnya.

“Maaf, maaf.”

...

Ia memperhatikan wajah Dharma sejak masuk mobil tadi. Menimbang-nimbang apakah itu ekspresi santai atau tegang, ia belum juga menyampaikan niatnya untuk menanyakan alamat tempat tinggal Bu Inggit.

“Kenapa lihat-lihat saya terus?”

Eh.

Melisa kira Pak Dharma yang fokus melihat ke arah jalan sejak tadi tidak tahu ia beberapa kali mengamai wajahnya.

“Mm, itu wajah bapak lagi marah atau memang sudah jelek begitu setelannya dari orok ya?”

“Kita akan ke rumah mama.” Pertanyaan Melisa tadi bukan sesuatu yang urgen untuk dijawab, sangat tidak penting. Jadi, alih-alih menjawab, Dharma memilih untuk mengatakan hal lain.

“Loh, kebetulan banget, Pak?! Saya juga mau ke sana.” Melisa begitu bersemangat.

Melihat Dharma yang kembali biasa saja tanpa ekspresi apapun, Melisa jadi ingin menghidupkan efek suara jangkrik di ponselnya keras-keras untuk merayakan suasana krik krik dalam mobil ini.

Pulang dari perjalanan ini nanti ia akan coba mencari cara ngobrol dengan pria usia kepala empat di internet, siapa tahu jarak usia membuat ketertarikan topik masing-masing orang jadi berbeda.

“Wahai Pak Dharma, kalau dicintai olehmu begitu mustahil karena jarak usia kita beda jauh, setidaknya kita bisa berbicara seperti teman, kan? atau paling minimal aku dianggap ada gitu lah, jangan dianggurin banget kayak debu jalanan gini,” oceh Melisa dalam hati. ia begitu geram, tapi belum berani terlalu macam-macam.

1
yuqana
karyanya bagus rekomend buat dibaca karya pertama semoga sukses yaa kak ditunggu up yaa🥰🥰😍😍😘😘
Ross: Makasih banyak untuk dukungannya kak.
iya nih, baru karya pertama. semoga kakak juga sukses yaa 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!