Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*
lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.
Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.
*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB IX. LAMUNAN SELIR LIN YUE YANG BERADA DI TUBUH NAYA
Suasana hatiku tiba-tiba sesak dan sempit
Bagaimana bisa seorang ayah rela membuang anaknya sendiri ke panti asuhan? Entah harus sedih atau senang mengetahui bahwa ayah Naya masih hidup, dan dia akan menjadi ayahku.
Saat hidupku masih di kekaisaran, aku tidak memiliki siapa pun. Aku tidak percaya pada siapa pun. Aku hidup di lingkungan wanita penghibur. Aku dibesarkan oleh seorang muncikari, bahkan aku tidak tahu siapa ibu dan ayahku.
Saat umurku 13 tahun, aku dijual untuk dijadikan budak. Aku menjadi budak penghibur karena aku memiliki wajah yang cantik, begitu kata muncikari itu. Setiap malam, di usiaku yang baru 15 tahun, aku sudah harus berperang melawan nafsu para hidung belang. Menemani mereka minum arak, bahkan menari di hadapan mereka dengan pakaian sehelai benang.
Suatu ketika, ada seorang pemuda tampan yang melirikku. Namanya Tako, seorang prajurit Kaisar Tang Taizong. Entahlah, aku pun tertarik dengan ketampanannya. Kami saling sapa dan berkenalan. Sehari, dua hari, kami terus bertemu secara intens di Jiu Si, tempat para prajurit dan rakyat rendahan minum.
Seiring berjalannya waktu, aku sangat mencintainya dan mempercayainya. Setiap kata indah yang keluar dari mulutnya membuatku seperti terhipnotis. Dua tahun kami menjalani hubungan. Tiap malam dia datang menemuiku. Seluruh hidupku kuserahkan kepadanya.
Tako menyuruhku berhenti menjadi budak penari. Dia tidak rela, katanya, tubuh indahku dipertontonkan kepada laki-laki lain. Aku mempercayainya.
Dia mengajakku untuk ikut bersamanya. Setiap kali aku bertanya, jawabannya selalu sama.
"Tako, kita mau ke mana?"
"Sudah, ikut saja," perintah Tako.
Setelah dua hari kami berjalan menyusuri hutan, kami tiba di tujuan. Tempatnya sangat ramai. Terlihat seperti pasar, tapi terasa aneh. Kenapa banyak manusia di dalam kerangka besi kecil? Kenapa banyak wanita tanpa busana diikat? Bodohnya aku, tidak menaruh rasa curiga sedikit pun pada Tako.
"Tako, tempat ini kenapa banyak wanita diikat dan di dalam kerangka besi itu?"
"Mereka sedang dijajakan oleh tuan mereka," jawab Tako.
Aku hanya mengernyitkan dahi. Ada seorang pria berdiri di depan toko herbal, berpakaian sutra yang menandakan seorang bangsawan, menatap ke arah kami. Tako pergi menghampirinya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi pria itu terus menatapku. Tako diberi sebuah buntalan, yang tidak aku tahu apa isinya. Tako datang menghampiriku kembali dengan senyuman yang selalu membuatku percaya.
Tiba-tiba ada dua pemuda berpakaian seperti prajurit mendekati kami.
"Pegang dia," perintah Tako.
Kedua prajurit itu memegang tanganku. Aku memberontak, tapi tidak bisa. Tenaga wanita tidak setara dengan tenaga laki-laki.
"Tako, apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku, Tako! Kamu hanya bercanda, kan? Tako, ini tidak lucu!" Aku terus memberontak agar lepas dari mereka.
Datang pria yang memakai baju sutra itu menghampiri kami, berjabat tangan dengan Tako.
"Senang berbisnis denganmu," ucap pria berbaju sutra itu.
"Aku yakin wanita ini akan lebih mahal harganya. Lihat saja wajah dan tubuhnya, sangat indah," ucap Tako pada pria itu.
Aku sangat marah. Darahku mendidih, jantungku bergemuruh. Pria yang kuanggap rumah, kuanggap duniaku, dengan mudahnya menjualku.
"Bajingan kamu, Tako!" teriakku seraya aku dibawa oleh mereka dan mataku di tutup. Entah aku ingin dibawa ke mana.
Tako melambaikan tangan sambil tersenyum. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Aku serasa dimasukkan ke dalam ruangan berpapan kayu, tapi rasanya berbeda. Ruang kayu ini seperti berjalan dengan guncangan ringan. Tiba-tiba ruang kayu itu berhenti. Aku hanya diam dalam kegelapan dengan mata tertutup.
Kreeekk... suara pintu dibuka oleh prajurit. Tanganku ditarik untuk keluar. Mereka membawaku. Tanganku yang terikat dan mata tertutup, aku mengikuti setiap langkahnya.
Penutup mataku dibuka, tapi tanganku masih terikat. Saat aku membuka mata, aku terkejut. Ternyata banyak wanita yang mungkin nasibnya sama sepertiku. Tidak, semua wanita... ada yang tanpa busana, ada yang hanya memakai kemben. Hanya aku sendiri yang masih tertutup. Mereka menatapku seolah aku tontonan.
Aku melihat datang seorang wanita berkain sutra dengan dayang-dayang yang mengikutinya. Lalu ia memilih para wanita yang dijajakan oleh para tuan muncikari, termasuk diriku. Wanita itu memilihku dan beberapa wanita lainnya. Kami yang dipilih dibawa oleh dayang-dayang menuju ruangan seperti penjara beralas jerami.
Waktu berlalu, datang seorang wanita yang memilih kami. Wanita itu menunjukku, lalu aku diberi pakaian ganti dan dijadikan dayang Shang Gong, dayang tukang sapu. Setiap hari tugasku menjadi tukang sapu di luar kamar istana. Aku tidak berkomunikasi dengan siapa pun, tidak percaya lagi dengan orang lain.
Dua tahun berlalu, aku naik kasta menjadi Gong Nü, kasta dayang di bagian dalam istana.
Aku tidak memiliki teman. Bertahun-tahun aku bicara seperlunya dan fokus dengan tugasku, tapi aku tidak suka jika aku diusik.
"Hei, dayang baru!" - Seorang dayang melempar tomat ke pakaianku - "Ajian apa yang kau gunakan untuk cepat naik menjadi dayang seperti kami?"
Aku diam, terlihat tenang, dan menghampirinya. Kujambak rambutnya dan kumasukkan tomat itu ke mulutnya. Dayang-dayang lain berusaha memisahkan kami.
"Lepaskan aku! Dengar, sekali lagi kamu mengusikku, aku akan membunuhmu!" ancamku kepada dayang yang melempar tomat itu.
Aku sadar, kelakuanku tadi dilihat oleh Kaisar dan Selir Ketiga. Aku langsung menunduk dan pergi.
Musim ke musim telah berganti. Kaisar menjadikanku dayang pribadinya. Kami semakin dekat, sehingga Selir Ketiga cemburu kepadaku dan selalu mengusikku hingga membuatku melawannya.
Malam itu aku tahu jadwal Kaisar akan tidur di kamar Selir Ketiga. Aku sengaja datang menemuinya ke kamarnya.
Sreeeg... suara pintu geser. Aku masuk ke kamarnya, Selir Ketiga terkejut.
"Mau apa kau, Lin Yue, masuk ke kamarku?"
Aku mendengar langkah kaki Kaisar. Aku menarik tusuk konde Selir Ketiga dan menancapkannya di dadaku. Aku terjatuh dengan berlumuran darah. Selir Ketiga jongkok di hadapanku.
"Apa yang kau lakukan? Kau wanita gila!"
"Lihatlah, seberapa besar cinta Kaisar kepadaku," jawabku sambil tersenyum licik.
Langkah kaki Kaisar semakin mendekat dan sampai di depan pintu. Kaisar melihatku terbaring lemas dengan darah yang sudah membasahi lantai. Kaisar langsung memelukku seakan takut aku mati. Dengan tatapan tajam, Kaisar menatap Selir Ketiga.
"Apa yang kau lakukan pada Lin Yue? Apakah kau sudah gila, Mei Lee?" emosi Kaisar.
"Aku tidak melakukan apa-apa, dia sendiri yang menusuk dadanya!" jawab Selir Ketiga.
"Ini jelas tusuk konde milikmu, Mei Lee!" suara Kaisar meninggi.
Kaisar langsung membopongku dan membawaku menuju kamarku.
"Cepat, panggilkan tabib!" perintah Kaisar pada ajudannya.
Tabib memeriksaku. Aku sengaja menancapkan tusuk konde itu ke dadaku, tapi aku tidak bodoh. Hanya sedikit yang kutancapkan dan tidak melukai jantungku.
"Bagaimana keadaan Lin Yue?" tanya Kaisar pada tabib.
"Syukur, tusukannya tidak melukai jantungnya," jawab tabib.
Sementara Selir Ketiga diberi hukuman menjadi dayang kasta bawah, seperti yang kulakukan dulu. Tidak diberi izin masuk ke dalam kamar, dan hanya sebagai tukang sapu.
Musim gugur dan musim semi telah berlalu. Aku dan Kaisar selalu bersama. Kaisar menjadikanku selir terakhirnya. Hati wanita mana yang tidak berbunga saat menjadi cinta terakhirnya.
Perjalanan pernikahanku dengan Kaisar hanya berjalan dua tahun. Kaisar ingin memiliki anak laki-laki dariku. Kami mendatangi tabib agar aku bisa mengandung anak laki-laki dan menjadikannya pewaris.
Tapi tidak semua menyambut kabar gembira itu dengan bahagia, termasuk Permaisuri, selir pertama Kaisar.
Permaisuri berpura-pura baik padaku, seolah ikut bahagia jika aku mengandung. Ternyata dia menyusun trik busuk untuk menyingirkanku. Permaisuri memfitnahku seolah aku bertukar surat dan berselingkuh dengan ajudan Kaisar. Kaisar mempercayainya.
Permaisuri mempengaruhi Kaisar untuk membunuhku agar tidak membuat istana heboh, karena dayang dan anggota istana menyayangiku.
Suatu malam di hari ulang tahunku yang ke-19, Permaisuri berkunjung ke kamarku dengan menyuguhkan teh hangat yang berasal dari negeri barat. Bodohnya aku. Aku pikir Kaisar tidak termakan dengan fitnah menjijikkan itu dan Permaisuri benar-benar menerimaku.
Aku meminum teh itu dan ya... itu adalah racun yang membuatku mati, dan berada di dalam tubuh Naya.
Puri menepuk pundakku, menyadarkanku dari lamunan masa lalu.
Bersambung..