NovelToon NovelToon
Broken Home

Broken Home

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: kiara lily

Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan Terakhir di Ambang Pintu

Satu minggu telah berlalu sejak Nenek Surti pulang dari rumah sakit. Kondisi wanita tua itu jauh dari kata pulih. Tubuhnya yang dulu tegak dan lincah kini merosot di kursi roda, sebelah tangannya lumpuh total, dan bicaranya terbata-bata, sulit dipahami kecuali oleh mereka yang sudah terbiasa mendengarnya. Matanya yang dulu tajam kini tampak sayu, sering kali menerawang kosong ke arah jendela, seolah menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.

Di ruang tengah, suasana terasa berat dan mencekam. Koper-koper Ratna sudah tersusun rapi di dekat pintu depan, siap untuk perjalanan panjang yang akan memisahkan ia dari keluarganya selama dua tahun lagi. Udara pagi itu dingin, namun keringat dingin mengalir di pelipis Ratna. Ia mengenakan hijab hitam sederhana, sama seperti saat pertama kali ia berangkat bertahun-tahun lalu. Namun kali ini, beban di pundaknya terasa sepuluh kali lebih berat.

Budi sedang membantu memindahkan barang-barang terakhir ke dalam mobil sewaan yang akan mengantarnya ke bandara. Wajahnya suram, rahangnya mengeras menahan emosi. Lily duduk di samping kursi roda Nenek, menggenggam tangan ibunya yang lumpuh dengan erat. Aisyah, yang belum sepenuhnya memahami situasi, bermain dengan bonekanya di karpet, sesekali menatap ibunya dengan tatapan bingung.

Ratna berlutut di hadapan Nenek Surti. Ia mengambil tangan ibunya yang sehat, menciumnya berulang-ulang, air matanya jatuh membasahi kain sarung Nenek.

"Ma," panggil Ratna, suaranya parau dan tercekat. "Mama harus pergi sekarang. Pesawat Mama jam sepuluh."

Nenek Surtah menoleh perlahan. Bibirnya bergerak-gerak, berusaha membentuk kata-kata. "Ra... Rat... na..." suaranya serak, hampir tak terdengar.

"Iya, Ma. Ini Ratna," jawab Ratna sambil mengusap pipi ibunya yang keriput. "Mama minta maaf, Ma. Mama nggak bisa nemenin Mama di sini. Mama harus cari uang buat obat Mama, buat sekolah Lily, buat masa depan Aisyah."

Air mata mengalir dari sudut mata Nenek. Ia mengerti. Meski stroke menyerang tubuhnya, hatinya tetap jernih. Ia tahu pengorbanan putrinya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencoba mengangkat tangan sehatnya untuk mengelus rambut Ratna. Gerakan itu lambat, gemetar, namun penuh dengan cinta seorang ibu yang melepaskan anaknya ke medan perang kehidupan.

"Ja... jan... gan... ta... kut," bisik Nenek dengan susah payah. Setiap suku kata adalah perjuangan besar baginya. "Al... lah... ja... ga... kamu."

Ratna menangis tersedu-sedu. Ia membenamkan wajahnya di pangkuan ibunya. "Mama janji, Ma. Mama akan kerja keras. Mama akan kirim uang tiap bulan. Mama akan pulang kalau kontrak selesai. Mama janji."

Lily yang menyaksikan adegan itu tidak mampu menahan air matanya lagi. Ia bangkit dari kursinya dan memeluk ibunya dari belakang. "Ma... jangan pergi. Tinggal saja di sini. Aku bisa kerja part-time. Aku bisa jaga Nenek. Jangan tinggalkan kami lagi, Ma."

Ratna melepaskan pelukan dari Nenek sejenak, lalu berbalik memeluk Lily erat-erat. "Sayang, dengarkan Mama. Ini bukan pilihan Mama karena Mama ingin pergi. Ini pilihan Mama karena Mama sayang sama kalian semua. Kalau Mama tinggal, siapa yang bayar biaya rehabilitasi Nenek? Siapa yang bayar kuliahmu? Mama nggak mau kamu putus sekolah hanya karena keterbatasan uang. Mama mau kamu jadi orang sukses, Lil. Itu impian Mama."

"Tapi aku kangen Mama!" isak Lily. "Dua tahun itu lama banget, Ma. Aisyah bakal lupa sama Mama. Nenek... Nenek mungkin nggak kuat nunggu."

Kalimat terakhir itu menghantam dada Ratna seperti palu godam. Ketakutan terbesar itu memang menghantuinya setiap malam. Bahwa saat ia pulang nanti, Nenek sudah tiada. Atau worse, bahwa ikatan emosional dengan anak-anaknya akan pudar karena jarak dan waktu.

Budi mendekat, meletakkan tangannya di bahu Ratna. "Rat, kita harus berangkat. Kalau telat, tiket hangus. Dan kita butuh uang muka untuk agen."

Ratna mengangguk pelan. Ia berdiri, kakinya terasa lemas. Ia berjalan mendekati Aisyah yang masih bermain. Ia mengangkat gadis kecil itu, memeluknya erat hingga Aisyah merasa sesak.

"Adek, dengerin Papa ya," bisik Ratna di telinga putrinya yang masih balita. "Jaga Mama Lily. Jaga Nenek. Adek harus pinter, harus sholehah. Mama sayang banget sama Adek. Jangan lupa Mama, ya?"

Aisyah hanya menatap ibunya dengan mata bulatnya yang polos, lalu tersenyum dan mencium pipi Ratna. "Mama... pulang... cepat," katanya dengan logat balitanya yang lucu.

Kata-kata sederhana itu merobek hati Ratna menjadi serpihan-serpihan kecil. Ia mencium kening Aisyah satu kali lagi, lalu meletakkannya kembali di lantai. Ia tidak bisa berkata lebih banyak, karena suaranya sudah habis terkikis oleh tangisan.

Ratna berbalik menuju pintu. Budi sudah membuka pintu mobil. Langit di luar berwarna abu-abu, mendung, seolah ikut merasakan kesedihan perpisahan ini.

Sebelum masuk ke mobil, Ratna berhenti sejenak di ambang pintu. Ia menoleh ke belakang, memandang rumahnya, memandang keluarga kecilnya yang utuh namun rapuh. Ia melihat Lily yang masih menangis sambil memeluk Nenek, melihat Budi yang menatapnya dengan tatapan penuh doa, dan melihat Aisyah yang melambaikan tangan kecilnya.

"Jaga diri kalian baik-baik," ucap Ratna, suaranya bergetar namun jelas. "Doakan Mama. Mama akan berdoa untuk kalian setiap detik."

Budi mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Kami tunggu kamu pulang, Rat. Sehat-sehat di sana. Jangan lupa makan. Jangan biarkan siapa pun merendahkan martabatmu."

Ratna tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit namun penuh kekuatan. "Insya Allah, Bud. Sampai jumpa dua tahun lagi."

Ia masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup dengan suara *buk* yang final, memisahkan dunia di dalam mobil dengan dunia di luar. Mobil mulai bergerak perlahan menjauh dari rumah. Ratna tidak berani menoleh ke belakang melalui kaca spion. Ia takut jika ia melihat bayangan Lily atau Nenek masih berdiri di pintu, ia tidak akan sanggup melanjutkan perjalanan. Ia menatap lurus ke depan, ke jalan aspal yang membentang panjang menuju ketidakpastian.

Di dalam rumah, keheningan kembali menyelimuti. Lily masih menangis di pangkuan Nenek. Budi berdiri diam di teras, menatap mobil yang semakin jauh hingga hilang di belokan jalan. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan hampa yang mengerikan mengisi dadanya. Rumah yang tadi ramai dengan persiapan keberangkatan, kini terasa kosong dan sunyi.

Nenek Surti menutup matanya, air mata masih mengalir dari sudut matanya yang sayu. Bibirnya berkomat-kamit, berdoa dalam hati. *"Ya Allah, lindungi anakku. Kuatkan hatinya. Permudah urusannya. Dan izinkan aku hidup cukup lama untuk melihatnya pulang dengan selamat."*

Aisyah mendekati Budi, menarik-narik celana ayahnya. "Pa... Mama mana?"

Budi berjongkok, memeluk Aisyah erat-erat. "Mama pergi kerja, Dek. Mama cari uang buat kita. Tapi Mama sayang sama Adek. Mama pasti balik."

Aisyah mengangguk, meski ekspresinya masih bingung. "Mama... rindu."

"Iya, Dek. Kita semua rindu," bisik Budi, suaranya pecah.

Hari-hari berikutnya akan menjadi ujian ketahanan bagi mereka yang ditinggalkan. Lily harus belajar menjadi pengganti sosok ibu bagi Aisyah sekaligus pendamping bagi Nenek yang sakit. Budi harus bekerja lebih keras lagi untuk menutupi kekurangan finansial dan mengisi kekosongan emosional di rumah. Dan Nenek... Nenek harus berjuang melawan penyakitnya dengan harapan sebagai satu-satunya obat.

Sementara itu, di langit yang tinggi, sebuah pesawat terbang membelah awan, membawa Ratna menuju tanah asing. Di dalam pesawat, Ratna mengeluarkan foto keluarganya dari dompetnya. Ia menatap wajah-wajah itu satu per satu. Wajah Nenek yang lemah, wajah Lily yang dewasa sebelum waktunya, wajah Budi yang penuh kasih, dan wajah Aisyah yang polos.

"Mama lakukan ini untuk kalian," bisik Ratna pada foto itu. "Tunggulah Mama. Mama akan pulang. Mama janji."

Pesawat itu terus terbang, meninggalkan jejak putih di langit biru. Jejak yang simbolis dari pengorbanan seorang ibu, seorang putri, dan seorang istri. Pengorbanan yang tidak terlihat oleh mata dunia, namun sangat nyata di hati mereka yang ditinggalkan. Dan di sanalah, di antara awan-awan yang terpisah jarak ribuan kilometer, cinta mereka tetap terhubung oleh benang doa yang tak pernah putus.

1
Unaa
maafkan yaa kalo banyak typo nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!