NovelToon NovelToon
Suamiku, Beban Atau Rumah?

Suamiku, Beban Atau Rumah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkas di Atas Meja

Malam kian melarut di Kota Solo, namun hawa dingin yang mengelus tengkuk Eda tak lagi mampu mengusik ketenangan yang terbangun di dalam kamarnya. Usai merapikan lembar demi lembar catatan revisi simulasi mengajar, Eda mematikan laptopnya. Suara dentang mesin pendingin di ruang sebelah tak lagi terdengar, menyisakan senyap yang membungkus rumah kontrakan itu.

Eda menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kayu. Matanya tertuju pada sebuah map bening di sudut meja—folder penyimpanan dokumen penting yang berisi fotokopi SK PPPK, amandemen perjanjian pinjaman bank, hingga berkas pendaftaran Guru Penggerak. Di antara tumpukan kertas itu, terselip selembar catatan kecil berisi rincian arus kas bulanan yang sengaja ia buat beberapa hari lalu.

Di kertas itu, angka-angka tercetak jujur tanpa ada yang ditutupi: potongan cicilan bank untuk utang masa lalu keluarga, alokasi obat rutin Ibu Ratna, hingga sisa recehan yang biasa ia kantongi untuk sekadar menyambung napas sampai akhir bulan. Melihat rincian itu, Eda menyadari betapa gilanya belasan tahun yang telah ia lalui. Ia bukan sekadar menopang rumah tangga, melainkan menjadi penjamin atas ketidakmampuan dan kelalaian orang-orang yang mengaku mencintainya.

*Glek.*

Suara tenggorokan Eda yang menelan ludah terasa getir. Namun, kali ini rasa getir itu tidak lagi memicu air mata. Rasa sakitnya telah mengkristal menjadi ketegasan yang tak tergoyahkan.

...****************...

Keesokan paginya, suasana dapur rumah kontrakan terasa berbeda. Tidak ada kepulan asap dari kompor, tidak ada pula aroma teh manis hangat yang biasa memanggil orang-orang rumah untuk bangun. Agus duduk bersandar di kursi plastik teras depan dengan raut wajah keruh dan kelam. Tatapan matanya kosong mengarah ke jalan gang, sementara tangannya menggenggam rokok kretek yang sudah padam sejak tadi.

Ibu Ratna keluar dari kamar dengan langkah tertatih, disusul Rini yang membawa baju kotor anak-anaknya. Begitu melihat meja makan di ruang tengah bersih tanpa ada sepiring pun sarapan atau segelas air hangat, Rini mendesah keras-keras.

"Walah, rumah ini sekarang benar-benar kayak kuburan," sindir Rini dengan nada menyayat, sengaja dikencangkan saat melihat Eda keluar dari kamar dengan pakaian dinas lengkap. "Orang rumah mau makan apa, mau minum apa, sudah tidak ada yang peduli. Masing-masing sudah merasa jadi orang sukses."

Eda menghentikan langkahnya di dekat rak sepatu. Ia tidak menoleh, tidak pula membalas dengan nada tinggi. Dengan tenang, Eda memakai sepatu pantofel hitamnya yang telah bersih dari sisa lumpur kemarin.

"Mbak Rini," panggil Eda dengan suara datar dan jernih, membalikkan badan menatap iparnya itu lurus-lurus. "Pasar Gede dekat dari sini. Kompor di dapur juga masih berfungsi baik. Kalau Mbak Rini bingung mau masak apa untuk Mas Doni dan anak-anak, Mbak Rini bisa belanja sendiri pakai uang tarikan mobil Mas Doni."

Rini melongo, wajahnya seketika memerah padam karena sindiran halus namun telak itu. "Mbak Eda! Kamu..."

"Eda berangkat mengajar dulu, Ma," potong Eda halus pada Ibu Ratna yang baru hendak membuka mulut untuk memaki.

Tanpa menunggu balasan atau drama makian berikutnya, Eda mencangklong tas kerjanya, memutar kunci pintu depan, lalu melangkah keluar melintasi teras. Ia bahkan tidak melirik Agus yang duduk mematung di kursi plastik.

Langkah kaki Eda menyusuri gang terasa begitu mantap. Di bawah naungan langit pagi Solo yang mulai membiaskan cahaya keemasan, Eda merasakan kebebasan yang sesungguhnya. Ia tidak lagi memikul rasa bersalah atas kelaparan, kemarahan, atau gengsi orang lain.

...****************...

Sesampainya di SD Harapan Bangsa, atmosfer hangat menyambutnya di tiap sudut sekolah. Pak Manto menyapa di pintu gerbang, sementara anak-anak kelas empat menyambut kedatangannya dengan lambaian tangan riang.

Di ruang guru, Bu Maya sudah menyiapkan berkas kisi-kisi soal evaluasi. "Pagi, Bu Eda! Kelihatan segar sekali hari ini. Gimana persiapan simulasi mengajar besok?"

"Alhamdulillah lancar, Bu Maya. Hasil *coaching* semalam dengan Pak Budi sudah saya revisi semua," jawab Eda ramah sambil meregangkan jemarinya di atas meja kerja.

"Luar biasa," puji Bu Maya tulus. "O iya, Bu Eda, tadi Pak Burhan pesan, kalau butuh ruang laboratorium komputer untuk pelaksanaan tes simulasi mengajar secara daring besok pagi, kuncinya sudah dipegang Pak Manto. Peralatan mikrofon dan kamera web-nya juga sudah dites."

Eda tersenyum lebar, dadanya dipenuhi rasa haru yang hangat. "Matur nuwun sanget, Bu Maya. Perhatian sekolah benar-benar luar biasa."

Di sekolah ini, tiap lembar kerja kerasnya dihargai. Tiap usaha kecilnya didukung tanpa syarat. Kontras yang teramat tajam ini makin memperjelas batas di dalam pikiran Eda: ia harus menyelamatkan dirinya sendiri agar tetap bisa berdiri sebagai pendidik yang bermakna.

...****************...

Sore harinya, saat bel tanda berakhirnya jam sekolah berbunyi, Eda tidak langsung bergegas pulang. Ia duduk di ruang laboratorium komputer, mematangkan perangkat pembelajaran dan memeriksa kembali koneksi internet yang akan digunakannya esok hari.

Ketika mentari sore Solo mulai meredup di balik jendela kaca laboratorium, Eda memandangi pantulan dirinya di layar monitor yang gelap. Tidak ada lagi keraguan di matanya.

Eda merogoh tasnya, mengambil sebuah amplop cokelat bersih yang sudah ia siapkan dari rumah. Di dalamnya tersimpan surat pernyataan pribadi—sebuah keputusan yang akan mengubah arah hidup dan rumah tangganya secara permanen begitu rangkaian seleksi ini usai.

Dengan menghembuskan napas panjang yang lega, Eda menyimpan amplop itu kembali ke dalam tasnya. Hari esok adalah ujian besarnya, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun mematahkan kepakan sayapnya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!