Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Wanita Payah
Di dalam mobil, Louis mengendarai mobilnya dengan perasaan gelisah. Matanya terus menatap kaca spion yang ada di atas, seolah sedang memperhatikan sesuatu. Padahal, mobil sudah melaju cukup jauh dari tempat tadi dirinya naik.
"Sayang, kau kenapa?" Marine menoleh ke belakang, melihat arah pandangan pria itu. "Apa ada barangmu yang tertinggal?"
"Hah ...." Louis segera tersadar. "I-iya ... iya, ada barangku yang tertinggal. Tapi tidak apa-apa! Nanti, aku minta Ayah untuk mengambilnya," jawabnya dengan terbata.
"Barang apa? Kita putar balik saja, mumpung masih belum jauh," ucap Marine.
"Oh, itu! Aku hubungi Ayahku dulu!"
Louis mengambil ponsel dari saku jasnya. Lalu menempelkan ponsel itu ke telinga, dengan satu tangan masih memegang roda kemudi.
"Halo, Ayah! Apa barangku masih ada di atas meja?"
"...."
"Hah, kembali? Sekarang? Tapi, aku sudah di jalan, mau pulang ke rumah."
"...."
"Jamuan makan malamnya masih belum selesai? Aku masih harus ikut?"
"Emm, baiklah! Aku akan segera kembali!"
Telepon ditutup. Ekspresinya terlihat cemas.
Louis segera memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jas. Tangannya memutar roda kemudi, berbelok ke kanan untuk memutar arah, bermaksud kembali ke Ratu Hotel.
"Ayahmu meminta kau kembali?" tanya Marine, mengerti dengan maksud Louis memutar arah mobilnya.
"Iya! Aku tidak boleh pergi sebelum acara jamuan makan malam itu selesai," jawab Louis, masih terus berbohong.
"Aduh, bagaimana dengan barangku? Apa Ayah menyimpannya?" ucapnya pelan.
Ekspresinya terlihat cemas. Seolah barang yang tertinggal itu adalah barang yang sangat berharga di dunia.
"Barang apa?" Marine mulai curiga.
Ini tidak seperti Louis yang biasanya. Pria itu tidak pernah bertingkah aneh seperti ini sebelumnya.
"Kau begitu cemas, apa karena mengkhawatirkan Karissa?" Akhirnya Marine bertanya dengan sinis.
"Hah ... ma-mana mungkin aku mencemaskan ibu tiriku," sangkal Louis dengan senyum samar di bibirnya. "Kariss sudah menikah dengan ayahku! Mana mungkin aku mencemaskannya?"
"Kariss menikahi ayahmu? Apa itu benar?" tanyanya sedikit mengejek.
"Ya, itu benar! Mereka sudah menikah!" Louis membenarkan.
"Tidak bisa mendapatkan anaknya, ayahnya pun jadi! Haha! Dasar wanita payah!" ejek Louis dengan perasaan tidak karuan.
"Oh, iya! Tadi, kau menanyakan kondisi ibunya Kariss. Kau tahu juga kan, kalau ayahnya sudah meninggal?" Tiba-tiba Louis bertanya hal itu.
"Ya, tentu saja aku tahu! Dulu, kami kan bersahabat. Hubungan kami jadi merenggang, itu karena aku lebih memilih kau ... Louis!" jawabnya dengan manja.
Marine ingin menunjukkan pada Louis bahwa ia dibenci oleh Karissa demi dirinya.
"Hah .... Kau sudah tahu kalau orang tuanya mengalami kecelakaan?" Louis mengerutkan kening.
Setahunya, Marine dan Karissa bermusuhan setelah tuduhan perselingkuhan mereka. Bahkan, Louis saja tidak tahu kedua orang tua Karissa mengalami kecelakaan karena saat itu mereka baru putus.
Tapi Marine ....
'Dari mana dia tahu tentang kecelakaan itu? Tidak mungkin Karissa yang mengatakannya langsung pada Marine?'
Sebelum Louis bertanya lagi, mereka sudah sampai di depan Ratu Hotel. Ia segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Sudah sampai, aku masuk dulu, ya!" Louis membuka sabuk pengaman, membuka pintu mobil, lalu keluar.
"Kau pulanglah, hati-hati di jalan!"
Louis melambaikan tangan pada wanita itu. Lalu beranjak pergi menuju pintu masuk hotel.
Marine pun segera beralih ke kursi pengemudi. Ia membawa mobilnya pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah mobil Marine benar-benar pergi, Louis keluar lagi dari gedung hotel. Ia tergesa-gesa, berlari keluar sampai ke lampu jalan—tempat terakhir dirinya dan Karissa berpisah.
"Di mana dia?"
Louis menatap kiri dan kanan, mencari sosok ramping yang mengenakan mini dress berwarna hitam di setiap sudut jalan.
Tapi, sosok itu sama sekali tidak terlihat.
Louis semakin cemas. Ia mulai mencarinya lagi, berlari ke sana kemari sambil mengedarkan pandangannya. Berharap wanita itu masih ada.
"Aish, sial!"
Setelah dirasa tidak ada Karissa di manapun, Louis segera menghubungi ayahnya untuk memastikan keberadaan wanita itu.
Karena telepon tadi hanya sandiwaranya saja agar bisa keluar dari mobil Marine.
Tidak lama, sambungan telepon terhubung.
"Halo, Ayah! Maaf ya, aku pulang duluan," ucapnya basa-basi.
"Oh, iya, Yah! Apa nanti Kariss pulang bersama Ayah?"
Inilah yang ingin Louis tanyakan. Karissa pulang bersama siapa?
"...."
"Oh, dia pergi ke rumah sakit yang ada di pusat kota untuk melihat kondisi ibunya?"
"...."
Louis merasa lega. Ternyata, Karissa tidak bersama dengan ayahnya.
"Baiklah ... aku pulang duluan, ya! Selamat malam!"
Klik!
Sambungan ditutup.
Setelah mengetahui keberadaan wanita itu, Louis segera menghentikan taksi. Ia berencana pergi ke rumah sakit untuk mencari Karissa.
Setibanya di rumah sakit, Louis langsung menanyakan keberadaan pasien yang bernama Kamila pada petugas resepsionis. Setelah mendapatkan informasi, ia bergegas pergi ke atas untuk mencari ruang ICU tempat ibunya Karissa dirawat.
Hari sudah malam. Di lorong rumah sakit terasa dingin dan sepi. Tidak ada lalu-lalang orang di sana. Bahkan, yang sekadar duduk di bangku tunggu juga sudah tidak ada.
Louis berjalan dengan langkah pelan menuju ruang perwatan. Dari kejauhan, ia melihat sosok yang tidak asing di matanya.
Bukan Karissa, melainkan Karina ... kakak dari wanita yang sedang ia cari.
Sebelum Louis melangkah semakin mendekat, terdengar Karina berbicara pada orang yang ada di seberang telepon,
"Kau tenang saja! Setelah semuanya selesai, uang akan aku kirim ke rekeningmu! Aku ingin besok kau melakukannya. Apa bisa?"
Louis segera menghentikan langkahnya.
Ia bersembunyi di belakang tiang.
"Oh, ya, baiklah! Semakin cepat, itu akan lebih baik," ucap Karina lagi.
"Sekarang aku sendirian menemani ibuku. Kariss entah pergi ke mana. Seharian ini dia belum menampakkan batang hidungnya!"
"Oke! Aku tunggu kabar baik darimu!"
Percakapan pun berakhir.
"Aish, sial!" bisik Louis pelan. "Sudah capek-capek datang ke rumah sakit ini, Kariss malah tidak ada!"
"Kariss tidak kembali ke rumah sakit? Dia sudah berbohong pada Ayah!"
Tidak ada gunanya lagi Louis tetap tinggal di tempat ini. Toh, wanita yang ia cari tidak ada.
Ia berbalik badan, segera pergi meninggalkan gedung rumah sakit dengan pikiran rumit.
"Dia pergi ke mana? Apa kembali ke rumah?"
Louis segera menghentikan taksi lagi, berencana pulang ke rumah untuk memastikan keberadaan wanita itu.
Dua puluh menit kemudian, taksi sudah sampai di depan rumah.
Setelah membayar ongkos taksi, Louis segera masuk ke dalam.
Di sana, ia bertanya pada para pelayan,
"Apa Kariss sudah kembali?"
"Belum, Tuan! Tas di telepon Tuan Besar bilang kalau Nyonya tidak akan pulang. Nyonya pergi ke rumah sakit menjenguk ibunya!"
"Aishhh, dia berbohong pada semua orang!" gumam Louis.
Ia segera pergi ke lantai atas, masuk ke dalam kamarnya masih dengan kesal.
Louis membanting pintu, berjalan dengan cepat menuju jendela kamar. Ia merasakan angin berembus mendinginkan seluruh tubuhnya. Ia mendongak, menatap gelapnya langit malam yang dihiasi oleh kerlap-kerlip bintang.
Walau terlihat sangat indah, namun di matanya terlihat sangat suram.
Ia ingat, tadi Karissa mengajaknya untuk pulang ke rumah. Tapi dirinya malah pergi bersama Marine, meninggalkan wanita itu di pinggir jalan.
"Apa Kariss marah karena hal itu?"