NovelToon NovelToon
Qin Yuchen : Seni Dewa Naga

Qin Yuchen : Seni Dewa Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:23.6k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Di Tanah Soul Martial, hukum rimba adalah segalanya — hanya kekuatan yang menentukan hidup dan mati. Para kultivator menembus langit, para raksasa mengguncang bumi, dan setiap jiwa bermimpi meraih matahari serta bintang.

Namun, takdir berputar.Qin Yuchen, Raja Dewa yang pernah menguasai Alam Atas, jatuh ke jurang kehancuran. Dari abu kehancuran itu, ia bangkit kembali dalam tubuh seorang pemuda biasa di perbatasan barat, membawa rahasia terlarang: Seni Dewa Naga Kekacauan

Dengan seni ilahi itu, ia menapaki jalan berdarah — menantang langit, menundukkan bumi, dan menyingkirkan segala jenius yang berani menghalangi. Perjalanan menuju takhta tertinggi pun dimulai, sebuah kisah tentang kebangkitan yang akan mengguncang seluruh jagat raya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Pertarungan Elang dan Ular Piton

Gawat, aku ceroboh!

Tanpa perlu mendongak lebih jauh, hanya dari pantulan sosok besar di air dan aura kuat yang terpancar, Qin Yuchen langsung tahu—elang raksasa itu adalah Binatang Jiwa, kemungkinan besar setara Alam Sekte Jiwa. Makhluk sekelas ini hampir dianggap raja di Pegunungan Liar Barat.

Andai ia masih Raja Dewa Alam Atas—atau bahkan hanya memiliki seper sejuta kekuatan puncaknya dulu—cukup melepas sedikit saja aura untuk membuat elang ini lari ketakutan. Tapi kenyataannya sekarang ia hanya orang biasa yang belum berhasil memadatkan Jiwa Wu.

Qin Yuchen menggerutu dalam hati. Wilayah ini seharusnya masih tepi luar hutan, bukan bagian dalam. Siapa sangka datang untuk cuci muka dan minum air malah bertemu Binatang Jiwa terkuat pegunungan ini!

Baru saja ia memikirkan cara kabur, cuping telinganya berkedut. Ekspresinya berubah.

Hutan bergetar. Pohon-pohon kuno di sisi kiri tumbang berkeping-keping. Elang raksasa di langit meraung, tubuhnya menukik turun, membawa badai dahsyat mengamuk mengikuti gerakannya.

*Desiss!*

Di dalam hutan, kepala ular piton raksasa menjulang tinggi—Binatang Jiwa lain, juga sekelas Alam Sekte Jiwa.

Detik berikutnya, keduanya bertabrakan tanpa basa-basi.

*BLAAAR!*

Suara gemuruh meledak. Gelombang kejut dahsyat menyebar dari pusat pertarungan seperti badai. Pohon-pohon tumbang beruntun, debu dan pasir beterbangan ke mana-mana.

Wajah Qin Yuchen berubah pucat. Dampak pertarungan dua Binatang Jiwa sekelas Alam Sekte Jiwa jelas bukan sesuatu yang bisa ditahan seorang praktisi Pemurnian Tubuh kecil sepertinya.

*BYUR!*

Tanpa ragu, ia melompat ke kolam, menyelam cepat ke dasar. Rerumputan berhamburan, gelombang kejut menyapu tepi kolam. Hampir sepertiga airnya berubah jadi hujan lebat yang terangkat ke udara.

Di dasar kolam, seluruh tubuh Qin Yuchen bergetar hebat oleh gelombang energi yang merambat lewat air. "Ukh!" Ia memuntahkan seteguk darah segar.

Untungnya gelombang itu datang dan pergi dengan cepat.

Ketika kepalanya muncul kembali ke permukaan, ia masih meninggalkan sisa darah di sudut bibir. Permukaan air kolam kini sudah turun lebih dari dua kaki. Hampir delapan puluh persen pepohonan dan lumut di tebing tiga puncak gunung berbentuk jari itu hancur akibat pertarungan. Di tebing paling kanan tampak mulut gua besar, dengan bibir bawahnya hanya sekitar sepuluh meter dari tanah.

"Gaaa!" Suara seperti bebek besar berbulu lebat terdengar dari dalam gua itu.

Qin Yuchen sedikit terkejut. Sepertinya ada Binatang Jiwa kecil di sana—kemungkinan besar anak elang raksasa itu.

Tidak ada alasan baginya ikut campur dalam pertarungan antar Binatang Jiwa ini. Dengan kekuatannya sekarang, ia bahkan tak bisa berpartisipasi. Ia keluar dari air, bersiap pergi.

*Wusss!*

Seekor ular piton hijau melesat keluar dari reruntuhan pohon. Panjangnya hampir tujuh meter, sisiknya berkilau cahaya spiritual hijau. Jelas ini juga Binatang Jiwa dari spesies sama dengan ular piton raksasa di luar, dan dari ukuran serta auranya, setidaknya setingkat Prajurit Jiwa Tingkat Tujuh.

Qin Yuchen menelan ludah.

Dengan kekuatannya sekarang—bahkan dengan Pedang Awan Mengalir dan Niat Pedang aktif—paling banter ia hanya sanggup membunuh Binatang Jiwa level satu, dua, atau tiga. Lawan sekelas ini jauh di luar jangkauannya.

Ia mengangkat tangan kiri perlahan, senyum polos terpasang. "Ehm, aku cuma numpang lewat, tidak akan mengganggu pertarungan kalian. Aku hanya—"

Belum selesai bicara, ular hijau itu sudah menyerang. Matanya berkilat tajam, lidahnya menjulur, ekornya mengibas, dan tubuh sepanjang tujuh meter itu melesat di udara seperti anak panah, mulutnya yang bertaring terbuka lebar mengincar Qin Yuchen.

Sialan! Ia mengumpat dalam hati, tapi tangannya tak ragu sedikit pun. Dengan Sembilan Langkah Istana ia menggeser tubuh ke samping, mengayunkan pedang ke kepala ular itu.

*TRANG!*

Pedang Awan Mengalir menghantam kepala ular yang tertutup sisik tebal, memercikkan bunga api. Momentum serangan terhenti, luka tipis muncul di kepala ular dengan sedikit darah merembes—tapi Qin Yuchen sendiri terhuyung mundur tiga langkah, lengan kanannya gemetar.

Ular itu mendesis marah dan menyerang lagi.

*Trang, trang, trang!* Pedangnya berkelebat, Sembilan Langkah Istana bergerak lincah seperti musang, mati-matian bertahan dari serangan bertubi-tubi.

*BUAGH!*

Sabetan ekor melempar Qin Yuchen beserta pedangnya sejauh delapan meter. Ia mendarat keras, pakaiannya robek di bagian pinggang, napasnya nyaris putus.

Sebelum sempat bangkit, mulut ular sudah berada tepat di depan wajahnya.

Tepat di detik kritis itu—Token Naga Ilahi di Ruang Indra Jiwanya bergetar. Qi Naga yang agung dan mulia terpancar dari tubuhnya, meski hanya secuil.

Namun bahkan secuil pun sudah tak bisa ditolak seekor ular hijau kecil. Seluruh tubuhnya menegang seketika.

Kesempatan itu tak disia-siakan. Pedang Awan Mengalir menusuk langsung ke dalam mulut ular yang terbuka. Satu tarikan—*srak!*—darah menyembur membasahi wajah Qin Yuchen, kepala ular yang terangkat tinggi jatuh ke tanah, terbelah dua.

Setelah mengerahkan seluruh sisa tenaga untuk tusukan terakhir itu, Qin Yuchen tak sanggup bertahan lagi. Kepalanya tertunduk, dan ia pun pingsan.

---

Di dalam hutan, kilatan cahaya hitam dan merah terus bermunculan, diiringi raungan dan jeritan yang tak berhenti. Bulu-bulu beterbangan, daging berceceran di sela pepohonan—pertarungan berlanjut hingga malam tiba tanpa tanda akan usai.

Ketika Qin Yuchen tersadar, bulan purnama sudah bersinar terang. Lolongan binatang sesekali terdengar, tapi tak ada yang berani mendekat ke area ini.

Mendengar pertarungan sengit masih berlangsung tak jauh darinya, ia segera menyayat tubuh ular piton hijau yang sudah mati, membungkuk, dan menenggak beberapa teguk darah hangatnya. Tubuhnya langsung terasa lebih bertenaga.

Pergi sekarang jelas bukan pilihan bijak. Tempat teraman hanya satu—gua di tebing.

Sesampainya di sana, ia menatap makhluk mirip "bebek besar berbulu lebat" itu dengan wajah penuh garis-garis hitam. Anak elang ini benar-benar jelek.

Makhluk itu tidak menunjukkan senang atau tidak suka atas kedatangannya, juga tak mengusirnya. Hanya menatap sebentar dengan mata kecilnya, lalu kembali menatap lurus ke luar gua dengan sedikit kesedihan.

Qin Yuchen pun mengabaikannya. Ia mencari sudut bersih, duduk bersila, tak peduli pertarungan hebat yang masih berlangsung di kejauhan. Dua pil obat masuk ke mulutnya, dan ia fokus menyembuhkan luka.

Fajar tiba, pertarungan di luar akhirnya mereda—tak ada lagi pergerakan. Luka-luka Qin Yuchen sudah sembuh sebagian besar. Ia membuka mata, merasakan sesuatu di sampingnya—si "bebek berbulu" itu.

Melihatnya terbangun, makhluk itu menyenggol kepalanya lembut sambil bersuara "Gaa" pelan.

Qin Yuchen menghela napas, mengulurkan tangan membelai bulunya yang ternyata sangat lembut.

"Baiklah, ayo kita lihat keadaan di luar."

Dari kejauhan, terlihat sisa-sisa ular piton raksasa tergeletak di satu sisi, sementara elang raksasa itu sendiri sudah seperti ayam raksasa yang bulunya dicabut habis, tergeletak lemas di tanah, hampir tak bernyawa. Mendengar langkah kaki, tubuh besarnya bergerak sedikit.

Si anak elang berlari cepat, menggesekkan tubuh ke sayap induknya, lalu menempel di kepalanya.

Benar dugaan Qin Yuchen—makhluk kecil ini memang anak elang raksasa itu.

Tiba-tiba, elang raksasa mendongak menatap Qin Yuchen.

*Kemarilah.*

Suara asing menggema di benaknya, entah dari mana asalnya. Setelah berpikir sejenak, Qin Yuchen melangkah mendekat.

Elang itu menggerakkan sayap. Sebuah kekuatan aneh menyelimuti tubuh Qin Yuchen, menariknya mendekat dalam sekejap. Detik berikutnya, mulut elang terbuka, memuntahkan sebutir mutiara aneh. Sebelum Qin Yuchen sempat bereaksi, mutiara itu sudah melesat masuk ke mulutnya yang terbuka otomatis, dan tertelan begitu saja.

Ia merasa mual, ingin memuntahkannya kembali—tapi tubuhnya tak mampu bergerak sama sekali.

Sesaat kemudian, elang raksasa itu menutup mata, menghembuskan napas terakhirnya.

Si anak elang meneteskan air mata dari sudut matanya.

Setelah tubuhnya kembali bisa digerakkan, Qin Yuchen menatap dua bangkai Binatang Jiwa raksasa di hadapannya, matanya berbinar.

Dua Binatang Jiwa sekelas Alam Sekte Jiwa. Nilainya luar biasa besar.

1
Ardi ansyah
saling support ka The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny. bantu saling berkembang
Pecinta Gratisan
bunuhlah
nanonano
mantap
Friska trisna
Semangat thor💪
Ardi ansyah: saling support kak The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!