Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 — Bayangan di Balik Masa Lalu
Celine Wang masih menatap foto yang dikirimkan oleh nomor tak dikenal itu. Dalam gambar tersebut, Daniel Zhou berdiri di depan rumah sakit tempat Liang Zhen dirawat. Semuanya tampak biasa, kecuali sebuah mobil hitam yang terparkir di seberang jalan dan sosok samar di balik kaca jendelanya.
Seseorang sedang mengawasi Daniel.
Bukan hanya dirinya yang menjadi sasaran. Semua orang yang membantunya menyelidiki kematian William Wang kini berada dalam bahaya.
Celine segera menelepon Daniel.
“Di mana kau sekarang?”
“Aku baru meninggalkan rumah sakit. Kenapa?”
“Apakah kau melihat mobil hitam di seberang jalan?”
Daniel terdiam sejenak. “Ada beberapa mobil di sana. Aku tidak terlalu memperhatikannya. Memangnya ada apa?”
Celine mengirimkan foto tersebut.
Beberapa detik kemudian, suara Daniel berubah serius.
“Foto ini diambil hari ini?”
“Baru saja dikirim kepadaku.”
“Kalau begitu, jangan keluar sendirian malam ini. Aku akan memeriksa siapa yang mungkin mengambil gambar ini.”
“Daniel, jangan langsung pulang ke rumahmu. Mereka mungkin tahu alamatmu.”
“Aku mengerti. Aku akan menuju kantor pengacara dan meminta seseorang memeriksa rekaman kamera keamanan.”
Celine menggenggam ponselnya lebih erat.
“Jangan bertindak gegabah. Kita tidak tahu siapa mereka atau apa yang mereka inginkan.”
“Justru karena itu kita harus berhati-hati.”
Setelah panggilan berakhir, Celine berdiri di dekat jendela. Di bawah sana, Shanghai tetap hidup seperti biasa. Kendaraan bergerak memenuhi jalan, orang-orang berjalan di trotoar, dan lampu-lampu gedung menyala tanpa mengetahui bahwa di balik kehidupan kota yang sibuk, sebuah rahasia lama sedang menyeret banyak orang ke dalam bahaya.
Celine menyadari satu hal.
Selama ini, ia mengira orang-orang yang menghalanginya hanya ingin melindungi reputasi keluarga Wu dan Shen. Namun, jika mereka bersedia mengawasi Daniel dan mengancam orang-orang terdekatnya, mungkin ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar skandal bisnis.
Mungkin ada seseorang yang masih hidup karena kebenaran itu belum terungkap.
Atau seseorang yang akan kehilangan segalanya jika kebenaran tersebut akhirnya ditemukan.
Keesokan paginya, Celine tiba di Shen Capital sebelum jam kerja dimulai. Ia berniat memeriksa arsip transaksi lama melalui salinan resmi yang telah diberikan kepadanya.
Namun, ketika ia membuka komputer, layar menampilkan pemberitahuan bahwa akses ke beberapa dokumen telah ditolak.
Celine mencoba masuk kembali menggunakan kata sandi yang biasa digunakannya.
Gagal.
Ia memanggil petugas teknologi informasi dan meminta pemeriksaan terhadap akun kerjanya. Tidak sampai lima belas menit kemudian, seorang staf datang membawa laporan singkat.
“Nona Wang, akun Anda digunakan untuk mengakses arsip Shengyuan tadi malam pukul sebelas lewat empat puluh dua menit.”
Celine mengerutkan kening.
“Aku tidak bekerja tadi malam.”
“Kami mengetahui hal itu. Namun, sistem mencatat akses tersebut menggunakan kredensial Anda.”
“Dokumen apa yang dibuka?”
Staf itu menyerahkan daftar berisi beberapa nama berkas. Salah satunya membuat Celine terdiam.
Laporan Asli Kematian Shen Guowei — Lampiran Kedua.
Berkas tersebut merupakan dokumen yang selama ini berusaha ditemukan oleh Shen Yuxin. Lampiran kedua diduga memuat nama saksi yang dihapus dari laporan resmi setelah kematian Shen Guowei lima belas tahun lalu.
“Apakah berkas itu diunduh?”
“Tidak ada catatan unduhan. Tetapi seseorang mencoba menghapus riwayat akses setelah membuka dokumen.”
Celine mengangkat pandangannya.
“Apakah kalian bisa mengetahui lokasi perangkat yang digunakan?”
“Perangkat tersebut terhubung melalui jaringan internal perusahaan.”
“Artinya, orang itu berada di dalam gedung ini?”
“Belum tentu. Akses jarak jauh juga memungkinkan, tetapi kami sedang memeriksanya.”
Celine meminta salinan laporan dan tidak membuat tuduhan apa pun. Ia tahu bahwa jika seseorang sengaja menggunakan akunnya, menuduh orang tanpa bukti justru akan memudahkan pelaku mengalihkan perhatian.
Satu nama muncul di benaknya.
Shen Yuxin.
Bukan karena Celine yakin Yuxin bersalah, melainkan karena perempuan itu memiliki hubungan langsung dengan arsip keluarga Shen dan sebelumnya mengakui pernah menyembunyikan sebagian dokumen.
Celine segera menghubunginya.
“Aku perlu bertemu denganmu.”
“Sekarang?” tanya Yuxin.
“Sekarang. Ada seseorang yang menggunakan akun kerjaku untuk membuka lampiran kedua laporan kematian ayahmu.”
Di ujung telepon, Yuxin tidak langsung menjawab.
“Celine, jangan membuka berkas itu sendirian.”
“Mengapa?”
“Karena aku pernah melihat sebagian isinya.”
Celine menegakkan tubuh.
“Kau bilang tidak pernah melihat lampiran kedua.”
“Aku bilang aku belum bisa memastikan apa yang tertulis di dalamnya.”
“Itu bukan jawaban yang sama, Yuxin.”
Keheningan kembali menyelimuti percakapan mereka.
Akhirnya, Yuxin berkata dengan suara rendah, “Temui aku di ruang arsip lama. Ada sesuatu yang harus kujelaskan kepadamu sebelum orang lain menemukannya.”
Ruang arsip lama berada di lantai bawah gedung Shen Capital. Tempat itu jarang digunakan karena sebagian besar dokumen sudah dipindahkan ke penyimpanan digital.
Ketika Celine tiba, Yuxin sudah menunggu di depan sebuah lemari besi.
Wajahnya tampak pucat. Di tangannya terdapat map tipis yang dibungkus plastik transparan.
“Aku tidak pernah bermaksud menjadikanmu korban dari rahasia keluargaku,” kata Yuxin.
“Kalau begitu, berhentilah menyembunyikan kebenaran.”
Yuxin membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat salinan halaman laporan kematian Shen Guowei, lengkap dengan bagian yang sebelumnya tidak ditemukan.
Celine membacanya dengan saksama.
Laporan itu menyebutkan bahwa Shen Guowei ditemukan dalam kondisi kritis setelah sebuah pertemuan tertutup. William Wang tercatat sebagai orang terakhir yang melihatnya sebelum kejadian. Namun, pada bagian saksi tambahan, terdapat bekas penghapusan yang cukup jelas.
Di bawahnya, seseorang menuliskan sebuah nama dengan tinta berbeda.
Amelia Wang.
Celine merasa seolah lantai di bawah kakinya bergeser.
“Ibuku?”
Yuxin mengangguk perlahan.
“Nama itu tidak tercantum dalam salinan resmi yang beredar. Aku menemukannya bertahun-tahun lalu ketika memeriksa arsip keluarga. Aku tidak tahu apakah Amelia benar-benar berada di sana atau namanya sengaja ditambahkan untuk mengalihkan perhatian.”
“Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?”
“Karena aku belum bisa membuktikan keasliannya. Dan karena ada catatan lain yang menyebutkan bahwa saksi tersebut menarik keterangannya beberapa hari kemudian.”
Celine kembali memandangi nama ibunya.
Selama ini, ia percaya Amelia tidak memiliki hubungan langsung dengan kematian Shen Guowei. Ibunya memang pernah menyebut nama keluarga Shen dalam surat-surat lama, tetapi tidak pernah menjelaskan bahwa dirinya mungkin menjadi saksi dalam sebuah perkara yang berakhir dengan kematian.
“Siapa yang menghapus namanya?”
“Aku tidak tahu.”
“Siapa yang memaksanya menarik kesaksian?”
“Aku juga tidak tahu.”
Celine menutup mata sejenak, berusaha mengendalikan emosinya.
Ia ingin marah kepada Yuxin. Ingin menuntut jawaban yang seharusnya diberikan sejak awal. Namun, ia tahu bahwa kemarahan tidak akan mengubah dugaan menjadi fakta.
“Mulai sekarang, aku ingin semua dokumen diserahkan kepada Daniel untuk diperiksa secara independen,” katanya. “Tidak ada lagi salinan rahasia yang disimpan sendiri. Tidak ada lagi keputusan sepihak tentang apa yang boleh kuketahui.”
Yuxin mengangguk.
“Aku setuju.”
Sebelum Celine sempat bertanya lebih lanjut, pintu ruang arsip terbuka.
Seorang petugas keamanan masuk dengan napas terengah-engah.
“Nona Shen, Nona Wang, maaf mengganggu. Ada seseorang yang baru saja mencoba memasuki ruang server. Dia menggunakan kartu akses milik direktur strategi.”
Celine dan Yuxin saling menatap.
“Kartu akses siapa?” tanya Celine.
Petugas itu menelan ludah.
“Kartu milik Shen Yuxin.”
Yuxin langsung memeriksa tasnya. Kartu aksesnya masih berada di dalam dompet kecil.
“Mustahil. Kartuku ada di sini.”
Petugas keamanan mengeluarkan foto dari ponselnya.
Gambar itu memperlihatkan seseorang bertopi gelap berdiri di depan ruang server. Wajahnya tertutup masker, tetapi pada pergelangan tangannya terlihat sebuah gelang perak dengan liontin berbentuk bunga.
Celine membeku.
Ia pernah melihat gelang itu sebelumnya.
Bukan pada Yuxin. Bukan pula pada Evelyn.
Melainkan pada foto masa kecil Alexander Wu yang pernah ditunjukkan Daniel kepadanya.
Gelang yang sama, dengan liontin bunga yang sama.
Namun, Celine tidak langsung menyimpulkan bahwa Alexander terlibat. Foto itu terlalu buram, dan gelang semacam itu mungkin dimiliki lebih dari satu orang.
Ia meminta petugas menyimpan rekaman asli dan tidak menyebarkan gambar tersebut.
Saat mereka meninggalkan ruang arsip, ponsel Celine bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Sekarang kau tahu nama ibumu ada di laporan kematian Shen Guowei.
Pesan kedua menyusul.
Jika kau ingin mengetahui mengapa Amelia menarik kesaksiannya, tanyakan kepada Alexander tentang gelang perak yang pernah ia kenakan saat kecil.
Celine menatap layar dengan dada sesak.
Ia belum selesai memahami hubungan ibunya dengan Shen Guowei, tetapi seseorang sudah berusaha mengarahkannya kembali kepada Alexander.
Apakah itu petunjuk yang sesungguhnya?
Atau perangkap lain yang sengaja disusun untuk membuatnya mencurigai pria yang pernah dicintainya?
Celine memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Kali ini, ia tidak akan langsung menemui Alexander. Ia akan memeriksa asal gelang itu, menguji keaslian laporan, dan memastikan siapa yang mengakses arsip perusahaan.
Namun, satu pertanyaan terus menghantuinya sepanjang perjalanan menuju lift.
Jika Amelia benar-benar menjadi saksi dalam kematian Shen Guowei, mengapa ia memilih diam selama bertahun-tahun?
Dan jika seseorang mengancamnya hingga menarik kesaksian, apakah kematian ibunya beberapa tahun kemudian benar-benar hanya disebabkan oleh penyakit seperti yang selama ini dipercayai Celine?
Pintu lift terbuka.
Di dalamnya, seorang pria berdiri membelakanginya, mengenakan jas gelap dan memegang sebuah amplop putih.
Ketika pria itu berbalik, Celine mengenali wajahnya.
Alexander Wu.
Tatapan mereka bertemu, tetapi tidak ada senyum ataupun sapaan hangat di antara keduanya.
Alexander mengulurkan amplop itu.
“Aku menemukan sesuatu di arsip pribadi ayahku,” katanya. “Sesuatu yang seharusnya kuberikan kepadamu sejak awal.”
Celine tidak langsung mengambilnya.
“Apa isinya?”
Alexander menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Surat terakhir yang ditulis ibumu kepada ayahku.”
Dunia di sekitar Celine seolah berhenti bergerak.
Ia akhirnya menerima amplop itu, tetapi sebelum sempat membukanya, Alexander menambahkan dengan suara pelan,
“Celine, apa pun yang kau baca di dalamnya, jangan langsung percaya bahwa ayahku adalah satu-satunya orang yang harus kau salahkan.”
Celine menatap amplop di tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, ia merasa mungkin bukan hanya keluarga Wu yang menyembunyikan kebenaran dari dirinya.
Bisa jadi, ibunya sendiri telah memilih untuk menyembunyikan sesuatu.
Dan rahasia itu mungkin menjadi alasan mengapa tiga keluarga telah terikat dalam kebohongan selama lima belas tahun.