“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”
• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.
• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.
• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.
• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.
• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — Aturan Sang Don
Pagi di Villa Vieri datang bersama suara langkah para pengawal dan aroma kopi yang memenuhi lorong-lorong marmer.
Bianca Elena Laurent duduk di tepi ranjang, menatap liontin bulan sabit yang tergeletak di atas meja. Sejak menemukan foto ibunya bersama Alessandro Vieri, ia hampir tidak tidur. Bayangan pria tua itu, surat-surat rahasia, dan pesan misterius tentang ayah kandungnya terus berputar di kepalanya.
Namun, ada satu hal yang lebih mengganggunya daripada semua rahasia itu.
Dante tahu seseorang sedang mengawasinya.
Dan pria itu belum menceritakan seluruh kebenaran.
Ketukan keras terdengar dari pintu.
“Signora Bianca, Tuan Dante meminta Anda datang ke ruang kerjanya sekarang.”
Bianca menghela napas. “Tentu saja dia meminta.”
Ia mengenakan blus putih dan celana panjang hitam, mengikat rambutnya dengan sederhana, lalu melangkah keluar.
Jika Dante mengira dirinya akan menjadi istri penurut yang selalu mengikuti perintah, pria itu akan segera mengetahui betapa kelirunya anggapan tersebut.
Ruang kerja Dante berada di ujung koridor lantai dasar, di balik pintu kayu gelap yang dijaga dua pria bersenjata.
Ketika Bianca masuk, Dante sedang berdiri di dekat jendela dengan secangkir kopi di tangan. Di belakangnya, pemandangan taman yang luas terbentang di bawah matahari pagi.
Di atas meja terdapat beberapa lembar dokumen, sebuah ponsel, dan foto Bianca yang diambil dari balkon villa.
“Duduklah,” katanya tanpa menoleh.
Bianca tetap berdiri.
“Aku lebih suka mengetahui alasan mengapa aku dipanggil sebelum memutuskan apakah aku ingin duduk.”
Dante akhirnya berbalik. Kemeja hitamnya tergulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang berotot. Rambutnya sedikit berantakan, tetapi tatapan biru safirnya tetap tajam.
“Kau akan mendengarkan beberapa aturan.”
Bianca mengangkat alis. “Kita sedang membicarakan pernikahan atau penahanan?”
“Jangan menguji kesabaranku pagi-pagi.”
“Kalau begitu, jangan memulainya dengan memperlakukanku seperti tahanan.”
Dante meletakkan cangkirnya.
“Baiklah. Anggap ini kesepakatan antara suami dan istri.”
“Kesepakatan yang hanya kau buat sendiri?”
Sudut bibir Dante bergerak tipis. “Kau memang selalu harus memenangkan setiap percakapan?”
“Tidak. Aku hanya tidak suka kalah sebelum pertandingan dimulai.”
Untuk sesaat, Dante terlihat hampir tersenyum. Namun, ekspresi itu segera menghilang ketika ia menunjuk kursi di hadapannya.
Kali ini Bianca duduk.
“Dengarkan baik-baik,” ujar Dante. “Aturan pertama, kau tidak boleh meninggalkan villa tanpa memberi tahu pengawalku.”
“Bagaimana kalau aku ingin membeli kopi?”
“Kau bisa meminta seseorang membelikannya.”
“Bagaimana kalau aku ingin berjalan-jalan?”
“Kau bisa berjalan di taman.”
“Bagaimana kalau aku ingin mengunjungi toko buku?”
“Aku akan mengirim pengawal.”
Bianca menyandarkan punggungnya, menatap Dante dengan tidak percaya.
“Luar biasa. Aku menikah dengan seorang Don dan kehilangan hak untuk membeli buku sendirian.”
“Ini bukan permainan, Bianca.”
“Aku tahu. Permainan biasanya memiliki aturan yang disepakati kedua pihak.”
Dante mengetukkan jarinya ke meja, menahan kejengkelan.
“Orang yang mengambil fotomu mengetahui pergerakanmu. Aku tidak akan membiarkan mereka mendapatkan kesempatan kedua.”
Untuk pertama kalinya, Bianca tidak langsung membalas.
Ia teringat sosok yang mengawasinya dari kejauhan. Rasa takut memang ada, tetapi ia tidak ingin rasa takut itu menjadi alasan bagi Dante untuk mengendalikan setiap langkahnya.
“Aku bersedia menerima pengawalan jika ada ancaman nyata,” katanya. “Tetapi aku ingin tahu ke mana aku pergi, siapa yang mengikutiku, dan mengapa.”
Dante menatapnya lama.
“Baik.”
Bianca sedikit terkejut karena ia menyetujui permintaannya begitu cepat.
“Benarkah?”
“Jangan membuatku menyesal.”
“Tidak ada jaminan untuk itu, Don.”
Kali ini, Dante benar-benar tersenyum tipis.
“Peraturan kedua,” lanjut Dante. “Jangan memasuki sayap utara tanpa izinku.”
Senyum Bianca menghilang.
“Karena di sana ada foto ibuku bersama ayahmu?”
Keheningan langsung memenuhi ruangan.
Dante berjalan mendekati meja, lalu mengambil foto yang ditemukan Bianca malam sebelumnya.
“Aku seharusnya mengunci ruangan itu.”
“Itu bukan jawaban.”
“Alessandro menyimpan banyak hal di sana. Surat, dokumen, dan barang-barang pribadi yang belum sempat diperiksa.”
“Termasuk rahasia tentang ibuku?”
Dante menatap foto itu.
“Aku sedang mencari tahu.”
“Dan sampai kau menemukan jawabannya, aku harus berhenti bertanya?”
“Tidak.” Suara Dante terdengar lebih rendah. “Kau boleh bertanya. Tetapi aku tidak akan membiarkanmu mempertaruhkan nyawamu untuk mendapatkan jawaban.”
Bianca mengepalkan jemari di pangkuan.
“Jangan gunakan keselamatanku sebagai alasan untuk menyembunyikan segalanya dariku.”
Dante terdiam.
Ada sesuatu dalam suara Bianca yang membuatnya sulit membalas. Perempuan itu tidak sekadar marah karena dilarang. Ia sedang berusaha mempertahankan satu-satunya hal yang masih ia miliki: hak atas kebenaran tentang hidupnya sendiri.
“Peraturan ketiga,” kata Dante akhirnya. “Jika seseorang menghubungimu secara mencurigakan, kau harus memberitahuku.”
Jantung Bianca berdegup lebih cepat.
Pesan dari Piazza Navona kembali terlintas di benaknya.
“Bagaimana jika orang itu menawarkan informasi tentang keluargaku?”
“Terutama jika itu yang mereka lakukan.”
“Bagaimana jika informasi tersebut menyangkut ayah kandungku?”
Tatapan Dante berubah tajam.
“Apakah seseorang sudah menghubungimu?”
Bianca terdiam sesaat.
Ia bisa berbohong. Ia bisa menyangkal semuanya dan menunggu kesempatan untuk pergi ke Piazza Navona sendirian.
Namun, tatapan Dante membuat kebohongan terasa lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
“Belum ada yang bisa kubuktikan,” jawabnya hati-hati.
Dante jelas tidak puas.
“Bianca.”
“Aku tidak akan membicarakan sesuatu yang bahkan belum kupahami.”
Dante mendekat, berhenti tepat di hadapannya.
“Aku tidak bisa melindungimu jika kau terus menyembunyikan sesuatu.”
Bianca mendongak.
“Dan aku tidak bisa memercayaimu jika kau terus menganggapku tidak mampu melindungi diriku sendiri.”
Mereka saling menatap dalam keheningan yang menegangkan.
Akhirnya Dante mundur satu langkah.
“Setidaknya, berjanjilah kau tidak akan pergi sendirian.”
Bianca tidak menjawab.
Sebab ia sudah tahu bahwa besok malam, ia mungkin harus melanggar permintaan itu.
Menjelang siang, Bianca berjalan menuju ruang baca bersama Sofia, seorang pelayan muda yang bertugas di lantai dua. Ia ingin memeriksa beberapa buku lama tentang keluarga Vieri, berharap menemukan nama Elena atau Alessandro dalam catatan sejarah keluarga.
Namun, sebelum mereka mencapai tangga, dua pria berpakaian gelap menghadang jalan.
“Maaf, Signora. Tuan Dante meminta kami mengantar Anda kembali ke kamar.”
Bianca berhenti.
“Aku hendak pergi ke ruang baca.”
“Sayap itu sedang diperiksa, Signora.”
“Diperiksa untuk apa?”
Kedua pria itu saling pandang.
Tidak ada yang menjawab.
Bianca merasakan kemarahan mulai naik.
“Namaku Bianca Laurent. Aku istri Dante Vieri, bukan tahanannya. Jika ada alasan keamanan, aku berhak mengetahuinya.”
Salah satu pengawal menundukkan kepala sedikit.
“Perintah kami hanya untuk memastikan keselamatan Anda.”
“Kalau begitu, hubungi suamiku dan tanyakan apakah keselamatan berarti aku tidak boleh membaca buku.”
Sofia menahan napas di sampingnya.
Sebelum pengawal itu sempat menjawab, suara Dante terdengar dari belakang.
“Biarkan dia lewat.”
Kedua pria itu segera menyingkir.
Dante berjalan menghampiri Bianca dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Aku baru saja memberi perintah agar kau tidak dibatasi tanpa alasan.”
“Dan mereka baru saja memberiku alasan untuk meragukan seberapa baik perintahmu dipahami.”
“Aku akan menangani mereka.”
“Tidak perlu. Aku hanya ingin ke ruang baca.”
Dante mengangguk kepada Sofia agar pergi, kemudian menatap Bianca.
“Kau tidak takut kepadaku?”
Pertanyaan itu terdengar begitu tiba-tiba hingga Bianca membutuhkan waktu untuk menjawab.
“Aku takut pada apa yang bisa kau lakukan,” katanya jujur. “Tetapi itu tidak berarti aku akan membiarkanmu menentukan siapa diriku.”
Dante menatapnya dalam-dalam.
“Sebagian besar orang di rumah ini mematuhiku tanpa bertanya.”
“Aku bukan sebagian besar orang.”
“Aku menyadarinya.”
Ada kehangatan samar dalam suaranya yang membuat Bianca kehilangan kata-kata selama beberapa detik.
Dante mengulurkan tangan, seolah hendak menyentuh pipinya, tetapi berhenti sebelum jemarinya sampai.
“Aku tidak ingin kau terluka,” katanya.
Bianca memandang tangan itu, lalu kembali menatap wajahnya.
“Kalau begitu, jangan membuatku merasa bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan kebenaran adalah dengan melarikan diri darimu.”
Untuk sesaat, Dante terlihat seperti pria yang tidak memiliki jawaban.
Lalu ia menurunkan tangannya.
“Kita akan mencari tahu apa yang terjadi pada Elena. Bersama-sama.”
Bianca ingin memercayai janji itu.
Sungguh.
Namun, ia masih menyimpan pesan yang belum diketahui Dante.
Dan waktu terus berjalan menuju malam pertemuan di Piazza Navona.
Sore harinya, ketika Bianca kembali ke kamar, ia menemukan sebuah amplop hitam di bawah pintu.
Tidak ada nama pengirim.
Dengan hati-hati, ia membukanya.
Di dalamnya terdapat selembar foto lama yang memperlihatkan Elena sedang menggendong seorang bayi. Di sampingnya berdiri Alessandro Vieri, wajahnya terlihat lebih muda daripada dalam foto-foto lainnya.
Pada bagian belakang foto, seseorang menulis dengan tinta merah:
Dante hanya mengetahui separuh kebenaran. Jika kau ingin mengetahui siapa ayahmu, datanglah ke Piazza Navona besok pukul sembilan malam.
Bianca menahan napas.
Di bawah tulisan itu terdapat sebuah kalimat tambahan.
Dan jika kau memberi tahu sang Don, kau tidak akan pernah melihat Adrian lagi.
Jari-jarinya mulai gemetar.
Adrian masih hidup.
Atau setidaknya, pengirim pesan itu ingin membuatnya percaya demikian.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah di lorong.
Bianca segera menyembunyikan foto tersebut di balik buku yang tergeletak di meja.
Pintu terbuka.
Dante berdiri di sana, menatapnya dengan mata biru yang seolah mampu membaca setiap rahasia yang berusaha disembunyikannya.
“Ada sesuatu yang harus kau ketahui,” katanya.
Bianca menegakkan tubuh.
“Apa?”
Dante mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto dari kamera pengawas. Foto itu menunjukkan seorang pria memasuki gerbang belakang villa beberapa jam sebelumnya.
Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi Bianca mengenali cincin yang melingkar di tangannya.
Lambang delapan kelopak.
“Orang ini bekerja untuk Luciano,” ujar Dante. “Dan dia baru saja mengirim pesan kepada adikku.”
Bianca merasakan darahnya seolah membeku.
“Apa isi pesannya?”
Dante mengangkat wajah, sorot matanya menggelap.
“Dia mengatakan bahwa kau sudah menemukan foto Elena dan Alessandro.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Luciano sekarang tahu bahwa kau mulai mendekati rahasia yang bisa menghancurkan keluarga kami.”
Di balik buku, foto bayi itu terasa seperti bara api yang siap membakar seluruh hidup Bianca.
Aturan sang Don ternyata bukan sekadar tentang keselamatan.
Ada perang yang sedang bergerak mendekati mereka.
Dan Bianca mulai menyadari bahwa untuk menemukan kakaknya, ia mungkin harus menghadapi dua saudara Vieri sekaligus—pria yang telah menjadi suaminya, dan pria yang menginginkan kehancurannya.
jangan lupa mampirr🤭