OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Nadira selalu percaya bahwa pekerjaan seorang jurnalis tidak mengenal kata selesai sebelum artikelnya terbit.
Sayangnya, pekerjaan itu juga tidak mengenal belas kasihan ketika ia harus menghadapi komputer yang mendadak lambat, kopi yang sudah dingin, dan narasumber yang entah kenapa terus muncul dalam pikirannya.
Terutama narasumber bernama Raka Adhitama.
Nadira menatap layar laptopnya. Artikel tentang peluncuran turnamen nasional hampir selesai. Ia sudah menulis tentang persiapan ASTRAL, persaingan antartim, dan perubahan strategi yang mungkin memengaruhi kompetisi tahun ini.
Semuanya berjalan lancar.
Sampai ia tiba di bagian wawancara bersama Raka.
Ia mengetik satu kalimat, membacanya, lalu menghapusnya.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
“Kenapa sih harus dia?” gumamnya.
“Karena dia kapten tim yang paling banyak dibicarakan saat ini?”
Nadira menoleh cepat.
Sahabatnya, Keisha, berdiri di ambang pintu apartemen sambil membawa dua kantong makanan. Perempuan itu memiliki kebiasaan datang tanpa pemberitahuan, biasanya dengan alasan ingin menghemat ongkos pengiriman makanan.
“Kamu punya kunci rumahku, bukan hak untuk membaca pikiranku,” kata Nadira.
Keisha meletakkan makanan di meja.
“Sayangnya, wajahmu lebih gampang dibaca daripada pikiranmu.”
“Aku sedang bekerja.”
“Dan aku sedang mengamati seorang jurnalis yang biasanya bisa menulis tiga artikel tanpa mengeluh, tetapi sekarang menghabiskan dua puluh menit untuk memikirkan satu pemain esports.”
Nadira menutup laptopnya.
“Aku tidak memikirkan dia.”
“Bagus. Berarti kamu tidak keberatan kalau aku bilang dia tampan?”
“Keisha.”
“Profesional, terkenal, pintar bicara—”
“Manipulatif.”
“Punya senyum bagus—”
“Menjengkelkan.”
“Dan memberimu air mineral.”
Nadira terdiam.
Keisha langsung menunjuknya dengan kemenangan di wajah.
“Nah! Itu dia. Ekspresi itu.”
“Ekspresi apa?”
“Ekspresi seseorang yang masih mengingat botol air mineral seolah-olah itu hadiah ulang tahun.”
Nadira mengambil bantal sofa dan melemparkannya.
Keisha tertawa sambil menghindar.
“Aku hanya bilang, hati-hati. Kamu boleh menganggap dia menarik, tapi jangan sampai pekerjaanmu terpengaruh.”
Tawa Nadira perlahan mereda.
“Aku tahu.”
Keisha duduk di sampingnya. “Serius. Kamu sudah bekerja keras untuk membangun reputasimu. Jangan biarkan siapa pun membuatmu kehilangan objektivitas.”
Nadira mengangguk.
Itulah yang paling ia khawatirkan.
Bukan karena ia yakin menyukai Raka. Jauh dari itu. Ia bahkan belum bisa memutuskan apakah pria itu lebih menyebalkan ketika sedang tersenyum atau ketika sengaja bersikap tenang.
Masalahnya, Raka mulai terasa seperti seseorang yang ingin ia pahami.
Dan bagi Nadira, rasa ingin tahu adalah awal dari masalah yang biasanya sulit dihentikan.
Keesokan harinya, Nadira menerima undangan untuk menghadiri sesi latihan terbuka ASTRAL menjelang turnamen nasional.
Ia hampir menolaknya.
Namun, redakturnya mengirim pesan singkat yang membuat keputusan itu berubah.
Cari sudut pemberitaan yang berbeda. Jangan cuma menulis soal performa mereka. Cari tahu bagaimana tim ini bekerja di luar pertandingan.
Nadira membaca pesan itu dua kali.
Baiklah.
Kalau memang harus kembali ke markas ASTRAL, setidaknya kali ini ia datang dengan tujuan yang jelas.
Mengamati tim.
Bukan memperhatikan kaptennya.
Begitu tiba, ia disambut Arman yang langsung mengajaknya menuju ruang latihan.
“Raka sudah tahu kamu datang,” kata Arman.
“Semoga dia tidak menyiapkan pidato pembelaan untuk artikel berikutnya.”
“Dia justru yang meminta agar kamu boleh mengamati sesi latihan.”
Nadira berhenti melangkah.
“Dia?”
Arman mengangguk.
“Katanya, kalau kamu ingin menilai cara tim ini bekerja, kamu harus melihatnya langsung.”
Nadira mengerjapkan mata.
Itu masuk akal.
Dan ia tidak suka ketika Raka melakukan sesuatu yang masuk akal karena hal itu membuatnya kehilangan kesempatan untuk menyindir.
“Dia juga bilang kamu boleh bertanya kepada anggota tim setelah latihan,” tambah Arman.
“Wah. Kebaikan hati yang luar biasa.”
“Jangan bilang begitu di depannya. Nanti dia minta ucapan terima kasih tertulis.”
Nadira tertawa kecil.
Ketika mereka memasuki ruang latihan, suara keyboard dan komunikasi antarpemain langsung memenuhi ruangan. Beberapa monitor menampilkan permainan yang sedang berlangsung, sementara anggota tim sibuk mendiskusikan strategi.
Raka duduk di kursi kapten dengan headset terpasang.
“Bima, jangan maju sendirian. Tunggu rotasi.”
“Kalau aku menunggu terus, kita kehilangan objektif!”
“Kalau kamu maju sekarang, kita kehilangan kamu.”
Bima mendecakkan lidah, tetapi mengikuti instruksi.
Nadira memperhatikan dari belakang.
Raka tidak berbicara dengan nada tinggi. Ia juga tidak mempermalukan rekannya ketika terjadi kesalahan. Sebaliknya, ia memberikan instruksi singkat, menjelaskan prioritas, lalu menyesuaikan strategi berdasarkan situasi.
Ketika tim mereka kalah dalam satu ronde, Raka melepas headset.
“Kita ulang. Kesalahan tadi bukan cuma di posisi Bima. Aku terlambat membaca pergerakan lawan.”
Bima menoleh kepadanya.
“Serius? Kamu tidak akan menyalahkanku?”
“Kalau aku mau mencari kambing hitam, aku bisa memelihara kambing sungguhan.”
Salah satu anggota tim tertawa.
Bima mengangkat kedua tangan. “Baiklah, Kapten. Aku akan berusaha menjadi kambing yang lebih berguna.”
Nadira menahan senyum.
Raka kemudian menjelaskan perubahan strategi mereka. Kali ini, setiap pemain mendapatkan peran yang lebih jelas. Mereka mengulang ronde tersebut, berkomunikasi lebih baik, dan akhirnya berhasil membalikkan keadaan.
Ketika sesi latihan berakhir, Raka baru menyadari Nadira berdiri di belakangnya.
“Bagaimana?” tanyanya sambil melepas headset.
Nadira melipat tangan.
“Tidak buruk.”
Raka menghela napas dramatis. “Pujian yang begitu tulus sampai aku hampir terharu.”
“Jangan terburu-buru. Aku masih punya catatan.”
“Tentu saja.”
“Kamu cukup baik dalam mengakui kesalahan sendiri. Itu membantu membangun kepercayaan tim.”
Raka menatapnya, kali ini tanpa senyum mengejek.
“Terima kasih.”
Nadira sedikit terkejut karena ia tidak menambahkan komentar menyebalkan setelahnya.
Lalu Raka berkata, “Aku akan mencatat hari ini. Nadira Prameswari memuji Vex dua kali dalam satu minggu.”
“Batalkan catatanmu.”
“Sudah tersimpan di ingatan.”
“Aku bisa membuatmu menyesal.”
Raka tersenyum.
“Aku tidak meragukannya.”
Setelah sesi wawancara singkat dengan beberapa pemain, Nadira keluar dari ruang latihan untuk mencari udara segar. Ia sedang memeriksa hasil rekamannya ketika mendengar suara seseorang dari lorong.
“Tidak, Ayah. Aku sudah bilang, aku akan mengurusnya.”
Langkah Nadira terhenti.
Suara Raka terdengar lebih rendah daripada biasanya. Tidak ada nada santai atau ejekan yang biasa menyertainya.
“Aku tahu apa yang Ayah inginkan,” lanjutnya. “Tapi aku tidak akan meninggalkan tim hanya karena Ayah menganggap ini membuang waktu.”
Nadira menunduk, menyadari bahwa ia mungkin tidak seharusnya mendengar percakapan itu.
Ia hendak berbalik ketika Raka kembali berbicara.
“Aku sudah membuat keputusan. Tolong jangan mengirim siapa pun lagi untuk membujukku.”
Hening sesaat.
“Baik. Aku akan datang ke pertemuan itu. Tapi bukan berarti aku setuju.”
Panggilan berakhir.
Nadira buru-buru berpura-pura sibuk dengan ponselnya ketika Raka keluar dari ruangan.
Namun, pria itu sudah melihatnya.
“Kamu mendengar semuanya?”
Pertanyaannya terdengar datar.
Nadira memasukkan ponsel ke tas.
“Tidak semuanya. Dan aku tidak berniat bertanya.”
Raka menatapnya beberapa detik.
“Bagus.”
Ia hendak berjalan melewati Nadira, tetapi perempuan itu tiba-tiba berbicara.
“Raka.”
Langkahnya berhenti.
“Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, dan aku tidak akan berpura-pura tahu. Tapi kalau kamu sedang menghadapi masalah, kamu tidak harus menjelaskan apa pun kepadaku.”
Raka menoleh perlahan.
Untuk sesaat, ekspresinya tampak kehilangan pertahanan yang biasa ia kenakan seperti baju zirah.
Lalu ia tersenyum tipis.
“Tumben sekali kamu tidak penasaran.”
“Aku punya rasa ingin tahu, bukan tidak punya sopan santun.”
“Sulit membedakannya kalau berurusan denganmu.”
“Kalau begitu, anggap saja ini pengecualian.”
Raka terdiam.
Ia tidak terbiasa dengan orang yang menawarkan ruang tanpa menuntut penjelasan sebagai gantinya.
Sebagian besar orang ingin mengetahui urusannya, meminta sesuatu, atau mencoba menebak apa yang tersembunyi di balik namanya.
Nadira justru menawarkan untuk tidak bertanya.
Dan entah mengapa, itu membuatnya ingin bercerita.
Keinginan yang segera ia tekan.
“Terima kasih,” katanya akhirnya.
Nadira mengangguk. “Sama-sama.”
Mereka berdiri dalam keheningan singkat sebelum Raka kembali menemukan cara untuk merusak suasana.
“Tapi jangan berharap aku akan menjawab pertanyaanmu berikutnya semudah ini.”
Nadira mendengus.
“Tenang. Aku tidak pernah mengharapkan kemudahan darimu.”
“Bagus. Kita sepakat.”
“Sayangnya, itu mungkin satu-satunya hal yang kita sepakati.”
Raka tersenyum kecil, lalu berjalan kembali menuju ruang latihan.
Nadira memperhatikannya sebentar sebelum mengalihkan pandangan.
Ia datang untuk menulis tentang sebuah tim esports.
Namun, hari itu ia menyadari sesuatu yang tidak tercantum dalam catatan wawancaranya.
Raka Adhitama bukan sekadar pria arogan yang terlalu percaya diri.
Ada bagian dari dirinya yang selalu ia sembunyikan, bahkan dari orang-orang terdekatnya.
Dan untuk pertama kalinya, Nadira tidak ingin membongkar rahasia itu hanya demi sebuah artikel.
Ia ingin tahu karena alasan yang jauh lebih berbahaya.
Ia mulai peduli.