NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Hari Kiamat / Zombie
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?

Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.

Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Sementara di sisi lain, di dalam markas sementara militer di puncak bukit pemancar, suasana terasa begitu mencekam.

Marcus melempar pecahan tabung kaca kedua ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Cairan jernih 'Genesis' merembes sia-sia di atas lantai semen yang dingin. Wajahnya merah padam, dadanya membusung naik-turun menahan amarah yang membakar.

"Sialan! Kenapa tidak ada reaksi apa pun?!" raung Marcus memecah keheningan.

Di depannya, seorang teknisi medis Aegis Corp gemetar ketakutan, berlutut di samping meja laboratorium portabel dengan mikroskop yang masih menyala.

"M-maafkan saya, Komandan," gagap teknisi itu dengan suara bergetar. "Hasil pemindaian molekuler tetap sama. Formula dalam vaksin ini sama sekali pasif. Senyawa proteinnya tidak bereaksi atau membelah diri seperti yang tertulis di dokumen proyek. Vaksin ini... seperti sampel mati."

"Mati kamu bilang?!" Marcus merengkuh kerah baju teknisi itu dan mengangkatnya hingga setinggi dada. "Aku sudah mengorbankan seluruh pasukanku! Aku bertaruh nyawa menghadapi Vihaan cuma buat mendapatkan cairan ini! Dan kamu bilang ini tidak berguna?!"

"P-pasti ada komponen kunci yang hilang, Komandan!" pangkas teknisi itu panik, matanya terbelalak ketakutan. "Struktur genetiknya membutuhkan pemicu spesifik... Katalis eksternal agar rantai proteinnya aktif! Tanpa pemicu itu, tiga tabung ini cuma cairan biasa!"

Marcus melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga sang teknisi tersungkur ke lantai. Matanya tertuju pada satu-satunya tabung 'Genesis' yang tersisa di dalam kotak baja terbuka—botol terakhir yang menjadi harapan tunggalnya.

Marcus memandangi tabung itu dengan napas memburu dan gigi tergetar. Ujung jemarinya mengusap kaca dingin botol tersebut, sementara otaknya berputar cepat memproses kenyataan pahit ini.

"Pemicu..." desis Marcus dingin, menyadari bahwa Dr. Aris Dominic pasti telah menyembunyikan rahasia terbesarnya. "Seseorang telah mengunci vaksin ini. Dan aku yakin Hayden Vihaan tahu cara membukanya."

Marcus menyambar tabung terakhir itu dengan hati-hati, memasukkannya kembali ke dalam kantong taktis kedap udara di dadanya. Senyum tipis yang penuh kebiasan mendadak terukir di wajahnya yang bersimbah keringat.

"Siapkan seluruh sisa pasukan yang ada di fasilitas ini," perintah Marcus dingin pada ajudannya yang langsung berdiri tegap. "Pasang barikade di perimeter luar bukit. Hayden Vihaan tidak bodoh. Dia pasti tahu aku ada di sini, dan dia pasti akan datang membawa kunci yang kuharuskan ada."

"Siap, Komandan!" jawab sang ajudan sebelum bergegas keluar menyebarkan perintah.

Sementara itu, di rute menanjak menuju puncak bukit pemancar, *Armored Rover* milik Hayden membelah kabut tebal pegunungan. Hayden mencengkeram lingkar kemudi dengan erat, matanya fokus menatap jalanan terjal di depan. Di kursi penumpang, Fiora memeluk Leo yang tertidur lelap, sementara senapan serbu cadangan bersandar di pangkuan gadis itu.

"Kita hampir sampai," ujar Hayden pelan, memecah keheningan kabin. "Marcus pasti sudah menyadari bahwa vaksin itu tidak bekerja. Saat seseorang yang terdesak menyadari dia memegang barang tidak berguna, dia akan menjadi jauh lebih berbahaya dan nekat."

"Aku siap," sahut Fiora mantap, memperketat pegangannya pada senapan. "Aku tidak akan membiarkan orang itu menyentuh Leo atau merusak satu-satunya harapan yang kita miliki."

Mobil baja itu akhirnya berhenti di balik rimbunnya pepohonan, beberapa ratus meter dari gerbang utama kompleks pemancar militer. Hayden mematikan mesin, mencabut pistol dari sarungnya, lalu menoleh ke belakang untuk menatap Fiora dan Leo.

"Tetap di sini sampai aku memastikan perimeter aman," bisik Hayden penuh penekanan. "Begitu aku memberi sinyal, bawa kaset catatan ayahmu dan menyusul masuk. Hari ini, aksi Marcus berakhir."

Hayden membuka pintu mobil tanpa suara, mengokang senapannya, lalu menyusup masuk ke balik kabut malam—siap melancarkan serangan pamungkasnya.

Hayden bergerak bagaikan bayangan di antara pekatnya kabut malam. Mengandalkan peredam suara di ujung senapannya, ia melumpuhkan dua penjaga Aegis di perimeter luar tanpa menimbulkan kegaduhan sedikit pun. Langkahnya mantap, tanpa ragu sedikit pun menuju bangunan utama kompleks pemancar militer.

Begitu berhasil menembus area interior yang redup, Hayden mendapati koridor utama dalam keadaan hening. Namun, insting tempurnya memberi peringatan keras.

*CLINK.*

Suara logam kecil menabrak lantai semen bergema pelan dari balik pilar tengah. Hayden refleks melompat mundur dan berlindung di balik dinding beton tebal.

*BOOM!*

Ledakan ranjau darat meletus, menghancurkan pilar dan menebarkan debu tebal ke seluruh ruangan. Di saat yang sama, muntahan peluru kaliber berat langsung memberondong posisi tempat Hayden bersembunyi.

"Aku tahu kamu bakal datang, Vihaan!" suara Marcus memecah kepulan debu, bergema dingin dari balik barikade meja besi di ujung ruangan. "Aku memecahkan dua botol itu untuk menyadarinya... Vaksin ini cuma sampah tanpa pemicu!"

Hayden mengisap napas dalam-dalam, mengabaikan debu yang menyesakkan paru-parunya. Ia mengintip sedikit dari balik dinding, membalas tembakan dengan tiga hentakan presisi yang memaksa anak buah Marcus menunduk.

"Kamu yang membuang-buang waktumu sendiri, Marcus!" teriak Hayden dingin, suara dan pijakannya mantap. "Kamu memburu benda yang bahkan tidak pernah kamu pahami!"

"Tapi kamu paham, kan?!" balas Marcus seraya mengarahkan senapannya secara brutal. "Berikan pemicunya padaku! Atau aku ledakkan seluruh bangunan ini beserta pemancar di atasnya!"

Hayden memanfaatkan jeda saat musuh melekukan *reload*. Ia keluar dari celah pelindung, melancarkan rentetan tembakan akurat yang menumbangkan dua prajurit Aegis terakhir di sisi Marcus.

Kini, hanya tersisa Marcus seorang diri.

Marcus mencabut tabung 'Genesis' terakhir dari saku taktisnya, menggenggamnya rapat-rapat dengan satu tangan, sementara tangan satunya mengarahkan pistol kaliber besar tepat ke arah dada Hayden yang terus melangkah mendekat.

"Satu langkah lagi, Vihaan," desis Marcus dengan napas memburu dan mata menyalang gila, "dan aku hancurkan botol terakhir ini ke tanah!"

Hayden menghentikan langkahnya, menatap lurus ke arah tabung kaca di genggaman Marcus. Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu tegang, hanya diisi oleh deru napas mereka berdua.

"Turunkan senjatamu, Vihaan!" raung Marcus gila, cengkeramannya pada botol terakhir itu makin memperlihatkan keputusasaannya. "Beri aku pemicunya, atau kita berdua tidak akan mendapatkan apa-apa!"

"Sudah berakhir, Marcus," sahut Hayden dingin, suaranya menusuk. "Tidak ada lagi penawaran."

Marcus tertawa sumbang, kepalanya menggeleng histeris. "Kalau aku tidak bisa memilikinya, maka dunia juga tidak boleh!"

Jemari Marcus perlahan mengencang, siap meremukkan tabung kaca tipis itu dengan tangan telanjangnya. Sebelum tekanan itu menghancurkan botol Genesis, Hayden menarik pelatuk senapannya tanpa ragu.

*BANG!*

Peluru menembus tepat di tengah dada Marcus. Tubuh mantan komandan Aegis itu terhentak hebat, matanya membelalak kaget saat kekuatannya tersedot habis dalam sekejap. Namun, dalam refleks terakhir kematiannya, genggaman Marcus lepas.

Botol kaca berisi cairan jernih 'Genesis' itu jatuh meluncur bebas dari jemarinya.

*PRANG!*

Suara pecahnya kaca memecah keheningan dengan begitu nyaring. Tabung terakhir itu hancur berkeping-keping di atas lantai semen yang dingin. Cairan langka yang menjadi satu-satunya harapan peradaban merembes cepat, menyatu dengan genangan darah Marcus yang baru saja ambruk tak bernyawa.

Hayden menjatuhkan senapannya ke lantai. Ia menerjang maju, berlutut di tengah genangan cairan tersebut, mencoba menggapai pecahan kaca yang kini tak menyisakan satu tetes pun vaksin utuh.

"TIDAK! TIDAK, TIDAK, TIDAK!"

Jeritan histeris meledak dari tenggorokan Hayden, menggema keras memantul di dinding-dinding beton bangunan militer itu. Ia mencengkeram kepalanya, meremas rambutnya sendiri seraya menatap pecahan kaca yang berserakan. Seluruh perjuangan, penderitaan, dan luka yang ia tanggung selama ini hancur begitu saja dalam hitungan detik.

Harapan terakhir untuk menyelamatkan dunia telah musnah bersama kematian Marcus.

1
Coco
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!