NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Dan tiba-tiba,

ponsel Shirin yang berada di genggamannya bergetar dan berdering nyaring, menampilkan nama "Bang Gavin" di layarnya.

....Kami berdua sempat saling lempar pandang sejenak karena terkejut dengan kebetulan yang begitu pas ini. Shirin langsung menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan tersebut sambil menyalakan mode speaker.

"Halo, Bang? Baru aja Rin mau telepon—"

"Rin, kamu masih di rumah Aurel?" potong suara Bang Gavin dari seberang telepon. Suaranya tidak terdengar santai seperti biasanya, melainkan ada nada panik dan napas yang memburu, seperti seseorang yang baru saja berlari.

"Iya, masih. Ini baru selesai makan BBQ. Kenapa, Bang?" tanya Shirin, dahinya mulai berkerut heran mendengar nada suara kakaknya. Aku dan Mommy pun ikut terdiam, mendengarkan dengan saksama.

"Syukurlah kalau belum pulang," terdengar suara helaan napas lega yang berat dari Bang Gavin. "Rin, jangan pulang dulu. Kamu menginap saja di rumah Aurel malam ini. Tolong mintakan izin ke Om Wira dan Tante."

Shirin membelalakkan matanya, menatapku dan Mommy bergantian dengan bingung. "Lho, emang ada apa, Bang? Kebetulan ini Tante juga baru aja nyuruh Rin menginap. Ada masalah di rumah?"

Hening sejenak di seberang sana. Hanya terdengar suara gemerisik angin malam dan suara pintu mobil yang ditutup dengan keras.

"Pipa air utama di lantai atas rumah kita pecah, Rin. Airnya merembes sampai ke langit-langit ruang tengah dan kamar kamu," jelas Bang Gavin dengan nada frustrasi yang tertahan. "Sekarang rumah lagi kacau banget. Petugas reparasi baru bisa datang besok pagi karena sudah kemalaman. Kakak iparmu saja terpaksa mengungsi sementara ke rumah orang tuanya karena kamarnya basah semua. Jadi, daripada kamu pulang dan kamarmu nggak bisa ditempati, lebih baik kamu di sana dulu."

Mommy yang mendengar hal itu langsung merebut sedikit kedekatan dengan ponsel Shirin. "Ya ampun, Gavin! Ya sudah, biarkan Shirin menginap di sini saja. Kamu sendiri bagaimana? Kenapa nggak ikut menginap di sini sekalian?"

"Eh, Tante," sahut Gavin, suaranya melunak penuh rasa hormat. "Nggak apa-apa, Tan. Gavin harus tetap di rumah buat mengawasi barang-barang dan nunggu tukang besok pagi. Terima kasih banyak ya, Tan, sudah mau menampung Shirin malam ini.

"Seperti sama siapa saja kamu ini. Ya sudah, kamu hati-hati di rumah ya, Gav," ujar Mommy hangat.

Setelah panggilan ditutup, Shirin mengembuskan napas panjang, sementara aku tidak bisa menyembunyikan binar bahagia di wajahku. Di balik musibah pipa bocor rumah Shirin, diam-diam aku merasa egois karena merasa diselamatkan oleh keadaan. Malam ini, aku benar-benar butuh seseorang di sisiku.

"Tuh kan, Rin! Berarti semesta memang mendukungmu buat menginap di sini," seruku, mencoba melupakan sejenak sesak di dada akibat tatapan penuh perhatian Bang Edward pada Kak Anita yang sempat kulihat di sudut meja makan tadi.

"Iya deh, iya. Dasar anak manja," goda Shirin sambil mencubit pipiku, meski kilatan penuh selidik di matanya memberi tahu bahwa drama toilet tadi belum sepenuhnya selesai.

Kami pun segera berpamitan kepada orang tua dan melangkah menuju kamarku di lantai dua. Namun, saat melewati lorong dekat tangga, langkahku mendadak terhenti ketika melihat sesosok tubuh tinggi sedang berdiri di sana, bersandar pada pilar kayu sambil melipat kedua tangan di dada.

Bang Edward. Dia belum pulang. Dan tatapannya langsung tertuju lurus padaku

"Rin, kamu duluan saja ke kamar, ya? Nanti aku menyusul," bisikku pelan pada Shirin.

...Shirin sempat melirik ke arah Bang Edward, lalu beralih menatapku dengan tatapan penuh arti—campuran antara khawatir dan peringatan agar aku tidak berbuat nekat. Namun, pada akhirnya dia mengangguk kecil.  "Jangan lama-lama, Rel. Aku tunggu di dalam," ucapnya sebelum melangkah melewatiku dan masuk ke dalam kamar, menyisakan aku yang kini berdiri kaku di lorong yang remang.

Jantungku berdegup dua kali lebih cepat saat Bang Edward menegakkan posisinya dan melangkah mendekat. Bayangan tubuhnya yang tinggi besar seolah mengunci pergerakanku.

"Aurel  kira kamu sudah pulang sama Kak Anita," ujarku memecah keheningan, berusaha menjaga agar nadaku terdengar sebiasa mungkin, meski tanganku diam-diam meremas ujung bajuku sendiri.

"Anita lagi di toilet bawah, sebentar lagi kami pulang," jawab Bang Edward. Suaranya terdengar rendah dan berat di lorong yang sepi itu. Tatapan matanya yang tajam menelisik wajahku, membuatku langsung membuang muka ke arah lantai.

"Rel, tatap Abang," pintanya lembut, namun penuh penekanan.

Mau tak mau, aku mengangkat wajahku.

"Abang tahu kamu bohong soal kelilipan tadi," tembaknya langsung tanpa basa-basi. Dia melangkah satu langkah lebih dekat, hingga aku bisa mencium samar aroma parfum maskulinnya yang selalu berhasil membuat hatiku kacau. "Kamu menangis di toilet, diam sepanjang makan malam, dan sekarang kamu bahkan nggak berani menatap mata Abang. Ada apa, Rel? Siapa yang membuatmu sedih? Cerita sama Abang."

Mendengar desakan yang begitu tulus sekaligus protektif itu, rasa sesak di dadaku rasanya ingin meledak. Kamu, Bang! Kamu yang membuatku seperti ini! teriakku dalam hati. Rasanya sungguh ironis melihat orang yang mematahkan hatiku justru menjadi orang yang paling cemas melihatku terluka.

"Nggak ada apa-apa, Bang Edward. Aurel cuma lagi capek aja, beneran," kilahku lagi, memaksakan sebuah senyuman tipis yang terasa begitu getir di bibirku. "Abang nggak usah berlebihan deh. Lebih baik Abang samperin Kak Anita, kasihan kalau dia nungguin lama."

"Edward, Sayang? Ayo, aku sudah siap.

"Suara Kak Anita yang tiba-tiba muncul dari arah tangga menyelamatkanku dari situasi yang kian menghimpit ini. Kami berdua serentak menoleh. Kak Anita berjalan mendekat sambil tersenyum manis, lalu langsung menggelayut manja di lengan Bang Edward.

"Eh, Aurel belum tidur?" sapa Kak Anita ramah.

"Ini mau masuk kamar, Kak," jawabku cepat, merasa lega sekaligus perih melihat betapa serasinya mereka berdua. "Aurel duluan ya, Kak Anita, Bang Edward."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari Bang Edward, aku segera berbalik dan berjalan cepat menuju kamarku. Aku bisa merasakan tatapan mata Bang Edward yang terus mengiringi langkahku hingga aku membuka pintu kamar dan menutupnya dengan rapat.

Cklek.

Begitu pintu terkunci, aku menyandarkan punggungku di sana. Napas yang sejak tadi kutahan kini keluar dengan memburu, bersamaan dengan setetes air mata yang akhirnya lolos membasahi pipiku.

Shirin menggenggam jemariku, menyalurkan kehangatan yang amat kubutuhkan saat ini. "Rel, yang sabar, ya? Dari awal aku sudah bilang, kamu harus melupakan dia."

Nada suaranya melembut, seolah takut kalimat berikutnya akan kembali menggores hatiku. "Dia hanya menganggapmu adik, Rel. Enggak lebih dari itu."

Melihatku yang masih bergeming, Shirin mencoba mencairkan suasana. "Atau begini saja, bagaimana kalau aku carikan kamu cowok? Siapa tahu dengan ada orang baru, kamu bisa benar-benar lepas dari bayang-bayang Bang Edward."

Aku mendengus pelan, sebuah tawa getir lolos dari bibirku bersamaan dengan sisa air mata yang kuusap kasar. "Cowok baru? Menghapus bayangan seseorang yang sudah mengisi hatiku bertahun-tahun nggak semudah membalikkan telapak tangan, Rin."

"Gue tahu, Rel. Tapi seenggaknya lo harus coba," desak Shirin, kini menuntun pergelangan tanganku agar kami berdua duduk di tepi ranjang. Tatapannya berubah serius, tidak ada lagi nada bercanda di sana. "Lo nggak bisa terus-menerus terjebak di zona menyedihkan ini. Lo pantas bahagia dengan orang yang melihat lo sebagai seorang wanita, bukan bocah kecil yang harus dilindungi terus.

"Lihat nanti saja, Rin. Aku belum kepikiran ke sana," kata Aurel

"Kita tidur saja sekarang. Aku sudah capek dan mengantuk juga," tambahnya.

Keesokan harinya, suasana kantin kampus tampak ramai saat jam makan siang. Aurel, Shirin, Bang Edward, dan Kak Anita sedang asyik menyantap makanan mereka bersama.  Namun, ketenangan itu mendadak terganggu ketika tiba-tiba Gino datang melangkah menghampiri meja mereka.

"Hai semua, apa kabar?" sapa Gino santai sambil langsung menyomot makanan dari piring Shirin.

Cowok itu kemudian menatap Shirin dengan senyum menggoda. "Hai, Shirin, calon pacar dan calon masa depanku."

Sapaan bernada rayuan itu langsung membuat Shirin setengah kesal. Ia mendengus sebal karena Gino tidak hanya mengganggu makan siangnya, tetapi juga bersikap terlalu percaya diri di depan teman-temannya.

"Plak!"

Shirin langsung memukul punggung tangan Gino dengan cukup keras, membuat cowok itu sedikit terperanjat. Tanpa membuang waktu, Shirin segera menarik dan menjauhkan piring makannya ke sisi lain, melindunginya seolah-olah Gino adalah pencuri yang siap beraksi kembali.

"Gino! Bisa enggak, sih, datang itu pakai salam yang bener, bukan malah nyolong makanan orang?" semprot Shirin dengan mata melotot kesal. "Lagian, siapa juga yang mau jadi masa depanmu? Mimpi!"

Gino justru terkekeh geli melihat wajah Shirin yang memerah menahan dongkol. Baginya, melihat Shirin mengamuk seperti ini jauh lebih menggemaskan daripada melihatnya diam.

"Kemarin aku lihat kalian sedang BBQ-an, kok enggak mengajak aku, sih, Rin? Kan, aku pengin ikut juga," ucap Gino dengan nada merajuk, sengaja dibuat-buat agar dikasihani.

Mendengar rengekan Gino yang terdengar menggelikan itu, Shirin hampir saja menyemburkan es teh manis yang baru saja disedotnya. Ia buru-buru menelan minumannya, lalu meletakkan gelas plastik itu ke atas meja kantin dengan sentakan kasar hingga es batu di dalamnya berdenting gaduh.

    Duh, nih anak tahu dari mana coba kalau kita habis BBQ-an kemarin? batin Shirin panik. Semburat merah instan langsung menjalar di kedua pipinya. Antara malu karena privasi akhir pekannya ketahuan, dan kesal karena Gino selalu punya cara untuk mencari tahu kegiatannya.

Aurel yang sejak tadi hanya menyimak sambil sibuk mengunyah siomay-nya, akhirnya tidak tahan untuk tidak ikut bersuara. Gadis itu meletakkan garpunya, lalu menopang dagu sambil menatap Gino dengan senyum jahil yang tertahan.

"Yah... lagian kamu tahu dari mana kita BBQ-an, Gin? Perasaan kita enggak ada yang bikin story di Instagram atau pasang status, deh," pancing Aurel, melirik Shirin sekilas yang wajahnya sudah semakin matang mirip kepiting rebus. Padahal gino tau kalo mereka BBQ-an karena Aurel yang bocorin.

"Insting calon masa depan itu kuat, Rel," sahut Gino super pede, mengedipkan sebelah matanya pada Aurel sebelum kembali memfokuskan seluruh atensinya pada Shirin. "Apalagi kalau menyangkut Shirin. Biarpun dia ngumpet di lubang semut, aku pasti tahu."

Bang Edward langsung mendengus geli, sementara Kak Anita tertawa kecil melihat betapa gigihnya cowok di depan mereka ini.

"Heh, enggak usah pasang muka melas begitu. Sini kalau mau duduk, tapi modal dikit kenapa? Sana pesen minum sendiri, jangan malah matanya jelalatan mau nyolong bakso punya Shirin lagi," timpal Bang Edward dengan nada separuh mengusir tapi sebenarnya mulai terbiasa dengan kehadiran Gino yang hobi mencairkan suasana.

"Siap, laksanakan, Kapten!" sahut Gino dengan penuh semangat. Ia bahkan memberikan gerakan hormat yang jenaka kepada Bang Edward sebelum buru-buru menarik kursi kosong di sebelah Shirin.

Shirin langsung mendelik tajam dan spontan menggeser duduknya hingga mepet ke arah Aurel. "Ih, Gino! Siapa juga yang ngebolehin kamu duduk di sebelahku? Kan Bang Edward nyuruhnya duduk, bukan nyuruh duduk di sini!" protes Shirin dengan nada ketus yang tertahan agar tidak menarik perhatian seisi kantin.

"Ya daripada aku duduk di pangkuan Bang Edward, kan malah bahaya, Rin," balas Gino asal asalan sambil memamerkan cengiran kudanya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Aurel yang melihat sahabatnya mulai tersudut langsung menyenggol lengan Shirin sambil berbisik jail, "Udah, Rin, terima nasib aja. Lagian kantin lagi penuh banget, tuh. Anggap aja kamu lagi beramal ngasih tumpangan duduk buat kaum telantar."

"Aurel, kamu ini malah belain dia, sih!" bisik Shirin balik dengan wajah yang semakin merengut, membuat Kak Anita yang duduk di seberang mereka kembali tertawa renyah melihat dinamika menggemaskan di meja tersebut.

"Nah, dengerin tuh kata Aurel. Anggap saja beramal sama calon imam," sahut Gino, mengedipkan sebelah mata dengan tingkat kepercayaan diri yang sudah menembus langit-langit kantin.

..Sebelum Shirin sempat melempar sendoknya, Gino sudah bangkit berdiri lagi. "Ya sudah, demi menuruti perintah calon kakak ipar, aku pesen es jeruk dulu ya. Titip tempat duduk cintaku ini, jangan sampai diambil orang." Cowok itu mengacak puncak kepala Shirin sekilas sebelum melesat pergi ke stan minuman, meninggalkan Shirin yang membeku sesaat karena terkejut sebelum akhirnya mengamuk merapikan rambutnya yang berantakan.

"Ginoooo! Kurang ajar banget, sih!" teriak Shirin tertahan, wajahnya sudah merona merah sempurna antara malu dan luar biasa kesal.

Bang Edward hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menyuap sendok terakhir baksonya. "Tapi dipikir-pikir, dia gigih juga ya, Rin. Tipe-tipe cowok yang kalau ditolak lewat pintu depan, bakal masuk lewat cerobong asap."

"Ih, Bang Edward jangan malah ikut ngomporin, dong!" gerutu Shirin, menenggelamkan wajahnya di atas kedua lipatan tangan di meja.

Di tengah tawa Kak Anita dan Aurel yang masih meredam geli, tiba-tiba ponsel Aurel dan Shirin berdenting serentak di atas meja. Sebuah bunyi notifikasi WhatsApp yang sangat familier.

Aurel buru-buru menyambar ponselnya, membuka layar kunci, dan sedetik kemudian matanya membelalak. "Aduh, mampus, Rin! Pak Baskoro udah share lokasi di grup kelas! Lima menit lagi beliau masuk!"

Shirin langsung menegakkan badannya, rasa kesalnya pada Gino mendadak menguap digantikan kepanikan massal. "Hah? Serius kamu, Rel? Bukannya jadwalnya masih lima belas menit lagi, ya?"

"Enggak tahu, pokoknya beliau bilang kelas sengaja dimajuin karena beliau ada rapat setelah ini," sahut Aurel panik, buru-buru memasukkan buku catatannya yang tergelosor di meja ke dalam tas.

"Aduh, mampus! Mana Pak Baskoro kalau ngasih nilai pelitnya minta ampun lagi!" Shirin ikut panik luar biasa. Ia menyambar tas ranselnya, bersiap untuk langsung melesat pergi.

Namun, baru saja Shirin dan Aurel hendak bangkit berdiri dari kursi kantin, tiba-tiba sebuah seruan nyaring terdengar dari arah stan minuman.

"Woi, tungguin! Jangan ditinggal!"

Shirin menoleh dan mendapati Gino sedang berlari kencang ke arah meja mereka. Tangan kanannya memegang segelas plastik es jeruk yang isinya sudah berguncang hebat hingga terciprat ke mana-mana karena dibawa berlari. Wajah cowok itu tidak kalah paniknya dengan mereka berdua.

"Gino? Kamu ngapain ikutan panik?" tanya Shirin bingung sembari membenahi letak tali tasnya.

"Ya paniklah! Aku kan sekelas sama kalian di matkul Pak Baskoro jam ini!" jawab Gino terengah-engah begitu sampai di depan meja. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung menyedot es jeruknya dengan rakus dalam tiga kali tegukan besar hingga tandas, lalu melemparkan gelas plastiknya yang sudah kosong ke tempat sampah terdekat. "Ayo buruan lari! Kalau sampai dikunciin di luar, bisa auto ngulang semester depan kita!"

"Ya ampun, kenapa aku bisa lupa kalau kita sekelas, sih," ratap Shirin frustrasi, menepuk jidatnya sendiri.

"Bang Edward, Kak Anita, kita duluan ya!" pamit Aurel terburu-buru sambil melambaikan tangan sekilas.

"Iya, buruan gih! Sana lari yang kencang!" seru Kak Anita menyemangati, sementara Bang Edward hanya tertawa terpingkal-pingkal melihat kepanikan tiga mahasiswa itu.

Detik berikutnya, koridor kampus menyaksikan pemandangan ajaib: Aurel memimpin di depan, disusul Shirin yang berlari kepayahan, dan Gino yang berlari santai di samping Shirin sambil sesekali sengaja menyenggol bahu gadis itu untuk menggodanya di tengah kepanikan.

"Ayo, Calon Masa Depan, larinya yang kencang! Nanti kalau telat, kita dihukum berdua di depan kelas kan berabe!" seru Gino tanpa tahu tempat.

"Gino, diem atau tak selendang pakai tas?!" amuk Shirin dengan sisa-sisa napasnya.

Tiba tiba

1
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!