Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1. Tak Berperasaan
“Kinanti, kapan kamu bisa menjadi istri yang bisa kubanggakan, hah?! Masa memilih dasi dan kemeja saja kamu nggak becus!” bentak Yudha pagi tadi sebelum berangkat.
Kinanti gegas mengganti pakaian yang sudah dipilihnya dan buru-buru berjalan ke arah lemari untuk mencari kemeja serta dasi yang lebih sesuai.
Yudha menatap istrinya dengan tatapan kesal. Baginya, Kinanti seolah selalu saja berhasil membuat emosinya terpancing.
“Ya Allah… kenapa perempuan yang kunikahi ini nggak ada baik-baiknya? Padahal niat awal aku menikahi kakaknya, Kinasih. Namun, Kinasih malah kabur bersama kekasihnya,” gerutu Yudha.
Kinanti menghela nafasnya dengan pelan-pelan dan selalu beristighfar dalam hati agar dia tidak membalas ucapan suaminya yang sungguh menyakitkan hati.
“Astaghfirullahaladzim,” lirih Kinanti.
Tak lama kemudian, Kinanti kembali menghampiri Yudha sambil menyodorkan kemeja dan dasi pilihan barunya.
“Ini baru benar. Kamu kalau bisa, belajarlah dari internet atau dari siapa saja. Jangan sampai kamu kalah dari istri-istri lain di luar sana,” bentak Yudha lagi.
“Baik Mas,” balasnya Kinanti yang sebenarnya sudah muak dengan sikap suaminya walaupun dalam hatinya dia begitu mencintai Yudha.
Kinanti hanya mampu bersabar. Ia memilih diam dan tidak berniat membalas kata-kata kasar maupun hinaan suaminya.
“Sejak awal aku nggak pernah mau menikah dengan Mas Yudha. Andaikan aku nggak dipaksa putus sekolah dan menggantikan Mbak Kinasih, aku nggak akan mengalami kehidupan yang rasanya seperti di neraka ini,” gumam Kinanti dalam hati.
Yudha menatap jengah istrinya,”Kedua orang tuamu itu memiliki hutang uang dan budi makanya aku nggak permasalahkan kamu menggantikan posisi mbakmu.”
Kinanti kembali hanya terdiam mematung mendengar ocehan suaminya. Karena baginya ini sudah menjadi sarapan paginya bahkan hampir setiap jam Kinanti mendapatkan penghinaan dan perlakuan kasar dari suaminya.
Beberapa menit kemudian, Yudha hendak masuk ke dalam mobilnya. Kinanti sebenarnya ingin mengecup punggung tangan suaminya sebelum pergi, tetapi tatapan tajam Yudha membuatnya mengurungkan niat. Ia tidak ingin kembali mendapatkan omelan.
“Semoga aku masih sanggup bertahan hidup bersamamu, Mas. Kalau tidak, aku akan segera menandatangani surat cerai itu,” ucap Kinanti lirih.
Kalimat itu terucap bersamaan dengan mobil Yudha yang mulai menjauh hingga akhirnya tidak terlihat lagi.
Ingatan tentang perlakuan kasar Yudha tak pernah benar-benar hilang dari benak dan hati Kinanti. Tanpa aba-aba, air matanya kembali menetes, membasahi pipinya.
“Aku harus mengakhiri segalanya, aku nggak sanggup lagi,” cicitnya.
Angin berhembus sepoi-sepoi, namun tiupannya mampu menerbangkan ujung hijab seorang perempuan cantik berusia dua puluh lima tahun.
“Hidup memang penuh misteri,” gumamnya sambil menghela napas pelan.
Sore menjelang magrib, suasana di sebuah kompleks perumahan tampak ramai oleh kendaraan yang berlalu-lalang.
Kebisingan dari jalan raya tak mengusik ketenangan seorang perempuan muda yang sedang berdiri menatap beberapa bunga yang beberapa minggu lalu ditanamnya.
“Ya Allah, apakah aku harus bertahan atau tidak?” Batin Kinanti bergemuruh memikirkan apa yang seharusnya dilakukannya.
Terlalu banyak hal yang berkecamuk di dalam benaknya selama beberapa hari terakhir ini, terutama mengenai kelangsungan rumah tangganya.
“Kalau aku minta cerai sama Mas Yudha, apakah aku masih bisa bertemu dengan kedua anakku? Tapi kalau aku terus bertahan dalam pernikahan ini, aku nggak sanggup lagi,” cicitnya lirih.
Kinanti Azzahra gamang dan kebingungan mencari solusi serta jalan terbaik untuk kehidupan rumah tangganya.
Jika meminta cerai, kemungkinan besar dia tidak akan mendapatkan hak asuh kedua anak kembarnya. Selain itu, pengobatan ayahnya juga terancam dihentikan.
Rumah tangga yang telah dibangunnya selama delapan tahun sudah dijalaninya dengan penuh kesabaran. Namun, suaminya tak pernah benar-benar mencintainya.
Kinanti menikah dengan Yudha Manggala karena menggantikan posisi kakaknya yang pergi sehari sebelum akad nikahnya.
Kinanti menatap sendu cincin kawin yang melingkar di jari manisnya.
“Andaikan Mas Yudha mencintaiku, mungkin aku akan menjadi wanita paling bahagia. Tapi sayangnya, itu tak akan mungkin terjadi dalam hidupku,” gumamnya.
Air matanya menetes tanpa aba-aba. Dadanya semakin sesak ketika dia teringat pada ayahnya dan nasib kedua adiknya jika dia benar-benar bercerai.
“Pengobatan Ayah akan terhenti. Kanaya dan Khalid juga pasti akan terganggu kuliahnya.”
Butuh perjuangan dan kesabaran ekstra untuk menjalani bahtera rumah tangganya. Yudha yang memiliki temperamen kasar membuat Kinanti harus memiliki kesabaran seluas samudra.
Kinanti mengusap pipinya yang masih terasa sedikit kebas dan perih akibat tamparan suaminya.
Siang tadi, karena jalanan macet, Kinanti terlambat mengantarkan makan siang khusus untuk Yudha.
Plak!
Suara tamparan itu cukup keras hingga membuat wajah Kinanti terasa perih dan kebas.
“Kamu itu ke sini pakai mobil atau ngesot, sih!?” ketus Yudha.
Kinanti hendak menimpali ucapan suaminya, tetapi mengurungkan niatnya karena hal itu hanya akan memperkeruh suasana bahkan Yudha akan semakin kalap.
Yudha melempar kotak bekal makanan yang susah payah dibuat oleh Kinanti.
Prang!
Kotak makanan itu jatuh ke lantai dan pecah berserakan.
“Sedari awal aku menikahimu, nggak pernah berubah kamu selalu saja lelet kayak keong!” cibir Yudha.
Kinanti mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk lesu. Kali ini, dia memberanikan diri untuk membalas perkataan Yudha.
“Mas, kalau memang kamu nggak mencintaiku, kenapa Mas nggak menceraikanku saja? Kenapa malah selalu menyakitiku?”
Kinanti mengusap wajahnya yang basah oleh air mata kemudian memungut sisa makanan dan kotak bekal makanannya.
“Kenapa!? Tubuhku bukan samsak bernyawa, Mas, yang seenaknya bisa Mas pukul setiap kali sedang marah ataupun kesal! Jangan selalu melampiaskan semuanya kepadaku!”
Yudha hanya menatap Kinanti dengan jengah dan kesal. Ada niat dalam hatinya untuk menimpali ucapan perempuan yang telah memberinya keturunan itu.
Namun, Yudha hanya membuang nafas kasar sebelum berbicara tanpa menatap Kinanti.
“Pulanglah dan jangan sampai kesalahan yang sama kamu ulangi lagi!” ucapnya dengan nada datar yang terdengar lebih seperti ketus.
Kinanti berusaha tegar dan berjalan sempoyongan meninggalkan ruangan kerja suaminya.
Beberapa pasang mata menatap kepergian Kinanti. Ada yang memandangnya dengan iba, tetapi ada pula yang justru tertawa puas melihat keadaannya.
“Gitulah nasib kalau menikah dengan orang kaya. Harus pintar-pintar menjaga sikap,” cibir salah seorang karyawan suaminya.
“Kasihan, ya, Bu Kinanti. Selalu saja kena marah. Nggak pernah benar di mata Pak Yudha,” sahut karyawan lainnya.
“Namanya juga cuma istri pengganti,” timpal yang lain, seolah sengaja ingin mempertegas kedudukan Kinanti.
Kinanti tidak menggubris perkataan orang-orang yang terang-terangan menghinanya. Padahal, mereka tahu betul bahwa perempuan yang sedang mereka bicarakan itu adalah istri dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
Kinanti terus melangkahkan kakinya, berusaha mengabaikan setiap ucapan yang terdengar menyakitkan. Namun, sekuat apa pun ia mencoba, hatinya tetap terasa perih.
“Apakah memang aku nggak ada di hati suamiku? Apakah aku memang nggak layak dicintai olehnya? Padahal, aku begitu mencintainya,” lirih Kinanti.
Bulir-bulir air mata mulai membasahi pipinya. Ia segera mengusapnya, berharap tak ada seorang pun yang melihat kesedihan yang selama ini berusaha ia sembunyikan.