NovelToon NovelToon
Anak Genius: Ayahku Seorang Superstar

Anak Genius: Ayahku Seorang Superstar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius
Popularitas:629
Nilai: 5
Nama Author: Dini ratna

Pada satu malam ... seorang pria merenggut kehormatannya, hingga menanamkan benih dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian ... the twins hadir dikehidupannya. Selama itu tidak ada yang pernah tahu siapa ayah biologisnya, hingga the twins Semi & Arsyad mencari ayah mereka.

Dan di satu waktu Kedua orangtua mereka dipertemukan.

Akankah mereka saling mengenali?
Apa usaha Semi & Arsyad berhasil?

subscribe karya ini untuk ikuti cerita lanjutannya. Jangan jadi pembaca bisu ya, harus like, komen dan vote.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamparan Untuk Haesung

"Uncle Haesung!"

Semi terbelalak, diikuti lirik kan Arsyad padanya. Pandangan Arsyad mengikuti tatapan Semi, matanya ikut membola melihat pria yang selama ini ia tunggu.

Pucuk dicinta ulam pun tiba , batin Arsyad.

Wah, ini kesempatan aku untuk jambak rambutnya.

Arsyad terus bicara dalam hatinya. Sedetik ia pergi meninggalkan balkon.

"Hei, Abang!" teriak Semi.

"Ih ....tadi gak mau, sekarang lari duluan." Ekspresi Semi begitu marah. Dengan bibir cemberut ia pergi mengikuti Arsyad.

Sementara di bawah sana, Haesung terlihat bosan. Dia menolak diajak masuk oleh ibunya.

"Min-Ho, kamu mau ikut masuk?" tanya Min-Ji ibu Haesung.

"No! Aku di sini saja," jawab Haesung, berdiri di depan pintu mobil.

"Ya sudah, Mami duluan ya. Masuk dulu, jangan kemana-mana ok!"

Haesung mengangguk.

Haesung kembali masuk ke dalam mobil tapi dengan pintu terbuka. Haesung merebahkan punggungnya di kursi, pikirannya masih belum bisa tenang yang masih memikirkan tuntutan managernya.

Sang manager memintanya untuk segera kembali ke Seoul jika tidak, mereka sendiri yang akan menjemput. Tidak hanya sang manager, sang ayah yang sudah lama bercerai dengan ibunya pun menyuruh dia untuk kembali.

Haesung berasal dari keluarga yang terpecah belah. Dari kecil, Haesung dilarang keras untuk bertemu sang ibu. Haesung dan Min-Ji dipisahkan oleh keadaan. Setelah bercerai, Min-Ji tidak bisa bertemu putranya, walau perceraian itu karena kesalahan suaminya.

Hidup bersama ayah memang terjamin segalanya. Hidupnya tidak akan pernah kekurangan, tapi tidak bisa menjamin kebahagiaan.

Haesung dituntut untuk selalu benar dan sempurna. Sang ayah yang menjadi salah satu produser membawa Haesung naik hingga namanya dikenal seluruh dunia. Tapi tak pernah sedikitpun dia mengerti atau peduli pada Haesung.

Tidak pernah dia bertanya apakah putranya lelah?

Apa keinginan putranya?

Seperti apa seleranya.

Bahkan memilih lagu pun harus apa kata ayahnya.

Haesung sangat lelah dengan hidupnya. 24 jam dia harus perfect di depan kamera. Tapi di sini, dia bisa merasakan ketenangan untuk mengontrol dirinya.

Haesung membuang napasnya, bersamaan dengan mata yang sebelumnya terpejam kini terbuka. Sambil sesekali ia melirik sekitar, tanpa sengaja netranya menemukan sosok Zahra yang sedang tertawa.

Wajah Haesung berubah datar. Dia turun dari mobil untuk melihat lebih jelas, apa itu Zahra.

Haesung mulai penasaran, tidak biasanya dia tertarik seperti itu. Apalagi ketika melihat Zahra dengan Ilham.

"Wanita itu, bukannya yang kemarin, ya?"

"Iya. Wanita itu Mamaku," ucap Arsyad tiba-tiba membuat Haesung terkejut.

"Siapa lagi ini bocah!" gerutu Haesung. Kemarin Semi, sekarang Arsyad yang mengganggunya.

Haesung menatap Arsyad kesal. "Oh Tuhan ... Kenapa selalu anak kecil yang menggangguku. Kenapa bukan gadis cantik yang datang."

"Kenapa? Apa kamu mengharapkan Mamaku yang datang?" tanya Arsyad. Haesung terlonjak.

Arsyad langsung naik ke dalam mobilnya. "Hei! Ngapain kamu?"

"Duduklah," jawab Arsyad dengan enteng.

"Apa aku menyuruhmu duduk?" Kesal Haesung.

"Tidak, tapi aku pegal. Ngomong-ngomong mobilnya enak juga." Arsyad menggoyang-goyangkan pinggulnya. "Wah! Ada TV."

"Hei! Jangan sentuh apapun." Haesung marah.

Arsyad mendelik dan cemberut sambil melipat tangan di bawah dada. "Pelit! Nyalakan TV nya."

"No!" sentak Haesung, menghalangi TV kecil itu dengan tangannya. "Ini barangku jangan pernah kamu menyentuhnya."

"Ih ... Sombong. Aku bilangin Mama."

"Tentu." Tantang Haesung. "Aku juga akan laporkan pada Mama mu. Itu kan, wanita itu kan ibumu." Tunjuk Haesung pada Zahra yang berada di taman.

"Hei!" teriak Haesung memanggil Zahra. Namun, mulutnya telanjur dibekap oleh Arsyad.

"Om, jangan main-main, ya. Ini kediaman aku."

"Mmm ... Lepaskan bocah!" Anehnya tenaga Arsyad lebih kuat.

Tiba-tiba Semi datang.

"Abang! Abang ngapain Uncle Haesung?" Semi berlari ke arah mobil. Ia ingin masuk ke dalam mobil untuk menghajar Arsyad.

"Akhh!" jerit Haesung ketika Arsyad menjambak rambutnya. Arsyad langsung turun menabrak tubuh Semi hingga jatuh.

_Brugh_

"Aww, Abangggggg!" teriak Semi.

Haesung mengusap kepalanya yang sakit. Dengan tatapan tajam ia menatap kepergian Arsyad, tapi Haesung juga melihat Semi yang terduduk di tanah. Melihat itu Haesung pun turun untuk menolong.

"Dasar bocah!" Haesung masih terus mengumpat.

"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya setelah membangunkan Semi.

"Sakit Uncle," rengek Semi yang mengusap pinggulnya.

Haesung berjongkok, tangannya bergerak mengusap pinggul Semi yang sakit. Namun, tingkahnya itu membuat Zahra salah paham. Zahra terbelalak marah yang langsung berlari ke arah mobil Haesung.

"Hei! Apa yang kamu lakukan sama putriku?"

Siapa sih, yang tidak marah ketika melihat putri sendiri di sentuh oleh laki-laki dewasa. Apalagi dibagian itu, orang yang melihat akan salah paham walau niat kita menolong.

Zahra, bersama Ilham menuju mobil Haesung. Setibanya di sana Zahra langsung menarik Semi, ke dekatnya.

"Semi kamu tidak apa-apa? Kamu tidak diapa-apakan sama Om ini kan?" Zahra, meraba-raba tubuh Semi, memastikan tidak ada yang lecet.

"Beraninya kamu menyentuh putriku!"

_Plak_

Semua mata membola. Ilham tercengang, melihat Zahra yang tiba-tiba menampar Haesung. Semi, orang yang paling terkejut dia melirik Zahra, setelah melakukan kekerasan pada idolanya.

Sementara Haesung, lelaki itu masih diam sambil merasakan sensasi panas di pipinya.

"Mama, kenapa Mama tampar Uncle?"

"Zahra ... Zahra kamu ...." Ilham pun merasa kaget.

"Dia sudah menyentuh putriku Ilham," geram Zahra.

"Tapi ... kamu bisa bicarakan dengan baik-baik Zahra," saran Ilham.

Namun, Zahra tidak terima saran apapun. Melihat Haesung, seperti melihat bayangan laki-laki di masa lalunya.

"Mama Uncle Haesung sudah menolong Semi. Tadi Semi terjatuh, dan Uncle Haesung yang menolong, Uncle Haesung sangat baik Mama."

Haesung tersenyum simpul. Dia mengusap darah segar disudut bibirnya. Saking kerasnya tamparan Zahra membuat bibirnya berdarah.

"Kamu pikir aku tergoda dengan anak kecil?"

Zahra, sudah mengangkat tangannya. Dia hampir saja akan memukul Haesung lagi. Tapi, kali ini Haesung berhasil mencengkram nya.

"Apa? Lo mau tampar gue lagi. Lo tampar sekali lagi ... gue pastiin hidup Lo hancur!"

Zahra, melirik genggaman Haesung. Keringat dingin bercucuran, dada terasa sesak, cengkraman Haesung mengingatnya pada bayangan pria di masa lalu.

Sedetik bayangan itu terlintas di benaknya.

"Mas, tolong jangan berlaku kasar." Ilham yang melihat ketakutan Zahra mulai panik. Tapi Haesung tak bisa meredam amarahnya.

"Haesung?" Panggilan Min-Ji melepaskan genggaman Haesung pada Zahra.

Napas Zahra terasa lega. Dadanya tidak begitu sesak seperti sebelumnya.

"Mama, tidak apa-apa?" tanya Semi.

"Sayang ayo kita masuk." Zahra menarik Semi menjauh dari Haesung. Mereka pergi ke dalam rumah, meninggalkan semua orang yang tampak kebingungan.

Dalam waktu bersamaan, Abi Adam dan Azmi keluar dari pintu utama, mata Azmi menatap lurus ke arah Zahra yang pergi menuju halaman belakang.

"Min-Ho apa yang kamu lakukan padanya?" tanya Min-Ji.

Haesung tidak menjawab, yang langsung masuk ke dalam mobil. Sang ibu terlihat bingung, ia melirik ke arah Ummi Hawa. Takut jika Hawa marah atas sikap putranya, tapi Hawa, menanggapi dengan hati tenang. Ia tetap tersenyum dan meminta Min-Ji untuk membawa Haesung pulang. Urusan Zahra, adalah urusannya.

1
Dini_Ra
Teruntuk kalian yang baca karya ini. Author mau jelaskan jika karya ini sebenarnya sudah pernah publish sebelumnya dengan cover yang berbeda. Mungkin dari kalian ada yang sudah pernah baca, lalu kenapa sih Thor? kok yang ini covernya beda, terus babnya juga udah banyak tapi yang ini kembali dari awal.

Aku jelasin yang sekarang ya🙏
Sebelumya kan author bikin novel ini ingin ikut event tapi yang kemarin itu gak bisa karena publish sebelum bulan Mei. Author tanya dong sama editor dan q&A ternyata tetap gak bisa dan mereka kasih saran kalau mau masuk event novelnya hapus saja lalu upload ulang. yaudahlah aku hapus novel yang kemarin lalu upload ulang.

jadi ... ini bukan plagiat ya, maaf sudah membuat kalian bingung 🙏. Semoga kalian suka dan baca karya ini sampai selesai 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!