NovelToon NovelToon
Obsesi Gila Grayson

Obsesi Gila Grayson

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.

Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Bel istirahat pertama akhirnya berbunyi nyaring, memecah keheningan kelas XI-IPS 2 yang sedari tadi terasa cukup menegangkan bagi Aurelia. Suara gemuruh kursi digeser dan obrolan anak-anak kelas yang bersiap pergi ke kantin langsung mendominasi ruangan.

"Akhirnya! Perut aku udah keroncongan dari jam pelajaran sejarah tadi gara-gara Pak Joko ngomongnya nggak berhenti-berhenti," keluh Aluna sambil merapikan buku-buku paketnya ke dalam kolong meja.

Aruna langsung berdiri dan menepuk bahu Aurelia yang masih duduk diam di samping meja Grayson. "Heh, Aurelia Calista. Ayo ke kantin! Lutut kamu udah mendingan kan? Jangan bilang kamu mau nongkrong di kelas terus kayak patung pameran."

Aurelia menoleh ke arah kedua sahabatnya, lalu melirik sekilas ke arah kursi di sebelah kirinya. Grayson—pria berbola mata amber yang sejak tadi pagi berhasil membuat tekanan darahnya naik turun—sedang duduk dengan posisi santai, sebelah tangannya menopang dagu, sementara pandangan matanya terkunci lekat-lekat pada wajah Aurelia. Tidak ada niat sedikit pun dari pemuda itu untuk beranjak dari tempat duduknya.

"Iya, Li. Ayo ke kantin. Aku traktir es teh manis deh kalau kamu mau," bujuk Aluna lagi, sama sekali tidak menyadari kehadiran sosok menyeramkan yang sedang menatap sahabat mereka dengan sorot mata penuh kepemilikan.

Aurelia lantas mengangguk cepat. Ia buru-buru berdiri dari kursinya, seolah ingin segera kabur dari aura menyesakkan yang menguar dari tubuh Grayson. "I-iya, ayo! Aku juga udah haus banget. Yuk, Ar, Lun."

Ketiga gadis itu lantas melangkah keluar kelas bersama-sama, meninggalkan Grayson yang masih termenung di kursinya sambil menyunggingkan senyuman miring penuh arti.

Suasana Kantin SMA Tunas Bangsa pada jam istirahat selalu tampak riuh dan padat. Aroma sedap bakso kuah, mie ayam, dan gorengan panas berpadu menjadi satu di udara, menggugah selera siapa saja yang datang.

Aurelia, Aluna, dan Aruna baru saja mendapatkan meja kosong di sudut dekat tanaman hias pot besar. Setelah memesan tiga mangkuk bakso dan es teh, mereka duduk sambil mengobrol ringan untuk mencairkan suasana.

"Eh, kalian tahu nggak anak baru tadi? Siapa namanya... Grayson ya?" tanya Aluna sambil membuka tutup botol sambal di atas meja. "Ganteng sih, sumpah. Kayak tokoh utama novel wattpad badboy yang sering dibaca orang-orang. Tapi sorot matanya serem banget, kayak mau mangsa orang."

"Ih, bener banget!" timpal Aruna setuju. "Waktu dia masuk kelas tadi, bulu kuduk aku langsung merinding. Kayak ada aura-aura berbahaya gitu. Tapi anehnya, dia duduk persis di sebelah Aurelia. Gimana rasanya semobil... eh, sebangku sama singa lapar, Li?"

Aurelia yang sedang menyeruput es teh manisnya hampir saja tersedak. Ia mendengus pelan sambil menaruh gelasnya ke atas meja. "Jangan dibahas deh, bikin nafsu makan aku hilang tahu nggak. Dia itu bukan cuma serem, tapi emang nyebelin banget. Asal kalian tahu ya, pemuda arogan itu adalah pengendara motor ugal-ugalan yang hampir nabrak aku pagi tadi!"

Brak!

"Hah?! Seriuzan, Li?!" teriak Aluna dan Aruna bersamaan, membuat beberapa siswa di meja sebelah menoleh ke arah mereka.

"Sstt! Jangan kencang-kencang ngomongnya!" gerutu Aurelia malu sambil merendahkan suaranya. "Iya, benar. Sumpah, hari ini benar-benar hari sial buat aku. Udah jatuh dari sepeda, lutut lecet, dimarahin pula, eh pas sampai sekolah malah sebangku sama dia."

Sebelum Aluna dan Aruna sempat merespons cerita heboh tersebut, tiba-tiba atmosfer di sekitar meja mereka mendadak berubah drastis. Riuhnya suara kantin seolah meredup, tergantikan oleh suara langkah kaki tegas yang mendekat ke arah meja mereka.

"Wah, wah. Rame banget nih kayaknya. Boleh kita gabung?"

Sebuah suara berat yang terdengar santai namun sarkas menyapa pendengaran mereka. Aurelia dan kedua sahabatnya mendongak secara bersamaan. Di hadapan meja mereka kini berdiri empat orang pemuda.

Di barisan paling depan tentu saja Grayson Balindra, berdiri dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana, menatap Aurelia dengan tatapan intens yang membuat udara di sekitar terasa menipis. Di sampingnya berdiri tiga orang temannya yang dikenal sebagai sekumpulan pembuat masalah di sekolah baru ini: Rian, pemuda berambut ikal dengan senyuman jahil; Satya, yang bertubuh paling tinggi dengan gaya urakan; dan Bima, yang membawa sebatang rokok elektrik di tangannya.

Aluna dan Aruna langsung tertegun. Keempat pemuda itu memiliki daya tarik visual yang kuat, namun aura liar yang mereka bawa membuat siapa pun berpikir dua kali untuk mencari masalah dengan mereka.

"Eh... maaf, meja ini udah penuh," sahut Aluna agak gugup, merapatkan mangkuk baksonya.

Rian, pemuda berambut ikal, justru tertawa kecil mendengar penolakan itu. Ia melangkah lebih dekat, lalu menarik kursi kosong di sebelah Aluna tanpa izin dan langsung mendudukinya dengan santai.

"Ah, masa sih penuh? Kayaknya masih muat buat empat orang kok, Manis," ucap Rian dengan nada menggoda, menyunggingkan senyuman miring yang membuat pipi Aluna merona merah karena kesal sekaligus salah tingkah. "Kenalin, nama gua Rian, dan temen gua yang tinggi di sebelah sana namanya Satya, dan yang itu Bima."

Satya dan Bima langsung ikut mengambil kursi di sebelah Aruna, membuat Aruna mendadak kaku dan menggeser duduknya mendekati Aurelia.

"Hai, Aruna ya? Wah, nama kalian bertiga bagus-bagus ya, secantik orangnya," puji Satya dengan gaya luwes, melipat kedua tangannya di atas meja sambil menatap Aruna lekat-lekat. "Gimana kalau lain kali kita nongkrong bareng sepulang sekolah? Biar kita yang antar kalian pulang, nggak pakai motor ugal-ugalan kok, dijamin aman."

Aruna mengerjap-ngerjap, mengerutkan keningnya tidak suka meskipun jantungnya berdegup sedikit lebih cepat karena mendapat perhatian langsung dari cowok populer kelas atas. "Ih, siapa juga yang mau jalan sama kalian? Modus banget!"

"Bukannya modus, cantik. Tapi ini bentuk perhatian sesama warga sekolah baru," sahut Bima terkekeh, memainkan pod di tangannya.

Sementara itu, Grayson sama sekali tidak ikut berbasa-basi dengan Aluna maupun Aruna. Pemuda bermata amber itu langsung menarik satu-satunya kursi yang tersisa di sebelah Aurelia—tepat di samping kiri gadis itu—lalu duduk tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari wajah Aurelia.

Aurelia merinding. Ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh, mencoba memberi jarak, namun Grayson justru semakin mendekatkan tubuhnya, hingga bahu bidang pemuda itu hampir bersentuhan dengan lengan Aurelia.

"Kenapa, Gadis Sepeda? Makanan di sini nggak enak ya sampai muka kamu ditekuk begitu?" bisik Grayson rendah, suaranya hanya bisa didengar oleh Aurelia di tengah bisingnya kantin.

Aurelia menoleh dengan mata menyalang tajam. Ia berusaha mempertahankan harga diri dan sopan santunnya, meskipun emosinya sudah di ujung tanduk. "Bisa nggak, jangan panggil aku 'Gadis Sepeda' terus? Nama aku Aurelia, punya KTP, dan terdaftar resmi di sekolah ini!" protesnya dengan suara tertahan.

Grayson tersenyum miring. Senyuman itu bukan senyuman ramah, melainkan sebuah seringai penuh rasa ingin tahu yang sangat intens. Alih-alih tersinggung, pemuda itu justru semakin menikmati reaksi defensif dari gadis di sampingnya.

"Aurelia Calista..." sebut Grayson perlahan, mengecap setiap suku kata nama itu di lidahnya seolah-olah nama tersebut adalah sebuah mantra berharga. "Nama yang manis. Cocok banget buat pemiliknya yang keras kepala."

"Kamu itu ya..." Aurelia mendesis geram, mengepal kedua tangan di bawah meja. "Udah nyerempet aku pagi-pagi, nggak minta maaf, sekarang malah ngikutin aku ke kantin terus duduk di sini tanpa diundang. Mau kamu sebenarnya apa sih, Tuan Grayson?!"

Mendengar pertanyaan langsung itu, Grayson terdiam sejenak. Sorot mata amber-nya menatap lurus ke dalam bola mata Aurelia, memancarkan kedalaman emosi yang tidak bisa ditebak oleh siapapun—gelap, dingin, namun menyimpan bara api yang membara.

"Mau gua?" bisik Grayson tepat di dekat telinga Aurelia, membuat aroma mint bercampur maskulin milik sang pemuda menguar di indra penciumannya. "Gua cuma mau memastikan... kalau mulai hari ini, dunia kecil kamu yang tenang itu, bakal sepenuhnya dipenuhi oleh bayangan gua."

Aurelia membeku. Jantungnya berdegup kencang bukan karena terpesona, melainkan karena rasa takut yang tiba-tiba menyusup ke dalam rongga dadanya. Kalimat itu diucapkan dengan begitu tenang, namun terdengar seperti sebuah deklarasi ancaman yang mutlak.

Di sisi meja yang lain, Rian dan Satya masih asyik menggoda Aluna dan Aruna, membuat kedua sahabat Aurelia itu kewalahan menghadapi gombalan maut mereka. Namun, di balik keriuhan meja kantin tersebut, Aurelia menyadari satu hal yang mengerikan: kehadirannya di dekat Grayson bukanlah sebuah kebetulan yang lucu. Ini adalah awal dari sebuah sangkar tak kasat mata yang perlahan-lahan mulai menutup rapat di sekeliling kehidupannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!