NovelToon NovelToon
Mereka Pikir Aku Miskin

Mereka Pikir Aku Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:33.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.

Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.

Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.

Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.

Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Akhirnya Bercerai

.

Arsen seperti sedang berada dalam dilema. Hingga saat ini ia masih sangat mencintai Keira. Memang benar ia ingin memiliki Clarissa yang begitu anggun, seksi, dan berasal dari keluarga kaya raya. Karena bukan hanya kesenangan, tapi juga ada keuntungan setelah pernikahan dengan keluarga Halim. Pamor keluarga Wijaya akan semakin bersinar. Namun ia juga tidak ingin melepas Keira. Bercerai dengan Keira sama sekali tak pernah menjadi agenda dalam hidupnya.

“Keira...” suaranya melemah. “Kita masih bisa membicarakan ini baik-baik.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan,” tolak Keira tegas. “Tanda tangani surat cerai itu atau kau tidak jadi menikah!”

Arsen menggelengkan kepalanya berkali-kali. Sementara itu ayah Clarissa yang sejak tadi hanya diam menonton, mengepalkan tangannya erat. Dari rahangnya yang mengeras, siapapun tahu kalau dia sedang marah.

“Tuan Wijaya,” katanya dengan suara berat, matanya menatap ke arah Darma dengan sorot yang tajam. “Aku kira urusan rumah tangga anakmu sudah selesai.”

Darma Wijaya tergagap. “Tuan Halim, ini…”

Arsen ikut menoleh ke arah ayah Clarissa itu dengan wajah tegang.

“Aku tidak peduli hubunganmu dengan istrimu sebelumnya.” Lukman Halim menatap ke arah Arsen. “Tapi kalau kamu masih ingin menikah dengan putriku, ceraikan istrimu sekarang juga. Aku tidak sudi putri kesayangan keluarga Halim dijadikan istri kedua.”

Clarissa menatap ayahnya dengan wajah tegang. “Ayah...”

“Diam, Clarissa.” Tuan Lukman mengangkat tangan, menghentikan ucapan putrinya, dengan mata masih menyorot tajam ke arah Arsen. “Pilihan ada di tanganmu. Tapi ingat konsekuensi dari pembatalan pernikahan ini jika kau melakukannya! Rasa malu yang harus kami tanggung, kalian yang akan merasakan akibatnya.”

Bisik-bisik di antara para tamu semakin terdengar. Ucapan tegas dari Lukman Halim membuat mereka akhirnya mengerti. Pernikahan itu bukan karena cinta, tapi juga karena kepentingan bisnis.

Arsen berdiri di tengah semuanya dengan surat cerai di tangannya. Di depannya ada Keira, wanita yang masih dicintainya tetapi kini terasa begitu jauh. Di sampingnya ada Clarissa, wanita yang ingin dinikahinya dan dapat membawa nama besar keluarga Halim ke dalam hidupnya.

“Arsen! Apa yang masih kamu tunggu?” Marisa yang tangannya dicekal oleh Daren berteriak memecah keheningan.

Wanita itu sudah tidak peduli lagi pada tatapan ratusan tamu maupun kamera yang masih mengarah kepada mereka. Yang ada di pikirannya hanya satu… pernikahan dengan keluarga Halim tidak boleh gagal.

“Segera tandatangani surat itu!” teriak Marissa lagi sambil menatap dokumen yang masih berada di tangan Arsen. “Apa kamu mau menghancurkan semua kerja keras keluarga kita hanya karena perempuan miskin itu?”

“Bu...” Arsen menatap ibunya dengan wajah ragu.

“Cepat, Arsen! Pernikahan dengan keluarga Halim tidak boleh batal!” Marisa terus mendesak.

Wanita itu tak lagi berpikir tentang rasa malu. Yang ada dalam otaknya hanya keuntungan yang akan mereka dapatkan setelah menjadi bagian dari keluarga Halim.

Darma yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara. “Arsen, lakukan saja. Jangan mempermalukan keluarga kita di depan semua orang.”

Arsen mengepalkan tangannya dengan mata menatap nanar ke arah surat cerai yang berada di tangannya. Beberapa menit lalu ia masih duduk di hadapan penghulu dengan keyakinan bahwa hari ini akan menjadi awal kehidupan barunya bersama Clarissa.

Arsen mengangkat wajah dan menatap Keira. Wanita itu berdiri beberapa langkah di hadapannya dengan ekspresi tenang. Tidak ada air mata. Tidak ada permohonan. Bahkan tidak ada sedikitpun tanda bahwa wanita itu sedang patah hati. Dan sikap tenang wanita itulah yang membuat dada Arsen terasa semakin sesak.

“Keira...” panggilnya lirih. “Kenapa jadi seperti ini?”

Keira menarik napas perlahan. “Kamu sendiri yang memilih jalan ini.”

Arsen terdiam mendengar jawaban Keira. Pria itu seperti kehabisan kata-kata

“Arsen!” Marisa kembali mendesak.

Akhirnya Arsen menundukkan kepala, tangannya terulur dengan gemetar saat mengambil pena yang disodorkan pengacara Naufal. Lalu ia membuka lembar terakhir surat perceraian tersebut. Tangannya sempat berhenti di atas kolom tanda tangan yang ada namanya sendiri. Arsen Wijaya.

Tak jauh dari namanya, ia melihat nama Keira yang sudah dibubuhkan tanda tangan. Arsen kembali merasa dadanya sesak. Keira benar-benar telah siap melepas dirinya.

Dengan rahang mengeras, Arsen akhirnya menorehkan tanda tangannya di atas dokumen tersebut. Satu goresan, lalu satu tarikan pena terakhir. Selesai.

Naufal segera mengambil kembali dokumen itu dan memeriksanya sekilas sebelum memasukkannya ke dalam map. Sementara Keira melihat semuanya tanpa perubahan ekspresi.

Arsen merasa seperti baru saja kehilangan sesuatu yang selama ini ia anggap tidak mungkin pergi darinya.

“Berkasnya.” Keira mengulurkan tangannya kepada Naufal.

Naufal menyerahkan map tersebut kepada Keira dan wanita itu menerimanya, kemudian menatap Arsen untuk terakhir kalinya sebagai seorang istri.

“Selamat atas pernikahanmu, Arsen,” ucap Keira lalu menatap ke arah Clarissa. “Semoga kalian bahagia.”

Arsen menatapnya tanpa mampu menjawab. Begitu juga dengan Keira yang hanya diam. Entah kenapa tatapan wanita yang selama ini ia anggap hanya wanita rumah tangga, kini terlihat berbeda. Ada aura yang begitu mendominasi.

Keira tersenyum tipis, lalu berbalik. Melangkah dengan anggun diikuti oleh pengacara Naufal dan Elvano. Daren juga langsung melepaskan tangannya yang semula menahan Marissa lalu mengikuti langkah mereka.

Para pria berpakaian hitam yang yang sebelumnya menghadang pengawal keluarga Wijaya perlahan menurunkan tangan dan memberi jalan. Gerakan mereka begitu teratur. Setelah memastikan tidak ada lagi ancaman, mereka bergerak turun dari panggung dengan formasi rapi dan mengikuti Keira tanpa membuat keributan.

Baru beberapa langkah Keira meninggalkan panggung, suara Darma terdengar keras.

“Tuan muda Mahardika, tunggu!” pria itu ikut turun panggung dengan langkah cepat agar bisa mengejar Elvano, membuat semua mata tertuju kepadanya. Bahkan Arsen dan keluarga Halim juga melihat ke arahnya.

“Tuan Muda Mahardika, tunggu dulu. Bukankah Anda datang untuk menghadiri pernikahan putra saya?”

Elvano menghentikan langkahnya dan menoleh perlahan, menatap ke arah Darma dengan wajah datar. Pria itu justru melirik sekilas ke arah Keira yang sudah berjalan beberapa meter di depan. Kemudian kembali menoleh ke arah Darma.

“Saya akan mempertimbangkan kembali hubungan bisnis di antara perusahaan kita.”

Darma menggeleng cepat. “Jangan seperti itu. Bukankah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kerjasama kita?”

Elvano tersenyum tipis. “Setelah melihat apa yang terjadi hari ini...” Ia berhenti sebentar, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Mungkin saya harus berpikir ulang.”

Wajah Darma seketika berubah. “Tuan Elvano...”

Elvano tidak memberikan kesempatan untuk melanjutkan. Pria itu hanya mengangguk kecil, kemudian berbalik dan menyusul Keira.

Darma berdiri terpaku. Sementara di atas panggung, Arsen menatap kepergian mereka semua dengan dada yang semakin berat. Satu tanya muncul di benaknya. Kenapa mereka semua, Tuan Daren Antasena, Pengacara Naufal, Tuan Elvano Mahardika… mereka semua seperti sangat patuh pada Keira?

1
Ayuk Witanto
biar saja jantungan pdk darma
Ayuk Witanto
pasti pada syok
Ayuk Witanto
tamat riwayat mu arsen
Ayuk Witanto
itu dulu
Ayuk Witanto
lanjut
adam Ridho
waaaarbiyasaaaa
Ayuk Witanto
tau aja🤭
nayla tsaqif
Kita mahhh gk nyiapin ambulans, thor,, tp nyiapin TPU,, 😅
Dwi Setyaningrum
baguslah keira ga usah peduliin org yg ga penting seperti mantanmu itu emang enak dicuekin🤪
vania larasati
lanjut
Mundri Astuti
seeehhhh mang Keira mau masuk ke lubang yg sama ...ga lah ..
kan skrg kamu ngemis" ...kemarin jam sombong kali kau
Ilfa Yarni
Bagus keira ngapain mikirin kluarga yg meremehkanmu biar kan sajark collabs
Adinda
bagus keira kalau bisa buat mereka semakin menderita
Noor hidayati
kenapa sekarang up nya lelet ya,apa bacanya numpuk bab saja,biar ga bolak balik ngecek sudah up apa belum
merry
duduk drmhh lh renungin penyesalan kliann
Aditya hp/ bunda Lia
mampus ....
vania larasati
lanjut
Muft Smoker
hellloooooo ,,
pegangin nyawa ny pak darma yg udh muak tinggal di raga ny sendiri ,,
selama ini anda begitu sombong ,, menyepelekan keira ,,
skarang kenyataan siapa keiraa ,,
jantungan kn andaa ,,
Muft Smoker
datang laa petir di tengah ruang rapat ,,
🤭🤭😁😁😁
Susan Paulina
Lanjut lagi Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!