Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memutus Ilusi
Malam setelah sholat Isya, Winta membuka akun tik tok Ranga ternyata sudah tidak ada lagi, lanjut dia buka WhatsApp nya ternyata sudah centang satu.
Perasaan Winta mulai gak enak, ada apa sebenarnya. Meskipun hati mulai galau Winta sudah tidak begitu peduli lagi, dia mulai saja kegiatan hari harinya.
Menulis puisi dan cerita pendek kemudian mengunggahnya di media sosial.
Kali ini sudah hampir satu Minggu Rangga juga tidak kelihatan di WhatsApp, rasanya ingin Winta memblokir WhatsApp nya tapi hatinya ragu, dia khawatir Rangga akan membocorkan percakapan mereka di Medsos, sungguh dia adalah misteri.
Kekhawatiran itu terus membayangi pikiran Winta. Setiap kali jemarinya mengambang di atas tombol blokir, rasa takut menyergapnya.
Bagaimana kalau Rangga nekat? Bagaimana kalau pria itu menyebarkan tangkapan layar percakapan mesra mereka ke media sosial? Nama baik dan harga diri yang ia jaga dengan cermat selama puluhan tahun bisa hancur dalam semalam.
Namun, di tengah kemelut batin itu, logika mantan manajer pemasaran dalam dirinya perlahan kembali menyala. Winta mencoba mengurai pola perilaku Rangga secara dingin dan terstruktur.
"Tunggu..."
bisiknya pelan, menatap pantulan dirinya di cermin rias.
"Kenapa aku yang harus takut?"
Ia mengingat kembali setiap detailnya. Akun TikTok yang mendadak lenyap, nomor WhatsApp yang centang satu berhari-hari, ini bukan perilaku orang yang memegang kendali. Ini adalah gestur panik seorang penakut yang sedang berusaha menyembunyikan jejak.
Rangga selalu menghilang setiap kali ia kembali ke tengah-tengah keluarganya. Pria itu mematikan ponsel dan menghapus akun karena takut kedoknya terbongkar oleh sang istri. Rangga memiliki jauh lebih banyak hal untuk dipertaruhkan daripada Winta. Jika hubungan gelap ini terbongkar, rumah tangga dan reputasi Rangga-lah yang hancur berkeping-keping.
Kesadaran itu menghantam Winta bagai guyuran air dingin. Rasa cemas yang menghimpit dadanya mendadak sirna, berganti menjadi ketegasan yang utuh.
Selama ini ia membiarkan dirinya dimanipulasi oleh ilusi rindu dan ancaman kosong yang ia ciptakan sendiri di dalam kepalanya.
Untuk menenangkan pikirannya, Winta membuka laptop dan mulai mengetik sebuah bait puisi di akun media sosialnya. Ia menuangkan seluruh proses pendewasaan batinnya ke dalam kata-kata,
Bukan tentang seberapa jauh kita pernah melangkah dalam ilusi,
melainkan seberapa cepat kita berbalik saat sadar jalan itu penuh kebohongan.
Kehormatan seorang wanita tidak ditentukan oleh siapa yang memujinya,
tetapi oleh keberaniannya menolak menjadi pemuas ego pria penakut.
Unggahan itu langsung dibanjiri apresiasi dari para pengikutnya. Komentar-komentar positif yang masuk menjadi pengingat bagi Winta bahwa dunianya sangat luas, dan nilainya sebagai seorang wanita jauh lebih berharga daripada sekadar menjadi simpanan siri seorang pria pembohong.
Tepat pukul sepuluh malam, saat suasana rumah sudah hening, layar ponsel Winta menyala.
Dua centang hitam di percakapan Rangga mendadak berubah menjadi biru, disusul sebuah pesan singkat yang masuk,
"Umi, Abi baru bisa pegang HP. Kangen banget sama Umi..."
Winta menatap pesan itu. Tidak ada lagi detak jantung yang berdebar liar. Tidak ada lagi air mata, maupun rasa rindu yang meremukkan dada. Yang tersisa hanyalah rasa mual melihat betapa murahnya pola manipulasi pria tersebut.
Tanpa keraguan sedikit pun, jemari Winta bergerak cepat dan mantap.
Ia tidak membalas sepatah kata pun. Winta langsung menekan menu profil Rangga, memilih opsi Blokir, lalu menghapus seluruh riwayat obrolan mereka hingga bersih tanpa sisa.
Ia mengembuskan napas panjang, meletakkan ponselnya di meja samping ranjang, dan mematikan lampu kamar. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Winta memejamkan mata dengan perasaan lega dan hati yang sepenuhnya berkuasa atas dirinya sendiri.
Bersambung.