Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Fondasi kebohongan
Seminggu telah berlalu sejak Raya sadar dari komanya. Hari ini, dokter akhirnya mengizinkannya untuk pulang dari rumah sakit.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam sudah menanti di loby utama. Aris membukakan pintu dengan sangat hati-hati, memastikan kepala Raya yang masih terbalut kain kasa halus tidak terbentur.
Di kursi belakang, Cyla duduk manis ditemani oleh Suster Santi, perawat pribadi yang sengaja disewa Aris untuk membantu mengurus balita itu.
Sepanjang perjalanan, Raya lebih banyak menatap ke luar jendela. Gedung-gedung tinggi, pepohonan, dan riuk pikuk jalanan kota terasa sangat asing baginya.
Dunia di luar sana tampak seperti lembaran kertas putih tanpa cerita. Setiap kali ia berusaha memanggil kembali ingatan tentang tempat-tempat yang dilewatinya, denyut nyeri langsung menyerang pelipisnya.
"Jangan dipaksakan, Raya," ucap Aris lembut. Tangannya terulur mengusap jemari Raya yang kaku di atas paha. "Dokter bilang ingatanmu butuh waktu. Yang terpenting sekarang adalah memulihkan fisikmu."
Raya menoleh dan menatap wajah tegas Aris. Ada kehangatan luar biasa yang terpancar dari mata pria itu, namun di saat yang sama, Raya terkadang menangkap kilat kesedihan yang amat dalam yang selalu Aris sembunyikan dengan cepat.
"Aris... apakah tempat yang akan kita tuju ini benar-benar rumah kita?" tanya Raya lirih.
Aris tersenyum tipis, meski hatinya mencelos mendengarkan kata 'rumah kita'. "Iya. Itu rumah yang aku siapkan untuk kita dan Cyla. Kamu akan aman di sana."
Beberapa puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang terbuka otomatis. Kendaraan itu melaju pelan menyusuri jalan setapak berkerikil halus sebelum berhenti di depan sebuah mansion bergaya modern minimalis yang megah.
Taman luas dengan rumput hijau dan gemericik air mancur menyambut kedatangan mereka.
Raya melangkah keluar dari mobil dengan napas tertahan. Rumah ini begitu luas, mewah, dan... terasa terlalu dingin untuknya. Tak ada satu pun sudut di tempat ini yang memicu rasa familiar di dadanya.
"Mari, aku antarkan ke kamarmu," ujar Aris seraya merangkul bahu Raya dengan penuh kehati-hatian.
Aris membawanya naik ke lantai dua menuju sebuah kamar utama yang sangat luas. Kamar itu didominasi warna krem dan putih dengan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke taman belakang. Di atas tempat tidur king-size, terhampar seprai sutra yang sangat lembut.
"Ini kamarmu. Semua pakaian dan kebutuhanmu sudah disiapkan di dalam lemari oleh pelayan," terang Aris.
Raya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang megah itu. Tiba-tiba, pandangannya terhenti pada sebuah meja rias di sudut kamar. Di sana tidak ada satu pun foto berdua antara dirinya dan Aris. Yang ada hanya beberapa barang mewah, parfum, dan perhiasan yang masih tampak sangat baru.
"Aris..." panggil Raya pelan, seraya memutar tubuhnya menghadap Aris.
"Ya, Sayang?"
"Jika kita sudah lama menjalin hubungan dan merawat Cyla bersama... kenapa di rumah seindah ini tidak ada satu pun foto kita bersama?" tanya Raya polos, matanya menatap lurus menuntut jawaban.
Pertanyaan itu menghantam dada Aris bagai godam berat. Lidahnya seketika terasa kelu. Ia lupa memikirkan detail sekecil itu saat menyiapkan rumah ini dalam waktu singkat.
Namun, Aris cepat menguasai dirinya. Ia melangkah mendekati Raya, meraih kedua tangan wanita itu dan menatap matanya dengan kehangatan manipulatif yang telah ia latih berkali-kali.
"Sebelum kecelakaan itu, kita baru saja pindah ke rumah baru ini, Raya. Semua foto dan barang-barang pribadi kita masih tersimpan di dalam dus di ruang penyimpanan bawah," bohong Aris tanpa kedipan mata. "Aku sengaja belum memajangnya karena ingin kita menatanya bersama setelah kamu sembuh."
Raya menatap Aris lama, seolah mencari celah kebohongan. Namun wajah Aris tampak begitu tulus dan penuh kasih sayang. Rasa ragu di dada Raya pun perlahan memudar, tergantikan oleh rasa bersalah karena telah mencurigai pria yang selama ini merawatnya dengan sangat baik.
"Maafkan aku... Aku hanya merasa bingung," bisik Raya menunduk.
"Tidak apa-apa," Aris membawa Raya ke dalam pelukan hangatnya. Di balik punggung Raya, mata Aris terpejam rapat. Penyesalan dan rasa bersalah kembali merayap, membakar jiwanya dari dalam.
"Maafkan aku, Raya... Aku harus terus berbohong agar kamu tidak hancur," batin Aris pilu.
Malam harinya, rumah terasa begitu sunyi. Cyla sudah tidur lelap di kamar anak yang berada tepat di sebelah kamar Raya di bawah pengawasan Suster Santi.
Aris berdiri di balik meja kerjanya di ruang kerja pribadi. Lampu meja yang remang menyinari beberapa lembar dokumen penting: laporan kepolisian yang telah ditutup, surat kematian Ardiansyah, dan sertifikat pengangkatan anak untuk Cyla yang diselesaikan secara kilat.
Pintu ruang kerja berbunyi pelan. Hendra melangkah masuk seraya membawa sebuah map hitam.
"Pak Aris," sapa Hendra setengah berbisik. "Semua aset dan rekening atas nama almarhum Ardi sudah diurus. Dana peninggalannya telah dipindahkan ke rekening rahasia yang atas namanya diubah untuk masa depan Cyla."
Aris mengangguk tanpa suara, matanya masih menatap hampa ke luar jendela yang menampilkan kegelapan malam.
"Bagaimana keadaan Ibu Raya, Pak?" tanya Hendra ragu.
"Dia percaya semua kebohonganku, Hendra," jawab Aris dengan suara parau yang amat serak. "Dia percaya aku kekasihnya. Dia percaya Cyla anak angkat kami. Tapi setiap kali dia menatapku dengan mata polos itu... aku merasa seperti penjahat paling menjijikkan di dunia ini."
Hendra menarik napas dalam-dalam. "Anda sudah memilih jalan ini, Pak Aris. Tidak ada jalan untuk mundur lagi. Jika kebenaran ini terbongkar sekarang, kondisi psikologis Ibu Raya bisa terguncang parah."
"Aku tahu..." Aris memutar tubuhnya, dan menatap Hendra dengan ketegatan yang penuh keputusasaan. "Tutup rapat-rapat mulut semua orang yang terlibat. Jangan sampai ada satu pun jejak tentang keberadaan Ardiansyah atau masa lalu Raya yang sampai ke rumah ini."
"Baik, Pak. Saya mengerti."
Setelah Hendra pamit keluar, Aris menyandarkan punggungnya pada kursi kerja. Ia memegang dadanya yang terasa sesak. Di dalam rumah mewah ini, ia telah menciptakan sebuah sangkar emas untuk Raya, sebuah tempat di mana wanita itu terlindungi dari mara bahaya, namun sekaligus menjadi penjara yang dibangun di atas fondasi kebohongan berdarah.
Di kamar atas, Raya berdiri di dekat jendela, memandangi bulan sabit yang tertutup awan tipis. Di dalam hatinya yang hampa, ada sebuah rasa hampa yang tak terobati, sebuah kerinduan mendalam pada sosok yang tak pernah bisa ia ingat, tanpa menyadari bahwa sosok yang dirindukannya itu telah terbujur kaku di bawah tanah merah, terbunuh oleh pria yang kini menjadi pelindungnya.
Bersambung...