kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Pagi itu, suasana rumah terasa sepi tak lama setelah Nina dan Hazel berangkat ke kampus. Faris yang baru saja menyelesaikan sarapannya dikagetkan oleh getaran ponsel di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak tersimpan, namun format pesannya begitu formal dan dingin, pesan dari Dako, asisten pribadi Jafar.
“Tuan Jafar menunggu Anda di kantor sekarang.”
Tangan Faris gemetar hebat hingga cangkir kopi yang dipegangnya berdenting menyentuh piring kecil. Tanpa membuang waktu dan tanpa berani memberi tahu Anggun, Faris langsung meluncur menuju gedung pencakar langit milik Jafar.
Di ruang kerja yang serba gelap dan megah itu, Jafar berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan kota dari balik jendela kaca besar. Masker hitam masih menutupi separuh wajahnya, menyisakan sepasang mata tajam yang menembus bayangan.
"Tuan Jafar..." Faris membungkuk dalam-dalam, napasnya tersengal.
Jafar membalikkan badan perlahan. Gerakannya begitu tenang, namun aura intimidasi yang terpancar membuat ruangan itu terasa makin menyempit dan menyedot seluruh udara di sekitarnya.
"Saya sudah melihat data putri kandungmu," ujar Jafar dengan suara berat, dalam, dan tanpa nada. "Nina."
Faris menelan ludah yang terasa pahit. "I-iya, Tuan. Bagaimana? Dia gadis yang sangat polos dan tidak pernah bertingkah, saya jamin...."
"Cukup," potong Jafar dingin. Suaranya tidak keras, tetapi sanggup membungkam Faris seketika.
Jafar melangkah mendekat, menghentikan langkahnya tepat di hadapan Faris. Bulu mata lentiknya menaungi tatapan mata yang berkilat berbahaya.
"Malam ini, jam delapan malam tepat," ucap Jafar penuh penekanan. Dako yang berdiri di sudut ruangan maju satu langkah dan menyerahkan selembar kartu akses hitam tanpa tanda apa pun kepada Faris. "Bawa dia ke alamat apartemen ini. Ini apartemen pribadi saya, bukan kediaman umum."
Faris menerima kartu akses itu dengan tangan gemetar. "B-baik, Tuan... Apakah saya harus mendampinginya?"
Jafar mengukir senyum sinis di balik maskernya yang tak terlihat. "tentu saja. Setelah itu, tinggalkan dia di sana. Jangan ada seorang pun yang tahu tentang hal ini, termasuk istri dan anak tirimu. Jika ada satu kata saja yang bocor, bukan cuma bisnismu yang hancur, Faris... tapi kamu sendiri yang akan saya lenyapkan."
Ancaman itu begitu nyata dan berhawa membunuh. Faris mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengangguk cepat dengan wajah pucat pasi.
"P-paham, Tuan Jafar. Saya akan bawa Nina malam ini," bisik Faris pasrah, resmi menjual masa depan putri kandungnya sendiri demi menyelamatkan nyawa dan hartanya.
Matahari siang membakar pelataran gedung universitas bergaya futuristik itu. Di tengah lalu lalang mahasiswa yang sibuk dengan kelompoknya masing-masing, Nina berjalan sendirian. Kampus elit ini memang berdiri di bawah naungan konglomerasi besar milik Jafar. Peraturannya terkenal amat ketat dan dingin. tak ada toleransi untuk perundungan fisik atau perkelahian terbuka. Siapa pun yang berani mengotori nama baik kampus akan langsung dikeluarkan tanpa ampun.
Karena itulah, mereka yang merasa berada di kasta tertinggi bertindak lebih halus. Perundungan di sini tidak berbentuk pukulan atau makian kasar, melainkan tatapan merendahkan, bisik-bisik beracun saat berpapasan, serta batasan tegas antara si kaya dan penerima beasiswa.
Nina melangkah di sepanjang koridor menuju perpustakaan. Penampilannya yang sangat sederhana, tanpa tas ternama mewah atau perhiasan mencolok, membuatnya secara otomatis disortir ke kelompok orang luar. Bahkan Hazel yang kebetulan lewat bersama gengnya sengaja membuang muka, pura-pura tidak kenal agar citra mewahnya tidak tercoreng karena memiliki adik tiri berpenampilan polos seperti Nina.
Beberapa mahasiswa beasiswa tampak duduk bergerombol di sudut taman, tetapi Nina memilih untuk tidak mendekat. Sudah beberapa hari kuliah berjalan, dan ia sama sekali tidak memiliki teman. Tidak ada yang mau duduk di sampingnya saat kelas desain berlangsung, dan tidak ada yang mau menyapa saat jam istirahat.
Namun, di balik kepala yang menunduk dan raut wajah polos yang terasing, Nina tidak peduli sedikit pun.
Ia tidak datang ke tempat ini untuk mencari lingkaran pertemanan atau pengakuan sosial dari anak-anak manja yang hidup dari uang orang tua mereka. Tujuan utamanya tetap utuh. menguasai ilmu desain tekstil dan busana hingga ke akarnya. Setiap teori warna, teknik pemotongan pola, hingga sejarah tekstil dunia diserapnya dengan sangat tajam. Bagi Nina, kesendirian di kampus justru menjadi tempat berlindung terbaik, di mana ia bisa terus mengasah keahliannya tanpa perlu menarik perhatian yang tak perlu.
Saat Nina sedang tekun mencatat di salah satu meja perpustakaan yang sepi, ponsel di dalam saku kemejanya bergetar pelan. Sebuah pesan dari Faris masuk.
“Nanti sore pulang kampus, Ayah yang jemput langsung. Kamu harus siap-siap, malam ini Ayah ada pertemuan penting. Ku harap kau sebagai putri kandung ku bisa ikut”
Nina menatap layar ponselnya beberapa detik. Senyum dingin terukir amat tipis di bibirnya, begitu halus hingga tak ada seorang pun di perpustakaan itu yang menyadarinya. Topeng gadis desa yang lugu dan menyedihkan itu akan segera menghadapi ujian terbesarnya malam ini.
____
Mobil mewah Faris membelah kemacetan sore Jakarta menuju salah satu pusat perbelanjaan paling megah di pusat kota. Di dalam mobil, Faris menatap Nina dengan binar yang tak biasa, sebuah raut wajah yang berpura-pura menjadi sosok ayah penyayang.
"Sore ini Ayah mau belikan kamu gaun yang bagus, Nina," ucap Faris dengan suara lembut yang dibuat-buat. "Malam ini kita ada pertemuan penting, jadi kamu harus tampil cantik."
"Iya, Ayah... Terima kasih banyak," bisik Nina pelan, menundukkan kepala dengan raut haru buatan yang begitu sempurna.
Ia mengirim pesan pada Tania,namun Tania tak kunjung membukanya.
Begitu sampai di mal megah tersebut, Faris membawakan Nina ke sebuah boutique busana kelas atas. Faris memilihkan sebuah gaun anggun, panjang, dan tertutup, lengkap dengan hijab yang senada. Tak berhenti di situ, Faris kemudian mengajak Nina makan malam di sebuah restoran mewah berkonsep privat.
Di meja makan yang tenang itu, Faris memandangi wajah manis Nina yang diterpa pendar lampu gantung kristal. Untuk sejenak, di lubuk hatinya yang paling dalam, Faris merasakan kehangatan asing. Ia seperti sedang menikmati kencan hangat antara seorang ayah dan putri kandungnya, sesuatu yang tak pernah ia dapatkan dari Hazel yang selalu bersikap manja dan menuntut. Faris tersenyum tipis, merasa bangga memiliki putri secantik Nina.
Namun, tepat di hadapannya, di balik senyum tipis dan sikap penurut yang ia tunjukkan, Nina merasakan mual yang luar biasa.
Melihat wajah Faris yang berpura-pura bahagia dan bertingkah seolah-olah menjadi ayah yang penyayang membuat dada Nina bergejolak oleh rasa muak. Ingatan masa kecilnya mendadak berputar hebat di kepala.
Ia teringat malam-malam kelam di desa, ketika ibunya duduk bersimpuh di sudut kamar, menangis diam-diam dalam keheningan agar Nina tidak terbangun. Ibunya yang menderita batin, meratapi pengkhianatan Faris yang pergi meninggalkan mereka demi wanita lain dan kemewahan harta. Setiap tetes air mata ibunya yang tumpah dulu kini menjelma menjadi cuka yang menyiram hati Nina.
"Pria ini... "batin Nina dingin, jemarinya menggenggam erat kain di pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih. ""Dia memanjakanku sore ini bukan karena rasa sayang, tapi karena sedang mempercantik hewan kurbannya sebelum disembelih."
"Makan yang banyak, Nina. Nanti setelah ini kita langsung berangkat," ujar Faris hangat, memotong sepotong daging dan meletakkannya di piring Nina.
"Terima kasih, Ayah..." jawab Nina lembut, memasang binar mata polos yang sarat akan kepatuhan.
Nina menyuap makanan itu perlahan. Di balik topeng kepasrahannya, hati Nina makin membatu. Ia sudah siap melangkah ke dalam perangkap yang disiapkan ayahnya, membawa seluruh amarah dan kenangan ibunya untuk meruntuhkan siapa pun yang mencoba menghancurkannya.
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰