Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Honeymoon Kerja dan Tampran Di Airport
Pagi itu setelah sarapan malu-malu yang heboh, aku masih duduk di sofa yang sudah rapi kembali. Bekas lipstik ku di bantal sudah dicuci Bi Ijah. Hilang. Tapi rasa malunya masih ada.
Brayen keluar dari ruang kerjanya dengan dua map hitam tebal dan satu kotak beludru biru dongker.
"Nyonya Alkantara," katanya formal, tapi senyumnya jahil. "Ada rapat."
Aku mendongak. "Rapat apa Mas?"
Ia duduk di sampingku, membuka map pertama. Isinya foto-foto ku. Foto ku yang kemarin di taman bunga. Foto ku yang ketawa di roller coaster. Foto ku yang tidur di pangkuannya di sofa (yang diam-diam ia foto tadi pagi!).
"Jantung ku," bisiknya pelan.
Aku mukul lengannya. "Mas! Serius!"
Ia ketawa, lalu membuka kotak beludru itu.
Di dalamnya... sebuah kalung berlian. Bukan kalung biasa. Liontin nya berbentuk bulan sabit kecil, dengan satu berlian besar di tengahnya yang berkilau seperti bintang. Cantik banget.
"Isyana," kata Brayen, suaranya berubah serius. "Kamu tau kan Alkantara Group punya lini perhiasan? Alkantara Diamonds? Brand berlian nomor satu di Asia?"
Aku mengangguk. Semua orang tau.
"Selama ini brand ambasadornya model luar negeri. Kontraknya habis bulan ini. Dewan direksi mau perpanjang sama model itu lagi dengan bayaran 5 Miliar."
_Deg!_ 5 Miliar.
"Tapi aku tolak," lanjutnya. Ia mengambil kalung itu, memasangkan pelan di leherku. Jari-jarinya yang hangat menyentuh kulit leherku. Aku merinding.
"Aku bilang ke dewan direksi, aku sudah punya berlian terbaik di dunia. Di rumah. Kenapa harus cari ke luar?"
Aku membulatkan mata. "Mas... jangan bilang..."
"Iya," ia tersenyum, menatapku lekat. "Mulai hari ini, kamu resmi jadi Brand Ambassador Alkantara Diamonds. Istri ku sendiri. Wajah kamu yang akan ada di billboard SCBD, di Plaza Indonesia, di semua toko kami. Bukan karena kamu istri ku. Tapi karena kamu memang secantik berlian."
Air mataku langsung menggenang. "Mas... aku? Aku kan bukan model... aku cuma..."
"Kamu Isyana ku," potongnya. "Itu lebih dari cukup."
Lalu ia membuka map kedua.
"Dan karena kamu sekarang BA, kita ada kerjaan pertama. Photoshoot resmi di Maladewa. Tiga hari. Resort privat milik perusahaan. Laut biru, villa air, sunset."
Ia menatapku dengan alis naik turun.
"Jadi... ini honeymoon sambil kerja. Gimana? Mau honeymoon kerja sama Mas suami?"
Aku langsung loncat meluk lehernya! "Mau! Mau banget Mas!"
"Eh, tapi," ia menahan pelukku, "Satu syarat. Di Maladewa, tidak ada lagi kontrak. Hanya ada aku dan kamu. Boleh?"
Aku mengangguk malu-malu. "Boleh..."
---
*BANDARA SOEKARNO-HATTA - LOUNGE VIP - SIANG*
Aku pakai dress putih panjang, kalung berlian bulan sabit itu sudah melingkar indah di leherku. Brayen pakai kemeja putih dan celana chino krem, kacamata hitam nya di kepala. Kami terlihat seperti pasangan selebritis yang mau honeymoon. Koper kami sudah diurus staf.
Kami menunggu boarding di loby lounge yang ramai. Banyak orang.
Brayen izin sebentar ke toilet. "Tunggu disini ya sayang, jangan kemana-mana. Jangan ngobrol sama orang asing."
"Iya Mas," jawabku.
Baru 2 menit Brayen pergi...
"Ya ampun... ini siapa? Isyana?"
Suara cempreng yang sangat aku kenal. Suara yang bikin bulu kuduk ku berdiri.
Aku menoleh.
Lalita. Adik tiriku yang selalu iri dan julid padaku. Pakai baju branded KW yang keliatan, kacamata hitam besar, bawa koper pink.
"Lalita..." kataku pelan.
Ia duduk di sebelahku tanpa izin, menatapku dari atas ke bawah. Menatap kalung berlian ku.
"Wah, kalungnya asli atau palsu, Yaa? Tumben gaya-gayaan? Katanya ayah kamu kan punya utang banyak? Oh iya aku dengar gosip..." suaranya dikeraskan, sengaja biar orang di loby dengar. Beberapa orang mulai melirik.
"Aku dengar kamu DIJUAL ya sama ayah ke pengusaha kaya? Brayen Alkantara itu kan? Tadinya ayah minta aku yang nikah, cuma aku ga mau CEO itu kam kejam dingin ? Jadi kamu sekarang istri pengganti dan kontrak buat bayar hutang ayah kamu? Malang sekali nasib mu kakak tiriku hihihi." Dengan senyum sinisnya.
Darah ku langsung naik ke kepala. Tanganku gemetar. Napas ku sesak.
"Lalita, jaga mulut kamu!" bisikku, hampir nangis. Aku tidak mau bikin keributan di airport. Apalagi kalung ini kalung perusahaan Brayen. Nama baik perusahaan dipertaruhkan.
Lalita malah ketawa nyinyir makin keras. "Lah kok marah? Kan kenyataan? Semua orang tau kok kamu itu..."
_PLAK!!!_
Belum selesai kalimatnya...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Lalita.
Bukan dari ku.
Dari belakangku.
Brayen.
Entah sejak kapan ia berdiri di belakangku. Wajahnya... Ya Tuhan. Aku belum pernah lihat wajahnya sedingin dan semarah itu. Rahangnya mengeras. Matanya merah menahan amarah. Kacamata hitamnya sudah ia lepas.
Semua orang di loby lounge langsung DIAM. Hening total. Semua menatap kami.
Lalita memegangi pipinya yang merah, kaget, mulutnya terbuka.
Brayen tidak peduli tatapan orang. Ia berdiri di depan ku, membentengi ku seperti tembok besar. Suaranya keras, jelas, berat, menggema di seluruh loby. Bukan suara CEO rapat. Suara suami yang istrinya dihina.
"Dengar ya, Lalita adik tiri yang punya sifat murahan," katanya, setiap kata ditekankan.
"Istri saya namanya Isyana Alkantara. Bukan Isyana yang kamu hina. Dia bukan dijual. Dia saya nikahi secara sah dengan mas kawin dan akad di depan penghulu. Hutang ayahnya? Sudah lunas saya lunaskan bahkan sebelum saya menikahi anaknya. Karena saya mencintai anaknya, bukan karena saya membeli anaknya."
Ia menatap Lalita tajam.
"Dan kalung berlian yang kamu bilang palsu itu? Itu Alkantara Diamonds seri Bulan Sabit. Harga nya 1,2 Miliar. Dan mulai hari ini, hanya istri saya yang boleh pakai. Karena dia Brand Ambassador resmi perusahaan saya. Jadi kalau kamu bilang istri saya palsu, berarti kamu bilang perusahaan saya palsu. Kamu mau saya tuntut?"
Lalita pucat. Gemetar. "S-saya... saya cuma bercanda Mas Brayen..."
"Bercanda?" Brayen tertawa sinis. "Bercanda dengan merendahkan istri orang di depan umum? Itu bukan bercanda. Itu penghinaan. Dan saya tidak terima istri saya dihina satu kata pun, cukup sudah kamu dulu merobek gaun Isyana sekarang tidak saya ijinkan siapapun menghina apalagi menyakiti perasaan Isyana Berlian Alkantara."
Ia menggandeng tanganku erat. Mengangkat koper kami.
Lalu ia menatap semua orang di loby yang melihat dan berkata dengan lantang:
"Perkenalkan, ini istri saya, Isyana Alkantara. Brand Ambassador Alkantara Diamonds. Dan kami akan honeymoon ke Maladewa. Terima kasih."
_Deg!_
Aku... aku mau nangis. Bukan karena malu. Tapi karena bangga dan haru.
Brayen menggandengku pergi meninggalkan Lalita yang masih memegangi pipi dan menunduk malu di tengah keramaian.
Di dalam pelukannya yang berjalan menuju gate, aku berbisik dengan air mata berlinang, "Mas... makasih..."
Brayen menunduk, mencium keningku pelan di depan banyak orang, tidak peduli.
"Tidak ada yang boleh hina kamu, Isyana. Bahkan satu kata pun. Karena kamu sekarang milik ku. Dan aku milik kamu."
Dan kami boarding. Menuju Maladewa. Honeymoon kerja pertama kami. Dengan drama tamparan di airport yang akan jadi gosip se-Indonesia besok pagi.
---Bersambung---