Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara di Jantung Limbah
Hawa panas langsung merambat melingkupi ruangan klinik yang sempit. Api biru yang membakar ujung pedang para pemburu bayaran itu bukan sekadar api biasa—itu adalah Ignis Azura, sihir api tingkat lanjut yang membakar oksigen lebih cepat dan menghasilkan asap beracun.
"Sialan!" maki Lyra, langsung melepaskan tembakan kejut dari pistol pelumpuhnya.
Dua jarum bermuatan listrik melesat menembus asap. Namun, salah satu pemburu bayaran melambaikan tangan kirinya, menciptakan perisai angin puyuh yang membelokkan jarum-jarum tersebut hingga menancap di langit-langit klinik.
"Pemberontak rendahan dari Distrik Bawah," ejek sang pemimpin pemburu bayaran, pria berambut perak dengan bekas luka melintang di pipi kirinya. "Menyerahkan buronan kami, atau kubakar tempat ini beserta seluruh isinya."
Dokter Silas merosot di dekat meja kerjanya, wajahnya pucat pasi menatap pedang menyala itu. "Mereka... mereka pemburu bayaran elit dari Sektor Tertinggi. Kita tamat..."
Kaelen mengepalkan kedua tangannya. Rasa sakit di dadanya akibat tulang rusuk yang belum tersambung sempurna seolah terbakar oleh gelombang panas dari pedang musuh. Tiga hari. Hidupnya tinggal tiga hari jika tidak bisa mengendalikan kutukan ini. Tapi jika ia mati malam ini di tempat sampah ini, balas dendamnya pada Paman Varian hanya akan menjadi angan-angan.
Tidak. Aku belum boleh mati.
Kaelen menarik napas dalam-dalam. Ia mengabaikan rasa mual yang mendera, lalu berdiri tegak di hadapan Silas dan Lyra.
"Kalian mencari aku, kan?" suara Kaelen memecah deru api biru, dingin dan tanpa gentar.
Pemimpin pemburu bayaran itu menyipitkan mata, menatap jubah lusuh yang menutupi tubuh Kaelen. "Kaelen Adiwangsa. Si Anomali. Pamanmu menitipkan pesan khusus: kepala atau tubuh utuh, tidak ada bedanya bagi Dewan Klan."
Pria berambut perak itu mengayunkan pedangnya, mengirimkan gelombang sabit api biru langsung ke arah Kaelen. Suhu ruangan melonjak drastis, membuat lembaran logam di dinding mulai melengkung.
Lyra bersiap menerjang untuk menarik Kaelen, tetapi pemuda itu bergerak lebih cepat.
Kaelen tidak menghindar. Ia melangkah maju, merentangkan tangan kirinya selebar mungkin. Di dalam dadanya, pusaran kabut hitam keunguan bergolak liar, merespons kehadiran sihir musuh yang sangat pekat.
Hap!
Saat sabit api biru itu menghantam telapak tangannya, Kaelen merasakan sengatan panas yang membakar kulitnya. Namun, ia mengerahkan seluruh tekadnya untuk menahan rasa sakit itu. Kabut hitamnya melebar, menelan mentah-mentah gelombang api tersebut.
Tidak ada ledakan. Api biru itu tersedot ke dalam pusaran, lenyap tak bersisa.
Namun, volume mana yang ditelan kali ini jauh lebih besar dari sebelumnya. Wajah Kaelen memerah, urat-urat di lehernya menonjol, dan setetes darah segar mengalir dari hidungnya. Tubuhnya bergetar hebat menahan beban energi destruktif yang mendesak keluar.
Para pemburu bayaran terperanjat mundur untuk sesaat. "Apa... apa yang dia lakukan dengan sihir itu?" teriak salah satu kroco dengan nada tak percaya.
Kaelen menyeringai, meski napasnya terengah-engah dan pandangannya mulai kabur. Energi api biru yang baru saja ia telan kini bergolak di dalam telapak tangannya, mendesak untuk dilepaskan.
Kalian ingin api? Aku akan kembalikan sepuluh kali lipat.
Dengan sisa tenaganya, Kaelen mengarahkan tangannya ke arah tumpukan tabung gas tua di sudut klinik, lalu memuntahkan kembali energi mana yang telah ia telan. Pusaran hitam itu memuntahkan gelombang kejut energi murni bercampur api biru yang berputar liar.
BOOM!
Ledakan dahsyat menghantam tumpukan tabung gas. Puing-puing besi berkarat, api, dan gelombang kejut menghantam ketiga pemburu bayaran itu telak, melemparkan mereka keluar menembus dinding klinik yang jebol ke jalanan berlumpur di luar.
Kaelen kehilangan keseimbangan, tubuhnya ambruk ke lantai. Pandangannya menggelap, dan ia jatuh pingsan di atas tumpukan debu.
Ketika kesadaran Kaelen perlahan kembali, bau antiseptik yang tajam kembali menyergap. Ia tidak lagi berada di lantai berdebu. Ia terbaring di atas tempat bedah yang bersih, dan rasa sakit di dadanya sudah jauh berkurang—tulang rusuknya telah dipasang belat dan diperban dengan rapi.
Di samping tempat tidur, Lyra sedang membersihkan sisa mesiu dari pistolnya, sementara Dokter Silas tampak sibuk meracik ramuan hijau di dalam tabung kaca.
"Kau punya nyawa rangkap berapa, Tuan Muda?" tanya Lyra tanpa menoleh, suaranya terdengar mencemooh namun tersirat kelegaan. "Menelan api biru pemburu bayaran lalu memantulkannya kembali? Kau hampir membuat jantung tua Silas copot."
Kaelen mencoba duduk, meringis pelan saat dadanya terasa tertarik. Ia menatap kedua orang di depannya. "Di mana para pemburu bayaran itu?"
"Dua tewas tertimpa reruntuhan, satu lagi kabur sambil membawa buntut compang-camping kembali ke atas," jawab Lyra sambil menyeringai. "Tapi kabar buruknya: seluruh Sektor Bawah sekarang tahu ada bangsawan berambut hitam yang memakan sihir di klinik Silas. Namamu akan segera jadi buruan utama, bukan cuma oleh keluargamu, tapi juga para penguasa kriminal di sini."
Kaelen menatap telapak tangan kirinya yang kini bersih dari noda darah, namun terasa dingin dan berdenyut pelan. Ia tahu perjalanannya baru saja dimulai. Tiga hari batas waktu hidupnya kini telah berjalan, tetapi ia telah membuktikan satu hal: kutukan ini bisa menjadi senjata paling mematikan di dunia.
Kaelen mendongak menatap Lyra dan Silas. "Kalau begitu, kita butuh aliansi. Karena aku berniat mendaki kembali ke atas—dan meruntuhkan klan Adiwangsa sampai ke akar-akarnya."