NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Melania-1623

Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."

Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.

Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.

Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Ancaman di Balik Cangkir Kopi

Tangan Aura bergetar halus saat memegang ponselnya. Pesan ancaman itu seolah menjadi mimpi buruk yang siap menghancurkan seluruh kehidupan adiknya dan ketenangan yang baru saja ia rasakan.

Siapa orang ini? Dari mana dia tahu soal uang dua miliar dan surat perjanjian kontrak itu? batin Aura panik.

Ia melirik ke arah pintu kaca ruang kerja Evan yang tertutup rapat. Pria itu sedang memimpin rapat virtual dengan investor asing. Aura tahu ia tidak bisa langsung memberi tahu Evan tanpa bukti yang jelas, apalagi jika ancaman ini adalah jebakan untuk menguji kepanikannya.

Tepat pukul satu siang, Aura melangkah keluar dari gedung Adijaya Tower. Ia menyusuri penyeberangan jalan menuju sebuah kafe bernuansa remang-remang yang terletak di seberang kompleks perkantoran.

Kring.

Suara lonceng pintu kafe berdenting saat Aura melangkah masuk. Matanya menyapu seluruh sudut ruangan yang sepi. Di sudut paling belakang, dekat dengan jendela kaca berteralis, tampak seorang wanita bergaun merah menyala sedang menyesap minumannya dengan gaya anggun yang dibuat-buat.

Clara. Wanita dari pesta perusahaan tempo hari.

Aura menetralkan debar dadanya, melangkah mantap menghampiri meja tersebut, lalu mendudukkan dirinya di kursi berhadapan dengan Clara.

"Ternyata kau punya keberanian juga untuk datang sendirian, Nyonya Adijaya gadungan," sapa Clara seraya meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan keras. Senyum culas mengembang di wajahnya yang dipoles riasan tebal.

"Kau yang mengirim pesan ancaman itu?" tanya Aura tanpa basa-basi, suaranya terdengar dingin dan tenang meski hatinya bergemuruh hebat.

Clara terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya di kursi kulit. "Tentu saja. Kau pikir rahasia busukmu bisa tersimpan rapat selamanya? Temanku yang bekerja sebagai staf administrasi di Rumah Sakit Medika tidak sengaja melihat berkas pembayaran deposit awal adikmu sebesar lima ratus juta rupiah yang ditransfer langsung dari rekening pribadi Evan pada hari yang sama saat kau tiba-tiba 'diperkenalkan' sebagai istrinya."

Aura mengepalkan tangannya di bawah meja.

"Lalu," lanjut Clara seraya memajukan tubuhnya, menatap Aura dengan binar mata penuh dengki, "orang suruhan Tante Siska mengikuti pergerakanmu dan menemukan bukti bahwa kau tidak pernah tinggal di kediaman Adijaya sebelum hari pernikahan itu. Kau hanya wanita miskin yang menjual diri demi membiayai operasi adikmu, bukan?!"

"Apa mau kalian?" cutis Aura tegas, menatap lurus ke dalam mata Clara tanpa gentar.

"Sederhana," ujar Clara seraya mengetukkan kuku-kuku panjangnya yang dicat merah ke atas meja. "Tinggalkan Evan. Buat alasan agar kau yang mengajukan perceraian itu dalam kurun waktu satu minggu ini. Jika kau menolak..."

Clara menarik sebuah amplop cokelat dari dalam tas mewahnya dan meletakkannya di tengah meja.

"...seluruh dokumen bukti pembayaran rumah sakit dan laporan kronologi pernikahan palsumu ini akan langsung sampai ke tangan Kakek Surya sore ini juga. Kau tahu betul kan, Kakek Surya punya penyakit jantung stadium lanjut? Kira-kira, apa yang akan terjadi pada pria tua itu jika tahu cucu kesayangannya menipunya demi takhta perusahaan?"

Deg.

Dada Aura terasa dihantam hantaman berat. Ancaman ini tidak hanya menyasar masa depan Laras, tapi juga mempertaruhkan nyawa Kakek Surya pria tua baik hati yang sangat menyayanginya dengan tulus.

"Kau sungguh licik, Clara," bisik Aura dengan suara bergetar menahan amarah.

"Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!" bentak Clara pelan dengan mata membelalak murka. "Aku yang seharusnya berdiri di samping Evan! Bukan wanita murahan dan tidak jelas sepertimu!"

Aura menarik napas panjang, mencoba memikirkan jalan keluar di tengah kegentingan ini. Namun sebelum Aura sempat membalas, sebuah suara langkah kaki yang mantap bergema di belakang kursinya.

"Pemandangan yang sangat menarik."

Suara berat, dingin, dan sarat akan aura intimidasi yang sangat dikenal Aura tiba-tiba mengudara.

Clara tersentak kaget. Wajahnya seketika pucat pasi saat melihat sosok Evan Adijaya sudah berdiri di samping meja mereka. Pria itu mengenakan mantel panjangnya, menatap Clara dengan pandangan membunuh yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya. Di belakang Evan, Bimo berdiri tegap memegang sebuah iPad.

"E-Evan?!" Clara bersuara gemetar, gagap karena terkejut setengah mati. "K-kenapa kau ada di sini?"

Evan mengabaikan Clara. Ia menarik kursi di samping Aura, mendudukkan dirinya dengan santai namun amat mendominasi. Tangannya terulur melingkari bahu Aura, menarik tubuh istrinya rapat ke sisinya dalam gestur perlindungan yang mutlak.

"Kau pikir, ada pergerakan di sekitar istriku yang bisa lolos dari pengawasanku, Clara?" suara Evan begitu rendah namun berwibawa.

Evan memberi isyarat pada Bimo. Asisten pribadinya itu segera melangkah maju, mengambil amplop cokelat di atas meja lalu menyodorkan layar iPad ke hadapan Clara.

"Nona Clara," ujar Bimo resmi. "Seluruh bukti ancaman pemerasan, penyadapan data medis ilegal di Rumah Sakit Medika, serta rekaman percakapan Anda dengan Nyonya Siska baru saja resmi kami serahkan ke tim hukum Adijaya Group dan pihak kepolisian."

Clara membelalak tak percaya. "A-apa?!"

"Selain itu," sambung Evan seraya menatap Clara dengan senyum sinis yang mengerikan, "perusahaan ekspor-impor milik ayahmu resmi dinyatakan default dan seluruh asetnya disita oleh bank Adijaya mulai detik ini. Pukul dua siang nanti, surat pembekuan rekening keluargamu akan terbit."

"Tidak! Evan, tolong! Jangan lakukan itu!" jerit Clara histeris, air matanya menetes seketika. "Aku melakukan ini semua karena aku mencintaimu! Wanita ini hanya memanfaatkannya demi uang!"

"Tutup mulutmu!" bentak Evan keras, membuat seluruh pengunjung kafe terdiam mencekam. Pria itu berdiri, menatap Clara yang kini terisak ketakutan dari atas ketinggian tubuhnya.

"Satu-satunya orang yang membalikkan keadaan dan memanfaatkan situasi di sini adalah kau dan Tante Siska," kata Evan dingin. "Aura adalah Istri Sah pilihan saya. Dan soal uang lima ratus juta atau dua miliar itu..."

Evan menunduk, merengkuh jemari tangan Aura dan menggenggamnya rapat-rapat di depan mata Clara.

"...itu bukan uang pembayaran kontrak. Itu adalah mas kawin dan bukti komitmenku sebagai seorang suami untuk melindungi keluarga istriku."

Deg.

Aura mendongak menatap profil wajah tegas Evan dari samping. Jantungnya berdetak sangat kencang. Kebohongan yang diucapkan Evan dengan begitu mantap dan berani di depan Clara terasa begitu nyata, hingga menggetarkan relung hatinya yang paling dalam.

"Bimo, urus wanita ini dan pastikan dia tidak pernah menunjukkan wajahnya lagi di kota ini," perintah Evan datar.

"Baik, Tuan Presdir."

Tanpa membuang waktu lagi, Evan menarik tangan Aura dan membimbing wanita itu melangkah keluar dari kafe, meninggalkan Clara yang menangis histeris di dalam.

Mereka melangkah menyeberangi jalan kembali menuju lobi Adijaya Tower. Selama perjalanan, Evan tidak melepaskan cengkeraman tangannya dari jemari Aura sedikit pun.

Begitu mereka memasuki lift khusus eksekutif dan pintu tertutup rapat, Aura melepaskan genggaman tangannya pelan.

"Evan..." cicit Aura pelan dengan suara bergetar. "Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku menemui Clara?"

Evan berbalik membelakangi pintu lift, menatap Aura dengan sepasang mata cokelatnya yang tajam namun dipenuhi rasa cemas yang tak bisa disembunyikan.

"Bimo melihat pesan masuk di ponselmu saat kau meninggalkan meja kerja," jawab Evan jujur. Pria itu melangkah satu tapak mendekat. "Kenapa kau tidak langsung memberitahuku, Aura? Kenapa kau bertindak nekat menemui wanita ular itu sendirian?!"

Aura menunduk, menggigit bibir bawahnya. "Aku... aku takut. Aku takut jika rahasia kontrak kita benar-benar terbongkar dan Kakek Surya mendengarnya... aku takut semuanya rusak karena aku."

Evan menatap wanita di hadapannya. Kerentanan dan ketakutan di mata Aura membuat rasa bersalah menyapu dadanya.

Tanpa memikirkan batasan kontrak atau harga dirinya lagi, Evan melangkah maju dan menarik tubuh Aura ke dalam pelukannya. Tangannya yang kokoh melingkar erat di punggung Aura, menyandarkan kepala wanita itu di dada bidangnya.

Aura membeku seketika di dalam dekapan hangat sang CEO. Suara detak jantung Evan yang berdegup kencang terasa jelas di telinganya.

"Jangan pernah menghadapi bahaya sendirian lagi, Aura," bisik Evan seraya mengusap lembut rambut hitam Aura. Suaranya terdengar begitu serak dan penuh emosi. "Kau adalah istriku. Mulai sekarang, memikul bebanmu adalah tugasku."

Di dalam lift yang bergerak naik menuju lantai empat puluh lima, dua insan yang semula terikat oleh selembar kertas kontrak itu kini saling mendekap erat menyadari bahwa garis batas dingin di antara mereka telah sirnah sepenuhnya.

_____

Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...

1
Orang
Kerenn...
Orang
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!